Coretan Basayev: Agustus 2012
Ah Tenane, Coretanku Dimuat Lagi

Ah Tenane, Coretanku Dimuat Lagi

Secara ketagihan ngirim cerita ke Solopos, kukirim 2 cerita unik lagi. Tapi kali ini lama tidak ada yang dimuat. Mungkin nunggu antrian. Tapi bisa jadi juga tidak lolos.

Oh, ternyata tidak, satu dari kedua naskahku akhirnya dimuat juga di Ah Tenane Solopos. Kali ini berjudul Tiwas Nendang. Idenya dari peristiwa nyata di Sidowayah. Baca dulu ceritanya di sini. Lumayan, kan?

Pada kisah sebebarnya, tokoh Jon Koplo itu adalah Lek Hartono, bapaknya Empo alias Feri Mahendra. Kasihan ya, lek kita satu ini musti menanggung malu karena menyangka Pak Tarto (maaf, Pak, kisahnya saya tulis!) dikiranya Bowo. Wah jan, kejadian di layatan De Jami itu sungguh menggelikan.

Hm..., sekarang nunggu naskah yang satunya lagi, siapa tahu dimuat Solopos. Bantu doa, ya....

Siapkan amunisi untuk menembak lagi!
Jatuh Melulu dalam Dekap Cinta

Jatuh Melulu dalam Dekap Cinta

Hmm... asmaraku asmaramu
Detikku menitku penuh akanmu
Melambungku ke biru langit
Bersamamu hati terkait

Gombal jadi buai rasa
Mencinta bermasa-masa
Mesra oh mesra
Bara membara-bara

Berjauhan merindu selalu
Dekat pelukmu jatuh melulu
Dalam cinta genderang bertalu
Lewat senyummu malu-malu

Oh betapa indah surga
Hilang segala dahaga
Jiwa raga
Sepenuhnya untukmu juga

Cinta adalah ketika aku untukmu
Bukan sekadar janji semu
Rindu-rindu bertemu
Tanpa jemu

Di naung kasih abadi
Bara kian menjadi
Halal tenangkan nadi
Seindah budi

Jaga rasa ini selamanya, Sayang....

(JB09082012, mencuri waktu)
Mengapa Musti Begini?

Mengapa Musti Begini?

Mendapat undangan buka bersama di Ponpes Qoryatul Quran di Kauman, Jatingarang, Weru. Datang ke sana bersama Bowo, Lek Sukiran dan Pakde Muri. Undangan jam 4 sore, acara dimulai sekitar pukul 5. Biasa, molor adalah hal wajib. Beruntung kami berangkat dari rumah lewat jam 4.

Saat menunggu acara dimulai, ketika duduk di ruangan acara, ada seorang teman, yang setahuku adalah aktivis PKS, berbisik padaku, “Kok panitia pondok orang-orang MMI semua, ya?”

“Kurang tahu. Tapi kan banyak juga dari Dewan Dakwah dan kelompok lainnya,” bisikku juga.

“Ponpes ini sepertinya binaan MMI.”

“Setahuku milik umat Islam, tanpa membedakan kelompok.”

Teman ini lalu berbisik, “Dilihat dari orang-orangnya kentara MMI. Semoga tidak seperti Ngruki.”

“Ah, ini kan pondok tahfizul Quran, pasti lebih mengutamakan penghafalan Quran,” kataku. Lagian apa yang salah dengan MMI ataupun Ngruki, batinku.

“Iya, dan semoga tidak seperti Ngruki.”

Aku tak melanjutkan bisik-bisik karena acara sudah dimulai. Kenapa pondok pesantren baru dan berniat baik begini musti pakai dicurigai begini-begitu? Mari berlomba dalam kebaikan, jangan melulu saling menjegal!