Coretan Basayev: Juli 2013
Maaf

Maaf



Sahabatku. Tekadku sudah bulat. Aku akan pulang menemuimu. Meminta maaf atas kesalahanku padamu. Kesalahan fatal dalam hidupku yang berakibat rusaknya hubungan persahabatan kita. Keterlaluan, sudah lebih dari dua tahun kita terpisah dengan beban dendam di hati. Mungkin hanya aku yang mendendam, kau mungkin sudah melupakannya. Kau yang kukenal adalah seorang pemaaf. Tak mungkin kau membiarkan penyakit hati itu menggumpal di hatimu.

Kereta api Argolawu yang kutumpangi melesat begitu cepat. Kunikmati acara televisi kabel yang ada tepat di depan tempat dudukku. Memutar lagu-lagu religi terbaru band-band tanah air. Tapi anganku sudah melayang jauh ke kampung halaman di Klaten sana. Jadwal kereta yang kutumpangi akan mengantarkanku sampai di stasiun Klaten sekitar jam tiga malam.

Besok lebaran. Tadi puasa terakhir di Ramadhan tahun ini. Aku sengaja pulang mengakhirkan bulan Ramadhan seperti ini. Yang jelas aku kangen suasana Idul Fitri di desaku nan permai. Dua kali lebaran kunikmati di Jakarta. Kadang aku merasa keterlaluan juga, dua tahun lebih aku tidak pulang. Padahal berapa lama sih jarak yang harus kutempuh sekedar Jakarta-Klaten. Tapi aku merasa tak ingin bertemu kau, Sahabatku. Aku masih terlalu bodoh dengan dendamku yang tak seharusnya selalu kusimpan.

Dua tahun berlalu dari saat pertengkaran hebat itu. Aku masih ingat bagaimana kepalan tanganku membuat hidung dan mulutmu berdarah-darah dengan beberapa kali pukulan. Gila! Aku sama sekali tak menyangka aku senekat itu dulu. Kita dua sahabat. Dari kecil selalu bersama. Tapi masalah itu mampu membuatku kehilangan akal sehat. Kita berkelahi. Aku yang memulai. Kau hanya membela diri. Tapi kekuatanku di atas kekuatanmu. Apalagi setan yang menguasai otakku membantu dengan power iblisnya. Kau kutinggalkan terkapar di ruang tamu rumahmu. Tempat yang sering kita gunakan bermain sewaktu kecil. Lalu aku minggat dari rumah. Jadi pencarian orang sekampung karena Ibu meraung-raung merasa kehilanganku.

Aku nekat ke Jakarta. Padahal tak jelas siapa yang kutuju sesampai di kota metropolitan itu. Naik kereta ekonomi dengan sisa uang yang kupunya. Turun di stasiun Pasar Senen. Menggelandang di situ. Berkawan dengan gembel-gembel Poncol. Hidup dari hasil mengamen dari atas metro mini satu ke metro mini yang lain. Lebih dari dua bulan kulalui begitu. Menderita memang. Tapi aku tak mau kalau harus pulang ke Klaten dan bertemu warga kampung yang pasti memandang buruk tindakanku padamu, Sahabatku. Ya, memang buruk dan keterlaluan.

Selanjutnya aku berkenalan dengan Uda Rizal, seorang pedagang di blok 3 Pasar Senen. Di lapak para pedagang pakaian bekas pakai inilah aku mulai menata hidupku. Uda Rizal yang asli Bukittinggi Sumatera Barat itu menawari pekerjaan padaku. Menjaga salah satu lapaknya di bawah lokasi anggar di blok 4. Aku tak menyangka ada yang masih mempercayaiku. Orang Minang lagi. Padahal watak mereka lebih kukenal tidak tahu kawan dalam berbisnis. Tapi beda rupanya dengan sosok Uda Rizal.

Lapak yang kujaga dengan dagangan tas bekas pakai ternyata cukup ramai. Meski letaknya di blok 4 yang terkesan kurang strategis di mata para pedagang, tapi omzetku selalu lumayan. Uda Rizal senang sekali. Makin percaya dia padaku. Aku juga tahu diri untuk berusaha jujur dan bertanggung jawab atas kepercayaan ini. Tak mungkin aku jadi pengkhianat dengan menilep uang dagangan yang begitu saja dipercayakan untuk kubawa sampai sore tiba untuk selanjutnya baru kusetorkan. Uda Rizal memberiku uang sebagai upah setiap sore usai tutup. Jumlah yang cukup untuk makan dan sedikit tersisa untuk kutabung.

Selanjutnya aku bisa mengontrak sebuah kamar di bilangan Cempaka Putih. Meski berdua dengan seorang teman dari Padang juga. Anak buah Uda Rizal juga yang membantu di blok 3. Namanya Alfendi. Panggilannya singkat, Al saja. Kadang kucandai dengan Si Al. Si pembawa sial, hehe.

Hidupku mulai terarah. Ternyata bakat dan rezekiku ada di sini. Dagang di lapak kaki lima. Pasar Senen yang memang kondang dengan pakaian seken benar-benar ladang subur. Uda Rizal senang dengan cara kerjaku. Pelangganku cukup banyak. Tak tanggung-tanggung, beberapa pelangganku malah dari kalangan artis. Mereka yang ‘tahu barang’, meski bekas tak jarang tas fashion yang kujual di atas harga seratus ribu mereka bayar. Malah aku pernah menjual tas bermerk Prada seharga 300.000 kepada seorang aktris yang baru naik daun.

Setahun berlalu dari saat aku tinggalkan Klaten. Ada seorang tetangga yang berjualan buku di kawasan terminal Senen yang mengetahui keberadaanku. Lewat dia aku pernah sekali dua kali mengirim uang untuk orang tuaku di kampung sana. Dan berpesan agar tak perlu khawatirkanku. Aku pasti pulang, tapi entah nanti kapan.

Sahabatku. Rasa dendam di hatiku tetap membara meski setahun lewat. Baru suatu kali aku merasakan arti persahabatan sejati yang pernah kita jalin setelah aku merasa tertipu oleh sebuah persahabatan palsu. Si Al memang pembawa sial. Kami satu kamar seharusnya sudah saling percaya. Tidur di tempat sama tapi dia tega menikam dari belakang. Benar-benar tak tahu diri, remaja tanggung itu tahu-tahu kabur dan melarikan uang yang selama ini kukumpulkan. Ia tahu aku menyimpan uang di antara lipatan baju di lemari kecilku, dan keji sekali ia tega mengambil dan membawanya kabur. Dasar tak tahu diuntung, ternyata uang setoran ke Uda Rizal omzet tiga hari dagang yang ia bawa karena Uda Rizal pulang ke Padang, turut ia bawa kabur juga. Uda Rizal sempat kaget juga mengetahui kelakuan Al. Tapi dari kejadian itu, Uda Rizal justeru makin percaya padaku.

Aku jadi teringat kamu, Sahabatku. Waktu kita kecil dulu, kita ibarat tak pernah terpisah. Selalu bersama. Sukamu adalah gembiraku dan dukamu adalah bebanku juga. Itu sebenarnya persahabatan sesungguhnya. Aku baru sadar tak mudah mencari sahabat sepertimu. Tapi semua remuk dengan munculnya permasalahan kita. Aku memang keterlaluan. Aku mulai berpikiran untuk pulang menemuimu dan meminta maaf segala kesalahanku padamu. Apapun yang akan kau lakukan atasku aku rela nanti. Mau kau balas pukulan-pukulan yang pernah kumuntahkan pun aku siap. Demi kemaafan darimu. Aku benar-benar insyaf.

Tahun ini aku benar-benar serius mengumpulkan uang untuk mudik. Tak ada lagi hura-hura. Hobi nonton tiap ada film baru di Atrium pun aku kurangi. Bahkan sangat jarang aku nonton. Ajakan refreshing ke Dufan teman-teman sudah jarang kuturuti. Kami sebelumnya sering main ke Dufan. Melepas penat dan memanjakan diri di dunia penuh fantasi di kawasan pantai Ancol itu. Menguji adrenalin kami dengan aneka wahana menegangkan di sana. Aku selalu ketagihan naik Kora-kora. Kapal gede yang diayunkan sedemikian rupa…

Keluar malam menikmati Jakarta pun mulai kukurangi. Sering uangku habis tak terkontrol. Niatku pulang membuatku harus menabung dengan baik. Hasilnya, aku siap pulang tahun ini. Bahkan bukan kereta ekonomi yang akan mengantarku ke Klaten. Tak juga sekedar Senja Utama. Aku bisa naik Argolawu. Senang sekali. Orang tuaku pasti akan bahagia menyambutku. Aku juga membayangkan pertemuan denganmu, Sahabatku. Semoga kau sudi memberikan kemaafanmu padaku.

Aku yakin kau pasti mudah memberiku maaf. Kau satu-satunya temanku yang benar-benar paling alim. Ketika aku dan teman-teman lain yang asyik menikmati remaja dengan semangat hedonisme, kau malah aktif di masjid. Kau malah sibuk mengurusi TPA. Aku salut  juga padamu. Dan sejak itu awalnya aku kurang akrab denganmu karena jalan kita sedikit berseberangan. Sampai muncul masalah itu. Masalah yang membuat runtuh jalinan pertemanan kita. Ah…, makin kangen Klatenku…

Aku membayangkan besok pagi di lapangan tempat shalat Id dilaksanakan di kampung kita. Kita akan bertemu. Aku akan meminta maaf itu. Sungguh…, aku menyesali semua salahku padamu di masa lalu.

Kereta Argolawu singgah sejenak di stasiun Jogja. Sesaat lagi aku akan sampai di kampung halamanku. Aku tak membiarkan mataku terkatup sejenakpun. Aku nikmati perjalanan Jogja-Klaten ini. Duh, begini rasanya kangen yang mendalam. Selamat datang kembali di Klaten.

Kujejakkan kaki turun di peron stasiun Klaten. Hawa dingin lagsung menyambut. Jaket Puma yang kupakai kueratkan. Tas ransel cukup besar menggayut di pundakku. Ramai sekali stasiun. Tentu saja, ini hari lebaran. Aku lekas keluar disambut para tukang ojek dan becak yang menawarkan jasa.

Aku memilih naik becak. Tak jauh kok kampungku dari kawasan stasiun Klaten. Mataku berkeliling menikmati suasana jelang pagi di hari lebaran. Suara takbiran dari masjid dan surau sekitar terdengar saling sahut. Suasana tak tergantikan. Hatiku dipenuhi keharuan dan buncahan kangen yang menemukan penawarnya. Klatenku tetap seindah dulu. Aku benar-benar menikmati nostalgia ini…

Tak sampai seperempat jam becak yang kutumpangi mulai memasuki perkampungan tempat lahirku. Dari gapura masuk, jalanannya, rumah-rumah warga, tak banyak yang berubah dari semenjak kutinggalkan dulu. Di perempatan kampung tampak ada beberapa remaja nongkrong di brak siskamling sambil main gitar. Ada bau alkohol menyeruak. Memang remaja kampung sekarang sudah mengenal minuman haram itu. Juga aku sejak masih di kampung dulu. Sebuah kenyataan yang memang ada sebagai efek samping kemajuan zaman barang kali. Aku menyapa mereka dengan anggukan kepala. Mungkin mabuk terlalu banyak minum jadi tak ada yang ingat ataupun mengenaliku. Padahal sebagian mereka juga temanku nongkrong dua tahun lalu.

Aku tak begitu pedulikan mereka. Pikiranku melayang ke rumahku. Ibu pasti kaget dengan kepulanganku, karena aku belum mengabarkan aku pulang lebaran ini. Kejam memang, aku tak terlalu menganggap perasaan hati orang tuaku. Ah, kangen pada keduanya pun tetap ada. Aku tetap darah daging beliau berdua. Sebadung apapun aku.

Hanya melewati satu perempatan kecil lagi, aku sampai di pekarangan rumahku. Rumah tempatku kecil dan dibesarkan. Tempat orang tuaku benar-benar mencurahkan kasih sayang padaku. Tempat terindah bagi hatiku. Tempat yang tak sepantasnya kutinggalkan begitu saja selama lebih dari dua tahun.

Dari masjid yang berdiri di tengah kampung, masih terdengar gema takbiran membahana. Menguasai malam sebenar-benarnya. Aku tersenyum, di antara suara itu aku masih mengenali suaramu, Sahabatku. Ah, jam segini engkau masih asyik di masjid. Bersama-sama kelompok ngajimu barang kali menikmati suasana malam Idul Fitri.

Kuhentikan becak yang mengantarku pas depan pagar masuk rumahku. Setelah kuberikan ongkos, bapak-bapak pengayuh becak itu berlalu kembali ke stasiun mencari penumpang lain lagi. Dan sejenak aku berdiri mematung memandangi rumah yang dua tahun lebih ini kutinggalkan. Nyaris tak berubah. Tentu semakin menguatkan ingatanku pada masa lalu. Tak sabar aku ingin segera bertemu para penghuninya, keluargaku.

Kuketuk pintu dan kuucap salam. Suara Bapak yang terdengar menyahut. Lalu terkuak pintu, tampak lelaki sepuh itu tertegun memandangiku. Sontak kupeluk beliau. Erat sekali. Aku ditariknya masuk, sambil mulut beliau berseru memanggil-manggil Ibu. Tak lama Ibu keluar dari kamar. Melihat siapa yang datang, beliaupun lekas menyerbu ke arahku. Peluk cium wanita yang melahirkanku teriring tangisan bahagia menyambut kembalinya aku, sang anak yang tak tahu diri.

***

Gema takbir pagi Idul Fitri menggema di seluruh dunia. Membawa nostalgia tersendiri bagi jiwa-jiwa yang bersemayam iman di dalamnya. Lebaran adalah suasana tak tergantikan. Tak ada yang lebih indah dari hari besar ini. Dimana perantau mampu terpanggil pulang kembali ke kampung halaman. Mengeratkan lagi silaturahim.

Aku berangkat ke lapangan untuk shalat Id bareng Bapak dan Ibu. Juga adik lelakiku yang masih sekolah kelas tiga SMP. Ah, mengapa aku tega dua kali lebaran tidak bersama mereka…

Kembali aku ingat kau, Sahabatku. Engkau pasti sibuk membantu persiapan pelaksanaan shalat Id bersama takmir masjid yang lain. Sayang aku tak bisa hadir lebih awal jadi tak sempat menemuimu sebelum sholat hari raya. Tapi tak mengapa, toh sebentar lagi aku bisa menemuimu.

Aku berada di shaf belakang. Engkau pasti ada di deret shaf terdepan. Ah, kuharap nanti kau sudi menerima permintaan maafku…

Imam mulai berseru untuk memulai sholat. Shalat berjamaah yang memberi keceriaan pagi ini pun berjalan lancar. Dilanjut khotbah. Dan semua berakhir sudah. Selanjutnya jamaah saling bersalam-salaman sebelum pulang. Tawa menghias di sana-sini. Kentara juga keceriaan teman-teman lama yang setahun tak saling jumpa. Saling bertukar warta. Tak sedikit yang menyalamiku dan menyambut gembira kepulanganku.

Aku lekas merangsek ke depan. Kulihat sosokmu di dekat mimbar sedang merapikan tikar. Tepat di dekatmu aku sebut namamu. Kau menolehku dan tampak keterkejutan itu. Lekas dari mulutku terucap permintaan maaf. Kau langsung memelukku. Kubalas pelukanmu. Dari mulutmu terucap hamdalah. Kau senang aku pulang. Tak ada dendam pada sikapmu. Jamaah di sekitar kita tampak turut tersenyum. Apalagi yang tahu masalah yang pernah menimpa persahabatan kita.

Tak lama terdengar suara lembut meyebut namaku. Suara yang terlalu kukenali. Kutoleh pemilik suara itu. Wanita muda berwajah rupawan yang masih mengenakan mukena dengan menggendong bocah usia setahunan lebih. Wanita itu tampak tersenyum padaku dengan mata berkaca-kaca. Sekali lagi ia sebut namaku dan bertanya kapan aku sampai di rumah. Ya Allah… Kutoleh kau, Sahabatku. Engkau lekas mendekati wanita jelita bermukena itu. Lalu meminta bocah yang ia gendong itu untuk gantian kau gendong. Kalian memang serasi. Pasangan yang benar-benar pantas dan tampak sempurna. Tampan dan jelita. Shaleh dan shalehah.

Aku tak sanggup berkata apa-apa. Hanya teringat lagi masa lalu, saat emosiku memuncak karena menganggap kau telah merebut wanita itu dariku, Sahabatku. Konyol dan bodoh, padahal wanita itu memang lebih mencintaimu dari pada aku. Aku yang tak siap kalah dalam bersaing denganmu memperebutkan cintanya, lantas membentuk gumpalan dendam tak sepantasnya di hatiku yang berpuncak insiden pemukulan itu. Sahabatku, maafkan aku… Tak terasa air mataku mengambang. Kucoba tersenyum untuk kalian.

Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Menyambut Idul Fitri 1431 H.
Cerpen lawasku yang pernah dimuat Annida Online 09 Sept 2010
Klinik Batuk Shaun the Sheep

Klinik Batuk Shaun the Sheep


"Bang, Dedek musti diperiksain, nih...."

Tuhan..., adakah derita dilema yang lebih dari ini?

"Jatah belanja beras buat periksa aja nggak apa, Bang."

Sayang, Abang tidak memegang sepeser uang pun! Tapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakan itu. Kutatap istriku yang kian kurus, yang terlihat sangat capek, yang memeluk Dedek dalam gendongan, berharap si imut yang baru saja terlelap itu tetap nyaman.

Apa daya. Aku belum berbuat apa-apa. Bahkan menjawab perkataan istriku. Bayi empat bulan belahan hati kami itu terbangun karena tenggorokannya gatal. Terpingkal batuk yang menyiksa, wajah kecil itu tanpa daya, merah merona karena energi terkuras untuk batuk. Dahak yang tak kunjung termuntahkan meski si kecil sampai menangis sebegitu mengiris kasihan. Ibunya hanya bisa berusaha membantu memijat dan menepuk pelan bagian tengkuk agar dahaknya bisa dimuntahkan bersama batuk. Sia-sia, tangisan makin menjadi. Hanya ASI -yang entah masih bisa disedot atau tidak itu- yang mencoba menenangkan Dedek sekelar siksaan batuk yang begitu membuat iba.

"Ini sudah hari kelima, Bang. Saya benar-benar tidak tega melihat Dedek tersiksa begini, Bang...." Bulir bening itu mengaca di bola mata lelah istriku. Tuhan, mengapa hanya kebuntuan yang Kau hadirkan di otakku ini?! Sudah tidak mampukah Engkau menolong hamba-Mu? Tolong hamba, Tuhan! Atau, pindahkan saja siksaan batuk Dedek padaku. Biar aku yang menanggung! Apa Kau tidak kasihan menyiksanya begini, Tuhan?

"Iya, kita ke klinik."

"Abang ada uang, kan?"

Aku diam. Aku tahu, aku tak harus diam.

"Aku akan pinjam Bang Jalu."

"Hutang Abang ke Bang Jalu sudah menumpuk," istriku mengingatkan.

"Tak ada pilihan lain, Nik. Bersiaplah, sebentar lagi aku kembali."

***

Hujan turun rintik. Klinik Dokter Hari mengantri. Bangku panjang di depan loket pendaftaran sudah dipenuhi pasien lain. Aku dan istriku berdiri bersandar ke dinding bangunan. Dedek masih terhibur dengan menetek ibunya. Ah..., bukankah di rumah hanya ada nasi sedikit yang tak mengenyangkan perut istriku saat kutinggal mencari rezeki tadi? Dari mana sumber ASI yang kau isap, Dedek? Maafkan bapakmu yang keterlaluan melaratnya ini, Sayang....

"Sayang anak... sayang anak...," suara seorang lelaki paruh baya yang tengah menjajakan dagangan. Aku tak begitu menggubrisnya karena memang tak perlu.

Dedek terbangun. Ah, sial tuh laki! Suaranya mengagetkan Dedek. Ingin kuumpat saja lelaki paruh baya itu, menumpah ruah kekesalan akan kesukaran hidup. Tidak, aku menahannya. Iman masih bersemayam di jiwa rapuhku!

"Sayang anak, Pak..., belikan bonekanya. Lucu-lucu... lagi laris-larisnya ini. Boneka lucu Shaun the Sheep...," si lelaki itu berkata padaku. Menunjukkan koleksi boneka yang ia panggul dalam kantong plastik bening seukuran karung beras. Boneka berbentuk anak domba berwarna hitam dan putih itu terulur dari tangannya. Mencoba menggerak-gerakkan di depan Dedek yang terbangun.

"Enggak, Pak, terima kasih...," kataku segera. Berharap tuh lelaki lekas menyingkir dari hadapanku.

"Uhh..., uh...," suara Dedek. Tak kusangka, Dedek begitu tertarik dengan boneka itu. Matanya memandang penuh binar meski wajahnya kuyu. Tangannya meraih-raih ke arah boneka domba yang diangsurkan si lelaki penjual.

Istriku lekas menarik tangan Dedek. Mencoba mengalihkan perhatian Dedek dengan memiringkan badan ke arah lain. Tapi Dedek meronta mencari boneka itu. Tangisnya pecah, dan baru mereda begitu menemukan boneka itu pada pandangannya.

"Maaf, Pak, kami tidak minat beli. Maaf sekali, ya...," kataku pada si lelaki paruh baya, berharap dia mengerti dan pergi.

"Belikan, Pak, anaknya suka, tuh...!" Penjual itu mencoba membujukku. Ah, tidak tahu keadaan orang!

"Tidak, Pak. Maaf, ya...!"

Si lelaki sedikit menggerutu. Ia memang lantas pergi dariku, tapi tidak beranjak jauh, hanya berpindah ke arah pasien lain yang mengantri. "Sayang anak... sayang anak...!"

Sialnya, Dedek terus menangis melihat boneka domba itu menjauh darinya. Ibunya memaksa agar ia menetek lagi. Akibatnya malah Dedek batuk dengan hebatnya! Ya Allah..., tukarlah sakit Dedek dengan kesehatanku!!

***

Alhamdulillah, ternyata segala syak prasangka burukku pada Allah tak selalu terbukti. Allah masih menurunkan kemudahan-Nya. Dedek sembuh setelah dua hari meminum obat dari klinik Dokter Hari. Batuk yang menyiksanya sirna. Dahak yang mengganggu napasnya pun terserak keluar setelah beberapa kali batuk. Dedek sudah ceria kembali. Saat seperti inilah terasa malu pada Allah atas segala ketidaksabaranku selama menghadapi Dedek batuk. Ampuni aku, ya Allah. Aku memang bodoh dan rapuh.

"Abang mau ke mana?" istriku bertanya, saat aku mengenakan jaket lusuhku. Azan Magrib berkumandang bersahutan.

"Tadi Abang ketemu Mang Gugun. Abang disuruh ke kontrakannya."

"Abang tidak salat dulu? Sudah azan tuh!"

"Abang mampir masjid. Baru ke kontrakan Mang Gugun."

Istriku mengangguk. Aku lekas beranjak diiring pesan wanita paling sabar sedunia itu agar berhati-hati.

***

Kontrakan Mang Gugun di bilangan Gembreng, kawasan tepi Kali Sentiong. Usai mampir salat Magrib di masjid, aku bergegas ke kontrakan sederhana si mamang Sunda itu.

Terlihat Mang Gugun sedang mengepak barang ke dalam kardus bekas mie instant. "Mau pindahan ke mana, Mang?" tanyaku.

"Ee... kamu, Dar. Silakan masuk...." Mang Gugun menyilakanku. Tangannya masih asik mengikat kardus dengan tali rafia.

"Assalamualaikum," salamku seraya melangkahkan kaki masuk kontrakan sederhana itu. Kontrakan hanya sebuah kamar berukuran 3x4 meter dengan desain serba guna. Ruang tidur, ruang makan, bahkan ruang untuk menyambut tamu. Hanya kamar untuk mandi yang tidak memungkinkan di ruangan ini. Hal lazim di ibukota.

"Waalaikumsalam. Pilih tempat sendiri, Dar. Biasa, berantakan."

"Biasa sajalah, Mang. Ini ceritanya mau pindahan atau gimana, nih?"

Kelar mengikat satu kardus, Mang Gugun langsung menjawab, "Istri Mamang di kampung nelepon, anak lagi sakit, Dar."

"Oh? Jadi Mamang mau mudik?"

"Mau nggak mau, demi anak, Dar."

"Anak saya juga baru sembuh dari batuk, Mang. Kasihan, ya, lihat buah hati sakit."

"Iya, Dar. Makanya, Mamang manggil kamu kemari. Ceritanya, kemarin Mamang terlanjur belanja dagangan. Nah, berhubung nggak pasti Mamang di kampungnya berapa lama, makanya Mamang mau minta tolong ke Dar buat jualin dagangan. Setahu Mamang, mah, Dar lagi nggak ada kerja."

"Iya, nih, Mang. Mau bertahan di Senen juga nggak mungkin. Tahu sendiri, sejak pasar digusur dan pedagang diberi tempat gedung bekas Ramayana dan Matahari, pasar berubah sepi kayak kuburan. Harga bal-balan pakaian seken melangit, tapi isinya jelek semua, dari mana bisa balik modal pedagang."

"Iya, Mamang paham. Jakarta bukan tempat mengeluh, Dar. Percuma tak ada yang mau dengar."

"Iya, Mang."

"Nah, mulai besok kamu bisa keliling menjajakan dagangan Mamang. Insya Allah barangnya lagi laris-larisnya saat ini."

"Dagangan apa, Mang?"

Mang Gugun bergeser menarik sebuah karung lumayan besar. Lalu membuka ikatannya.

"Ini... boneka yang lagi tren. Mamang tiap hari bisa menjual lumayan, Dar, meski hanya keliling dan tidak punya tempat tetap. Kamu bisa naik-turun metromini, atau keliling di Senen. Ke stasiun pun boleh. Mamang yakin rezekimu akan baik dengan menjualkan dagangan Mamang. Nanti, Mamang bagi hasil denganmu."

Mang Gugun mengeluarkan barang-barang dalam karung itu. Aku terbelalak dan mendadak ingat kejadian di klinik saat Dedek sakit.

"Shaun the Sheep?" bibirku mendesiskan karakter kartun yang memang lagi tren gara-gara penayangannya di stasiun TV swasta belakangan ini.

"Iya. Siapa pun akan gemas melihatnya. Tak hanya anak-anak, bahkan banyak remaja dan ibu-ibu yang berminat pada mainan begini. Bagaimana, Dar? Kalau kamu mau, Mamang pasrahkan semua ke kamu. Ada 2 karung. Keuntungannya lumayan kalau bisa laku semua."

Aku mengangguk segera. Ini memang bisnis bagus. Toh aku tidak mengeluarkan modal uang. Hanya harus berdagang keliling. Aku sudah pengalaman hal begini. Dulu, sebelum diajak Uda Men jualan pakaian bekas pakai di Pasar Senen, aku pernah jadi tukang asong minuman ringan naik-turun metromini keliling ibukota.

"Dengan senang hati, Mang...."

***

"Tidak, Bang. Dedek jangan dikasih lihat dulu. Abang jual dulu, kalau ada untung baru Dedek 'ntar Abang belikan."

"Abang yakin pasti laku, Nik. Tak apalah kita ambilkan satu buat Dedek. Bukankah Dedek sangat menginginkannya saat di depan klinik dulu?" Aku mencoba membujuk. Istriku bersikeras agar aku tidak memperlihatkan dagangan Mang Gugun dulu kepada Dedek. Padahal aku sangat ingin memberikannya satu saja untuk buah hati kami itu. Betapa aku masih terbayang kepenginnya Dedek akan boneka ini, ketika sedang periksa di klinik tempo hari.

"Ini amanah Mang Gugun. Abang harusnya bersyukur dipercaya oleh Mamang. Jangan dipersalahgunakan."

Aku menjumpai mimik sedemikian serius pada wajah istriku. Ah..., apanya yang dipersalahgunakan, sih? Apa iya hanya mengambil satu dagangan untuk anak sendiri saja sebagai sesuatu yang salah? Toh, keuntungan penjualan bisa dipotong nanti untuk membayar satu boneka yang untuk Dedek. Tapi aku bergeming. Tak kuasa membantah kata istriku. Kulihat Dedek yang tertidur kelelahan. Bayiku yang masa pertumbuhannya tidak mendapat zat gizi terbaik. Oh, Tuhan.

***

Besoknya, aku sudah berangkat menenteng karung ukuran sedang berisi boneka karakter kartun Shaun dkk. Tanganku kanan-kiri memegang boneka itu untuk menarik perhatian calon pembeli.

"Sayang anak... Silakan dipilih! Shaun the Sheep, Shaun the Sheep!" suaraku bergema saat memasuki pasar. Kulihat beberapa anak berkerumun bersama orangtuanya. Sasaran empuk, pikirku.

"Ma..., mau Shaun the Sheep, Ma...!" Seorang anak usia SD menarik lengan ibunya. Menunjuk ke arah daganganku.

Anak ini adalah penglarisku. Satu boneka Shaun the Sheep berhasil terjual. Alhamdulillah....

***

Sore mendadak mendung. Ah..., dagangan belum habis! Gerimis pula yang datang! Aku masih mencoba naik sebuah metromini yang berjalan pelan di perempatan. Menjajakan boneka menggemaskan ini. Alhamdulillah, seorang remaja putri tertarik dan membeli daganganku.

Turun dari metromini, rupanya gerimis makin menjadi. Aku lekas menepi. Berlindung di sebuah emperan toko yang tutup. Di pintunya tertempel tulisan 'DIJUAL TANPA PERANTARA'.

Ketika agak reda, aku merangsek rintiknya menembus jalan mencoba menjajakan lagi daganganku. Tak boleh putus asa. "Sayang anak... sayang anak!"

Kulihat kerumunan di sebuah emperan. Beberapa motor terparkir di depannya. Beberapa orang menggendong anak menghindarkan dari tampias gerimis.

"Sayang anak... sayang anak...," kutawarkan daganganku.

Seorang balita tertarik pada boneka yang kupegang. Lekas kudekatkan padanya. Kulirik lelaki yang menggendongnya. Pasti bapak si balita. "Sayang anak, Pak..., belikan bonekanya. Lucu-lucu... lagi laris-larisnya ini. Boneka lucu Shaun the Sheep...," kataku.

"Maaf, Pak, kami tidak minat beli. Maaf sekali, ya...," kataku si lelaki, berharap aku mengerti dan pergi.

"Belikan, Pak, anaknya suka, tuh...!" Aku masih mencoba membujuk. Tidak peduli ia sudah menolak.

"Tidak, Pak. Maaf, ya...!" katanya lagi. Ia mencoba menjauhkan pandangan si balita dariku.

Si balita berontak dan menangis. Tangisnya mendadak mengingatkanku pada Dedek! Kepalaku tiba-tiba terasa agak pening. Balita itu terbatuk-batuk. Terpingkal. Seperti Dedek waktu itu.... Tatapan sinis si lelaki adalah tatapan mata sinisku waktu itu.

Sudut mataku tertumbuk plakat di tembok bangunan. "Klinik Dokter Hari"

***

Selesai di Tlingsing, 4 Februari 2012

(Cerpen ini versi utuh yang saya kirim ke Ummi. Karena terbatasnya jatah halaman di Ummi, redaksi memangkasnya, sebagaimana yang tercetak di majalah Ummi edisi Oktober 2012)
Senyuman Bidadari

Senyuman Bidadari


Belum pernah aku mengalami keresahan sekalut ini. Sangat menegangkan.

Detik-detik waktu teramat lambat berjalan. Seperti tersedak di helaan nafasku yang tak beraturan. Saat seperti inilah aku benar-benar merasa memerlukan Allah. Hanya Dia yang mampu membantu.

"Duduklah, Nak," bapak-bapak yang melihatku mondar-mandir di ruang tunggu ini mencoba menawariku sambil menepuk-nepuk bangku panjang yang hanya didudukinya seorang. Ia berhenti membaca koran yang sedari tadi menemaninya.

"Makasih, Pak," aku hanya mengangguk padanya sambil coba tersenyum. Tapi kentara sekali aku gugup.

"Anak pertama ya?" tanya bapak-bapak itu menebak.

Aku hanya mengangguk. Mataku menatap ke pintu tertutup yang belum juga ada tanda-tanda akan dibuka. Meski lamat, aku masih bisa mendengar suara erangan mengejan Ifani-ku. Juga suara Ibu menyemangati dan menguatkan menantunya itu.

"Dulu, saya juga sepanik kamu, Nak," bapak itu berkata lagi, "Hanya Allah tempat bermohon."

"Iya, Pak," aku mengangguk. Aku tahu, Ifani sedang berjuang antara hidup dan mati demi kelahiran jabang bayi anak pertama kami. Kuatkan dia ya Allah...

Di benakku terbayang garis bibir Ifani-ku itu. Bibir yang selalu menghias senyum terindah itu kini sedang mengeluarkan rintihan. Rintihan kesakitan yang hanya bisa dirasakan kaum ibu. Erangan yang mampu mengagungkan derajat wanita pada titik tertinggi. Sebuah medan jihad yang hanya diperuntukkan bagi keturunan Hawa...

Aku memaksa diri untuk menenangkan batin dengan duduk di samping si bapak-bapak.

"Yakinlah, semua akan baik-baik saja," orang tua itu berusaha menenangkan hatiku.

Aku menghela nafas setenang mungkin.

"Saya baru saja menerima anugerah cucu ke tiga, Nak. Anak pertama dari bungsu saya. Kemarin suaminya juga sepanik kamu. Itu sangat wajar karena merupakan sesuatu yang baru dalam hidup kalian. Tapi dengan keyakinan dan pasrah pada Allah, semua akan berjalan lancar..."

Aku hanya mengangguk. Otakku belum bisa mencerna semua kata-kata itu dengan baik. Aku masih benar-benar dalam kekalutan teramat.

Ifani, gadis pilihan hatiku yang akhirnya kunikahi hampir setahun yang lalu. Kini dia sedang menahan sakit di hadapan bidan yang membantu persalinannya. Ya Allah, beri kekuatan pada isteriku itu...

***

Aku mengenal Ifani ketika sedang KKN di sebuah desa kecil di kawasan Gunung Kidul. Pertama melihatnya saat aku dan beberapa teman KKN hendak ikut partisipasi di masjid kampung yang menyelenggarakan kegiatan rutin mengajari anak-anak membaca Al Quran atau yang lebih dikenal dengan sebutan TPA.

Kami datang terlambat beberapa menit. TPA sudah dimulai, beberapa remaja yang peduli kemajuan kampung mereka tampak disibukkan menyimak dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah melalui sarana buku iqra.

Teman-teman KKN yang putri langsung membaur ke kelompok remaja putri yang mengampu anak-anak perempuan dengan jilbab-jilbab lucu mereka. Aku sendiri bersama teman-teman KKN putra sudah disibukkan dengan menyimak bacaan iqra bocah-bocah TPA yang putra.

Kelar menyimak bacaan salah satu anak, lalu kuberikan tugas menyalin tulisan Arab dari buku iqra padanya. Menunggu si bocah menyelesaikan tugas, kulepas pandangan mengitari ruangan masjid kampung ini. Lumayan besar meski bangunannya sudah tua. Empat tiang penyangga masjid ini terbuat dari kayu jati asli. Kokoh dengan ukiran tangan orisinil memberi nuansa klasik pada bangunan suci ini.

Tak sengaja mataku menemukan pemandangan yang sangat mengusikku. Mengusik segenap hati dan perasaanku. Menimbulkan getaran yang sangat aneh. Memberi debar dengan birama misterius pada hatiku. Sebuah pemandangan sempurna bagi mata manusia-ku. Yah... Aku menyaksikan senyuman sempurna itu. Senyuman bidadari...

Dia sedang menyimak hafalan juz amma beberapa anak. Senyum puasnya saat memastikan hafalan si anak-anak benar tampak menghias di bibirnya yang, subhanallah, sangat sempurna menurutku. Bibir yang menghiaskan senyum itu sama sekali alami, bibir yang barangkali tak pernah mengenal gincu atau lipstik. Tapi senyuman yang merekah di situ sangat sempurna. Senyum yang akhirnya kusebut sebagai senyum bidadari... Belum pernah kulihat sebelumnya.

"Hei, tundukkan pandangan, Ris!" teguran berbisik dari Labib menyadarkanku.

Aku sedikit tersipu ketahuan melirik ke pemilik senyuman bidadari itu. Agak gugup saat kucoba senyum ke Labib, "Hehe, sori, Bib. Tapi makasih udah ngingetin."

Itu momentum pertama yang sangat berkesan bagiku. Aku merasakan sedang jatuh cinta. Ya, aku telah jatuh hati pada gadis kampung pemilik senyum menawan itu. Ifani, demikian orang tua si gadis memberi nama padanya. Nama unik yang bagiku menambah menarik! Robbana... Aku benar-benar kesengsem padanya.

Selama KKN di kampung Ifani, entah mengapa aku merasa sangat bersemangat. Aku ingin bersama teman-teman bisa memberi arti keberadaan kami di kampung ini dengan turut aktif dalam semua kegiatan kemasyarakatan. Penyuluhan tentang teori bertani yang benar, atau penyuluhan kepada para remaja tentang kemungkinan tantangan zaman yang mau tidak mau pasti akan masuk juga ke kampung terpencil ini.

Kami juga mengupayakan pembuatan sumur warga yang memiliki sumber mata air terbanyak agar dapat membantu persediaan air bersih bagi warga di kampung yang identik dengan kekeringan ini.

Satu yang tak pernah aku tinggalkan adalah menghadiri kegiatan rutin TPA setiap dua hari dalam seminggu di masjid kampung.

"Jangan kotori niat, Ris," Labib mengingatkan. "Hati-hati juga, jangan sampai nama baik almamater tercemar dengan sikap kita."

Aku mengerti. Kampung Ifani masih sangat terpencil, berarti juga sangat sensitif. Bayangkan andai nanti sikap ketertarikanku pada si pemilik senyuman bidadari itu bisa menjadi fitnah.

Benar kata Labib, niatku partisipasi membantu dalam kegiatan TPA ini harusnya lillahi taala, tak boleh diniatkan untuk yang lain, termasuk keinginan menjumpai senyuman pengganggu jiwaku itu. Senyuman bidadari Ifani!

Suatu kali. Kegiatan TPA berakhir tapi mendadak hujan turun dengan sangat derasnya. Kami menahan anak-anak TPA agar jangan nekat pulang. Tak mungkin kami biarkan mereka hujan-hujanan. Untuk menarik perhatian anak-anak kecil itu, Labib mendaulatku untuk menunjukkan keahlianku bercerita.

Anak-anak tampak antusias mendengarkan ceritaku. Aku berkisah tentang Abu Nawas dengan segala kecerdasan dan kecerdikannya. Mereka tampak sangat menikmati ceritaku.

Tak hanya anak-anak, para remaja yang tadi mengajari membaca iqra pun, tampak ikut terbawa dengan suasana penceritaan yang kusajikan. Mereka turut tersenyum salut dengan kecerdikan Abu Nawas saat berulang kali mampu lepas dari jebakan hukuman dari Raja Harun Ar-Rasyid. Dan... di sudut sana, tampak Ifani dengan senyuman rupawannya juga ikut menikmati ceritaku. Entahlah, hatiku berseru girang karenanya. Semoga ada nilai plus diriku yang bisa ditangkapnya. Ah, ada secuil pengharapan membuncah di dadaku. Ifani...

Hujan reda usai kami jamaah sholat Maghrib. Saat perjalanan pulang, Muslimah, mahasiswi ketua kelompok putri, sempat berbincang denganku.

"Gaya berceritamu bagus, Ris," ia memulai dengan sebuah pujian.

"Biasa aja, Mus. Rata-rata anak sastra mampu bercerita," aku merendah. Dan memang tak perlu merasa tinggi untuk hal itu.

"Tau nggak, ada remaja putri yang bilang salut dengan gayamu. Apalagi kamu benar-benar bisa mengajak semua anak TPA masuk ke ceritamu."

"Ah, jangan berlebihan, Mus. Nggak baik seperti itu."

"Iya. Tapi kamu tau nggak, yang bilang gitu siapa?"

"Emang siapa?"

"Ifani, Ris."

Deg. Jantungku berdegub kencang.

"Kenapa, Ris?"

Aku lekas menggeleng. "Apa yang kenapa?"

Muslimah sedikit mencibir. Lalu ia berkata seperti bergumam sendiri, "Benernya Ifani tuh cantik ya, Ris."

"Ya iya, cewek. Kalo cowok ya ganteng," sahutku asal.

"Tapi beda, Ris."

"Apanya?"

"Ia sangat istimewa."

"Apa istimewanya?"

Muslimah tertawa kecil. "Tuh, kan penasaran," godanya.

"Au ah. Kamu juga yang mancing."

"Kenapa kamu terpancing?"

Ah, Muslimah ini kenapa? Ada yang tidak beres nih dengannya...

"Kamu kenapa sih, Mus?" tanyaku.

"Nggak kenapa-napa. Cuman muji Ifani. Emang kamu nggak sepakat dengan pujianku?"

"Aku sih nggak begitu mengenalnya. Kan kalian dari mahasiswi yang lebih dekat dengannya."

"Ya udah. Aku ceritain tentang Ifani. Dia tuh hebat. Istimewa."

Ini sebenarnya yang kutunggu. Bisa kenal gadis itu lebih jauh. "Dari tadi kamu bilang istimewa. Apa yang istimewa?"

"Kamu tahu, Ris, dia hafal Juz Amma dan juz 29."

Aku sedikit terhenyak tak percaya. "Masak sih?"

"Iya. Kami sering menyimak ia murajaah. Hafalannya sangat bagus."

Aku makin terpana, tapi coba kututupi. Jaga gengsi.

"Sejak kecil Ifani senang mendengarkan Ibunya membaca Quran dan menghafal bacaan suci itu."

Luar biasa.

"Gimana, Ris? Makin tertarik?" Muslimah mengerlingkan mata.

"Maksudmu?"

Muslimah mesem-mesem. "Aku udah tau kok, Ris. Kamu menyukai Ifani kan?"

"Hey, kata siapa?" tanyaku cepat.

"Ehem. Cinta itu seperti batuk," sahut Muslimah, "Tak bisa disembunyikan."

"Ah! Ngomong apa sih, Mus. Nggak enak kalo didengar warga. Kampung ini masih sangat sensitif, bisa menjadi fitnah."

"Iya. Aku tau. Tapi kan kalo kamu emang cinta dia..."

"Cinta apaan sih, Mus. Belum-belum sudah ngomong cinta!" lekas kupotong kalimat Muslimah.

"Bukan apa-apa, Ris. Ya udah lah, kamu pikirkan sendiri aja. Yang jelas, Ifani itu istimewa. Satu antara seribu. Kamu mau ngelewatin gitu aja?" Muslimah akhirnya menyudahi semua.

Tapi jujur, obrolan itu benar-benar berpengaruh pada diriku. Aku jadi lebih sering memikirkan tentang Ifani. Iya, benar kata Muslimah, gadis kampung itu teramat istimewa. Aku mengakuinya. Tapi, apa yang harus kuperbuat? Bilang pada gadis itu kalau aku..., hehe, jangan. Aku belum siap menikah. Bilang cinta artinya siap melamar, itu prinsipku.

Tapi rasa itu makin menjadi. Apalagi tiap TPA aku sayup-sayup mendengarkan Ifani melantunkan bacaan Quran membetulkan hafalan anak-anak yang kadang salah panjang-pendeknya. Atau kurang tepat makhraj dan tajwidnya. Gila, aku makin terpikat, kawan!

Tapi aku tak berani bersikap apapun.

Banyaknya aktivitas kemasyarakatan sedikit membantuku untuk melalaikan ingatan pada Ifani. Kesibukan dalam tugas pengabdian cukup menyita waktuku dari sekedar melamunkan indahnya senyum Ifani.

Tapi tiap jelang tidur malam, tak jarang mata ini susah kupejamkan. Senyuman bidadari itu sering mengusik. Robbana... Apa yang musti hamba lakukan?

Untungnya, jatah KKN yang tak lebih dari dua bulan habis juga. Untung atau malah rugi ya? Waktu KKN habis berarti aku tak kan lagi terganggu dengan senyuman itu. Tapi juga berarti, aku "kehilangan" harapan pada gadis itu... Kuserahkan semua padaMu ya Allah.

Tiba waktu perpisahan itu...

Suasana sangat mengharukan mengiring upacara pamitan dan perpisahan kami dengan warga kampung Ifani. Yang bagiku terasa gila adalah tindakan Muslimah yang mempertemukanku dengan Ifani di pendopo balai desa beberapa saat jelang kami meninggalkan kampung ini.

"Ifani, ini Haris," Muslimah berbisik pada Ifani.

Ifani mengangguk. Lalu tersenyum indaah sekali... Robbi, senyuman bidadari itu dia sunggingkan hanya teruntuk aku...

"Mas Haris...," ya Allah, ini pertama kali ia berbicara padaku, menyebut namaku...

"Ya, Ifani. Em, sebentar lagi kami akan meninggalkan kampung indah ini."

"Saya ingin berterima kasih pada Mas Haris dan semuanya. Semoga semua masih selalu sempat mengingat kami. Paling tidak kirimlah kabar sepulang dari sini."

"Insya Allah. Kami juga sangat senang bisa KKN di kampung ini."

Muslimah menyentuh tangan Ifani. Lalu terdengar mahasiswi kedokteran itu bicara, "Ifani, kami pasti mengenang kalian."
Ifani mengangguk senang dan tersenyum lagi. Duh...

"Dan," Muslimah melirikku, "Semoga ada alasan bagus yang bisa memaksa kami kembali berkunjung ke kampung ini..."
"Maksud Mbak?" tanya Ifani tak paham.

"Ya... Barangkali ada hati yang tertinggal di sini...," Muslimah menembakkan kalimatnya ke jantungku yang langsung berdetak kencang.

***

Tangis bayi yang keras menyentakku. Ifani telah menuntaskan jihadnya!

"Anak pertamamu lahir, Nak...," si bapak menepuk pundakku. Lalu menyalamiku, "Selamat menjadi bapak."

Aku mengangguk cepat. "Alhamdulillah, ya Allah..."

Tak lama, aku sudah masuk ke tempat Ifani berbaring lemah. Mukanya pucat tapi ia sudah kembali dengan senyuman bidadarinya.

"Dek, putri kita cantik sekali," kukecup kening bayi merah yang kutimang. Bahagianya hatiku.

"Tentu. Ia mewarisi kecantikan Ibunya dong," Ibuku yang menyahut. Beliau duduk di sisi pembaringan Ifani. Disekanya keringat yang masih menempel di kening sang menantu.

"Bawa kemari, Mas," Ifani meminta kudekatkan si kecil yang tampak tenang. Kuturuti kemauan isteriku ini.

"Dek, bibir putri kita sama persis dengan bibir Adek, ia mewarisi senyuman Adek."

Ifani tersenyum. Kuraih tangannya.

"Adek bisa melihatnya, kan?" kubawa jemari tangan lembut Ifani-ku ini untuk menyentuh wajah dan bibir putri kami yang masih merah.

"Iya, Mas... Adek seperti meraba wajah Adek. Juga bibirnya...," Ifani terus meraba wajah lembut bayi kami. Karena hanya dengan rabaan jemarinya ia bisa menyimpulkan bagaimana bentuk fisik segala sesuatu yang ada di jangkauan tangannya.

Aku terharu. Ia menikmati rabaan itu sebagaimana ia dulu menikmati meraba wajahku di malam pertama pernikahan kami untuk mengenali bagaimana rupaku. Sementara matanya tetap menatap dunia kosong karena Allah menyimpankan sepasang indera penglihatannya itu di surga dari semenjak Ifani lahir ke dunia ini.

Kutarik jemari isteriku ini. Kukecup penuh sayang.

"Mas, Adek belum puas meraba wajah putri kita..." protesnya manja.

Cerpen ini duluuuu pernah dimuat di Annida Online tertanggal 28 Juni 2010