Coretan Basayev: 2015
Kisinan Kembar

Kisinan Kembar


Jon Koplo adalah anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Weru yang diberi tugas mengadakan sosialisasi pemilihan bupati Sukoharjo yang akan dilaksanakan 9 Desember mendatang. Sosialisasi diadakan di Balai Desa Ngreco, Jumat (7/11) lalu.

Ketika Jon Koplo datang ditemani Gendhuk Nicole yang juga anggota PPK, beberapa peserta sudah datang.

Saat itulah Jon Koplo melihat Tom Gembus, teman kantornya, duduk di kursi depan.

"Weh, Pak Gembus, malah sudah rawuh. Sudah lama, Pak?" Koplo segera menyalaminya dengan penuh semangat gojekan seperti biasa saat ketemu di tempat kerja.

Tom Gembus hanya senyum dan nggah-nggih saja dari tadi. Koplo tidak menyadari ada sesuatu yang janggal pada diri temannya itu.

Ketika cukup lama Koplo bercanda dengan Tom Gembus, tiba-tiba Lady Cempluk, salah satu perangkat Desa Ngreco yang juga hadir, mendengar candaan Jon Koplo segera menepuk bahu Koplo.

"Pak, njenengan pasti salah orang, Pak Gembus duduk di sebelah sana itu lo! Ini kembarannya Pak Gembus," kata Cempluk dan langsung membuat Koplo kaget saknalika.

Koplo melihat arah Cempluk menunjuk, ternyata di sana ada orang berwajah persis dengan yang diajaknya bercanda. Koplo baru ingat bahwa Gembus memang punya saudara kembar yang jadi guru di salah satu SD di Ngreco. Seumur-umur, baru sekarang ketemu kembaran Gembus. Sama pleg!

Sabtiyaningsih
Sidowayah RT 001/RW 006 Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562
(jb.pusat@yahoo.co.id)

Dimuat di harian Solopos edisi Rabu Kliwon, 2 Desember 2015
Salah Ambil

Salah Ambil


Kejadian yang sangat memalukan ini menimpa sobat kita, Jon Koplo, warga Karanganyar, Weru, Sukoharjo, ketika menjenguk Lady Cempluk, temannya yang dirawat di salah satu rumah sakit terkemuka di Solo.

Ketika itu, kebetulan sedang ada beberapa saudara Cempluk yang juga menjenguk. Salah satunya adalah Tom Gembus, seorang perangkat desa di Ngreco, Weru.

Semua terlibat obrolan basa-basi ngalor-ngidul hingga tak terasa sudah cukup lama bagi Jon Koplo di ruang rawat inap itu.

Koplo mengambil handphone Android di tikar tempatnya duduk. Lalu berpamitan, "Pak, Bu, saya izin pulang dulu. Mangga, dipun sekecakaken..."

Jon Koplo keluar dari kamar rawat inap tanpa merasakan ada yang tidak beres. Saat kakinya melangkah di ambang pintu keluar, ia mau melihat handphone-nya barangkali ada SMS atau BBM yang masuk.

"Blaik!" Koplo kaget saknalika saat melihat layar handphone yang wallpaper-nya adalah foto Tom Gembus sekeluarga. Tangan satunya segera mengecek saku celananya yang sebelah dan ia menemukan handphone yang bentuk, warna, merk dan tipenya sama plek dengan yang ia pegang.

Ia segera balik badan dan kembali meluncur ke arah kamar Cempluk. Isin kepati-pati, ketika masuk ke kamar Cempluk ternyata sedang heboh karena Tom Gembus kehilangan handphone!

"Nyuwun pangapunten, Pak Gembus. Kula salah ambil handphone! Niki handphone jenengan kula kondurke," kata Koplo dengan muka merah padam menahan malu.

Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo

Dimuat di harian Solopos edisi 3 November 2015

Bluetooth Hantu

Bluetooth Hantu


Menjelang Maghrib, Lady Cempluk menggantikan suaminya, Jon Koplo, untuk menjaga counter seluler mereka di pinggir jalan Sidowayah-Tawang, Sukoharjo, karena Jon Koplo hendak salat berjamaah di masjid seberang jalan.

Setelah suaminya keluar, Cempluk teringat lagu Tresno Waranggono kesukaannya, ia pun berniat mengirimkan dari handphone (HP) suaminya ke HP kepunyaannya. Maka dinyalakannya bluetooth.

Ketika bluetooth sudah menyala dan proses pencarian bluetooth dari HP milik suaminya, ndilalah Cempluk kaget dan mak jegagik, dia merinding. Di layar HP suaminya tertera perangkat bluetooth yang ia cari. Tapi di bawah nama bluetooth HP-nya ada 1 lagi bluetooth terdeteksi, tercantum nama: Tom Gembus. Tom Gembus adalah nama tetangganya yang meninggal dunia kemarin.

"Eladalah! Gusti...!" pekik Cempluk. Ia segera ngipatke kedua HP yang ia pegang dan berlari keluar counter. "Maaas Koplooo...! Sini cepat!"

Melihat istrinya panik, Koplo mendekat sambil cincing sarung. "Ana apa, Pluk?"

"Ada bluetooth hantu, Mas!"

"Maksudmu?"

"Di hape-mu, Mas, pas aku nyalakan bluetooth, tiba-tiba keluar nama Tom Gembus! HP-mu bisa ndetek hantu, Mas!" Cempluk narik tangan suaminya ke dalam counter dan menunjukkan layar HP suaminya.

Bukannya ikut merinding, Koplo malah tertawa. "Dasar wong jirih! Hantu kok ke-detek bluetooth!" ejek Koplo.

Jon Koplo lekas mengambil sesuatu dari salah sudut etalasenya. Lalu menunjukkan pada Cempluk yang masih terlihat keweden.

"Ini HP Pakde Gembus almarhum. Tadi dititipin anaknya, suruh ngecaske dulu. Jebul bluetooth-nya dalam keadaan on alias menyala...."

"Oalah... Tak kira bluetooth arwahnya Pakde Gembus yang gentayangan!" kata Cempluk kisinan.

Wakhid SyamsudinSidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo
Dimuat di harian Solopos edisi Selasa, 22 September 2015
Peringatan bagi Anda yang Memanfaatkan m-Cent, aStore, PopSlide dan Sejenisnya

Peringatan bagi Anda yang Memanfaatkan m-Cent, aStore, PopSlide dan Sejenisnya


Perkembangan dunia telekomunikasi sudah masuk kepada masa kejayaan bagi perangkat bersistem operasi Android, khususnya di negeri tercinta kita Indonesia. Interface perangkat berlayar sentuh dan biasanya tanpa adanya keypad fisik ini sudah akrab bagi semua pengguna ponsel maupun gadget smartphone.

Barang kali sudah banyak yang tahu, ada peluang untuk menghasilkan pulsa (dan uang) dengan aplikasi perangkat Android. Sebut saja aplikasi yang memanjakan pengguna Android dengan limpahan pulsa, seperti m-Cent, aStore ataupun PopSlide. Tentu banyak aplikasi serupa yang bertebaran di PlayStore. Tapi cukup itu untuk saya sebutkan di sini, karena memang ketiganya adalah aplikasi yang pernah saya ambil keuntungannya dengan poin dan pulsa. Bahkan, teman saya berbekal aplikasi m-Cent mampu menghasilkan uang sampai angka 3 juta rupiah dalam sebulan. Bikin pengen aja, kan....

Dengan aplikasi tersebut, user Android bisa mengumpulkan poin yang bisa ditukarkan jadi pulsa seluler. Caranya sangat-sangat mudah, yakni dengan mengikuti penawaran yang tersedia pada aplikasi tersebut. Setiap penawaran yang diselesaikan user akan diberi imbalan poin sesuai ketentuan masing-masing. Penawaran yang tersedia adalah, agar user menginstal aplikasi Android yang link-nya disediakan oleh aplikasi tersebut. Tentu hal ini lebih menguntungkan jika di tempat (kerja) Anda tersedia fasilitas wifi, sehingga instal aplikasi yang ditawarkan tidak memakan kuota data kartu seluler Anda. Selain menanggapi penawaran seperti itu, poin juga bisa didapat dengan mengajak teman kita agar ikut memakai aplikasi tersebut. Nilai referal memang bervariasi, dari 1500 sampai 3000, bahkan m-Cent sesekali memberi kejutan referal 20.000 tiap kali ada user baru yang menginstal m-Cent lewat link dari kita. So, kudu pengen ya.... Oh iya, di aplikasi PopSlide, bahkan buka kunci Andoid saja bisa mendapatkan poin lho!

Poin yang didapat bisa dijadikan pulsa. Nah, dari pulsa yang didapat, bisa saja kita jual dengan memanfaatkan transfer pulsa (khususnya XL, Indosat dan Telkomsel).

Itu sekilas tentang cara menghasilkan pulsa melalui aplikasi Android. Nah, saya mau masuk ke inti dari postingan saya kali ini. Yakni, sebuah peringatan bagi pengguna aplikasi penghasil pulsa seperti di atas.

Saya sempat merenung beberapa saat. Merenungkan tentang m-Cent, aStore dan PopSlide. Terbayang betapa semangatnya melihat nominal poin jika ada penawaran baru. Lalu menginstal dan mendapatkan poin yang dijanjikan. Itu dibela-belain demi mendapatkan poin.

Saya lalu berpikir, bagaimana jika sebagai Muslim, saya bisa mengambil semacam ibrah dari cara kerja aplikasi tersebut di atas.

Saya lalu membayangkan bahwa kita punya aplikasi kehidupan yang diberikan Allah. Lalu melalui Quran dan Sunah, Allah menawarkan agar kita menginstal ibadah yang tersedia dengan janji poin pahala tertentu dari Sang Pencipta. Seharusnya kita akan sangat lebih bersemangat dibandingkan sekedar menginstal aplikasi yang ditawarkan m-Cent, aStore maupun PopSlide atau yang lainnya.

Allah menawarkan aplikasi Tilawah Quran dengan poin yang dijanjikan 1 huruf mendapat 10 kebaikan. Akumulatif lho, tanpa batas maksimum.

Allah menawarkan aplikasi berinfak dengan poin berlipat ganda sesuai nominal yang kita infakkan. Poinnya bahkan bisa lebih banyak dari sekedar referal, apalagi kalau itu masuk aplikasi amal jariyah yang 'poin'-nya senantiasa bertambah jika masih dimanfaatkan pengguna lain, walau kita sudah meninggal dunia sekalipun.

Allah menawarkan aplikasi Puasa Sunah dengan poin-poin tertentu, yang selain menambah poin juga bisa membersihkan kesalahan-kesalahan kita.

Wah, saya mendadak merasa kalah. Ternyata saya bodoh tidak bisa memaksimalkan mengambil penawaran dari Sang Pencipta yang menyediakan poin-poin yang sedemikian melimpahnya.

Itu sekedar gambaran kecil saja. Saya yakin, banyak aplikasi penawaran dari Allah yang tidak saya sebutkan di atas. Coba kita lihat list aplikasi yang Allah tawarkan: Berbakti Pada Orangtua, Menolong Saudara, Memberi Makan Orang, Meminjami Uang, dan sebagainya.

Lalu, 'poin-poin' dari aplikasi yang kita anggap remeh dan kecil, yang bisa kita instal di kehidupan sehari-hari kita: Pakai Sendal Kaki Kanan Dulu, Pakai Pakaian Kanan Dulu, Lepas Sepatu Kiri Dulu, Masuk Masjid Kanan Dulu... Subhanallah... Sudah saatnya kita berlomba mendapatkan poin dari Allah dengan menginstal aplikasi-aplikasi yang Dia tawarkan.

Ups. Saya rasa cukup. Mari kita ambil hikmah dari postingan saya ini. Semoga kita bisa bijak. Terima kasih menyempatkan baca...
Tertawa Sehat Bersama Bang Jarwo

Tertawa Sehat Bersama Bang Jarwo


Saya pernah berpikir, kapan kira-kira negeri kita ini bisa memroduksi serial tivi buat anak-anak berupa kartun berkualitas seperti serial Upin dan Ipin yang diproduksi oleh negara jiran kita Malaysia? Upin dan Ipin dengan karakter masing-masing tokohnya sanggup menghipnotis penonton, bahkan tak hanya anak-anak, tapi juga penonton dewasa. Dari situlah sebenarnya sangat mudah pengaruh bisa disisipkan pada anak tanpa disadari. Beruntung kartun buatan Les' Copaque itu sarat nasihat dan pesan moral.

Pertanyaan saya ternyata dijawab oleh kehadiran serial kartun buatan anak negeri, Adit & Sopo Jarwo! Pertama kali selintas melihatnya di televisi, saya tergelitik untuk menontonnya. Subhanallah, saya kepincut dengan karya anak negeri ini.

Sebenarnya saya agak mikir mengapa judulnya Adit & Sopo Jarwo, meski memang karakter utamanya adalah Adit, Sopo dan Jarwo. Kalau pertama baca judul filmnya, pikiran orang yang terlintas adalah bahwa Sopo Jarwo itu nama satu orang. Hehe, sudahlah, soal judul tak perlu dibahas.

Serial animasi yang diproduksi oleh MD Animation ini cukup menghibur, mengundang senyum dan tawa di setiap episodenya. Kadang juga menggugah rasa haru. Sudah pada nonton, kan?

Secara garis besar, kisah Adit & Sopo Jarwo ini berkisar pada kehidupan sehari-hari si Adit sebagai tokoh utama, yang ditemani sahabat sejatinya yang bernama Dennis. Ada juga Mitha dan Devi. Karakter anak-anak usia SD di Kampung Berkah (bener gak sih, nama kampungnya?) dengan segala sifat kekanakan. Banyak kejadian seru dialami.

Sementara Bang Jarwo dan Bang Sopo adalah duo pengangguran (atau pekerja serabutan lah), yang kemana-mana naik motor berdua. Walau lebih seringnya Bang Jarwo naik dan Bang Sopo mendorong, hehe. Bang Jarwo ini selalu mencari celah untuk mendapat keuntungan dalam segala hal. Bang Sopo adalah anak buahnya yang menurut saja apa kata Bang Jarwo. Lucu pokoknya kalau melihat tingkah keduanya. Duo ini setiap hari membantu cuci piring Kang Ujang, tukang bakso, dengan upah makan bakso gratis.

Oh, ya, keluarga Adit juga tak kalah serunya dalam cerita ini. Ada Ayah dan Bunda Adit, serta si kecil Adel yang meski balita tapi cukup cerdas. Omongan cadel tak jelasnya cukup menggelikan juga.

Tokoh penengah setiap masalah yang ditimbulkan oleh ulah duo Sopo Jarwo adalah Pak RW yang super bijaksana dengan logat khasnya ber-ane-ente.

Settingnya di kampung yang sangat Indonesia banget. Enak pokoknya buat dinikmati pemandangannya.

Menurut saya, ada banyak nilai positif yang bisa didapat dari serial ini. Banyak yang bisa dijadikan contoh untuk membentuk karakter anak.

Pertama, jalinan persahabatan yang ditunjukkan sangat bagus. Bahkan kekacauan antara Adit cs dengan Sopo Jarwo pun bukanlah permusuhan abadi. Keduanya sering saling membantu, seperti dalam salah satu episode dimana Bang Sopo diajari Adit cs agar bisa lulus ujian kesetaraan SD. Sebaliknya, Adit minta diajari nyanyi pada Bang Jarwo yang jago gitar.

Kemudian, tokoh utama si Adit juga merupakan seorang motivator yang selalu menyemangati Dennis yang suka ketakutan sendiri tiap menghadapi masalah. Meskipun kadang motivasi yang dihembuskan Adit rada ngawur dan asal. Tapi cukup menginspirasi anak yang menonton untuk saling menyemangati sesama teman.

Tak hanya pembentukan karakter baik dari tokoh antagonis, sisi positif lain justru dicontohkan oleh tokoh Sopo Jarwo. Apa tuh?

Coba kita perhatikan setiap episode. Jangan-jangan kita 'kalah jauh' sama Sopo dan Jarwo. Dalam hal apa?

Yups, dalam hal refleks lidah dengan kalimat-kalimat thayibah. Bang Sopo dan Bang Jarwo dalam setiap kondisi selalu wasis mengucap hamdalah ataupun istighfar. Bahkan saya sekalipun belum pernah menjumpai duo ini mengucap kata kotor. Bagaimana dengan lidah kita?

Selain sisipan positif di setiap sesi itu, ada juga tokoh Kang Ujang juga cukup asik. Akang dengan logat Sunda yang khas ini kalau ngomong selalu berima. Serasa mengucap pantun dengan nada sama di ujung tiap kalimat. Cukup menggelitik, bisa-bisanya.

Dari segi kualitas gambar, animasi perdana MD Animation ini cukup terlihat profesional. Cukup sempurna. Cukup membanggakan dan tak kalah sama si kembar Upin & Ipin punya tetangga itu.

Saya rekomendasikan untuk menonton film ini di televisi Anda. Dampingi anak atau adik kita agar bisa memilih tayangan sehat dan mendidik.

Saya harap kedepannya, makin banyak animasi bermutu karya anak bangsa yang bermunculan mengikuti jejak Adit & Sopo Jarwo ini.