Coretan Basayev: Januari 2018
Jago Nulis Bukan Jaminan Lulus ODOP

Jago Nulis Bukan Jaminan Lulus ODOP



Menjadi peserta One Day One Post Community, memang bukan perkara mudah. Ketika setiap hari harus menyetor tulisan, tidak peduli sedang mood menulis ataukah tidak. Sejak awal pembukaan di setiap batch, sudah mulai satu persatu peserta yang berguguran. Ini menunjukkan memang bukan hal yang mudah mengikuti aturan di komunitas kepenulisan yang satu ini.

Dalam sambutannya kepada peserta batch baru, pencetus komunitas ini, Bang Syaiha, menyampaikan bahwa memang ODOP bukan tempat yang paling ideal untuk belajar menulis. Komunitas ini banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. "Terimalah ODOP apa adanya," kata beliau, "karena kalau nyari yang sempurna, nanti malah nggak dapet-dapet, loh ...." (Anjuran yang bagus juga buat para jomblowers, red.).

Menurut Bang Syaiha, terkadang kesempurnaan itu akan datang ketika kita sudah bisa membuka hati terhadap apa pun yang kita terima. "Jadikan ODOP sebagai tempat sarana belajar, bukan sarana bangga-banggaan."

Founder ODOP ini menyadari peserta batch baru tidak hanya dari kalangan pemula banget, beberapa peserta bahkan banyak yang sudah malang-melintang di dunia kepenulisan, menjuarai lomba-lomba dan karyanya dimuat di media massa. Maka Bang Syaiha mengingatkan, "Kalau nanti ada pengisi yang mungkin, menurut kamu biasa saja, maka dengerin aja lah."

Bang Syaiha meningatkan pada perkataan Imam Syafi'ie, "Saya akan duduk khidmat mendengarkan sebuah ilmu, seperti orang yang baru pertama kali mendapatkannya, walau sebenarnya saya sudah ribuan kali memahami ilmu itu."

"Kita sama-sama belajar. Sama-sama berbenah," pungkasnya. "Terimalah apa pun yang akan disuguhkan para pije nanti ...."

Dari apa yang disampaikan Bang Syaiha, maka saya merasa perlu menggarisbawahi, mengikuti ODOP sekali lagi bukan perkara mudah. Saya bahkan berani mengatakan, seseorang yang memang sudah jago dalam menulis, belum tentu dia mampu bertahan di ODOP sampai kelulusan. Di ODOP dituntut untuk menulis setiap hari, menerima materi kepenulisan, menulis tantangan yang diberikan, saling membaca karya teman lewat blog walking, saling bedah karya di grup masing-masing, dan sebagainya. Ritme yang harus diikuti menuntut keseriusan, konsekuensi, dan keterbukaan hati dalam menerima segala masukan.

Peserta yang sudah wara-wiri di dunia kepenulisan bisa jadi punya masalah dengan konsistensi menulis harian, bahkan ada satu-dua yang merasa di ODOP dia lebih dari peserta lainnya, sehingga apa yang diatur oleh para PJ dianggap remeh. Perasaan merasa lebih ini harus ditiadakan di sini, sebagaimana saran Bang Syaiha.

Para peserta yang benar-benar newbie jangan pernah merasa minder. Ikuti saja semua aturan main di ODOP. Jangan suka hutang tulisan kalau tidak mau merasakan berat. Pupuk semangat dengan membaca karya teman yang lain. Selalu terbuka menerima ilmu apa pun.

Ada nggak peserta yang sudah jago nulis tapi gugur di ODOP? Ada. Ada nggak peserta yang benar-benar awam tapi lulus di ODOP? Banyak. Jadi, jago menulis bukan berarti mudah lulus di ODOP. Meski seharusnya yang jago menulis lebih mudah menghadapi tantangan harian. Suatu paradoks yang tidak bisa dimungkiri.

#30DWCday21
Belajar Non Fiksi bersama Mbak Nova

Belajar Non Fiksi bersama Mbak Nova



Pada hari Senin, 29 Januari 2018, di grup besar WhatsApp One Day One Post Batch 5, berlangsung kelas Non Fiksi yang dimulai pukul 20.00 WIB sampai selesai. Materi disampaikan oleh seorang kartini masa kini yakni Mbak Nova, pemilik blog http://nodiwa.com. Dan alhamdulillah saya bisa mengintip ke sana meski jadi silent reader.

Mbak Nova memulai dengan menjelaskan pengertian dari jenis tulisan yang beliau pilih. "Non fiksi adalah sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan fakta, realita atau hal-hal yang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Non fiksi adalah karya seni yang bersifat faktual. Hal-hal yang terkandung di dalamnya adalah nyata. Informasi, data dan fakta dalam tulisan non fiksi harus dipaparkan dengan benar tanpa rekayasa atau ditambahi imajinasi penulis."

Kemudian blogger yang tinggal di Nganjuk, Jawa Timur ini memberikan beberapa contoh yang termasuk tulisan non fiksi. "Artikel, review, reportase, dan opini adalah contoh jenis ini," kata beliau.

Dari pemaparan perempuan yang kesehariannya mengenakan seragam PNS untuk bekerja di Pemda Kabupaten Nganjuk ini, bisa disimpulkan ciri-ciri tulisan non fiksi antara lain :

1. Ide tulisan jelas, logis dan dipaparkan secara sistematis
2. Berisi informasi sesuai fakta
3. Penggunaan kata-kata yang baku sesuai Ejaan Bahasa Indonesia

"Membuat curhatan kita menjadi lebih terlihat elegan sebagai tulisan non fiksi, ya antara lain jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata lebay, kalimatnya harus positif, dan pesan tersampaikan," jelas ibunda dari Rafa ini.

"Intinya ya menulis saja. Baca ulang. Ada nggak kalimat yang bikin bosan atau terkesan menggurui. Kalau kita saja bosan baca tulisan sendiri, bagaimana dengan orang lain?" Salah satu tips yang disampaikan Mbak Nova.

Ketika adanya peserta yang bertanya apakah non fiksi harus selalu menggunakan kalimat yang baku, beliau menjawab, "Menurutku tergantung ya. Misal untuk penulisan karya ilmiah harus menggunakan kalimat baku. Tapi untuk artikel, feature, bolehlah ada kalimat tidak baku. Tapi porsinya dibatasi."

Mbak Nova menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta dengan baik dan runut. Saya sendiri yang cenderung ke dunia fiksi memang berusaha menimba ilmu langsung dari beliau yang seorang pembelajar tulisan non fiksi. Paparan beliau sangat bermanfaat. Terutama buat saya, ceritanya balada anak fiksi berguru ilmu non fiksi. Hehehe ....

#30DWCday20
Mengenang Purnama

Mengenang Purnama


Setiap orang pasti punya kenangan masa kecil yang tidak pernah bisa dilupakan. Begitu juga saya yang pernah mengalami masa-masa tidak kenal duka-lara itu. Masa terindah tanpa beban problema kehidupan. Siapa pun pasti akan selalu mengenangnya.

Sebenarnya banyak sekali kenangan masa kecil terutama berbagai permainan yang dilakukan bersama teman-teman sebaya. Sebut saja gobak sodor, betengan, kelereng, petak umpet dan lain-lain. Tapi di sini saya hanya akan mengenang sebuah serpih masa kecil yang kenangan itu sekarang sudah tidak bisa saya temui.

Kenangan itu adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan ketika malam bulan purnama. Ketika cahaya sempurna sang Dewi Malam menerangi bumi. Waktu-waktu itu, saya dan keluarga saya, yang juga dilakukan tetangga-tetangga saya, menggelar tikar di halaman rumah setelah salat Isya. Waktu itu belum ada listrik di kampung saya. Hanya lampu-lampu minyak tanah yang menemani malam.

Di atas tikar di bawah guyuran cahaya purnama itu kami bercanda bersama, mengobrol apa saja. Anak-anak bermain. Sementara yang punya radio bertenaga baterai ABC menyetel lagu-lagu dangdut dengan penyiarnya yang suka bikin heboh dengan keseruannya. Saya paling ingat adalah radio salah satu tetangga yang menyetel acara bertajuk Senandung Senja radio Swara Graha kalau tidak salah ingat. Penyiarnya Dul Kempul. Memutar lagu dangdut yang enak dinikmati, tidak koplo-koplo-an seperti sekarang ini.

Saya senang bermain petak umpet (pembela kalau istilah di kampung saya), bersembunyi di tempat yang agak gelap dan sukar dicari. Adik saya yang penakut sering jadi bahan bully karena tidak berani sembunyi di tempat gelap, dan takut mencari teman yang sembunyi di tempat kurang cahaya. Pokoknya seru ....

Semua itu kini tinggal kenangan. Kebiasaan itu sudah benar-benar sirna. Tidak ada lagi keseruan malam purnama. Semua asik dengan tontonan televisi di rumah masing-masing. Begitulah, ketika zaman memang musti berubah. Tidak menyalahkan siapa pun.

Anda pasti punya kenangan tidak kalah seru, silakan share di komentar. Mengenang masa-masa indah kala itu ....

#30DWCday19
Kesempatan Kedua Itu Ada

Kesempatan Kedua Itu Ada


Sovia membanting iPhone keluaran terbaru yang belum ada sebulan ia beli dari salah satu market place online itu. Smartphone yang dirancang dan dipasarkan oleh Apple Inc itu sejenak berkedip-kedip, mungkin merasakan kesakitan yang amat sangat akibat benturan keras yang menimpanya. Perangkat canggih yang menggunakan sistem operasi telepon genggam iOS Apple yang dikenal dengan nama "iPhone OS" itu mengalami retak parah pada bagian layar liquid crystal display-nya.

Safina yang sedang membaca buku Senyuman Bidadari karya Suden Basayev di atas sofa sempat terkejut dengan kelakuan sahabatnya. Sejenak ditutupnya buku kumpulan cerita pendek terbitan Leutika Prio di gengamannya. Lalu didekatinya Sovia yang menjambak-jambak rambutnya sehingga kentara kusut sekali. Kusut pikiran.

"Sov, tenangkan hatimu. Kamu pasti sedang ada masalah serius sehingga sampai melempar gawai kesayanganmu." Safina menyentuh bahu Sovia dengan hati-hati, takut menyinggungnya.

Sovia menatap Safina. Ia lekas memeluk sahabatnya yang selalu mengerti akan keadaannya itu. Safina membalas pelukan itu dengan hangat. Ia paling tidak tega melihat Sovia yang sering mudah kacau, maka ia ingin menjadi tempatnya mencari tenang.

"Aku gagal, Saf," parau suara Sovia. Ia sudah hendak menangis.

"Ceritakan padaku."

Sovia melepas pelukannya. Lalu mengalirlah cerita itu. "Aku sedang mencoba membuat sebuah cerpen untuk kuikutkan sebuah perlombaan, Safina. Tadi malam pukul 23.45 adalah jam deadline-nya. Tapi aku ketiduran sebelum menyelesaikan dan mengirim naskahku."

"Kesempatan itu terlewat?"

Sovia mengangguk. "Baru saja aku mencoba menghubungi PJ lomba itu minta diberi dispensasi waktu. Tapi ditolak."

"Kamu kesal dan melempar iPhone kamu?" simpul Safina.

Sovia mengangguk. "Iya. Aku gagal."

Safina menepuk bahu Sovia. "Aku yakin masih ada kesempatan di lain waktu untuk kamu. Masih ada kesempatan kedua. Yang penting kamu tetap semangat."

"Bagaimana aku bisa semangat lagi, Saf?"

Safina berdiri. lalu beranjak mendekati tas ranselnya. "Ada sebuah buku yang bisa memberi semangat kamu, Sov."

Sovia melihat sahabatnya itu membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku. Lalu diulurkan padanya. "Baca buku ini, kamu bisa meresapi dan mendapatkan semangat baru agar kamu bersemangat lagi. Kamu belum gagal. Masih ada kesempatan kedua untuk ikut lomba menulis."

Sovia menerima buku itu. Sebuah buku berjudul Rahasiaku, ditulis oleh anggota One Day One Post dan diterbitkan oleh Embrio Publisher, Sidoarjo. Sebuah senyum menghias bibir Sovia. "Terima kasih, Saf. Aku pasti menuntaskannya."


"Kamu baca, ya. Aku baru membelinya lewat Mbak Nova."

Kedua sahabat itu berpelukan.

#30DWCday16
Mengenal Tanda Elipsis

Mengenal Tanda Elipsis


Saya sangat sering menjumpai pada tulisan teman-teman yang sedang belajar menulis, adanya tanda baca yang digunakan tanpa mengindahkan kaidah ejaan yang seharusnya. Contohnya pada kalimat berikut:

Mas, mau minum apa? Kopi, teh, atau....... mungkin mau susu?
Coba fokus pada deretan tanda titik yang digunakan. Berapa jumlahnya? Apa itu bermanfaat? Atau mubazir? Yang pasti itu tidak sesuai dengan kaidah ejaan yang berlaku pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang Disempurnakan.

Baiklah, di sini kita akan mengenal tanda baca elipsis. Elipsis berasal dari bahasa Yunani: ἔλλειψις, élleipsis, (penghilangan) adalah tanda baca yang biasanya menandai penghilangan sengaja suatu kata atau frasa dari teks aslinya. Tanda ini dapat menunjukkan jeda pada pembicaraan, pikiran yang belum selesai, atau, pada akhir kalimat, penurunan volume menuju kesenyapan (aposiopesis). Simbol untuk tanda elipsis adalah rangkaian tiga tanda titik (...) atau suatu glif yang berupa tiga bintik (…). Sumber: Wikipedia.

Tanda elipsis (...) dipakai dalam kalimat terputus-putus. Ingat ya, hanya tiga titik, jangan lebih dan jangan kurang. Juga dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Contoh penulisan salah di atas bisa kita edit, perhatikan tanda titik-titiknya. Jadi, yang benar tidak usah boros tanda titik. Jadinya seperti ini:

Mas, mau minum apa? Kopi, teh, atau ... mungkin mau susu?
Perhatikan! Tanda elipsis didahului dan diikuti dengan spasi. Tapi jika memang kalimatnya terpenggal maka boleh diberi koma (,). Perhatikan berikut ini:

Kalau begitu ..., marilah ke rumah Afnan.
Jika kamu tidak melupakan kenangan dengan dia ..., aku bisa apa coba?

Sementara jika tanda elipsis digunakan pada akhir kalimat, maka ia harus diikuti satu tanda titik. Jadi 3 elipsis dan 1 titik penutup, total 4 titik. Jangan lebih. Contohnya:

Sementara Haryono masih tersiksa dengan kenangan perpisahan itu ....

Nah, saya kira ini dulu tentang pengenalan pada tanda elipsis (...). Semoga tidak ada lagi yang menulis dengan borosnya tanda titik, padahal cukup 3 titik sebagai tanda elipsis.

#30DWCday15
Tidak Pandang Bulu

Tidak Pandang Bulu


Sanggramawijaya, raja pertama Majapahit itu, bangkit dari dampar kencana. Keresahannya terlihat jelas. Lembu Sora menghaturkan sembah, sebelum berbicara. "Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Hamba sudah mengakui semua yang hamba lakukan. Hamba dengan sadar telah menikam Adi Kebo Anabrang. Hamba tidak tega melihat perlakuannya kepada keponakan hamba, Ranggalawe. Hamba sadar sepenuhnya, ini adalah sebuah pelanggaran hukum."

Sanggramawijaya mendesah. Pengakuan itu sudah kesekian kalinya diucapkan Lembu Sora. Bahkan di hadapan para punggawa kemarin saat pertemuan di paseban agung. Raja Majapahit itu memandang Lembu Sora. "Paman, masalah ini sangat rumit. Saya tidak bisa grasa-grusu, tergesa-gesa, dalam mengambil keputusan."

"Ampun, Gusti Prabu. Paduka tidak perlu menganggap ini masalah yang rumit. Angger Mahisa Taruna telah menyampaikan tuntutan agar ada keadilan bagi kematian ayahandanya. Pelaku pembunuhan sudah jelas dan mengakui. Paduka tinggal mengambil keputusan hukuman sesuai apa yang tercantum dalam Kitab Kutaramanawa."

Sanggramawijaya mengalihkan pandangan dari abdi setianya itu. Kembali terbayang masa-masa sulit akibat pemberontakan Jayakatwang dulu, yang membuatnya menjadi pelarian bersama keluarga raja yang masih tersisa. Lembu Sora adalah abdi yang setia, yang selalu siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan keluarga raja. Sanggramawijaya tahu persis bagaimana isi dalam hati Lembu Sora. Sekarang ia dihadapkan pada masalah pelik, antara menghukum abdinya ini dengan mengampuni kesalahannya. Pembunuhan atas Kebo Anabrang dari sudut mana pun tetap tidak bisa dibenarkan.

"Andai Paman tidak mengakuinya, tentu saya bisa melepaskan Paman dari hukuman."

"Jangan ada pikiran sempit seperti itu, Paduka. Paduka harus menegakkan keadilan di Majapahit. Adanya peraturan perundangan adalah untuk meninggikan kewibawaan kerajaan. Jangan sampai kesalahan seorang Lembu Sora membuat Paduka bertindak tidak adil. Lembu Sora adalah kawula Majapahit, yang juga harus menerima segala titah berdasar Kitab Kutaramanawa. Hukum tidak pandang bulu, Paduka."

Kembali raja Majapahit itu menatap Lembu Sora. Menemukan keteguhan dalam sikapnya. Membuatnya semakin dilema. "Paman adalah ksatria Majapahit. Jasa Paman tidak terukur."

"Hamba hanya seorang kawula yang telah melanggar hukum, Paduka."

"Saya tidak tahu, bagaimana melanjutkan pemerintahan jika kehilangan Paman."

"Ampun, Gusti Prabu. Paduka tetap akan meneruskan pemerintahan ini. Apalah seorang Lembu Sora. Dia hanya seonggok kunyit di antara bahan masakan yang bisa digantikan bahan lain. Hidangkan yang terbaik untuk rakyat Majapahit, Paduka. Jangan ada kesenjangan. Rakyat butuh teladan dalam menegakkan hukum. Hamba siap menerima segala keputusan Paduka."

Sanggramawijaya merasakan matanya basah oleh genangan air mata. Apakah ia akan sanggup mengambil keputusan itu? Menghukum berat seorang abdi yang kesetiaannya tidak diragukan lagi oleh siapa pun. Raja Majapahit itu menghempaskan diri, kembali terduduk di atas dampar kencana. Sementara Lembu Sora masih teguh dengan segala sikap ksatrianya.

#30DWCday14

Siasat Membalas Dendam

Siasat Membalas Dendam


Halayudha menatap tajam ke arah pemuda itu. Mahisa Taruna, ia tegap seperti ayahandanya, Kebo Anabrang. Pastilah sisa didikan sang ayah melekat pada pribadi anak muda itu. Tapi dia gelisah. Dan kegelisahan itu yang akan dimanfaatkan Halayudha.

"Kau harus menuntut hukuman pada Lembu Sora. Jangan takut, aku akan mendukungmu, Mahisa Taruna." Halayudha kembali memberikan saran.

"Tapi dia seorang kepercayaan Gusti Prabu, abdi kesayangan, Paman Halayudha."

Halayudha tertawa. "Kitab Kutaramanawa mengatur Majapahit tanpa memandang bulu, Ngger. Kau hanya perlu menyampaikan tuntutan di hadapan Sang Prabu. Sisanya, aku yang akan membantumu."

Mahisa Taruna tidak langsung menanggapi perkataan punggawa Majapahit itu. Ia berpikir keras. Ia tahu, siapa yang akan dihadapinya. Lembu Sora bukan nama sembarang orang di Majapahit. Meski dendam atas kematian ayahandanya tetap membara di hati.

"Jujur aku tidak bisa terima perlakuan Lembu Sora pada ayahandamu. Aku menjadi saksi. Anyir darah dari tikaman Megalamat seolah masih menguar di hidungku. Apa kau terima begitu saja, Ngger?"

Mahisa Taruna mulai terhasut. Ia menahan geram teramat. Halayudha tahu persis, Mahisa Taruna itu ibarat permukaan yang polos. Kata-kata yang diucapkannya kepada pemuda itu adalah seperti barisan goresan serupa arsir, yang jika ditelateni akan menjadi barisan rapi coretan di permukaan polos, yang akan menghitamkannya. Dan kalau sudah tertutup sempurna, maka Halayudha akan semakin mudah memasukkan hasutannya.

"Tapi, Paman. Apalah dayaku. Aku punya kekuatan dan kekuasaan apa?" Mahisa Taruna masih berusaha berpikir jernih.

"Kebenaran. Kau punya kebenaran. Itu di atas segalanya. Sekali lagi, kau hanya perlu menuntut keadilan. Sisanya aku yang akan membantu."

Mahisa Taruna menghela napas berat.

"Kalau kau bersedia, aku akan mengajakmu menghadap Gusti Prabu di balai paseban agung. Tidak ada yang perlu kaurisaukan."

Pemuda itu masih beku. Halayudha tahu, tidak mudah mempengaruhinya. "Baiklah, mungkin kau perlu waktu untuk berpikir. Aku menunggu kesediaanmu. Bagaimana pun keadilan harus tegak di bumi Majapahit. Kita harus menjaga kewibawaan negeri tercinta ini."

"Paman... beri waktu aku memikirkannya."

Halayudha bangkit. Ia harus bermain cerdik. Ia tidak akan memaksa. "Baiklah, aku pamit dulu."

Mahisa Taruna mengantar kepergian punggawa Majapahit itu sampai ke halaman. Halayudha segera menaiki kereta kudanya. Kusir sudah menggerakkan tali kekang kuda, ketika Mahisa Taruna berseru, "Paman, aku akan berkunjung ke kediamanmu besok. Aku akan membawa jawaban tawaranmu."

"Bagus, aku tunggu." Halayudha tersenyum. Di matanya sudah terbayang Lembu Sora masuk ke penjara kerajaan. Satu penghalang akan dia singkirkan dengan perantara Mahisa Taruna.

Kereta kuda bergerak meninggalkan wisma tempat tinggal Mahisa Taruna.

#30DWCday13

Merah Darah di Tambak Beras

Merah Darah di Tambak Beras

 

"Adi Kebo Anabrang! Lepaskan cekikanmu! Jangan membunuh Ranggalawe dengan cara keji seperti itu!"

Kebo Anabrang bukan tidak mendengar seruan Lembu Sora, tapi dia sedang menghadapi Ranggalawe yang tidak bisa dianggap remeh. Ia sudah berhasil menjepit leher adipati Tuban itu. Dan dengan segenap kekuatan, berulang kali Kebo Anabrang membenam-benamkan kepala Ranggalawe ke dalam Sungai Tambak Beras yang menjadi ajang pertarungannya dengan pemberontak Majapahit itu.

Ranggalawe yang sudah tidak berdaya dan tidak mampu lagi menghimpun tenaga dalam, terlihat sangat menderita dalam himpitan tangan kekar Kebo Anabrang. Berkali napasnya hampir putus karena terbenam di derasnya air. Tangannya bahkan tidak ada tenaga sama sekali untuk sekedar mencengkeram himpitan lawan. Rinai gerimis mewarnai pertarungan yang mulai tidak berimbang itu.

"Kau tidak mendengarkan aku, Adi Kebo Anabrang?!" seru Lembu Sora dengan nada meninggi.

"Kakang Lembu Sora tenanglah di tempatmu! Aku hanya melaksanakan perintah Sanggramawijaya. Tidak ada yang boleh seenaknya memberontak kepada Majapahit. Meskipun Ranggalawe jasanya sebesar Gunung Penanggungan sekalipun."

Kebo Anabrang kembali membenamkan kepala adipati Tuban itu dengan tanpa rasa ampun. Ranggalawe benar-benar sudah terkulai.

Mata Lembu Sora berkaca-kaca. Sesungguhnya perang itu berkecamuk dalam batinnya. Bagaimana pun Ranggalawe adalah keponakannya. Meski pun ia memilih menjadi pemberontak karena kekecewaannya pada sabda Sanggramawijaya, tetapi sungguh Lembu Sora tidak sampai hati melihat putra Arya Wiraraja itu megap-megap di himpitan tangan Anabrang.

"Adi Anabrang... Lepaskan Ranggalawe. Lepaskan...!" Suara Lembu Sora serak. Panglima perang Majapahit itu benar-benar dalam kekalutan. Tapi Kebo Anabrang tidak memedulikannya.

"Tambak Beras akan menjadi saksi kematianmu, Ranggalawe!" Kebo Anabrang menahan kepala satria kebanggaan rakyat Tuban itu dalam benaman air sungai. Tidak ada lagi tenaga selemah apa pun padanya. Hilang sudah segala sakti segala pandai olah kanuragan. Ajal segera menjemputnya.

Lembu Sora menatap Keris Megalamat, senjata andalan keponakannya itu, tergeletak di tepi sungai setelah terpental lepas dari genggaman pemiliknya. Entah siapa yang menggerakkan abdi kesayangan Sanggramawijaya ini untuk memungut senjata pusaka itu. Bergetar tangan Lembu Sora mencengkeram gagang keris itu. Lalu mata nanarnya tajam menatap ke arah Kebo Anabrang yang masih menyiksa keponakannya.

Kebo Anabrang tidak menyadari adanya bahaya. Dia tidak pernah menyangka Lembu Sora akan mengambil keputusan itu. Kebo Anabrang merasakan tusukan itu menembus kulit punggungnya, menembus tulang merobek daging. Darah muncrat dari luka lebar itu. "Aargh!" Kebo Anabrang menjerit keras seiring limbung tubuhnya. Megalamat menancap di punggungnya.

#30DWCday12
2 Hal Dasar pada Blogger untuk Pemula di ODOP

2 Hal Dasar pada Blogger untuk Pemula di ODOP


Ketika awal bergabung dengan komunitas ODOP (One Day One Post), maka satu kewajiban para anggota adalah memiliki blog, boleh di blogger ataupun di wordpress. Dan ketika sudah memiliki blog dan bersiap mengikuti ritme harian di ODOP, kadang para newbie atau pemula banget, masih sering dibuat bingung. Salah satu kewajiban harian di ODOP adalah blog walking atau saling kunjung blog dengan sesama peserta. Inilah upaya agar terjalin ikatan tambang keluarga besar ODOP.

Blog walking sebagai sarana saling mengenal dan ajang silaturahim, mengharuskan sesama blogger untuk menjadi pengikut atau follower blog lainnya, dan meninggalkan komentar berupa kritik dan saran serta tanggapan pada posting-an yang ditulis teman-teman. Dan ternyata pada dua hal ini masih ada yang sering bingung.

Setelan Blog Agar Siapa Saja Bisa Berkomentar

Seringkali peserta awam bertanya-tanya, "Kok saya tidak bisa komentar di blog si A, ya?". Atau bertanya sebaliknya, "Kok kata si B, dia nggak bisa komentar di blog saya, kenapa kira-kira?"


Besar kemungkinan, pengunjung blog kita tidak hanya pengguna blogger, maka ketika ada yang mengeluhkan tidak bisa komentar, ada baiknya pemilik blogger memastikan setelan komentar di blognya diset agar bisa dikomentari siapa saja termasuk anonim. Untuk itu cobalah masuk ke blogger dan ikuti langkah berikut:

1. Masuk ke menu Setelan.
2. Pilih Postingan, komentar dan berbagi.
3. Pada setelan Komentar pertanyaan Siapa yang dapat mengomentari? Pilih saja Semua Orang - termasuk Pengguna Tanpa Nama
4. Pada pilihan Moderasi komentar pilih Tidak pernah.
5. Jangan lupa klik Simpan setelan.



In sya Allah, setelah mengatur setelan sedemikian rupa, maka tidak akan ada lagi yang mengeluhkan tidak bisa berkomentar. Kecuali kalau jaringan internet pengunjung sedang tidak bagus. Tidak ada bimbang lagi untuk melanjutkan ng-ODOP.

Menampilkan Gadget Followers

Sebagian pendaftar ODOP adalah blogger pemula yang bahkan tidak bisa memasang gadget Followers atau Pengikut di blog mereka. Padahal salah satu keharusan di ODOP adalah saling follow blog teman-teman.

Sebenarnya sangat mudah menampilkan gadget Followers, ikuti petunjuk berikut:

A. Buka pengaturan Tata Letak di halaman beranda blogger.
B. Pilih tempat sesuka kita pada link Tambahkan Gadget.
C. Akan muncul pilihan gadgetnya, pilih Pengikut.
D. Pilih judul gadget atau biarkan default Followers, simpan.



Mudah sekali, bukan? Semoga setelah membaca tulisan ini, para newbie di ODOP dapat tercerahkan. Agar merasakan nyaman tinggal dan berproses di bawah rindang pohon besar One Day One Post.

#30DWC day11
Masih Ada yang Istimewa dari Bang Syaiha

Masih Ada yang Istimewa dari Bang Syaiha


Judul: Masih Ada
Penulis: Bang Syaiha
Penerbit: LovRinz Publishing
ISBN: 978-602-6330-44-4
Tebal: viii+480 halaman


Sebuah novel tebal karya Bang Syaiha, founder One Day One Post Community, berjudul Masih Ada, sebuah kisah tentang harapan, cinta, dan pengabdian, sudah saya tuntaskan membacanya. Saya sangat bersyukur karena novel ini bisa saya anggap sebagai hadiah dari Bang Syaiha. Beliau sendiri yang mengirimkan novel ini ke alamat saya melalui jasa kurir. Terima kasih, Bang, semoga sukses selalu!

Novel ini berkisah tentang Muhammad Khalid, seorang pemuda yang berasal dari Bengkulu, Sumatera, yang bergabung di sebuah gerakan mengajar ke pedalaman. Khalid bertugas mengabdi ke Sambas, Kalimantan Barat. Sebuah papan pengabdian yang jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan. Di sana Khalid mengajar di sebuah sekolah dasar yang juga tempatnya untuk tinggal selama di Sambas.

Tepatnya Desa Kota Bangun, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, tempat Khalid menanamkan harapan kepada anak-anak keturunan Melayu yang masih minim kesadarannya dalam dunia pendidikan. Kehadiran Khalid bagi warga sangat memberi arti, apa lagi kepandaian Khalid sangat berguna di sana. Wajar saja dengan segala sopan, keramahan, dan kebaikan, kehadiran Khalid disambut.

Dikisahkan, Khalid menjadi pemuda pertama di Kota Bangun yang dipercaya menjadi khatib saat salat Jumat, yang biasanya hanya para tetua tokoh agama atau berjuluk labay saja yang boleh berkhutbah pada salat Jumat. Dan itu 'berakibat fatal', Khalid jadi idola para orangtua yang memiliki anak gadis. Termasuk Pak Ahmad, seorang labay, yang berharap Khalid bisa menikah dengan Nila, anak gadisnya.

Sementara Khalid memiliki hubungan khusus dengan gadis bernama Dhisya yang juga sama-sama anggota gerakan mengajar ke pedalaman. Hanya saja Dhisya bertugas ke daerah Riau. Long distance relationship keduanya. Entah sebutannya apa, kekasih, pacar atau bukan. Intinya, keduanya saling cinta, dan Khalid sudah berkali menyampaikan keinginan melamar Dhisya, tapi tidak diijinkan orangtua Dhisya karena Khalid memiliki kekurangan fisik, dia memang seorang penyandang polio.

Cerita mengalir dengan sederhana. Saya sebut sederhana karena memang tidak ada konflik tajam yang disajikan. Saya cukup nyaman menelusuri tiap lembar halamannya. Hanya konflik utama yang kentara, yakni terhalangnya hubungan Khalid dengan Dhisya yang tidak kunjung mendapatkan restu.

Bang Syaiha menceritakan detail kisah ini, tetapi sayangnya beliau saya nilai kurang dalam mengangkat setting muatan lokal di Sambas maupun Riau. Belum bisa saya rasakan bau-bau tanah, sungai, rumah-rumah, dan hutan di sana. Masih sangat minim informasinya.

Tapi ada beberapa informasi lokal yang sempat Bang Syaiha angkat, yakni adanya adat istiadat makan-makan bernama saro'an, pelepasan ratusan perahu kecil berwarna-warni yang disebut ajung yang dipercaya membawa roh jahat untuk dibuang ke lautan lepas, dan festival perahu dayung di Garatak Sabok.

Seperti saya katakan tadi, kisah mengalir begitu saja dengan nyaman-nyaman saja. Saya bahkan tidak menyangka adanya kejutan ketika sampai pada bagian Dua Puluh di mana Nila akan menikah. Sumpah, saya tidak sempat menebak kalau arah cerita ke sini.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menginspirasi, banyak amanat dan manfaat yang tersampaikan. Terutama tentang keikhlasan dalam mengabdi, keteguhan dalam memperjuangkan impian, kesetiaan, dan juga bagaimana menghargai adat-istiadat peninggalan nenek moyang.

Ada sih beberapa yang membuat saya agak kurang sreg. Misalnya Dhisya yang sebagai seorang gadis taat beragama, tapi enjoy saja curhat tentang pemuda yang dicintainya kepada Mamak, orangtua angkatnya di tempat pengabdian. Biasanya kan seorang gadis tidak mudah terbuka soal seperti ini. Tapi ini kewenangan Bang Syaiha sepenuhnya sih, untuk menciptakan watak tokoh rekaan beliau.

Hal lain yang rasanya agak kurang sreg juga, adalah Khalid dan Dhisya yang paham Islam tapi memiliki panggilan kesayangan Kakak-Adek dan sering saling telepon meski bukan siapa-siapa. Sekali lagi ini bukan kapasitas saya untuk menggugatnya.

Terakhir, saya salut dengan ketelatenan Bang Syaiha menggarap novel setebal ini. Saya terprovokasi dan termotivasi agar bisa juga menulis dengan serius hingga jadi novel. Ah, tapi kapan? Semoga bisa menyusul.

Novel Masih Ada enak dibaca, mengalir, dan inspiratif. Saya terhibur, dan bisa mengambil banyak hikmah darinya. Terima kasih, Bang Syaiha. Saya tutup dengan menukil kalimat di sampul belakang: Kita memang tidak akan pernah tahu masa depan. Karena itu tidak penting. Biarkan ia menjadi rahasia Allah. Jauh lebih penting dari segalanya adalah, bahwa kita harus memperjuangkan apa yang sudah kita mulai. Bahwa kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita jalani.

#30dwc day10
Membaca Idealisme Cerpen Dakwah dalam Kerlip Bintang Diandra

Membaca Idealisme Cerpen Dakwah dalam Kerlip Bintang Diandra


Judul: Kerlip Bintang Diandra
Penulis: Asma Nadia
Penerbit : Asy Syaamil, Bandung
ISBN: 979-9435-25-0
Tebal: 140 halaman

Saya membaca buku lawas terbitan 2001, karya Mbak Asma Nadia, berjudul Kerlip Bintang Diandra. Sebuah kumpulan cerita pendek yang berisi 10 judul cerpen beliau. Masih sangat kental bau khas cerpen zaman Annida, yang idealis mendakwahkan Islam untuk remaja. Saya berasa jadi remaja lagi karenanya.

Buku ini dimulai dengan kisah Imut yang punya masalah dengan berat badannya yang ternyata sempat mengganjal proses dakwahnya. Lalu mengajak merenung bersama Mbak Kanti dan adiknya, Pur, yang hidup dalam belitan kemiskinan. Lanjut cerpen ketiga bercerita tentang Kiara dan kisah-kisah cintanya.

Lanjut dengan hikmah dari cerpen tentang surat syahdu buat Asadullah, perenungan dosa Rara, cerita pembantu-pembantunya Lia, kisah Diandra yang jadi judul buku ini, kisah (tidak) seram Hantu Gaul yang menakuti para akhwat yang biasanya sama kecoa saja takut. Ditutup kisah Aditya yang selalu patah hati dalam Asmarahahaha Gatut Koco.

Cerpen-cerpen Mbak Asma Nadia pada masa awal kebangkitan fiksi Islami memang menjadi gempa dalam dunia literasi, bersama para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) lainnya, menyajikan dakwah dalam kisah fiksi yang cukup efektif bagi kalangan remaja.

Buku ringan ini cukup asik dibaca, meski beberapa sisipan dakwahnya terlalu dipaksakan menurut saya. Tapi tidak mengapa, yang penting bisa kena ke hati pembaca. Banyak hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari pembaca awam bahwa itu bagian dari sunnah Rasulullah, yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh fiksi dalam buku ini.

Hadirnya cerpen dengan kekhasan dakwah seperti ini memang perlu sekali untuk memberi warna lain dalam dunia literasi Indonesia. Biarlah ia menjadi warna hijau di antara warna lain, merah, ungu, jingga, hitam, putih, dan sebagainya. Warna yang memeriahkan bacaan kita.

#30DWC day9
Gembul Imut

Gembul Imut


Imut tetap menganggap ini adalah masalah dalam hidupnya. Segala macam diet sudah dicoba. Godaan masakan Ibu sekuat tenaga bisa dilewatinya. Hanya sedikit nasi putih tanpa lauk dan air putih jadi pengisi perutnya. Tapi apa daya, timbangan badan di kamarnya sepakat dengan bayangan di cermin kaca. Apa mungkin kedua benda itu sama-sama mengerjai Imut dengan menunjukkan kepalsuan? Imut kesal sendiri.

"Sudahlah, Mut. Hentikan program diet yang menyiksamu ini." Bujukan Ibu berkali-kali. Imut tetap menggeleng. Meski ia merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi fisiknya yang melemah gara-gara ia paksa menghindari konsumsi makanan yang biasa ia lahap.

Masih terbayang Yos dan kawan-kawannya yang selalu mengejeknya dengan panggilan Embul. Imut sering sebal dengan mereka. Tadi siang memang Imut sempat terpancing geram dengan ejekan itu. Imut sempat melabrak mereka seperti singa hendak menerkam kawanan kijang liar. Mereka menjauh tapi tetap meneriakkan panggilan yang paling Imut benci itu.

Imut terkapar di kamar. Lemas tubuhnya. Tertidur ia dalam kelemahan jiwa dan raga. Ia bermimpi seperti sedang berada di sebuah ruangan hampa. Dalam kesunyian itu Imut merasakan sangat lapar. Tapi tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakannya. Imut berlari ke sana kemari mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengganjal perut. Tapi nihil. Tidak ada apa pun.

Tiba-tiba Imut menangis. Ia seperti bayi kehilangan botol susunya. Ia seperti seorang anak kecil yang lupa diberi makan orangtuanya. Dia merasa sangat rindu pada apa saja yang biasa singgah ke perutnya. Daging sambalado, ayam goreng mentega, sop kacang merah plus tetelan, ikan asam padeh, sambal bajak, sayur lodeh, rempela goreng....

"Aku lapar... aku mau makan! Aku lapar...!" Imut berteriak-teriak. Tanpa disadarinya, teriakan itu menembus ke alam nyata. Dan Ibu lekas masuk ke kamarnya.

"Mut... bangun, Mut. Kalau lapar, masakan Ibu sudah menantimu. Ayolah, Nak, bangun!" Suara Ibu dengan penuh kelegaan. Ia sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu.

Imut terbangun. Dijumpainya Ibu sudah ada di hadapannya dengan senyum lebar. "Ayo, Ibu temani kamu makan. Sudah, jangan menyiksa diri lagi!" kata Ibu sambil menarik tangannya.

Dan entah mengapa Imut tidak kuasa menolak ajakan Ibu kali ini. Menurut saja ia ditarik-tarik Ibu ke ruang makan. Saat dijumpainya masakan Ibu yang komplit, selera makannya segera terbit. Terngiang ejekan Yos dan kawan-kawan. "Peduli apa dengan ejekan mereka?" desis Imut.

Dan Ibu tersenyum puas. Imut sudah kembali. Gembul-gembul saja, yang penting sehat selalu. "Habiskan nasinya, Nak," Ibu mengelus kepala Imut penuh cinta.

#30DWC
#TantanganRCO

Tulisan ini sekaligus menjawab tantangan RCO untuk menulis cerita dengan konflik yang diambil dari kumcer yang dibaca. Ini saya adaptasi bebas dari konflik cerpen Imut karya Asma Nadia yang dimuat dalam kumcer Kerlip Bintang Diandra.


Sharing Setting bersama Shabrina Ws

Sharing Setting bersama Shabrina Ws


Postingan kali ini, saya masih ingin berbagi cerita tentang kehadiran bintang tamu di Kelas Fiksi kemarin malam (16/01/2018). Iya, saat Mbak Shabrina Ws menyempatkan waktu untuk anak-anak ODOP Batch 4.

Seperti sudah saya singgung di postingan kemarin, bahwa Mbak Shabrina Ws sharing tentang setting dalam tulisan fiksi. Tahu, kan apa itu setting? Setting itu latar, jadi Mbak Shabrina Ws bercerita proses kreatif beliau dalam menuliskan setting dalam karya-karya beliau. Setting yang bagus itu harus benar-benar membawa pembaca ke dalam cerita. Kalau menulis setting tempat yang seram tentu harus bisa menakuti pembacanya. Hihi....

Salah satu setting novel karya Mbak Shabrina Ws yang berjudul Always Be in Your Heart adalah Timor Leste ketika peristiwa referendum 99. "Novel itu memerlukan riset panjang," kata Mbak Shabrina Ws. Cara menetukan dan mengenal setting dengan riset bisa lewat internet, film, atau pun buku dan foto-foto. "Saya beli buku Timor Timur Satu Menit Terakhir dan Kamus Tetun-Indonesia," ungkap beliau.

Mbak Shabrina juga mengungkapkan ketika menulis novel Betang: Cinta yang Tumbuh dalam Diam, beliau membeli buku Tjilik Riwut Kalimantan Membangun dan Manaser Penatau Tatu Hiang. "Waktu itu saya juga berkenalan dengan atlet pelatnas karena ini novel tentang dayung. Juga berulang kali menonton tayangan dayung di Youtube," kisah beliau.

"Dalam novel Ping, saya mengumpulkan banyak foto orangutan, pergi ke bonbin, taman safari, dan tentunya membaca buku tentang orangutan. Sementara di nove Sauh, setting di Pacitan, jadi saya sambil mengingat, namun banyak hal tetap saja saya membaca dan bertanya untuk melengkapi info," lanjut Mbak Shabrina semangat, "Intinya, riset setting adalah hal yang menyenangkan. Jangan lelah. Karena saat kita membaca dan menemukan sesuatu bisa jadi kita mendapat ide baru juga."

Mbak Shabrina Ws mengisahkan, awalnya Always Be in Your Heart hanya satu novel, tapi seiring menemukan hal-hal baru akhirnya berkembang menjadi satu cerita bersambung, enam cerpen dan sepuluh puisi.

"Kata Jakob Sumardjo, setting dalam fiksi bukan hanya background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian. Tetapi setting yang kuat adalah yang menjadi unsur cerita itu sendiri. Yang berjalinan erat dengan karakter, tema, dan suasana cerita," jelas penulis penyuka pagi ini.

Untuk menilai apakah setting kita integral, kata Jakob, kita dapat ajukan pertanyaan:

1. Dapatkah setting diganti tempat lain tanpa mengubah isi cerpen/novel?
2. Sejauh mana setting menentukan tema/plot?
3. Sejauh mana setting membentuk watak yang tidak dihasilkan daerah lain?

"Jadi, setting dan cerita yang berhasil adalah, ketika setting dipindah, maka cerita akan berantakan," simpul beliau. "Misalnya, setting saya Timor Timur 99 akan berubah total cerita saat saya pindahkan keSingapura."

Demikian Mbak Shabrina menjelaskan dengan sangat lengkap proses kreatif beliau dalam menulis setting. Saya akui, saya sangat lemah dalam membuat deskripsi setting. Tampaknya saya harus banyak berlatih untuk ini. Harus gigih dan tidak boleh gampang menyerah. Ibaratnya berlatih 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Intinya, jangan ada kata menyerah. Semoga bisa mengikuti jejak kesuksesan Mbak Shabrina Ws. Aamiin...

#30DWC Day7
Tips Mengatur Waktu Menulis Ala Shabrina Ws

Tips Mengatur Waktu Menulis Ala Shabrina Ws



Ceritanya, malam ini, 16/01/2018 Kelas Fiksi komunitas One Day One Post kedatangan tamu seorang penulis, yakni Mbak Shabrina Ws. Beliau berkenan meluangkan 2 jam waktunya untuk sharing pengalamannya dalam menulis. Beliau menyampaikan materi tentang setting. Dan alhamdulillah saya bisa mengikuti kelas kali ini dengan baik, lancar, dan nyaman. Meski jam dimulai pukul 20.00 - 22.00 WIB dengan cuaca hujan di kampung saya. Saya benar-benar kesurupan ilmu yang disampaikan beliau.

Saya tidak akan membahas tentang materi yang beliau sampaikan di kelas. Tetapi ada hal menarik yang ingin saya culik dari penyampaian Mbak Shabrina Ws. Oh, ya, sedikit informasi, bahwa beliau ini termasuk penulis yang cukup produktif. Artikel, puisi, dan cerpennya sudah bertebaran di media massa. Untuk karya yang dibukukan antara lain: Kerlip Bintang-Bintang (2004), Sketsa Negeri Para Anjing (2006), Pelari Cilik (2010), Sakti dan Sapi Rebo (2011), Ping, a Message from Borneo (2012), Always Be in Your Heart (2013), Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam (2013), Lesus dan Kisah Becak-Becak (2014), Deling dan Hari-Hari Menegangkan (2014), Rahasia Pelangi (2015), Dongeng dan Fakta Unik Binatang (2016), Kalender 366 Kata Mutiara (2016), Karena Hidup Hanya Sebuah Persinggahan (2017), dan yang paling gres adalah novel Sauh (2018).

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Wiwid (hallo, Mbak Wid), menanyakan bagaimana cara Mbak Shabrina Ws bisa mensiasati agar tetap konsisten menulis, meski sibuk menjadi seorang ibu. Pertanyaan bagus sekali. Ini juga bisa diambil manfaatnya untuk par calon penulis, tidak hanya yang menjadi ibu-ibu. Dan apa jawaban beliau?

1. Membuat membuat jadwal harian dari bangun tidur sampai tidur lagi.
2. Menulis saat anak-anak sekolah.
3. Membuat jadwal membaca dalam seminggu.
4. Tidak mau keluar rumah (yang mengganggu jadwal harian) tanpa rencana.
5. Keluar rumah seminggu 2 kali.
6. Jangan mudah menyerah.

Enam poin yang saya catat dari jawaban Mbak Shabrina itu sangat bagus sekali. Saya tertarik akan jawaban beliau ini. Membuat jadwal harian merupakan bentuk usaha agar konsisten dan disiplin. Menulis butuh kedisiplinan dan waktu khusus. Dalam hal ini, sebagai ibu rumah-tangga, beliau memilih waktu ketika anak sekolah. Kemudian adanya jadwal membaca, juga adalah sebuah kesatuan tidak terpisahkan. Menulis dan membaca adalah kesatuan. Penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik, ini menurut saya. Hal lain yang sering kali mengganggu adalah keluar rumah dan mengabaikan jadwal harian. Ini harus disiasati, jangan sampai keluar tanpa rencana. Dan beliau menyediakan 2 kali waktu dalam seminggu untuk acara keluar.

Sebuah tips sederhana yang sangat bagus jika bisa diterapkan. Semoga apa yang disampaikan Mbak Shabrina Ws ini bisa menginspirasi siapa saja. Kedisiplinan memang sangat diperlukan agar seorang penulis bisa konsisten berkarya dan produktif. Semoga bermanfaat.

#30DWC Day6


Rumah Kulon (4)

Rumah Kulon (4)


Pagi yang indah. Suara burung saling sahut di pepohonan menyambut sinar matahari pagi yang mulai menyembul dari balik bukit sebelah timur. Sementara ayam jago sudah kelelahan berkokok, mereka menikmati sarapan pagi bekatul dicampur nasi sisa yang diaduk ditambahi sedikit air. Rasanya benar-benar mantap. Apalagi ditemani betina-betina yang sedang begairah. Makin serulah pagi ini.

Dita sedang mengeringkan rambutnya. Sebelum Subuh tadi dia sudah mandi keramas. Alfian juga sudah terlihat rapi. Rambutnya masih terlihat basah tapi sudah disisir rapi. Ia sedang memanaskan mesin motor bebeknya di beranda depan. Sementara si kembar Novia dan Sovia masih ribut di kamarnya mau pakai baju apa.

Waktu menunjukkan pukul 06.12 WIB saat tergopoh-gopoh, Mbah Wiwid mendatangi rumah Alfian. Alfian yang sedang mengelap motor bebeknya segera bangkit. Mbah Wiwid tiba di depannya.

"Ada apa, Mbah? Kok seperti buru-buru begitu?" tanya Alfian lekas.

"Mas Alfian libur, kan? Simbah mau minta tolong...," kata Mbah Wiwid dengan nada penuh harap.

"Minta tolong apa, Mbah? Memang sih, saya libur hari ini."

"Syukurlah kalau begitu. Itu lho Mbah Kakung demam sudah tiga hari. Batuknya juga tidak mau berhenti. Sudah saya bujuk-bujuk untuk berobat dari kemarin belum juga mau. Alhamdulillah pagi ini Kakung bersedia untuk diantar berobat."

Alfian sudah menangkap arahnya. "Mbah minta saya yang ngantar?"

"Siapa lagi, Mas Alfian. Kami memang kaki-nini yang cuma bisa bikin repot Mas Alfian. Beginilah susahnya anak jauh semua, Mas."

Alfian terdiam. Mbah Wiwid memang tinggal berdua saja sama Mbah Bari, suaminya. Rumah mereka sebelah timur rumah Alfian hanya dibatasi sebuah pekarangan kosong. Sebenarnya mereka memiliki lima orang anak, tapi semua sukses di perantauan. Mereka hanya mudik ketika lebaran. Alfian sering merasa kasihan, maka tiap kali kakek-nenek itu butuh bantuan, ia tidak bisa menolak.

"Bagaimana, Mas? Bisa minta tolong periksakan Mbah Kakung ke Bu Dokter Ilmi seperti biasa?" tanya Mbah Wiwid bernada bujukan.

"Ya, sudah. Biar saya antar Mbah Bari berobat. Sebentar lagi saya ke sana."

"Matur nuwun sekali, Mas Alfian. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan limpahan rezeki dan barakah...."

"Aamiin, Mbah."

Mbah Wiwid terlihat bersemangat. Segera ia pamit dulu untuk memastikan suaminya siap-siap. Sejenak Alfian memandangi langkah perempuan tua itu. Ada rasa kasihan juga menyusupi benaknya.

Alfian masuk ke rumah. Meraih jaket yang ditaruh di gantungan baju. Lalu mengenakannya. Ia melihat jam dinding. Kemudian ke kamar. Menjumpai Dita yang sudah berganti baju.

"Mah, Papah mau ngantar Mbah Bari periksa dulu ke Dokter Ilmi. Kasihan, kata Mbah Wiwid sakit sudah tiga hari."

Dita melongo. "Kita kan mau berangkat, Pah?"

"Sebentar ini. Mamah sabar dulu ya. Kasihan Mbah Bari kelamaan menunggu."

Alfian tidak menunggu Dita menjawab. Ia lekas keluar. Menaiki motor bebeknya. Tak lama kemudian sudah meluncur ke rumah Mbah Wiwid.

"Mah... Papah ke mana tuh?" Suara Sovia.

Dita tidak menjawab. Dibantingnya sisir rambut yang ia pegang ke lantai dengan kesal.

"Tadi kayak suara Mbah Wiwid yang datang?" Novia ikut bicara. Kedua kembar ini sudah keluar dari kamar. Sudah dandan cantik siap berangkat.

Sementara Alfian sudah sampai di rumah Mbah Wiwid. Mbah Bari juga sudah duduk menunggu di lincak yang ada di serambi rumah. Kakek itu batuk-batuk terus.

Alfian lekas turun dari motor. Kemudian membimbing Mbah Bari ke atas jok motor bebeknya.

"Bismillah, Kakung. Nanti ketemu sama obatnya pasti sembuh," bujuk Mbah Wiwid sambil membenarkan jaket lusuh yang dikenakan suaminya.

Saat itulah, terlihat seorang perempuan mendekat. Rupanya Irene.

"Mbah Bari mau diperiksakan ya?" tanya Irene memperlihatkan kepeduliannya pada tetangga.

"Iya, Nduk. Tiga hari tidak turun dari tempat tidur. Susah dibujuk suruh periksa." Mbah Wiwid menjawab.

Irene ikut membetulkan duduk Mbah Bari di atas boncengan. "Hati-hati, Mbah."

"Sudah siap, Mbah?" Alfian bertanya. Ia sudah duduk di depan. Sudah menyalakan mesin motor juga.

Mbah Bari batuk lagi. "Uhuk... iya, sudah siap," jawabnya.

Irene memandang Alfian sambil tersenyum. "Untung ada Pak Alfian yang baik hati. Yang suka menolong orang susah."

Mbah Wiwid mengangguk membenarkan perkataan Irene. Alfian melirik Mbah Wiwid sambil berkata, "Kami berangkat dulu, Mbah."

"Iya. Hati-hati, ya...."

"Mari, Mbak Irene."

"Iya, Pak Alfian. Pelan-pelan saja tidak usah ngebut."

Motor Alfian lekas melaju di atas jalan kampung. Matahari mulai beranjak. Langit benar-benar cerah pagi ini. Mbah Wiwid dan Irene memandang kepergian Alfian dan Mbah Bari sampai belok di tikungan jalan.

Sementara ada sepasang mata memandang kejadian itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Matamu seperti anjing melihat tulang, Irene!" desis pemilik sepasang mata yang terlihat kesal itu.

"Mamah... kita jadi ke rumah kulon nggak, sih?" Sovia mengguncang tangan mamahnya.

"Mamah nggak tahu. Tanya papahmu nanti. Menyebalkan!"

BERSAMBUNG
[Boleh Usul Judul]

[Boleh Usul Judul]


"Anak-anak, hari ini saya lagi malas sekali mengajar," curhat Bu Wiwid di depan kelas.

"Kok malas, sih, Bu?" tanya Saki, murid paling bandel, "padahal saya sedang semangat-semangatnya buat menimba ilmu."

Bu Wiwid menatap mata Saki dengan tatapan tidak percaya akan perkataan muridnya itu, membuat Saki salah tingkah. Segera ia meralat, "Maaf, Bu, saya juga malas belajar hari ini."

"Itu, baru kamu," sahut Bu Wiwid sambil tersenyum.

"Maaf, Bu. Mengapa Bu Wiwid sebagai Guru Teladan 2017 versi majalah sekolah kita ini mendadak malas mengajar?" tanya Tian, murid paling cerdas di antara teman semejanya.

"Ibu sedang dilanda rindu dan benci yang menyatu."

Huuuu... Seisi kelas menyambut ucapan guru mereka dengan seruan gemuruh ke seantero ruangan.

"Tenang, teman-teman, tenang!" Dwi si ketua kelas segera menenangkan suasana. Seketika kelas pun tenang. Rupanya Dwi memang memiliki pengaruh yang tinggi di depan teman-temannya.

Dwi lalu memandang Bu Wiwid. "Maaf, Bu. Sebaiknya Ibu jangan membawa masalah pribadi seperti itu di depan murid-murid. Kasihani kami, Bu. Mumpung kami masih kecil, biarkan kami menikmati hidup tanpa beban rindu dan benci seperti itu."

Bu Wiwid mengangguk. Setuju dengan perkataan sang ketua kelas. "Bagus, Dwi. Kamu memang cerdas dan bijaksana. Kamu Ibu beri hadiah sepeda."

"Terima kasih, Bu."

Saki terlihat gusar. "Bu wiwid yang terhormat, jangan pilih kasih. Jangan hanya Dwi yang dikasih sepeda. Kita yang lain juga mau! Tidak hanya Dwi yang cerdas dan bijaksana. Saya bandel-bandel begini juga cerdas dan bijaksana dan layak diberi hadiah sepeda."

Bu Wiwid menatap mata Saki dengan tatapan tidak percaya akan perkataan muridnya itu, membuat Saki salah tingkah. Segera ia meralat, "Maaf, Bu,maksud saya... memang Dwi sebagai ketua kelas sangat cerdas dan bijaiksana. Saya mah enggak."

"Itu, baru kamu," sahut Bu Wiwid sambil tersenyum.

Bu Wiwid lalu memandangi seluruh penghuni ruangan. "Baiklah, hari ini jam Ibu akan Ibu isi dengan tebak-tebakan. Yang bisa jawab saya kasih hadiah sepeda."

Horee.... Seisi kelas menyambut ucapan guru mereka dengan seruan gemuruh ke seantero ruangan.

"Tenang, teman-teman, tenang!" Dwi si ketua kelas segera menenangkan suasana. Seketika kelas pun tenang. Rupanya Dwi memang memiliki pengaruh yang tinggi di depan teman-temannya.

Dwi lalu memandang Bu Wiwid. "Baiklah, Bu. Silakan mau memberi soal tebakan seperti apa."

"Baiklah, anak-anakku. Siap-siaplah kalian. Yang bisa jawab langsung acungkan jari. Nanti Ibu tunjuk dulu baru boleh jawab. Oke?"

Oke... Seisi kelas menyambut ucapan guru mereka dengan seruan gemuruh ke seantero ruangan.

Bu Wiwid lalu memandangi seluruh penghuni ruangan. "Soalnya adalah: Ada sebuah kata terdiri dari enam huruf. Lalu diambil huruf depannya satu, yakni huruf T. Maka kata itu tinggal empat. Ingat ya, kata terdiri enam huruf, diambil huruf depannya satu, tinggal empat. Nah, tebaklah kata apa itu?"

"Kalau enam huruf diambil satu huruf ya pasti tinggal lima huruf, Bu. Masak jadi empat. Ibu memang guru bahasa Indonesia, tapi masak ilmu dasar matematika saja tidak bisa? Enam kurangi satu jadinya lima dong!" protes Saki.

Bu Wiwid menatap mata Saki dengan tatapan tidak percaya akan perkataan muridnya itu, membuat Saki salah tingkah. Segera ia meralat, "Maaf, Bu,saya bercanda. Soalnya saya bingung jawabannya apa."

Bu Wiwid lalu memandangi seluruh penghuni ruangan. "Silakan yang mau nebak kata apakah itu, boleh acungkan jari."

Kelas hening.

"Sepeda menanti kalian."

Mendengar hadiah yang dijanjikan. Maka serentak seluruh penghuni kelas mengacungkan jari mereka nyaris bersamaan. Bu Wiwid jadi kelabakan, bingung mana yang ngacung duluan.

"Karena kalian ngacung bersamaan, maka Ibu tidak bisa menunjuk satu. Sekarang kalian tulis saja jawaban di kertas, lalu kumpulkan. Tenang saja, jawaban akan Ibu rahasiakan."

Mendengar itu, Saki segera bertanya, "Kalau semua benar, berarti semua dapat sepeda, Bu? Apa Ibu tidak keberatan?"

Bu Wiwid menatap mata Saki dengan tatapan tidak percaya akan perkataan muridnya itu, membuat Saki salah tingkah. Segera ia meralat, "Maaf, Bu,saya bercanda. Ibu kan punya toko sepeda, jadi pasti tidak akan terasa berat."

Seluruh murid menuliskan jawaban di kertas. Dan Bu Wiwid memenuhi janji untuk merahasiakan jawaban mereka. Merahasiakan jawaban mereka di Tempat yang aman.

SEKIAN

#30DWC Kata Kunci: GEMURUH dan EMPAT.






Jenazah Mati Lampu

Jenazah Mati Lampu


Kejadian ngeri-ngeri sedap ini dialami Gendhuk Nicole, warga Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo, saat tetangganya ada yang meninggal dunia, Mbah Cempluk, tetangga satu RT yang meninggal karena sakit. Saat itu sudah sekitar pukul 18.00 WIB.

Sudah adat saben di Sidowayah, kalau yang meninggal perempuan maka ibu-ibu pengajian yang membantu proses memandikan dan mengafani jenazahnya.

Gendhuk Nicole bersama beberapa ibu-ibu pun lekas membantu proses memandikan bersama keluarga almarhumah sebelum azan Isya berkumandang.

Tidak lama kemudian, jenazah sudah diangkat ke balai-balai yang sudah disiapkan kain kafan. Gendhuk Nicole dan kawan-kawan segera bersiap mengafani jenazah Mbah Cempluk. Jon Koplo dan Tom Gembus datang membantu memasang lampu agar rumah duka lebih terang benderang.

Sebenarnya Gendhuk Nicole masih sering takut kalau bertugas mengurus jenazah, tapi ditepisnya jauh-jauh rasa takut itu. "Wedi apane, wong mati ora bakal medeni," tekadnya.

Ndilalah malam ini Gendhuk kebagian memegang dan mengikat bagian kepala jenazah. Deg degan juga dia, takut nanti masih terbayang-bayang wajah almarhumah.

"Bismillah...," begitu Gendhuk menekatkan hati. Dengan hati dag-dig-dug dia mengikat kepala jenazah.

Tiba-tiba mak pet! Lampu mati! Gendhuk langsung menjerit ketakutan. Lekas ditaruhnya kepala jenazah dan berlari sipat kuping menjauh.

Rupanya daya listrik rumah almarhumah tidak kuat dipasangi banyak lampu besar. Tom Gembus langsung mengurangi lampu yang dipasang. Jon Koplo kembali menyalakan meteran listrik.

Begitu lampu kembali menyala, Gendhuk Nicole malu setengah mati karena mendadak dia menjadi pusat perhatian dari semua yang hadir di rumah duka. Sial... sial...

Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562

Dimuat di harian Solopos edisi Jumat Pahing, 12 Januari 2018



Tara... di atas adalah tulisan saya yang berhasil lolos di koran Solopos kemarin. Saya mengirimkan sehari sebelumnya, dan alhamdulillah tidak perlu menunggu dua tiga hari atau lebih, cerita itu berhasil dimuat di Solopos.

Tulisan ini menjawab tantangan Kelas Fiksi ODOP Batch 4 untuk mengirimkan tulisan ke media massa. Rupanya saya sedang beruntung, tulisan langsung lolos. Kadang sering kesal juga ketika berkali mengirim tulisan tapi tidak kunjung dimuat.

Semoga menambah semangat dalam menulis. Aamiin...
Rumah Kulon (3)

Rumah Kulon (3)


Alfian kembali membuka mulutnya. Dua suapan dari sang istri yang masih membuatnya heran. Barusan marah-marah, eh sekarang menyuapinya.

"Mamah tumben?"

"Tumben apa?"

"Nyuapin Papah. Rasanya selama punya Novia dan Sovia, baru kali ini deh Mamah nyuapin Papah."

Dita tersenyum lagi. "Terakhir kali Mamah suapin kapan?"

"Lupa. Sudah lama banget."

"Ya sudah, nggak usah diingat-ingat. Ayo, lanjutin," kata Dita sambil menyodorkan suapan ketiga.

"Mamah nggak mau nyobain mie godoknya?"

"Kan spesial buat Pak Alfian."

Alfian berhenti mengunyah. "Udah, ah. Hilang lagi selera makan Papah."

"Aduh... maaf deh, Pah. Mamah salah bicara ya?"

Alfian menolak suapan berikutnya. Dita jadi merasa bersalah. "Ya sudah... Mamah ikut makan," kata Dita sambil menyuapkan sesendok mie ke mulutnya sendiri.

"Enak nggak, Mah?" Alfian bertanya.

"Lumayan lah. Tapi tetap kalah sama bikinan Mamah."

Alfian nyengir. "Sesekali Mamah bikin yang banyak. Kasihlah ke rumah Mbak Irene semangkuk."

Dita tiba-tiba seperti tersedak. "Apa, Pah?"

"Kenapa, Mah? Minum dulu, gih!"

"Ambilin."

Alfian segera bangkit. Keluar kamar menuju dispenser di dekat ruang makan. Tidak lama kemudian sudah kembali ke kamar dengan segelas air putih.

Dita lekas meneguk cairan tawar itu. Alfian bertanya, "Mamah kenapa pakai tersedak begitu? Tidak cocok dengan saran Papah?"

"Memangnya buat apa pakai kirim makan ke mereka?"

"Tetangga yang baik itu ya begitu, Mah. Suka memberi."

"Maksud Papah, Irene itu tetangga baik? Terus Mamah sebaliknya? Kan Mamah nggak pernah kirim makanan ke mereka."

Alfian merangkulkan tangan ke pundak Dita yang duduk di sebelahnya. Ia tahu masih ada nada tidak suka pada kalimatnya barusan.

"Papah nggak ngomong begitu. Mamah sensi banget deh kalau denger nama Mbak Irene."

"Kan Mamah udah bilang, nggak suka sama sikap tetangga genit begitu."

"Itu kan hanya menurut pandangan Mamah saja."

"Papah kok malah mbelain dia terus? Mau bikin Mamah kesel lagi?"

Alfian memeluk Dita. "Sudah ah. Nggak asik malam-malam ribut."

Dita menghela napas perlahan. Tangannya bergerak lagi. Menyuapi Alfian. Alfian menyambut dengan senang hati. Kadang lucu juga istrinya ini, kesal sendiri, sebal sama Mbak Irene, tapi mau menyuapi sang suami dengan makanan bikinan Mbak Irene. Alfian tidak mau mempersoalkannya.

Keduanya tidak berbicara lagi. Suapan Dita bergantian ke mulut suaminya lalu ke mulut sendiri. Sampai suapan terakhir.

"Alhamdulillah habis, Mah." Alfian merasa justru mie godok inilah pahlawan bagi sikap Dita yang kembali hangat.

"Mbak Novia... sebal deh!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar si kembar. Alfian dan Dita saling pandang. "Kenapa tuh anak-anak?" Alfian bertanya.

"Coba Mamah lihat. Mamah pikir sudah pada tidur...."

Dita lekas melangkah ke luar kamar sambil membawa mangkuk kosong untuk ditaruh di dapur. Alfian merebahkan diri. Bersyukur juga Dita tidak lagi uring-uringan nggak jelas seperti tadi.

Dita langsung menuju kamar duo kembarnya setelah menaruh mangkuk di dapur. Begitu pintu dibuka, terlihat Sovia sudah berdiri sementara Novia duduk sambil tertawa di atas kasur.

"Ada apa ini? Sudah malam bukannya tidur malah pada ribut?" omel Dita.

"Mbak Novia tuh, Mah... kentut bau banget!" Sovia mengadu sambil menunjuk Novia yang cekikikan.

"Eh... kalian ini. Cuma masalah kentut saja diributkan. Sudah ah. Sovia kembali ke tempat tidur. Matikan lampunya!" Dita lekas mendekati Sovia dan menuntunnya ke atas ranjang.

"Tenang saja... sudah hilang baunya kok," kata Novia masih sambil tertawa.

"Kalian ini... cepetan bobok. Awas saja kalau kalian bangunnya kesiangan, Mamah tinggal di rumah," kata Dita dengan nada setengah mengancam.

"Jangan, Mah... kita ikut ke rumah kulon," protes Novia cepat. "Kangen sama Simbah."

"Ya sudah... kalau ikut segera tidur."

"Iya, Mah. Iya, Mah...."

Sovia berbaring bersebelahan dengan kembarannya. Dita segera membetulkan selimut yang menutup tubuh kedua putrinya itu.

"Jangan lupa berdoa dulu," Dita mengingatkan.

"Iya, Mah."

Dita mematikan lampu kamar duo kembarnya. Menyalakan lampu tidur kecil yang menancap pada stop kontak. Lalu ke luar kamar.

Sesampainya di kamar, Dita menjumpai Alfian sudah terkapar di atas kasur. Dita memandangi sang suami. Seorang lelaki baik yang menjadi pahlawan di hatinya. Sebuah kecupan didaratkannya ke kening sang kekasih. Lalu ia berbaring di sebelahnya. Merangkulnya hangat.

BERSAMBUNG
Rumah Kulon (2)

Rumah Kulon (2)

Rumah Kulon
Bagian Dua

"Mamah cemburu?"

"Sama tetangga kegenitan itu? Wow... sorry, Pah. Nggak level!" Dita menyahut cepat.

Alfian tertawa. Tidak tahan juga menahan geli dengan sikap sang istri. "Syukurlah kalau begitu."

"Papah senang, ya? Hem... jangan-jangan Papah juga suka sama perempuan keganjenan itu!" Dita muntap.

"Mamah ini... Papah mana mungkin menyukai Mbak Irene. Wong dia juga sudah punya suami. Mamah jangan suka mikir aneh-aneh begitu...."

"Ya, siapa tahu. Kan dia sering ngirim makanan kemari, bisa saja memang ada apa-apa di antara kalian."

"Mamah! Mamah kok jadi ngelantur ke mana-mana. Mamah senang kalau Papah main-main sama perempuan lain? Jagalah kalau bicara, Mah. Itu bisa jadi doa." Alfian mulai terusik juga dengan kata-kata Dita.

"Mamah cuma nggak suka saja kalau tetangga kegenitan itu nganter makanan ke sini. Papah nggak lihat di pintu tadi, sih. Matanya jelalatan ke mana-mana nyariin Pak Alfian!" Dita malah semakin sengit saja.

"Terus Mamah berpikiran yang tidak-tidak?" Alfian menyahut.

"Gayanya bicara itu lho, Pah. Kalau nyebut nama Pak Alfian kayak perempuan lagi kasmaran saja. Tidak tahu malu. Di depan Mamah pula. Sinting!"

"Kasmaran sama Papah? Mustahil, Mamah. Mbak Irene sudah bersuami. Rumah tangga mereka baik-baik saja. Mamah aneh-aneh."

"Tapi kan sudah menikah lama dengan Mas Yoga, mereka belum punya anak."

Alfian memandang istrinya yang semakin ketus. "Maksud Mamah apa menyinggung-nyinggung mereka yang belum dikaruniai anak?"

"Ya... barangkali dia iri sama kita yang sudah bisa bikin anak. Kembar lagi!"

"Mamah! Sudah cukup. Dosa Mamah kalau otak penuh prasangka buruk begitu!" Alfian mulai naik nadanya.

"Mamah kan hanya menduga."

"Sekali lagi Papah ingetin, Mah. Jaga bicara. Apa saja yang diucapkan bisa jadi doa. Mamah nggak takut kalau mereka jadi seperti yang Mamah prasangkakan? Mamah nggak takut kalau Mbak Irene beneran menyukai Pak Alfian?"

Dita hampir menyahut lagi. Saat itulah Sovia dan Novia muncul setelah dari kamar kecil. "Pah, Mah... pada ribut apa, sih?" tanya Sovia penasaran.

"Berisik sekali tahu," tambah Novia.

"Tanya tuh papah kalian!" Dita menyahut.

Alfian lekas mendekati duo kembarnya. Tidak baik ribut di depan anak-anak. Alfian sebenarnya tidak suka saling bantah begitu dengan Dita. Tapi kadang istrinya itu memang menguji kesabarannya.

"Nggak penting, kok. Ayo, Papah antar ke kamar."

Sovia dan Novia menurut saja. Dita yang masih kesal hanya bersungut sendiri di kamar. Satu hal yang memang paling dia benci, yakni kalau ada yang macam-macam dengan suaminya. Apalagi itu, si Irene yang di matanya terlalu ganjen pada suami orang. Bagaimana kalau Pak Alfian sampai tergoda? Dita tidak bisa membayangkan betapa akan sakit hatinya.

Tapi apa semudah itu? Dita melihat Alfian begitu sayang pada anak-anak. Juga padanya. Alfian juga bukan lelaki yang suka macam-macam. Dia lelaki baik. Dita mendesah. Barangkali memang dia saja yang terlalu berpikir jelek.

Ia jadi teringat kata-kata suaminya barusan. Ucapan bisa jadi doa, maka harus berkata yang baik. Lalu... apa harus diam saja dengan semua ini? batin Dita kesal sendiri.

Untuk sesaat kemudian, Dita bisa mengendalikan kekesalan itu. Ia duduk di tepi ranjang. Napasnya sudah mulai tenang. Dan tidak lama kemudian muncul Alfian masih dengan wajah kesalnya tadi.

"Sudah pada tidur, Pah?" Dita mencoba bertanya.

Alfian menggeleng. "Belum. Tapi sudah di kamar mereka, kok. Biarkan saja nanti juga pada tidur sendiri."

Dita tidak menyahut lagi. Alfian ikut duduk di tepi ranjang. "Papah makan dulu saja mie godok itu. Mumpung belum dingin."

Alfian menggeleng.

"Kenapa?" Dita bertanya.

"Nggak selera."

Dita tersenyum kecut. Ia bangkit mendekati meja. Mengambil mangkuk itu, mengangkatnya ke dekat sang suami.

Alfian melihat saja istri tercintanya itu kembali duduk di sampingnya. Ia menyendok mie godok. Memastikan sudah tidak panas, lalu mengarahkan sendok itu ke mulut Alfian. Alfian sempat terkejut dengan perubahan sikap sang istri.

"Ayo... buka mulut, Pah. Nggak mau Mamah suapin?"

Sendok sudah di depan bibir, refleks saja Alfian membuka mulut. Suapan mie godok masuk ke mulutnya. Dita tersenyum manis sekali.

BERSAMBUNG

Para Penulis Hebat Membuka Rahasia Mereka tentang Setting Lokasi

Para Penulis Hebat Membuka Rahasia Mereka tentang Setting Lokasi


Judul: Rahasia Penulis Hebat: Membangun Setting Lokasi
Penulis: Akmal Nasery Basral, dkk
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: vi + 123 halaman

Buku berjudul Rahasia Penulis Hebat ini merupakan serial, dan ini buku kedua dengan sub judul Membangun Setting Lokasi. Buku ini disusun oleh Gol A Gong selaku pendiri Rumah Dunia, dan seluruh royalti penjualan buku ini didedikasikan untuk Rumah Dunia.

Buku setebal 123 halaman isi ini memuat tulisan 14 penulis hebat, yakni Akmal Nasery Basral, Ary Nilandari, Benny Arnas, Ceko Spy, Chairil Gibran Ramadhan, Clara Ng, Gol A Gong, Hanna Fransisca, Hilal Ahmad, Ifa Avianty, Iwok Abqary, Reni Erina, Sunlie Thomas Alexander, dan Tria Ayu K. Semua penulis mengisahkan tentang proses kreatif dan tips-tips mereka dalam membangun setting lokasi pada tulisan-tulisan fiksi mereka, baik itu cerpen ataupun novel.

Secara umum, setting atau latar suatu tulisan dibagi menjadi 3, yakni setting lokasi, setting waktu, dan setting sosial. Setting lokasi adalah latar tempat terjadinya cerita fiksi yang dibuat, setting waktu tentu adalah kapan terjadinya peristiwa dalam cerita, sementara setting sosial lebih kompleks karena mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan yang menjadi penanda status sosial tokoh dalam fiksi yang dibuat. Dan buku ini mengupas tuntas proses kreatif ke-14 penulis hebat di atas bagaimana menyajikan setting lokasi yang benar-benar menghidupkan cerita.

Menurut Ary Nilandari, pembaca tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada siapa, tetapi juga di mana dan mengapa harus di sana. Tentunya, jawaban akan tersampaikan jika setting lokasi dipilih dan digambarkan secara cermat.

Untuk mendapatkan setting lokasi yang bagus, penulis bisa melakukan riset, meneliti ke lokasi, membayangkan tempat yang dikunjungi, browsing mesin pencari, mendengarkan orang bercerita, atau bahkan bisa dengan mengarang tempat yang diinginkan. Tapi semua harus logis agar pembaca bisa turut merasa memasuki lokasi tersebut.

Selain memberikan tips dan rahasia proses kreatif mereka, para penulis juga menyajikan beberapa contoh tulisan setting lokasi pada beberapa paragraf hasil karya mereka.

Buku ini sangat bagus, enak disimak karena penyampaiannya dengan gaya bertutur yang tidak membosankan. Sangat baik dibaca para penulis pemula yang ingin menguatkan kisah yang ditulis dengan setting lokasi yang dibangun dengan baik.
Fakta Fiksi, Sebuah Evaluasi

Fakta Fiksi, Sebuah Evaluasi


Ini adalah kisah tentang sebuah grup WhatsApp. Grup yang merupakan kelas lanjutan usai kelulusan ODOP Batch 4, yakni Kelas Fiksi. Kelas Fiksi ini digawangi 3 orang pije, Mbak Wiwid sebagai senior yang memimpin Kelas Fiksi, Mas Yoga dan saya, Wakhid, dua junior dari Batch 4 yang ditarik sama Mas Tian, Ketua Umum ODOP periode 2018, agar menjadi pije di bawah kepemimpinan Mbak Wiwid. Belakangan ditambah Mas Dwi dan Mbak Chairul Nisa.

Postingan kali ini adalah menanggapi tentang keberadaan Kelas Fiksi yang sudah berjalan sejak 11 Desember 2017. Semacam evaluasi atas program yang sudah berjalan. Kritik dan saran yang bisa melecut Kelas Fiksi agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Apa, ya, yang musti saya tulis?

Awalnya, Kelas Fiksi memang perlu adaptasi sesama anggota karena memang tergabung dari beberapa grup kecil saat penjaringan ODOP Batch 4, dari grup-grup sayuran yang kemudian dipecah dua sesuai minatnya dalam menulis, yakni masuk Kelas Fiksi atau Kelas Non Fiksi. Secara pribadi, saya agak sedih juga tidak satu kelas dengan beberapa teman yang dulu sama-sama di Grup Kentang. Tapi sudah... yang penting segera menemukan keluarga baru di Kelas Fiksi.

Program awal di bulan pertama adalah penyampaian materi-materi terkait kepenulisan fiksi. Berbeda dengan grup sayuran kemarin yang materinya disampaikan di kelas secara langsung (live) oleh pemateri, di Kelas Fiksi pije hanya mem-posting materi berbentuk file PDF dan peserta dipersilakan mengunduhnya, lalu mempelajarinya sendiri-sendiri. Untuk saya pribadi untuk saat ini memang lebih cocok dengan metode ini, karena kalau live biasanya kisaran pukul 20.00-21.00 WIB, saya cukup sibuk dengan keluarga, boleh lirik postingan lama Cerita Romantis di Jumat Gerimis.

Kelebihan metode penyampaian materi seperti ini tentu sangat membantu bagi anggota yang sibuk dan sukar menyempatkan waktu. Jadi anggota bisa kapan saja membaca dan mempelajari materi menyesuaikan waktu luangnya. Sementara kekurangan metode ini adalah minimnya pembahasan di grup, hilangnya interaktif, dan berimbas menjadi sepinya Kelas Fiksi. Ini saya rasakan sekali.

Untuk tantangan yang diberikan di bagian bawah materi PDF, yang disesuaikan dengan materi yang sedang dibahas, cukup baik menurut saya. Peserta juga bisa memahami dan antusias mengerjakannya, meski tidak ada sanksi tertulis bagi yang tidak mengerjakan. Tidak ada kick untuk anggota yang tidak menyetor link tulisan blog di grup Share Link.

Selanjutnya tentang kewajiban berkunjung ke blog teman-teman atau istilahnya blog walking. Kewajiban ini belum ada saat di grup sayuran. Saya mendapat jatah membuat jadwal rumah siapa yang akan dikunjungi setiap harinya. Sejak awal saya pilah untuk tiap hari 3 blog peserta Kelas Fiksi menjadi sasaran blog walking. Harapannya agar bisa saling belajar dan saling memberikan kritik saran sesama peserta. Setelah dua kali putaran blog walking, saya ajak berkunjung ke blog kakak-kakak senior di ODOP. Sehari satu blog senior dengan kewajiban meninggalkan 3 komentar pada 3 postingan berbeda. Juga mewajibkan follow blog yang dikunjungi. Saya rasa untuk program ini berjalan dengan baik meski beberapa anggota kadang mangkir dari kewajiban blog walking ini.

Secara keseluruhan, saya rasa Kelas Fiksi tetap membawa cita rasa tersendiri. Meski benar, fakta sepinya kelas adalah sesuatu yang cukup disayangkan. Mungkin penghuninya benar-benar orang-orang yang super sibuk. Setiap anggota pasti punya alasan untuk ini. Bisa jadi sibuk di tempat kerja, kuliah, sekolah, komunitas lain, bahkan juga mungkin ada yang seperti saya, agak mengurangi waktu memegang gawai demi istri tercinta. Hahaha.

Saya ucapkan terima kasih sekali untuk Mas Tian atas kesempatan belajar jadi pije di Kelas Fiksi, mohon maaf jika banyak kurangnya. Untuk Mbak Wiwid yang sabar membimbing saya agar bisa menjadi seorang pije. Mas Yoga yang juga sama-sama belajar menjadi pije yang baik. Mas Dwi dan Mbak Nisa, yang ikut menguatkan pije. Juga terima kasih buat anggota Kelas Fiksi, kita sama-sama menikmati kebersamaan ini. Yuk... masih panjang langkah kita ke depan. Saling menyemangati!
Saat Badai Menghantam Sepasang AlBanna

Saat Badai Menghantam Sepasang AlBanna



Judul: Dilatasi Memori
Penulis: Ari Nur
Penerbit: Mizania, PT. Mizan Pustaka
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-8236-03-4


Setelah sukses dengan novel perdananya, Diorama Sepasang AlBanna (DAR! Mizan), Ari Nur mempersembahkan sekuelnya berjudul Dilatasi Memori. Yang saya baca cetakan kedua, 2009, tapi baru saya nikmati tahun 2018. Tidak mengapa lah, toh novel tidak basi dibaca kapan pun.

Novel kedua ini tentu saja masih berkisah tentang Ryan dan Rani, pasangan arsitek yang dikenal paling bahagia dan jauh dari kesan tidak harmonis dalam berumah tangga. Keduanya sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Rifki, yang sepanjang novel hadir dengan bahasa cidalnya.

Ryan masih bekerja sebagai arsitek di Kan Petra, sementara Rani dengan dibantu sang suami mendirikan PT AlBanna Associate, sebuah biro arsitektur di pinggiran Jakarta Timur. Kantor AlBanna didirikan dengan nilai idealisme dakwah yang tinggi dan menampung karyawan dari kalangan aktivis.

AlBanna dan rumah tangga Ryan-Rani baik-baik saja, sebelum kemudian diterpa badai klasik berupa isu perselingkuhan. Hadirnya Dea, kekasih Ryan di masa lalu, mengguncangkan badai itu. Aura perselingkuhan membayangi. Benarkah cinta lama bersemi kembali di antara Ryan dan Dea, meski keduanya sama-sama sudah berkeluarga?

Ari Nur mengemas dengan apik problematika rumah tangga ini. Dipadu lagi dengan munculnya sosok bernama Galih, seseorang dari masa lalu Rani yang menawarkan, "Wahai merpati yang sedang terluka. Ada sebuah sarang baru telah menantimu. Terbanglah ke sana."

Ramuan kisah mengalir begitu cantik, karakter tokoh-tokohnya berperan dengan baik. Meski pun ada kesan ketidakdewasaan seorang Rani dalam menyikapi badai rumah tangga. Pikiran yang terkesan labil, keinginan lari dari masalah, dan begitu mudah terkena provokasi dari guncangan pernikahan. Tapi mungkin ini yang memang ingin ditunjukkan penulis, bahwa Rani juga manusia. Para tokoh pendukung pun muncul dengan manisnya, ada Jaka dan Dara, Siva, Jhon suami si Dea, Pak Danu, karyawan-karyawan di Kan Petra maupun AlBanna. Tidak lupa juga ibundanya Rani yang hadir menjadi tempat pelarian putri bungsunya itu saat badai menerpa.

Cerita yang disajikan memang kisah klasik rumah tangga dengan isu perselingkuhan. Mengalir dengan enak dibaca. Meski endingnya terlalu dibuat mudah menurut saya. Dibuat kebetulan begini kebetulan begitu. Kalau di televisi kita bisa menikmati cerita yang lebih kompleks pada sinetron Catatan Hati Seorang Istri yang pernah tayang di RCTI. Ada kok serialnya utuh di Youtube. Skip, hehe.

Tapi secara keseluruhan, penyajian novel ini bagus dan cukup mengaduk emosi pembaca. Ada senyum, ada jengkel, ada sedih, berpadu satu. Dan ada nilai lebih yang membuat novel ini berbobot adalah muatan ilmu seputar dunia arsitek yang dimasukkan dengan baik, cukup informatif. Juga pola pengasuhan anak yang diselipkan penulis melalui tokoh Rani dengan si kecil Rifki.
Bahasa Cinta di Tengah Lenyapnya Cinta

Bahasa Cinta di Tengah Lenyapnya Cinta


 "Pergilah, Nak, tinggalkan Rohingnya. Biarkan kami menunggu Izrail, kemana pun pergi, toh, ia akan memanggil, meski di sini kami hanya bisa menggigil."

Kata-kataku di selaksa tangis yang tidak kaugubris di antara kecemasan dan ancaman tragis. Dua keranjang kauikat meski kami tak sepakat karena apalah arti nyawa kami yang sudah nyaris sekarat dalam dekap jazad yang kehilangan daya kuat.

"Aku akan membawa kalian serta, karena kalian bagiku permata, bahkan tidak akan pernah rela kalian keluar airmata, karena kalianlah cinta."

Ucapanmu tulus dari cekung wajahmu yang tirus ditopang tubuhmu yang kian kurus karena kami tak lagi sanggup mengurus. Kau angkat kami satu persatu, merebah di keranjang itu, meski harapan selamat pun belum tentu, meski kau tahu nyawa bisa melayang sewaktu-waktu, tak menyurut tekadmu yang membatu.

"Kau memanggul surga, Nak. Surga akan menyertaimu selalu, Nak."

Tidak kaupedulikan lelah agar kami tetap di atas, kaubawa langkah kaki telanjangmu pada tanah berlumpur yang kaulintas, hutan dan bukit serta sungai kauretas, agar sesegera mungkin melewati tapal batas, agar nyawa selamat tuntas, karena kampung halaman hanya menyisakan kisah nahas.

Nizam, kunamai engkau ketika terlahir, bahkan kami tak habis pikir, sedemikian tekadmu membawa kami menyingkir, dari jangkauan laknat para kafir. Nizam, kujumpai Uwais Al Qarni, sahabat Nabi yang pantas disegani, karena hidup berlimpah bakti, menggendong ibunya ke tanah suci, demi menunaikan haji. Dan Uwais terlahir di sini, dengan nama Nizam si anak kami, surgamu menanti, segala hidupmu kami ridhai.

#TantanganODOP8
#ProsaLiris




Setianya Awan kepada Hujan

Setianya Awan kepada Hujan


Judul: Jika Hujan Pernah Bertanya
Penulis: Robin BIE Wijaya
Penerbit: Leutika Prio, Yogyakarta
Tebal: 130 halaman
ISBN: 978-602-225-081-4


Setia, adalah alasan kecilku untuk tetap mencintaimu.

Kisah Rahita, biasa dipanggil Rita, gadis asal Indonesia yang akhirnya menikah dengan Philip, pria berkebangsaan Belanda. Pertemuan pertama mereka pada sebuah kesempatan ketika musim dingin di Amsterdam, saat salju turun dan membuat jalanan pekat oleh tumpukan salju. Rahita menjatuhkan kunci rumah saat belanja ke sebuah toko dan seseorang membantu hingga berhasil menemukannya tertimbun salju di depan pelataran sebuah rumah yang dilewatinya. Seseorang itu adalah Philip. Dan Rita jatuh cinta pada tatap pertama.

Pertemuan kedua hampir tiga tahun kemudian saat Rita kembali berkunjung ke Belanda untuk berlibur. Saat hujan turun, Rita berteduh di sebuah gedung sekolah dasar. Datang seseorang menawari menumpang berpayungan. Dialah Philip. Berlanjut pertemuan-pertemuan berikutnya. Suatu kali Philip mengatakan sebuah filosofi, "Awan adalah yang paling setia. Menemani hujan hadir untuk bumi, walau setelahnya hujan berlalu begitu saja, meninggalkan awan di atas sana."

Kisah romantisme tentang kesetiaan menjadi kisah utama dalam buku kumpulan cerpen karya Robin BIE Wijaya ini. Kisah Rahita dan Philip disajikan dalam 3 cerpen yang saling berkaitan satu sama lain. Ceritanya sederhana namun romantis, sebagaimana juga terasa dari keseluruhan cerpen yang dimuat dalam kumcer ini.

Buku ini adalah debut awal penulis, sebelum akhirnya menjadi salah satu penulis kebanggaan Gagas Media. Robin memiliki karakter khas dengan bahasanya yang sederhana namun banyak menampilkan quotes di sana-sini, yang berasa sekali sampai ke hati.

Secara keseluruhan, 14 cerpen di dalam buku ini seru dan asik untuk dinikmati, disajikan dengan bahasa indah dan dialog memikat. Kentara sekali bakat seorang Robin meski ini buku diterbitkan secara indie. Saya paling suka dengan cerita berjudul The Holiday di halaman 98. Karakter Alice yang menggemaskan terasa sekali.

Saya memilih membaca buku ini sebagai bahan bacaan kedua di RCO tahap 1 karena memang suka. Saya mendapatkan buku ini hadiah dari penulisnya langsung, ditandatangani dan di sampul dalam ada sebuah pesan: "Tak ada waktu yang tepat untuk memulai, SEKARANG adalah waktunya. Happy Reading... Senyuman Bidadari-mu, menginspirasi untuk mulai menerbitkan buku pertama saya. Lanjut lagi yuk ..."

Robin BIE Wijaya, semakin sukses bersama Gagas Media, sementara saya masih belajar merangkak. Buku ini saya terima pada tahun 2011 dan baru sekarang saya baca. Dulu hanya saya lihat sepintas sebelum dipinjam teman-teman saya, pindah dari tangan satu ke tangan lain, sampai akhirnya kembali lagi. Tulisan Robin Wijaya memang keren. Lanjutkan, Sobat!
Anak Zaman Old Pasti Punya Kenangan dengan Brick Game

Anak Zaman Old Pasti Punya Kenangan dengan Brick Game



Pada zaman dahulu kala, saat orang tua masih kanak-kanak, pernah booming sebuah benda kotak yang sangat menghibur hati. Benda kotak itu memiliki beberapa tombol untuk mengontrol apa yang tertampil pada layar benda itu.

Nama benda kotak bersejarah itu adalah gembot. Setidaknya itu nama benda tersebut di daerah saya. Aslinya dari bahasa Inggris game watch, tapi di lidah kita-kita waktu itu jadilah gembot. Nama aslinya adalah brick game.

Gembot menjadi hiburan dengan cara memainkan beberapa pilihan game di dalamnya. Biasanya untuk menyalakannya perlu tenaga dari baterai.

Saya ingat waktu itu saya dapat meminjam dari tetangga. Lalu saya dan teman saya iuran membeli baterai. Mainnya gantian, kalau sudah mati sekali main, maka ganti teman yang bermain. Sungguh, seru dan sangat menyebalkan tapi asik untuk dikenang.

Nah, seiring waktu berganti. Ketika kemajuan zaman sudah sedemikian pesat. Playstation menjadi penggantinya. Begitu juga game-game keren di komputer dan bahkan smartphone. Dan meredup padamlah kejayaan brick game atau game watch tersebut.

Tetapi, tara... saya belum lama ini iseng nyari game di Play Store. Dan saya menemukan game bernama Brick Game. Dan kerennya, tampilan di layar Android saya jadi sama persis dengan gembot seperti di masa kecil saya.

Game dengan kapasitas APK 21,4 MB ini sangat nyaman dimainkan.  Tampilannya yang sama persis dengan aslinya membuat nostalgia tersendiri bagi saya sebagai penggemar mainan jadul ini. Pilihan game yang ada juga sebanyak brick game aslinya, 17 in 1. Berikut list-nya:


A - Brick Puzzle Classic
Cara memainkannya dengan memindahkan dan memutar blok yang jatuh. Garis dibersihkan saat diisi dengan balok dan tidak memiliki ruang kosong, dan ini yang dapat skor nilai. Kalau zaman saya dulu namanya permainan manata batu bata. Rasanya ini game yang paling populer dalam brick game.

B - Tank Classic
Game ini dimainkan dengan cara memindahkan tank dan menembak peluru untuk membunuh musuh. Kecepatan dan kecerdasan musuh akan meningkat setelah setiap level.

C - Racing Classic
Pindahkan pembalap kiri kanan untuk menghindari musuh, kecepatan akan meningkat setelah setiap level.

D - Snake Classic
Mainnya dengan menggerakkan ular untuk menghindari rintangan dan makan lebih banyak makanan agar tumbuh dalam ukuran.

E - Supplement Shooting Classic
Pindahkan platform senapan, tembak ke langit untuk mengisi blok jatuh. Saat balok-baloknya terisi, mereka akan roboh ke atas.

F - Shooting Players Classic
Pindahkan platform senjata, tembak untuk menghancurkan blok yang jatuh sebelum menyentuh tanah.

G - Brick Breaker Classic
Hancurkan dinding batu bata dengan membelokkan bola yang memantul dengan dayung.

H - Frog Across River Classic
Kontrol player bergerak dan melompat untuk menghindari segala rintangan.

I - Match Three Classic
Ubah balok dari berbagai bentuk agar sesuai dengan blok yang diberikan terjatuh.

J - Brick Puzzle Classic II
Setelah batu bata jatuh, semua batu bata akan bergerak ke kanan 1 unit.

K - Brick Puzzle Classic III
Setelah batu bata jatuh, semua batu bata tidak terlihat.

L - Brick Puzzle Classic IV
Setelah beberapa batu bata jatuh, semua batu bata akan bergerak naik 1 unit.

M - Brick Puzzle Classic V
Sebagai gantinya memutar bata, dalam mode ini batu bata bisa ditukar dengan bentuk lainnya.

N - Brick Puzzle Classic VI
Kebalikan dari versi asli melalui sumbu vertikal.

O - Racing Classic II
Kontrol pembalap menghindari semua rintangan di jalan. Kecepatan akan meningkat setelah
setiap tingkat.

P - Ping Pong Classic
Kontrol dayung untuk memukul bola bolak-balik dan bersaing melawan lawan yang dikontrol server. Tujuannya mencapai sepuluh poin, poin yang didapat saat lawan gagal mengembalikan bola ke pemain.

Q - Racing Classic III
Pengendali pembalap menghindari musuh di 3 jalur jalan, kecepatannya akan meningkat setelah tiap level.

Mau ikut memainkan keseruannya? Coba saja download di Play Store. Udah, ya, mau iseng main Brick Game dulu, nih.