Coretan Basayev: Agustus 2013
Simbah GR

Simbah GR

Hati-hati kalau memanggil teman. Setidaknya itulah yang ingin Jon Koplo nasihatkan kepada semua orang. Pasalnya, gara-gara memanggil teman sekelasnya, siswa SMP Negeri 1 Weru, Sukoharjo ini harus berurusan denga gurunya.

Ceritanya, Tom Gembus, temannya, biasa dipanggil dengan sebutan Simbah. Jon Koplo juga terbiasa memanggil begitu padanya. Nah, pada suatu hari saat jam istirahat, Koplo yang mau nirun PR hasil pekerjaan Tom Gembus, terpaksa berseru memanggil Gembus yang berada di luar kelas. “Mbaaah…! Simbaaah…!”  teriaknya.

Pada saat yang bersamaan, lewatlah Bu Lady Cempluk, guru IPS Ekonomi yang memang sudah sepuh. Merasa ada yang tidak beres, beliau segera memanggil Koplo untuk menghadap ke kantor guru. Koplo yang masih tak tahu alasan dipanggil ke kantor hanya manut saja.

“Le, aku sadar kalau aku sudah tua. Tapi tidak sopan kalau kamu memanggil gurumu dengan panggilan Simbah. Paham?” kata Bu Cempluk dengan nada menasehati.

Blaik!  Koplo baru ngeh atas dengan yang terjadi. Buru-buru ia meminta maaf pada Bu Cempluk dan menjelaskan bahwa yang ia panggil Simbah adalah Tom Gembus, temannya.

Tak lama kemudian Jon Koplo sudah keluar dari kantor guru sambil ngguya-ngguyu dhewe.

Wakhid Syamsudin, Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562
Dimuat di harian Solopos edisi Rabu, 10 Oktober 2012
Salah Alamat

Salah Alamat

Jon Koplo memboncengkan istrinya, Lady Cempluk, yang sedang hamil. Keduanya mengikuti mobil Tom Gembus yang berisi beberapa orang meninggalkan Kecamatan Weru, Sukoharjo. Mereka hendak menjenguk Gendhuk Nicole, tetangganya yang habis operasi di rumah sakit di Solo lantaran kecelakaan.

Di tengah jalan, ndilalah motor Koplo tertinggal mobil Tom Gembus. Koplo tidak berusaha mengejar karena takut jika ngebut bisa membahayakan kandungan Cempluk. Sampailah mereka di RS Otopedi Solo. Koplo dan Cempluk melihat-lihat siapa tahu ketemu rombongan Gembus. Tapi tidak ada. Padahal keduanya tidak tahu Gendhuk Nicole dirawat di ruang apa.

Koplo pun menelepon Gembus.

“Halo, Mbus, ruangannya sebelah mana? Aku di dekat masjid rumah sakit. Jemput kemari, ya?” pinta Koplo.

Tunggu punya tunggu, ternyata Tom Gembus tak kunjung nongol juga. Malah HP Koplo berbunyi, ada telpon dari Gembus.

“Halo, Plo. Dekat masjid sebelah mana? Kok nggak kelihatan?”

Cempluk mendadak curiga ada yang tidak beres. “Mas, tanya-a, rumah sakitnya Ortopedi apa bukan?”

Koplo pun bertanya pada Gembus dimana rumah sakitnya. Blaik! Gembus menjawab, “Rumah sakit Karima Utama Kartasura! Lha kalian di mana?”

“Wooo…”  Koplo mendadak lemas. Ternyata salah alamat!

“Makanya, tadi nanya dulu, jangan sok tahu begini,” omel Cempluk sambil mecucu. Dasar… dasar!

Wakhid Syamsudin, Sidowayah RT 001/RW 006 Ngreco, Weru, Sukoharjo
Dimuat di harian Solopos edisi Selasa, 18 September 2012
Tiwas Nendang

Tiwas Nendang

Meskipun telah mendapat malu, kalau teringat kisah ini Jon Koplo masih ngekek-ngekek sendiri. Waktu itu kampung halaman Jon Koplo di Dukuh Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo, sedang berkabung lantaran ada warga yang meninggal dunia. Jon Koplo sebagai tetangga yang baik berangkat ke tempat layatan untuk ikut lek-lekan mumpung sedang libur karena habis pindahan rombongan pasar malam tempatnya mencari rezeki. Selain itu, ini juga waktu yang tepat untuk srawung dengan tetangga.

Sudah agak malam Koplo sampai di tempat layatan. Di sana  sudah banyak warga berkumpul. Bahkan di serambi dan halaman rumah digelar tikar untuk jagongan.

Setelah menyalami para tetangga, Koplo melihat ada beberapa orang yang sedang tiduran di tikar, salah satunya tidur tengkurap. Merasa tidak asing lagi dengan postur tubuh gembul krukupan sarung itu, Jon Koplo siap-siap mengerjainya. “Dasar Tom Gembus tukang tidur, di tempat layatan kok tidur, memalukan,” batinnya.

Karena terbiasa bercanda dengan Tom Gembus yang juga sesama pedagang di rombongan pasar malam itu, dengan semangat mengganggu, Koplo menendang pantat orang itu,  ”Hei, bangun! Mau layat apa mau tidur?!” teriaknya.

Orang-orang yang duduk di sekitar Jon Koplo menoleh ke arahnya. Lalu terdengar lah tawa cekikikan bersamaan dengan si orang yang tidur tadi membalikkan badan. Badala! Wajah Jon Koplo pucat saknalika saat mengetahui sosok gembul itu bukannya Tom Gembus, melainkan salah seorang ustaz di kampungnya yang tertidur karena kecapekan.

“Oh, maaf… Maaf Pak Ustaz. Saya kira tadi Tom Gembus. Ngapunten nggih…!” ucap Jon Koplo sambil mundhuk-mundhuk diiringi derai tawa para pelayat.

Koplo segera berpindah tempat mencoba membuang malu. “Kampret! Tiwas nendang, jebul salah orang!”

Wakhid Syamsudin, Sidowayah RT 001/RW 006 Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562
Dimuat di harian Solopos Rabu, 22 Agustus 2012
Pakai Batu Saja

Pakai Batu Saja

Warga Dukuh Puthuk, Kelurahan Karangmojo, Kecamatan Weru sudah merasakan gejala kekeringan di musim kemarau tahun ini. Kebutuhan air bersih membuat sumur umum di sebelah rumah Jon Koplo selalu diantre warga. Makanya sore itu Jon Koplo mandi lebih awal dari biasanya, kalau kesorean takut kelamaan antre.

Dengan bertelanjang dada dan kalungan andhuk  Jon Koplo  segera melangkah ke sumur umum. Di situ sudah terlihat Gendhuk Nicole dan Lady Cempluk, dua keponakannya yang masih TK, sedang mandi di luar sambil ciprat-cipratan air.

“Dasar bocah! Tidak ngerti lagi susah air malah ciprat-cipratan!” omel Koplo gusar.

“Lik, tolong Cempluk dong, nggak bisa pakai sabun cairnya tuh,” pinta Gendhuk Nicole sambil menunjuk Lady Cempluk yang kesulitan mengeluarkan sabun cair dari botolnya.

“Makanya jangan bergaya kayak orang kota! Mandi pakai sabun cair segala! Sini!” ujar Koplo sambil mendekati dua keponakannya itu.

“Bukannya bergaya, Lik, ini kan oleh-oleh Pakde Tom Gembus yang liburan kemarin mudik sekeluarga!” sahut  Cempluk.

Jon Koplo pun membantu memencet botol sabun cair itu biar bisa keluar isinya. “Wong ndesa itu mandi nggak usah pakai sabun kayak gini. Sabun batangan saja. Atau, kalau perlu pakai batu juga bisa. Lebih praktis,” kata Koplo sewot karena merasa direpotkan.

Setelah itu, Jon Koplo menimba air mengisi bak kamar mandi tanpa atap itu. Selesai menimba, ia pun masuk dan jebar-jebur mandi. Namun ketika tubuh bugilnya sudah basah kuyup ia baru ingat, “Wadhuh, sabun mandiku ketinggalan!” sambatnya.

Ia pun menongolkan kepalanya, melongok dua ponakannya yang mandi di luar. “Ndhuk, minta sabunnya sedikit! Sabun Lik ketinggalan!”

Tak disangka, Lady Cempluk tiba-tiba nyeletuk, “Lik, pakai batu saja! Lebih praktis!” Disambut tawa cekikikan Gendhuk Nicole. “Wong ndesa itu sabunnya pakai batu saja! Hahaha!”

Wajah Jon Koplo jadi merah tak bisa menjawab celotehan keponakannya. Sialan.

Dulu, pernah dimuat di harian Solopos, rubrik Ah Tenane Jumat, 20 Juli 2012