Coretan Basayev: Maret 2018
Kelulusan Kelas Fiksi ODOP Batch 4

Kelulusan Kelas Fiksi ODOP Batch 4


Alhamdulillah, akhirnya bisa juga memajang sertifikat kelulusan Kelas Fiksi ini di blog. Saya memang tidak berhasil 100 % mengerjakan tugas yang diberikan para pije fiksi batch 4. Seingat saya, saya tidak menulis tema sci-fi atau fiksi fantasy ilmiah yang nyangkut masa depan. "Aku ora iso," jujur saya ke Mbak Wiwid, yang langsung dibalasnya bahwa kelulusan kali ini tidak harus 100% selesai mengerjakan.

Saya salut sama teman-teman yang berhasil menuntaskan semua tugas. Ibaratnya tantangan menulis berbagai genre fiksi berhasil dikebut. Saya ternyata banyak kelemahan. Hanya menulis fiksi sesuai kesukaan saja. Hehe, maafkanlah.

Saya sekaligus mau mengucapkan selamat kepada dua peserta terbaik yang sudah terpilih di Kelas Fiksi. Kalian berdua memang the best. Selamat ya, kepada Pak Guru Dwi Septiyana dan Mbak Listiana. Semoga kedepannya kalian makin keren, dan kita-kita bisa mengikuti meski tertinggal.

Selamat juga buat semua peserta Kelas Fiksi batch 4 yang sudah lulus. Direnteng di sini ya:

Dwi Septiyana
Listiana
Ragil Wyda Triana
irene herawati
Wakhid Syamsudin
Alfian Ananda Putra
Anggi anggarsasi
Ayu Khaeru Mayuha
Bari
Chairul Nisa'
Dunyati Ilmiah
Lailatul Isbach
Nuraily hadi
Riovani Dian
Safina Rahayu Utami
Sakifa
Sovia Triana Anggurela
Atina Suada
Dede Falahudin
MS Wijaya
Novia Angraini
Rahayu Hestiningsih
Balada Kopdar (5) Syukur

Balada Kopdar (5) Syukur


Balada Kopdar
Bagian 5 -Syukur

Ahad, 4 Maret 2018

Sudah lewat jam 9 ketika acara kopdar dimulai. Semua peserta sudah berkumpul. Mas Lutfi yang memandu sebagai master of ceremonies, mengajak semua mensyukuri nikmat tidak terhingga ini. Alunan basmalah mengiring dibukanya pertemuan luar biasa para penggiat dunia kepenulisan ini.

Mas Rouf melantunkan Arrahman

Selanjutnya, pembacaan ayat suci Alquran membahana menyentuh relung-relung hati hadirin, dengan alunan merdu suara Mas Rouf, yang membacakan surat Ar Rahman. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Sepintas melihat Mas Rouf mengingatkanku pada salah satu keponakanku. "Mirip Ringga, ya, Bun?" bisikku pada istri, disambut anggukannya.


Setelah sesaat hanyut dengan lantunan bacaan Mas Rouf, dilanjutkan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum ODOP periode II yakni Mas Tian. Usai sambutan, acara sharing dipandu oleh Mbak Sakifah. Dalam kesempatan ini, Mbak Saki menyampaikan bahwa ada beberapa teman yang awalnya sudah berniat hadir tapi mendadak berhalangan datang.

"Semoga lain waktu kita bisa berkumpul dengan teman-teman yang berhalangan hari ini," doanya. Lalu ia melanjutkan, "Kemarin Pak Parto mengabarkan akan datang, tapi sampai sekarang belum tiba dan tidak ada kabar dari beliau."

Tapi tidak lama berselang, peserta kopdar yang disebut-sebut Mbak Saki barusan tiba. Beliau adalah sesepuh dan penasehat ODOP, Pak Parto. Seluruh peserta kopdar lekas berdiri menyambut kehadiran beliau. Aku sendiri tidak menyangka ada beliau yang hadir di sini. Tidak menyangka bisa berjumpa beliau yang penuh semangat meski usia tidak lagi muda itu.

"Alhamdulillah, Pak Parto bisa rawuh ...."

"Saya mohon maaf terlambat," kata Pak Parto. Beliau lalu menceritakan alasan keterlambatannya, "Awalnya kan kita kopdar mau di Sambisari. Saya terlanjur janji sama saudara yang tinggal dekat sana, jadi saya harus menemuinya dahulu sebelum akhirnya ke sini. Jadi saya mohon maaf terlambat datang."

Pak Parto hadir di tengah-tengah peserta kopdar.
Setelah Pak Parto dipersilakan duduk dekat Mas Tian, Mbak Sakifah memberikan kesempatan kepada Mbak Hiday, salah satu peserta kopdar senior yang sebentar lagi harus pamit duluan karena ada keperluan lain. Mbak Hiday lekas menyampaikan sesuatu. Iya, sesuatu banget.

Mbak Hiday menyampaikan nasihat-nasihat.

Mbak Hiday menyampaikan kebanggaan akan adanya ODOP dan kebahagiaannya menjadi bagian dari komunitas menulis ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pencetus ODOP yakni Bang Syaiha, yang pada kopdar kali ini tidak bisa ikut serta. Berbagai motivasi menulis disuntikkan Mbak Hiday, dengan harapan para peserta ODOP bisa berkiprah lebih jauh dalam literasi tanah air.

Sebelum Mbak Hiday berpamitan, digelar sesi foto bersama dulu. Semoga kita bisa mengikuti jejak Mbak Hiday dalam dunia kepenulisan dan mampu membawa bersama ODOP menjadi komunitas terbaik dalam dunia literasi.

BERSAMBUNG

Salah Tempat

Salah Tempat


Jon Koplo mengajak istrinya, Lady Cempluk, dan kedua anaknya, Tom Gembus dan Gendhuk Nicole untuk menghadiri kopi darat (kopdar) salah satu komunitas online yang diikutinya.

Sejak awal diinformasikan lokasi kopdar adalah di Candi Sambisari, Kalasan, Jogja. Maka dengan mengendarai sepeda motor, Koplo sekeluarga berangkat pagi-pagi sekali dari rumahnya di daerah Weru, Sukoharjo. Setibanya di Candi Sambisari, Koplo memarkir motor, lalu mengajak keluarga kecilnya sarapan soto di warung depan pintu masuk.

Pintu masuk ke Candi Sambisari masih ditutup karena memang masih kepagian.

"Acara masih jam 09.00, kita kepagian. Tapi nggak apa-apa daripada telat," kata Koplo pada istrinya.


Jepretan Pak Ibnu Kaab, makasih Pak Guru. :)
Koplo membuka grup komunitasnya. Lalu menulis, "Saya sudah di Candi Sambisari."

Tidak lama ada kemudian ada komentar dari teman komunitasnya, "Mas tidak baca pengumuman di grup tadi malam?"

Koplo membalas, "Pengumuman apa?"

"Scroll ke atas deh, Mas. Kopdarnya pindah ke Alun-Alun Kidul!"

Terkejutlah Koplo. Segera ia memanjat chat yang banyak menumpuk di grup itu. Dan dia mendapati sebuah pengumuman bahwa kopdar memang pindah ke Alun-Alun Jogja.

"Kopdarnya pindah, Say," kata Koplo pada istrinya.

"Yah... kenapa Ayah nggak cek grup sih? Tiwas merasa paling rajin sudah sampai lokasi. Jebul salah tempat...!" Cempluk ngomel kesal.

Mau tidak mau, mereka harus segera menghabiskan soto dan berangkat lagi ke tempat kopdar sesungguhnya.

Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 01 RW 06, Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562

*Dimuat di harian Solopos edisi hari Selasa, 13 Maret 2018.

Penampakan di epaper Solopos
Alhamdulillah, salah satu kenanganku ikut kopdar dengan para sahabat One Day One Post di Jogja tanggal 4 Maret kemarin bisa nongol di koran. Maka, nikmat Tuhan mana yang bisa kudustakan?
Janji Suci Menakdirkanku Pulang ke Hatimu

Janji Suci Menakdirkanku Pulang ke Hatimu


Judul : Always be in Your Heart
Penulis: Shabrina Ws
Penerbit: Qanita, PT Mizan Pustaka, Bandung
Tahun: 2013
Tebal: 236 halaman
 
 
... Pulang ke Hatimu ...

Sebuah novel dari Mbak Shabrina Ws. Terbitan 2013 dan baru kubeli di lapak online sebagai buku bekas dalam kondisi baru. Judulnya pakai bahasa Inggris, Always be in Your Heart: Pulang ke Hatimu. Ini adalah novel hasil lomba penulisan romance yang diadakan Penerbit Qanita, di mana Shabrina Ws adalah pemenang ketiganya.

Novel lawas yang saya beli dengan harga setara ongkos kirimnya ini, bersampul kuning dengan gambar sangkar burung dan seekor burung hinggap di huruf judul, dihiasi juga gambar bunga membuatnya cantik di pandangan mata. Isinya kertas bookpaper warna cokelat dengan hiasan bunga dan judul tiap bab berwarna merah muda, membuat gemas rasanya, seperti si kecil Rara anak saya yang selalu membuat kangen setiap polahnya.

Novel ini berkisah tentang Marsela dan Juanito Carrascalau. Keduanya lahir, kecil, dan menapak masa remaja bersama di Ermera, Timor Timur. Masa kecil yang selalu bersama, Juan yang usianya tiga tahun lebih tua, selalu menjaga Sela yang sudah seperti adiknya sendiri. Keduanya bertetangga, Sela hidup bersama sang ayah, Mario, yang keturunan para pejuang kemerdekaan yang kecintaannya kepada Indonesia tidak perlu alasan apa-apa lagi. Sementara Juan tinggal bersebelahan rumah, dia tinggal bersama kedua orangtuanya, Frans dan Tika. Tapi bagi Tika, Sela sudah seperti anaknya sendiri. Ketika dia membelikan sesuatu untuk Juan maka ia tidak akan melupakan pula untuk Sela.

Hingga masa kuliah Juan dan ketika Sela lulus SMA tiba-tiba Juan melamar Sela dengan restu orangtuanya. Semua setuju sebenarnya, sebelum kemudian pada 30 Agustus 1999 terjadilah peristiwa bersejarah referendum dengan kecamuk konflik yang akhirnya membuat Timor Timur terlepas dari NKRI. Sela dan ayahnya mengungsi, ikut diangkut truk TNI ke arah barat meninggalkan Timor Timur yang kemudian lepas dari Indonesia dan berganti nama Timor Leste. Sementara Juan dan keluarganya tetap tinggal di sana.

Juan dan Sela masih menyimpan mimpi dari janji suci untuk hidup bersama. Meski nasib tidak ada kejelasan. Apakah di tempat tinggal barunya Sela akan tetap menunggu kemungkinan bisa menyatu dengan Juan? Begitu juga Juan, akankah menyusul kekasih hatinya yang terpisah batas teritorial? Saat itulah hadir Randu di kehidupan Sela sepeninggal Mario, sang ayah yang berpulang kepada Tuhan.

Kisah yang ditulis Shabrina Ws seperti biasa, mengalir meski dengan alur maju-mundur. Romansa cinta kedua hati itu terasa sekali meski terpisah dan tanpa komunikasi. Lon da  Royo, dua ekor anjing peliharaan mereka pun merasakan hal sama. Perpisahan tidak seharusnya yang sangat menyiksa.

Bagaimana cerita utuhnya? Kalian bisa membacanya sendiri dengan enjoy. Saya sangat menyukai cara Shabrina Ws menyajikan tulisannya. Tiap bab terbaca dengan ringan. Saya bisa membayangkan di posisi para tokohnya yang terlibat dalam suasana sejarah yang tidak bisa dikompromi.

Setelah tuntas membaca kisah ini, saya tertegun. Cinta dan kesetiaan selalu bisa bicara dengan tingkahnya masing-masing. Penantian dan ketidakpastian nasib adalah bumbu bagi hati yang terpaut janji suci.

Selalu ada cara Tuhan menyatukan cinta atau memang menakdirkannya terpisah selamanya. Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah berbicara. Bahkan, sungai bisa saja berubah muara. Sepuluh tahun perpisahan Juan dan Sela hingga akhirnya bertemu. Banyak hal berubah. Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama.
Balada Kopdar (4) Jumpa

Balada Kopdar (4) Jumpa


Balada Kopdar
Bagian 4 - Jumpa

Ahad, 4 Maret 2018

"Kayaknya udah nyampe ini. Jauhnya ...." Segera kutulis di chat room grup kopdar. Aku meleseh di kursi sebelah istriku. Haikal pun minta dipangku.

Ada emoji senyum dikirim Mas Lutfi, salah satu peserta kopdar, sebagai balasan.

"Masuk ...," tulis Mbak Sakifah.

Dari luar tidak bisa melihat ada kegiatan di dalam rumah. Maka kupinta, "Coba ada yang keluar dong!"

Dan tidak lama kemudian muncullah seseorang gadis berjilbab yang langsung menyapa, "Mas Wakhid ya?"

"Iya," jawabku. Aku menebaknya, gadis ini adalah Mbak Renee alias Mbak Irene.

Kami pun masuk segera, mengikuti Mbak Renee. Di dalam langsung ketemu Mbak Sakifah. Aku langsung mengenalinya.

Kalian tahu, perasaan seperti apa yang harus digambarkan di sini? Aku terharu, senang, bahagia, dan berdebar-debar, seperti tidak percaya akan bertemu teman-teman yang selama ini hanya tahu lewat media sosial dan obrolan di WhatsApp. Ini memang kopdar pertama bagiku. Dan hanya ODOP-lah yang bisa memaksaku berkeinginan ikut kopdar.

Kemudian lewatlah seseorang perempuan lain. Dia melempar senyum dan kubalas. Seolah semilir angin menerpa wajahku. Tapi aku seperti lupa-lupa ingat, siapakah dia? Dia berlalu. Dan tidak lama kemudian sudah kembali mendekat. "Lupa, ya?" tanyanya menangkap keherananku.

"Ini ... Mbak Nova?" tanyaku.

"Iya, masak lupa, Mas Wakhid nih?" godanya.

"Kok beda, ya, Mbak?" komentarku. Memang Mbak Nova membuatku pangling. Kayak beda antara di foto dengan kenyataan. Dih ....

Lalu bermunculanlah Mas Lutfi, Mas Fadhli, Mas Gilang, Mas Tian, Mas Rouf dan Mas Alfian. Mas Lutfi aku juga langsung mengenali. Mas Fadhli salaman sambil sebutkan nama. Juga Mas Gilang pun langsung sebutkan nama, soalnya aku belum begitu kenal. Mas Tian malah aku agak lupa. Saat dia sebutkan nama, aku berkomentar, "Kok  tinggian di foto, ya?"

"Fotonya pakai efek peninggi, Mas," kelakar Ketua ODOP periode sekarang ini.

Sementara Mas Alfian yang agak belakangan muncul tidak menyadari kehadiranku. Baru beberapa saat kemudian dia sadar ada peserta kopdar yang baru datang dan menyalamiku, "Ini Mas Wakhid?" tanyanya seperti tidak percaya.

"Iya. Ini ..."

"Alfian, Mas."

Sungguh, suasana kebahagiaan tidak terkata. Aku benar-benar terharu. Kalian pasti akan merasakan hal sama denganku saat berada di Griya Langen ini.

Muncul juga seseorang yang aku sama sekali tidak bisa menebak siapa adanya. Seorang bapak berkopiah. Untung si bapak lekas menyapaku, "Ini dia pije saya. Mas Wakhid!"

Kami bersalaman. "Mas Wali?" tanyaku menebak. Memang dari Grup Bumi yang aku salah satu pije-nya hanya Mas Wali yang berniat ikut kopdar. Hanya aku tidak menyangka ternyata Mas Wali layak dipanggil Pakde olehku.

"Iya, Mas."

"Subhanallah, bisa bertemu di sini akhirnya."

Tidak berapa lama muncullah sepasang sejoli Kamajaya-Kamaratih yang sangat kukenali. "Subhanallah, Mas Heru!" sambutku sambil menyalami Ketua ODOP periode tahun lalu yang terkenal sangat perhatian dengan dunia sejarah dan perwayangan itu. Beliau datang bersama istri.

Perjumpaan demi perjumpaan penuh makna. Akhirnya aku melihat langsung sosok yang selama ini hanya ada dalam alam maya. Aku bertemu Mbak Mabruroh, Mbak Hiday, Mbak Ciani, Mbak Leska, Mbak Widhyanua, dan beberapa wajah asing yang belum pernah kukenali sebelumnya. Siapa saja sih ya? Ada yang mencatat tidak sih, siapa saja yang hadir? Siapapun, jelas kebahagiaan bersua semua yang hadir adalah sebuah kebahagiaan.

Sahabat maya yang terlihat nyata.

Sesaat lagi acara baru akan dimulai. Rupanya aku belum terlambat, atau acaranya yang memang molor. Hahaha. Aku sangat berterima kasih untuk semua panitia yang sibuk menyiapkan perjumpaan ini hingga detik ini.

BERSAMBUNG


Balada Kopdar (3) Jalanan

Balada Kopdar (3) Jalanan


Balada Kopdar
Bagian 3 - Jalanan

Ahad, 4 Maret 2018

Kembali ke jalanan. Menembus suasana pagi jalan raya Solo-Jogja berbekal ancer-ancer yang diberikan Mbak Sakifah di grup kopdar. "Arah Bandara masih lurus, UIN lurus, Gramedia belok kiri, muter Kridosono, arah alun-alun kidul, Kota Baru." Mbak Sakifah juga mengirimkan lokasi dari Google Maps. Waktu menunjukkan pukul 07:30 WIB.

Jujur, aku memang belum pernah ke Jogja naik motor sendiri. Pernah juga paling mengantar Haikal ketika ada acara dari sekolahan. Itu pun naik bus carteran. Seperti ke Taman Pintar, Museum Dirgantara, atau Taman Nasional Gunung Merapi. Jadi arahan yang disampaikan Mbak Sakifah memang hal baru bagiku. Secara aku memang orangnya jarang dolan, atau bisa dikata dolane adoh pithik (mainnya jauh ayam) istilahnya. Apalagi dari dulu memang pendiam dan kalem. Haha, ini bisa dibuktikan kalau kalian bertemu diriku nanti.

Aku mengendarai motor sambil melihat-lihat bangunan kanan-kiri. UIN sudah kami lewati, selanjutnya mencari Gramedia. Lumayan jauh belum juga melihat gedung bertuliskan nama toko buku besar itu. Sempat waswas juga, jangan-jangan sudah terlewat. Tapi kami yakin belum menemukannya, maka terus saja kulaju motor lurus.

"Masih jauh, ya, Yah?" Haikal mulai merasa capai rupanya.

"Masih mencari alamatnya, Kak," dijawab bundanya. "Sabar, ya ...."

Akhirnya terlihat gedung Gramedia, dan motor kubelokkan ke kiri. Sesuai petunjuk Mbak Sakifah, kami memasuki daerah Stadion Kridosono dan memutar di sana. Kami mulai bingung menentukan arah ke keraton. Aku berhenti dan mendekati seorang juru parkir yang lantas dengan ramah menyapa, "Monggo, Mas, mau ke arah mana?"

"Arah Kota Baru mana ya, Pak?"

"Kota Baru-nya mana? Ini semua jalan ke Kota Baru," jawab si bapak juru parkir.

Aku juga bingung mau bertanya seperti apa. "Mau ke Griya Langen. Bapak tahu tidak?"

Juru parkir itu malah bingung dengan ancer-ancer yang kutanyakan. Ditambah kesibukannya saat beberapa mobil minta parkir.

Kucoba bertanya di grup, "Alamat lengkapnya dong?"

"Jalan langenanstran kidul. Masuk area keraton Om," tulis Mbak Sakifah.

Di bawahnya, ada alamat lengkap dikirim Mbak Juni: "Griya Langen, Jl. Langenastran Kidul 28, Kraton."

Akhirnya aku kembali melajukan motor meski masih penuh tanda tanya dengan jalan yang ditempuh.

"Pakai GPS-nya, Yah," usul istriku. Jujur aku belum pernah menggunakannya.

Aku menepikan motor dan mencoba membuka peta yang diberikan Mbak Sakifah. Kulirik sejenak jam di pojok atas gawai sudah menunjuk pukul 08:08 WIB, alamat telat hadir kopdarnya nih. Sinyal selular yang kupakai kurang bersahabat. Untuk membuka lokasi map saja muter-muter doang. Terpaksa jalan sesuai feeling saja akhirnya. Sambil sesekali membuka gawai. Dan sinyal bagus pun mulai muncul. Lokasiku mulai terdeteksi Google Maps dan terhubung dengan lokasi yang ditandai oleh Mbak Sakifah sebagai tempat kopdar.

Selangkah demi selangkah kuikuti arah sesuai petunjuk di gawai. Sampai akhirnya kami menemukan nama jalan yang membuat kami merasa cukup lega yakni Jl. Langenastran Lor. Artinya ke selatan lagi pasti ketemu jalan kidulnya. Dan benar, kami memasuki Jl. Langenastran Kidul. Tinggal menyusuri nomer rumah yang ada. Sampailah kami ke sebuah penginapan dengan nama yang disebutkan di grup: Griya Langen.

Griya Langen, jepretan Mbak Widhyanua
Waktu menunjukkan pukul 08:55 WIB begitu aku memarkir motor. Melepas helm dan jaket. Haikal turun dan melepas jaket serta helm juga. Istriku dan si kecil Rara langsung melepas penat di kursi yang tersedia di teras rumah. Alhamdulillah, sampai juga akhirnya.

BERSAMBUNG
Balada Kopdar (2) Sambisari

Balada Kopdar (2) Sambisari


Balada Kopdar
Bagian 2 - Sambisari

Ahad, 4 Maret 2018

Jam dinding belum tepat menunjuk ke angka 4 pagi, aku sudah terjaga. Begitu juga istriku. Sementara Haikal dan Rara masih nyenyak dengan mimpinya. Aku bergegas mandi. Istriku langsung menyerbu piring kotor, dilanjut mencuci baju. Dia memang paling tidak suka meninggalkan rumah masih ada kerjaan terbengkalai.

Usai mandi, terdengar suara Rara memanggil-manggil dari kamar. Si kecil sudah bangun rupanya. Aku lekas mendekatinya sebelum ia menangis. Rupanya, Haikal juga terjaga gara-gara suara adiknya yang memanggil mencari teman. "Alhamdulillah sudah pada bangun. Yuk, siap-siap mandi," ajakku.

Bersyukur kedua buah hatiku ini menurut. Meski baru jam 4 dan azan Subuh belum berkumandang, keduanya sudah berguyur air dingin. Kedua anak kami ini memang tidak terbiasa mandi air hangat. Sementara bunda mereka juga sudah kelar mencuci, dan bersiap untuk mandi. Azan Subuh berkumandang saat aku memakaiakan baju si kecil Rara. Kakaknya pun sedang mengenakan pakaiannya di samping Rara.

Persiapan kami tidak begitu ribet karena sudah sejak semalam mulai menyiapkannya. Termasuk satu eksemplar buku yang harus dibawa untuk acara tukar buku saat kopdar nanti. Aku memilih sebuah buku antologi berjudul Cinta Sedarah terbitan Leutika Prio, kumcer teman-teman pemula yang pernah terbit lewat grup Proyek Buku Gotong-Royong yang pernah kugawangi dulu.

Sekitar pukul 5 kami sudah di atas motor. Haikal duduk di depan, sementara Rara digendong bundanya di jok belakang. Mbah Putri melepas keberangkatan kami dengan segala pesan agar berhati-hati di jalan. Bismillah, kami berangkat.

Dari Weru, kami melewati jalur Cawas, ke barat lewat Bayat, Wedi, lalu memasuki jalan raya Solo-Jogja, sekitar sejam perjalanan. Untung cuaca tidak dingin dan jalan juga masih sepi. Ketika sudah melintasi jalan Solo-Jogja, istriku teringat sesuatu, "Yah ... maaf, Bunda lupa nggak bawa mantol."

Di dalam jok motor memang ada satu mantol yang kubawa ke mana-mana, tapi kami biasa juga bawa satu mantol lagi kalau bepergian. Dan istriku tumben lupa membawanya. Mau balik ambil kan tidak memungkinkan. "Ya sudah, semoga nggak hujan, Bun," kataku.

"Semoga," aminnya.

"Kalau hujan nanti beli mantol di jalan saja," usulku.

Seingatku, acara kopdar bertempat di Candi Sambisari, Purwomartani, Kalasan, baru akan dimulai pukul 9 pagi. Kami memang berangkat pagi-pagi sekali biar tidak buru-buru. Nanti bisa menikmati pagi di Jogja sekaligus mencari sarapan di sana. Jauh-jauh hari, aku juga sudah browsing mencari tahu letak bangunan bersejarah itu. Tidak terlalu jauh dari Prambanan, kata Mbak Sakifah beberapa hari lalu di chat. Itu berarti memang tidak jauh-jauh amat. Semoga tidak nyasar ke sananya.


Ketika perjalanan sudah sampai sekitaran Candi Prambanan, dan menoleh ke samping kanan kami sudah bisa melihat bangunan bersejarah itu dari kejauhan, kami sudah bersiap untuk lebih memperhatikan rambu jalan, terus meluncur ke arah Jogja dan mencari-cari penunjuk arah ke Candi Sambisari. Tapi kami tidak menemukan penunjuk itu.

"Bun, depan itu perasaan sudah mulai masuk kawasan bandara. Jalan ke Candi Sambisari harusnya tidak sampai di sini," kataku. Lalu kupelankan motor dan menepi ke halaman sebuah toko yang masih tutup.

"Kebablasan berarti?" tanya istriku.

"Bisa jadi."

Kubuka gawai, mendapati chat masuk ke WhatsApp. Dari Mbak Renee yang mem-forward sebuah pemberitahuan dari panitia kopdar. Aku hanya membaca rundown acaranya, yang ternyata akan dimulai pukul 7 pagi. "Jamnya dimajukan, Bun," kataku.

"Untung kita berangkat pagi-pagi, Yah," komentarnya.

Lalu aku mendekati seorang ibu yang baru membuka toko dekat tempat kami berhenti. Kami menanyakan arah ke Sambisari. Ternyata sudah terlewat. Kami harus putar balik, nanti ada penunjuk arah yang bisa dilihat kalau jalan dari arah Jogja. Kembali kami meluncur di jalanan mencari arah candi itu.

Kami sudah menemukan penunjuk arah itu dan mengikutinya. Ternyata Candi Sambisari lumayan jauh dari jalan raya. Tapi kami sampai di sana sekitar setengah tujuh. Masih pagi. Terlihat pintu masuk ke kawasan candi masih ditutup. Tapi banyak anak-anak muda dan warga sekitar yang berolah raga di sini. Kami parkir motor di salah satu pekarangan rumah warga yang memang disiapkan untuk area jasa parkir.

Kubuka WhatsApp. Rupanya aku sudah dimasukkan grup kopdar. Dan di dalamnya terlihat aktivitas penghuninya yang sebagian besar peserta kopdar yang sudah di penginapan. Mereka masih menikmati pagi di alun-alun katanya.

Menunggu sarapan soto disajikan.
Kami sarapan soto sambil menunggu waktu.

"Saya sudah di Candi." tulisku di chat room grup kopdar.

"Candi mana, Mas?" tanya Mbak Nova, salah satu peserta kopdar.

"Sambisari."

"Langsung ke penginapan saja."

Ke penginapan? Aku lekas membuka pengumuman yang tadi dikirim Mbak Renee. Dan terkejutlah aku. "Bun," panggilku ke istri.

"Gimana, Yah?"

"Lokasi kopdar pindah ke penginapan. Ayah tidak baca pengumumannya. Hanya baca jam mulainya. Waduh."

"Terus, penginapannya di mana?"

"Kalau tidak salah sekitar alun-alun kidul."

"Alun-alun? Berarti jauh sekali dari sini, Yah ...."

Dan benar. Lokasi kopdar masih jauh. Mendadak aku lemas. Tiwas tenang-tenang sudah sampai di lokasi. Ternyata dengan alasan jarak dan jauhnya dari stasiun karena peserta ada yang harus segera pulang setelah kelar, maka acara kopdar pindah ke penginapan. Ya Allah ... ternyata kesalahan besarku tidak gabung ke grup kopdar dari kemarin membawa bencana. Kami lekas menghabiskan sarapan dan bersiap naik motor lagi.

Candi Sambisari, maaf tidak jadi masuk dan mengunjungimu. Semoga lain kali, ya.

BERSAMBUNG
Balada Kopdar (1) Dilema

Balada Kopdar (1) Dilema


Balada Kopdar
Bagian 1 - Dilema

Sabtu sore, 3 Maret 2018

"Sudah dapat izin, Yah?" sambut istriku begitu aku sampai di rumah.

"Alhamdulillah."

"Izin sama Pak Haji?"

"Izin ke Bu Haji. Alhamdulillah diizinkan. Beliau juga nggak nanya mau izin ke mana."

"Katanya lagi banyak kerjaan?"

"Iya. Mungkin karena Ayah jarang izin, jadi diizinkan begitu saja. Padahal kerjaan pas numpuk belakangan ini. Tahu sendiri kan, Bun, Ramadhan tidak lama lagi."

"Syukurlah, Ayah sudah ayem, kan, bakal kesampaian ketemu teman-teman Ayah?"

Aku mengangguk senang. Rencananya, besok pagi kami akan berangkat ke Jogja untuk menghadiri Kopdar Akbar #1 komunitas One Day One Post. Komunitas menulis yang aku bergabung di dalamnya, yang biasa disingkat ODOP. Di mana seleksi untuk jadi anggota di sana harus bisa konsisten menulis dan memublikasikannya di blog pribadi setiap hari satu tulisan, selama kurang-lebih 2 bulan. Aku masuk pada angkatan keempat (Batch 4). Dan besok adalah hari H kopdar akbar pertama komunitas ini.

Aku sempat dilema dengan kenyataan ini. Aku sangat ingin bisa ikut, dan aku sudah bilang in sya Allah ke panitia kopdar untuk hadir. Apa lagi di Jogja yang terjangkau jaraknya. Tapi kenyataan di tempatku bekerja, sedang banyak pekerjaan yang posisiku di sana tidak bisa digantikan karyawan lain. Sebenarnya boss-ku orangnya santai, aku bisa izin kapan saja. Hanya aku kadang suka tidak enak hati kalau izin saat banyak pekerjaan begini. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang harus minta izin libur sehari. Memang, aku tidak kenal hari Minggu di sana. Tidak ada libur, hanya saja jam kerjaku tidak sepanjang jam kerja karyawan lain pada umumnya. Kadang masuk jam 8 pagi, jam 10 sudah bisa pulang. Tapi saat ini, paling cepat aku bisa pulang waktu Asar. Artinya, memang sedang banyak pekerjaan. Tadi aku sudah meminta izin itu kepada Bu Haji, istri boss, dan seperti biasa, dipersilakan, bahkan tanpa alasan keperluanku apa.


"Tapi ..."

Aku menaruh tas kecil yang biasa kubawa ke tempat kerja. Lalu mendekati istriku. "Ada apa?"

"Mbah Putri besok panen."

Waduh! Apa artinya ini? Apakah aku akan gagal ikut kopdar ? Ini memang sudah masuk musim panen padi di kampungku. Sawah sudah menguning oleh padi-padi menua yang menunduk tanda berisi. Begitu juga sawah seperempat pathok milik keluargaku yang masih digarap sendiri oleh Mbah Putri, mamakku, neneknya anak-anak. Beliau masih rajin ke sawah, bahkan ikut melelang sawah tanah kas desa untuk dikelola selama setahun.

"Terus bagaimana ini?" tanyaku.

"Tenang saja, Yah. Panennya dikerjakan para pemboreg (pemborong panen padi). Seperti biasa, paling cuma mengangkut hasil panen pulang. Lek Nur libur kok."

Aku mulai lega dengan penjelasan itu. Untung adikku kerja tidak jauh, dan bisa libur saat panen besok. Jadi ada yang membantu mengangkut hasil panen pulang. Itu artinya, aku bisa berangkat ke Jogja, in sya Allah.

"Kakak juga sudah Bunda kasih tahu, kalau besok mau diajak ke Jogja."

"Syukurlah. Rara sudah tidak batuk lagi, kan?"

"Alhamdulillah Rara sudah sembuh. Jadi besok bisa menemani Ayah kopdar."

Tampaknya, semua memang sudah oke. Izin sudah didapat, anak-istri sehat dan siap diajak ke Jogja besok. Motor bebek setiaku juga sudah diservis. Semoga dimudahkan bertemu teman-teman ODOP, dan menjadikan jalinan ukhuwah dan silaturahim yang barakah.

Aku menengok grup WhatsApp. Aku ingat, kemarin Mbak Sakifah, salah satu panitia kopdar yang paling sibuk, memberikan link grup khusus kopdar. Kemarin aku belum berani ikut gabung karena belum meminta izin ke boss dan takut kalau tidak bisa ikut. Aku berniat masuk ke grup itu dari link yang dibagikan di grup komunitas.

"Hape ... hape!" Tapi Rara, bungsuku yang baru berumur setahun lebih, melihat ayahnya pegang gawai, langsung mendekat dan hendak meminta pinjam. Selalu begitu, dia selalu minta diputarkan video lagu anak-anak kesukaannya. "Cicak ... cicak...!" pintanya sambil meniru kata pertama lagu Cicak-Cicak di Dinding.

"Iya, iya." Aku tidak jadi mencari link yang dibagikan Mbak Sakifah. Tidak lama kemudian si Rara sudah goyang-goyang mengikuti alunan musik sambil menatap layar gawaiku.

(BERSAMBUNG)

 

Gara-Gara Duit Seratus Ribu

Gara-Gara Duit Seratus Ribu


"Hentikan! Cukup!" Perempuan itu lekas menghadang di depan lelaki dengan celurit terhunus dan sudah berlumur darah itu.

"Minggirlah kau! Ini urusan laki-laki!" Bentakan yang kasar.

"Tidak! Kau tidak bisa berlaku sewenang-wenang seperti ini!" Perempuan itu tidak gentar.

"Minggirlah, kalau kematianku bisa memuaskan dia, aku rela!" Lelaki di belakang si perempuan yang bicara. Muka dan tubuhnya sudah bermandi darah, entah berapa kali sabetan celurit merobek kulitnya.

Lelaki bercelurit merangsek maju. Si perempuan tetap bersikukuh menghalangi, bahkan ia pasang badan demi melindungi lelaki berlumur darah itu. "Langkahi dulu mayatku," tantangnya tegas.

"Sial! Menyingkirlah, Perempuan!" bentak lelaki bercelurit.

"Tidak. Aku tidak akan menyingkir. Aku heran, kalian bisa saling bunuh begini hanya gara-gara duit seratus ribu rupiah! Memalukan!"

"Ini tidak hanya soal nilai 100 ribu rupiah! Ini soal harga diri!"

Lelaki bercelurit itu lekas mendorong tubuh si perempuan hingga terjengkang jatuh. Lalu mata iblisnya menatap tajam ke arah lelaki berlumur darah yang sudah tidak berdaya itu. Uang Rp100.000,00 terbayang di matanya.

***

Nah, sekarang kita masuk ke pembahasan dari contoh tulisan di atas, yakni penulisan uang dalam satuan rupiah. Kira-kira masihkah ada yang bingung? Kita akan membicarakan uang seratus ribu rupiah. Coba lihat penulisan berikut ini:

Rp100.000,00
Rp. 100.000
IDR 100.000,00
Rp 100 ribu
100 ribu rupiah
seratus ribu rupiah
100.000 IDR

Mana yang sering teman-teman gunakan saat menulis? Apakah itu sudah baku sesuai aturan ejaan bahasa Indonesia yang benar? Atau teman-teman justru tidak memikirkan bahwa penulisan rupiah ada aturannya? Sebagai penulis yang baik, marilah kita bersama-sama belajar menulis dengan baik dan benar.

Baiklah kita akan membahas bagaimana penulisan bilangan nominal rupiah yang benar.

1. Penulisan dengan huruf
Untuk menulis dengan huruf, maka kita harus menuliskannya dengan utuh satuan rupiahnya, dan gunakan huruf kecil, kecuali awal kalimat. Contoh:
  • Seratus ribu rupiah menjadi penyebab pertengkaran itu.
  • Pertengkaran itu terjadi hanya gara-gara uang seratus ribu rupiah.

2. Penulisan dengan simbol Rp
Ini yang sering salah dan menjadi rancu. Perlu diingat, ya, Rp bukan singkatan dari rupiah, tetapi adalah simbol mata uang. Penulisannya adalah serangkai dengan nominalnya, tanpa ada tanda titik atau spasi memisahkan. Sementara tanda titik boleh digunakan sebagai pembatas ribuan. Tutup dengan tanda koma dan dua nol di belakangnya sebagai penanda nominal utuh (bulat). Contoh:

  • Keduanya membayar dengan uang Rp100.000,00
  • Apalah artinya selembar uang Rp100.000,00
3. Penggabungan angka dan huruf
Penulisan angka dan huruf boleh dikombinasikan untuk jumlah yang besar. Misalnya Rp100 ribu.
Tapi ingat, cara penulisan bilangan (baik memakai penulisan dengan angka dan bilangan) tidak boleh sekaligus, kecuali dalam dokumen resmi seperti akta atau kuitansi. Misalnya Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) hanya untuk dokumen resmi.

4. Penggunaan IDR
IDR adalah standar internasional mata uang Indonesia dengan menerapkan ISO 4217. IDR singkatan dari Indonesian Rupiah . Seperti misalnya USD untuk Dollar Amerika Serikat. 

ISO 4217 adalah standar internasional yang ditetapkan oleh International Organization for Standardization atau ISO yang berisi kode tiga huruf (juga disebut dengan kode mata uang) yang mendefinisikan nama mata uang. Daftar kode ISO 4217 dipakai oleh perbankan dan bisnis di seluruh dunia untuk mendefinisikan mata uang. Di beberapa negara, kode-kode mata uang tersebut sudah dikenal luas sehingga nilai kurs yang diumumkan di surat kabar dan bank menggunakan kode-kode ini dibandingkan nama mata uang yang telah diterjemahkan atau simbol mata uang lainnya. (Wikipedia)

Penggunaan kode mata uang ISO 4217 belum ditetapkan oleh PUEBI. Ada dua cara yang digunakan oleh berbagai negara di dunia untuk meletakkan kode ini: di depan (mis. EUR 50) atau di belakang angka (mis. 50 EUR). Karena kode ini adalah singkatan yang menerangkan angka, sama seperti kata rupiah menerangkan angka, kode ini sebaiknya ditulis di belakang angka, sesuai dengan
hukum D-M kita. Jadi, 50.000 IDR, bukan IDR 50.000.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, mana yang benar dan mana yang tidak tepat dalam menuliskan nominal rupiah? Semoga dengan memperbenar tulisan kita maka kita akan jadi penulis yang benar. Terima kasih.