Coretan Basayev: 2012
Kehilangan Motor di Solopos

Kehilangan Motor di Solopos

Cukup lama, nih, naskah kisah ringan yang kukirim ke Solopos tidak dimuat. Alhamdulillah, akhirnya nongol lagi. Rubrik Ah Tenane kembali memuat cerita yang kukirimkan.

Kali ini, judulnya 'Kehilangan Motor'. Meski rada kecewa, nih, karena ternyata naskahku diedit habis-habisan sama redaksi Solopos. Tapi tak mengapa juga kali, ya, toh ceritanya tak jauh amat dari aslinya.

Kisah ini dialami oleh Mas Hery, tetanggaku yang anggota TNI bertugas di Kodim Sukoharjo. Aslinya prajurit Indonesia ini 'kehilangan' motor ketika habis beli alat pel lantai di toko dekat markasnya. Tapi diedit redaksi jadi warung makan depan markas.

Apapun, alhamdulillah sudah bisa dimuat lagi, meski masih beberapa naskahku belum dimuat di sana. Klik di sini untuk membacanya.

Terima kasih. 
Kirim Kisah Lucu di Solopos

Kirim Kisah Lucu di Solopos

Pernah mengalami kejadian-kejadian unik, lucu, menggelikan, memalukan dan tidak terlupakan? Atau mungkin orang-orang di sekitar Anda yang mengalami? Hmm..., Anda tak perlu menggerutu karenanya. Kenapa? Karena peristiwa-peristiwa tak diharapkan itu bisa menjadi sumber penghasilan bagi Anda yang kreatif mengemasnya.

Ah Tenane, rubrik yang hadir di koran Solopos, yang dimuat setiap hari (kecuali Minggu dan hari libur), adalah sasaran Anda untuk 'mengabadikan' kisah yang dialami tersebut di atas. Caranya sangat simpel, Anda tulis saja kisah tersebut dengan gaya sederhana. Ganti tokoh yang terlibat dengan menggunakan 4 nama yang menjadi ciri khas rubrik korannya Wong Solo ini: Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk dan Genduk Nicole. Boleh salah satu atau keempatnya dipakai.

Panjangnya? Tenang saja, cukup 1 halaman A4. Biar nanti editor Solopos yang mengeditnya sesuai karakter yang dikehendaki redaktur. Kirim dalam format .doc (MS Word) via lampiran email ke redaksi@solopos.co.id. Dan tunggu dimuat di koran Solopos kalau memang lagi beruntung. Peluang dimuatnya cukup besar mengingat Solopos butuh 1 kisah setiap harinya.

Bagi yang tidak langganan korannya bisa cek saban hari ke http://pusdat.solopos.com/. Siapa tahu kisah Anda yang keluar.

Untuk cerita ringan ini, Anda akan diberi imbalan setiap kali pemuatan dengan uang Rp75.000,-. Lumayan sih, dari pada kisah disimpan sendiri. Toh nama kita disamarkan ini. Honor bisa diambil di Griya SOLOPOS Jln. Adisucipto No.190 Solo 57145 Telp (0271) 724811 (hunting). Jika dalam 2 minggu tidak diambil, maka redaksi akan mengirimkannya via wesel pos.

Yuk, ambil peluang 'iseng' ini untuk melatih kemampuan menulis. Kebanggaan juga akan kita rasakan jika naskah kita dimuat. Ya, kan?
Farel dan Lampu Merah

Farel dan Lampu Merah

Kisah menggelikan ini terjadi ketika aku mengajar TPA di masjid Darussalam Candi, hari Kamis sore. Meski hujan gerimis aja, ternyata tak menggoyahkan semangat para santri menuntut ilmu. Cukup membuat saya bersemangat, meski awalnya agak ragu berangkat karena cuaca.

Setelah kegiatan baca Iqro selesai. Santri berkumpul untuk persiapan pulang. Karena jam pulang masih beberapa menit lagi, maka kuajak santri bertepuk ria dulu. Tepuk Anak Sholeh. Plok! Plok! Plok! Aku anak sholeh... dst.

Kelar tepuk-tepuk ria. "Sekarang kita ingat kembali hafalan nama Nabi."

Kompak santri-santri kecilku menyanyikan bait lagu 25 Nabi yang dipopulerkan Raihan. "Adam Idris Nuh Hud Sholeh ... dst!"

Meriah sekali, ya. Kelar lagu itu dinyanyikan bersama, kucoba menantang santri, "Ada yang berani menyanyikannya di depan?"

"Aku!" Si Farel mengangkat jari. Nih anak pemberani juga, pikirku. Padahal masih TK. Semoga beneran sudah hafal lagu 25 Nabi, doaku.

Kupersilakan Farel maju. Dan tanpa babibu, bocah 5 tahun langsung menyanyi. Aku kaget. Teman-temannya langsung pada tertawa. Tak kusangka Farel menyanyi:

"Lampu merah tanda berhenti!"

Baru baris pertama lagunya sudah disambut tawa semua yang ada di masjid. Aku juga ikut tertawa, si Farelnya yang tidak paham kenapa teman-temannya pada tertawa.

"Ya sudah, Farel, teruskan nyanyinya!" kataku sebelum Farel menangis karena jadi bahan tertawaan.

"Lampu merah tanda berhenti... Lampu kuning berhati-hati... Lampu hijau boleh berjalan... dst!"

Hehe. Ada-ada saja! Maju terus pantang mundur, Farel!
Kirim Cerpen ke Majalah Ummi

Kirim Cerpen ke Majalah Ummi

Majalah Ummi adalah majalah wanita dewasa bernuansa islami dengan jangkauan pemasaran nasional. Terbit setiap bulan dengan mengusung tema-tema seputar wanita dan keluarga. Penampilannya yang serba menarik dari segi lay out maupun kualitas kontennya membuat majalah islami ini memiliki ruang sendiri di hati pembaca seluruh penjuru nusantara.

Majalah Ummi mempunyai banyak rubrik yang khas. Baik itu rubrik khusus yang hanya diisi oleh redaksi, maupun rubrik yang bersifat umum dalam arti bisa diisi oleh pembaca yang mengirimkan naskahnya ke redaksi. Salah satu rubrik yang merupakan karya kiriman pembaca adalah rubrik cerpen. Nah, pastinya banyak, kan, teman-teman yang hobi menulis cerpen?

Adapun cerpen yang bisa teman-teman kirimkan adalah cerpen bertemakan wanita dewasa atau keluarga. Lebih disukai yang mengusung nuansa keislaman. So, buat teman-teman yang pengin naskahnya dimuat di Ummi, yuk, kirimkan segera! Selain bahagia kalau dimuat, tentu ada honornya lho! Lumayan, 250 ribu dipotong pajak. Tak perlu menunggu lama, begitu edisi terbit, kru Ummi akan menghubungi kita untuk minta nomor rekening valid untuk pengiriman honornya. Dan yang asyik, penulis yang cerpennya dimuat di majalah Ummi, bakal dikirimi 1 eksemplar edisi majalah yang memuat cerpennya tersebut.

Cerpen bisa teman-teman kirimkan melalui email ke: kru_ummi@yahoo.com. Ketik naskah dalam format MS Word dengan ukuran kertas folio, diketik spasi rangkap sekitar 8000 karakter. Jangan lupa sertakan scan identitas diri (KTP atau SIM), ya. Tinggal menunggu konfirmasi kalau nanti naskahnya bisa lolos.

Cukup jelas, kan? Yuk, mulai nulis lagi....

UPDATE:
Menurut informasi, majalah UMMI sudah tidak terbit lagi. Sedih...
Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu

Sebenarnya,
dari mataku memandangmu
dari telingaku mendengarkan ucapan bibirmu
dari tingkah-polah polosku bersamamu

Sesungguhnya,
dari kecupku di keningmu
dari belaiku di wajah jernihmu
dari dekapku dalam kedinginanmu

... ada cinta
... ada kasih-sayang bertaut jiwa
... ada satu yang seutuhnya
aku dan dirimu

Duhai kerinduanku setiap detik
Duhai wewangianku yang senantiasa berputik
Duhai bidadariku yang tak ada duanya untukku memberi nilai cantik
Kepadamu seluruh aku mencapai titik

Aku mencintaimu
tanpa bunga
tanpa hadiah-hadiah materi dunia yang aku tak punya
tanpa embel apa-apa
Hadiah Setahun Haikal

Hadiah Setahun Haikal

Ulang tahun, sesuatu yang hadir di setiap tahun. Saya tidak suka merayakannya karena memang tidak dituntunkan Rasulullah Saw. Meski ada anjuran saling memberi hadiah, toh itu tidak melulu dikhususkan untuk waktu setahun sekali tersebut.

19 Juni 2012, tepat setahun hitungan Masehi, Haikal terlahir di dunia ini, dengan perjuangan berat istri saya. Kami merayakannya? Tidak kok. Awalnya sempat berencana sama istri untuk jajan bareng, tapi Haikalnya belum doyan jajan. Kebetulan juga ada kesibukan di rumah saudara yang sedang ada hajat. Ya sudah, hari ulang tahun pertama Haikal terlewat dari perayaan.

Saya dan istri punya kebiasaan menulis semacam diari, segala sesuatu yang dialami anak kami itu kami tulis. Dan memang diniatkan untuk kenang-kenangan Haikal kalau sudah dewasa nanti, siapa tahu kelak diteruskan olehnya. Tulisan duet saya dan istri juga kami abadikan dalam blog. Boleh kunjungi blognya, di sini.

Nah, berhubung diari Haikal sudah cukup panjang, maka kami berniat membukukannya. Toh, menerbitkan secara indie sekarang sangat mudah. Tentu tidak memikirkan untung karena memang hanya untuk memoar pribadi.

Buku itu kami beri judul Haikal Syamsa Jagoan Kecilku. Diterbitkan indie dengan nama penerbit Syamsa Publisher. Sudah bisa diorder bagi yang ingin sekedar membacanya. Tulisan kisah-kisah ringan Haikal yang bagi kami sangat berarti.

Buku ini adalah kado atau hadiah terindah buat Haikal di tahun pertamanya. Juga kado manis buat saya dan istri yang juga ulang tahun kedua pernikahan. Dan, tulisan ini, meski telat nulisnya, tetap berarti khususnya buat saya pribadi sebagai seorang suami dan ayah. Love you, my honey and my little hero!
Ketika Si Kecil Tak Kenal Capek

Ketika Si Kecil Tak Kenal Capek

Anak saya tersayang sudah bisa berjalan. Hobi barunya adalah menapak ke manapun kaki melangkah. Tak peduli apapun dan di manapun. Bahkan tempat berbahaya pun dia datangi. Tentu karena dia belum mengerti akan bahayanya.

Rumah kami yang berada di pinggir jalan, tentu membuat kami serba was-was. Apalagi anak saya sering berlari ke sana. Dilarang dengan seruan hanya sia-sia. Didekati dia malah makin kencang berlari. Lucunya lagi, dia akan marah kalau sampai dipegangi. Hal ini juga berlaku ketika dia harus main ke rumah saudara dan tetangga yang menuju ke sananya musti menanjak jalan. Ah, istriku sampai bingung. Dipegangi anaknya marah dan menjerit tangis, kalau tidak dipegangi bisa jatuh nantinya.

Haikal, anak saya yang paling ganteng di dunia itu, memang sedang senang-senangnya menikmati hal baru. Berjalan ke sana kemari tanpa kenal capek sama sekali. Lucu kalau mengamati tingkah lugunya.

Capek. Itu hal biasa bagi para orangtua ketika harus mendamping anak yang baru bisa berjalan. Si anak tidak akan peduli meski ayah dan ibunya sudah capek mengikuti ke mana dia. Di sinilah para orangtua dilatih sabar menjalaninya. Biarkan anak tumbuh sebagaimana mestinya. Nikmati saja.

Anak memang belum bisa mengerti apa itu bahaya. Jalan yang lalu-lalang kendaraan tidak digubrisnya. Jalan menanjak-menurun yang bisa membuatnya jatuh tak dipeduli. Kitalah, sebagai orangtua yang harus bisa menjaganya dengan sabar.

Anak juga belum paham yang namanya capek. Tapi ia sebenarnya juga bisa capek. Maka pilihan yang baik adalah rutin memijatkannya ke tukang pijat bayi yang sudah berpengalaman. Kalau di kampung seperti saya, ada para dukun bayi yang bisa memijatnya.

Atau kita sendiri yang memijatnya ketika si anak mau bobok. Haikal juga senang kalau kakinya dipijat kedua orangtuanya ketika mau tidur. Dan, nikmati saja kelelahan demi kelelahan ini. Toh, ada pahala berlipat ganda jika kita tetap ikhlas menjalaninya.

Semangat, ya, istriku tercinta. :)
Ummi Aminah Menakar Kecintaan pada Ibu

Ummi Aminah Menakar Kecintaan pada Ibu


Saya mungkin termasuk terlambat menikmati film ini. Secara bukan menonton langsung di bioskop. Saya hanya menontonnya lewat VCD yang saya sewa di rental film, bersama tiga VCD lainnya: Ayah Mengapa Aku Berbeda, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan satu lagi VCD Bernard Bear. VCD yang terakhir ini niatnya saya sewakan buat anak saya, Haikal. Meski belakangan saya juga yang paling suka menontonnya.

Dari keempat film yang saya sewa, hanya Ummi Aminah-lah yang saya anggap paling berkesan. Dalam arti bisa membuat saya benar-benar terhibur. Ada tawa, haru-biru, sedih, dan mendebarkan bercampur jadi satu.

Ummi Aminah disutradarai Aditya Gumay yang juga turun langsung dalam penggarapan skenario bersama Adenin Adlan. Film berdurasi 104 menit ini sebenarnya sudah rilis sejak 5 Januari 2012 dan saya baru nonton bulan Oktobernya. Terlambat memang, tapi tak ada yang perlu disesali selain ‘mengapa nggak nonton dari dulu’. Tidak mengapalah, toh akhirnya 104 menit berharga dalam hidup saya ini sempat sudah saya lalui.

Film yang awalnya saya sangka ‘biasa-biasa saja’ karena judulnya yang kurang menarik menurut saya ini, ternyata mampu menyihir saya untuk menikmatinya tanpa jeda. Sangat menarik dan tidak ingin melewatkan setiap detiknya.

Film ini mengisahkan tentang Ummi Aminah (Nani Widjaja), seorang ustadzah kondang sekaliber Mamah Dedeh menurut saya. Di adegan-adegan awal ditunjukkan betapa banyak jamaah yang selalu setia menghadiri setiap kali beliau ceramah. Ummi Aminah adalah ustadzah idola yang tidak pernah menetapkan tarif ceramahnya. Bahkan di salah satu adegan diperlihatkan beliau ceramah dan hanya dibayar dengan hasil kebun warga. Pokoknya, sosok ustadzah yang luar biasa.

Tapi, dalam film ini, rupanya Aditya Gumay mau menunjukkan kepada kita, bahwa Ummi Aminah adalah juga manusia yang bisa terpuruk dalam menghadapi persoalan hidup yang datang bertubi-tubi. Meski akhirnya, dengan dukungan keluarga besar beliau mampu bangkit lagi.

Film keren ini memang didukung bintang bertaburan. Wajah-wajah tak asing di belantara hiburan menghiasi film ini. Sebut saja nama-nama beken seperti Rasyid Karim, Ali Zainal, Ruben Onsu, Revalina S Temat, Paramitha Rusady, Yessy Gusman, Genta Windi, Gatot Brajamusti, Elma Theana, Aty Cancer Zein, Zee Zee Shahab, Cahya Kamila, Budi Chaerul, dan Temmy Rahadi. Mereka mendapat jatah peran dengan karakter masing-masing yang cukup memberi warna film ini.

Seperti saya katakan di depan tadi, film ini memang sangat menghibur. Banyak adegan yang mengundang senyum bahkan tawa. Selain itu, adegan mengharukan pun mewarnai adegan dalam film ini.

Secara garis besar, sinopsis film ini sebagai berikut, saya copas saja dari Wikipedia, ya:

Ummi Aminah (Nani Widjaja), ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Kemana pun ia ceramah, masjid selalu penuh. Padahal, ia tak pernah meminta bayaran. Ummi Aminah adalah ustadzah idola.

Ummi dikaruniai dua anak – Umar (Gatot Brajamusti) – beristrikan Risma (Yessy Gusman). Aisyah (Cahya Kamila), anak kedua Ummi, seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan Hasan (Budi Chaerul).

Dari suami keduanya -- Abah (Rasyid Karim) -- Ummi memiliki lima anak: Zarika (Paramitha Rusadi), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Windi), Zidan (Ruben Onsu) dan Ziah (Zee Zee Shahab).

Zarika, seorang wanita karir sukses yang was-was dengan usianya. Ia belum punya jodoh. Zarika memiliki hubungan khusus dengan bawahannya -- Ivan (Temmy Rahadi) yang sudah beristeri, Dewi (Elma Theana). Di jejaring sosial, Zarika menjadi bulan-bulanan, dituduh sebagai perempuan perebut suami orang. Ummi meminta Zarika mengakhiri hubungan mereka.

Istri Zainal, Rini (Revalina S Temat) tengah mengandung anak kedua. Mereka masih menumpang di rumah Ummi. Kerja Zainal hanya menyopiri Ummi ke berbagai tempat ceramahnya. Untuk menambah penghasilan, Zainal mencoba jualan sepatu di tempat-tempat Ummi ceramah. Malang baginya, Zainal dimanfaatkan teman bisnisnya sebagai kurir narkoba. Penangkapan Zainal disaksikan jamaah Ummi. Berita pun menyebar, Ummi hanya bisa pasrah ketika semua tempat-tempat pengajian membatalkan undangan ceramah.

Bukan hanya persoalan Risma, Zarika dan Zainal, masalah Zidan juga membuat Ummi harus lebih tawakal. Abah masih sulit menerima keadaan Zidan yang sifatnya seperti perempuan. Sementara Zubaidah merasa tak pernah diperhatikan Ummi. Pendidikannya rendah, Zubaidah merasa tidak dipercaya Ummi sebagai asisten ustadzah kondang. Persoalan keluarga Ummi makin menggunung ketika Abah tertipu bisnis jual-beli tanah kontrakan.Nah, untuk lebih serunya, tentu harus nonton langsung filmnya. Dijamin tidak akan kecewa. Saya saja tidak rela melewatkan setiap detik adegannya. Oya, siapkan tisu bagi yang terbiasa mewek lihat film drama mengharu-biru.

Beberapa kawan di blog mengomentari kualitas gambar film yang terlalu sederhana, tapi semua itu tidak terasa mengganggu pada pandangan mata awam saya akan sinematografi. Semua terangkai begitu baik menurut saya.

Terakhir, saya merekomendasikan film ini untuk Anda yang mencintai ibu Anda. Semoga makin banyak film seperti ini dilahirkan para sineas Indonesia. Selamat menonton.
Ada Simbah GR Masuk Koran

Ada Simbah GR Masuk Koran

Alhamdulillah..., menunggu dan nongol juga salah satu coretanku di Solopos lagi. Seperti biasa, kisah ringan di rubrik Ah Tenane di koran lokal wong Solo ini.

Aku mengirim naskah berjudul Gara-gara Simbah, tapi dimuat dengan judul Simbah GR dengan (tentunya) campur tangan editor Solopos. Nggak masalah, kan....

Kisah menggelikan ini sebenarnya terjadi sudah lama. Sewaktu aku masih SMP dulu. Kisahnya dialami ponakanku si Taufik Hidayat. Dan yang menjadi objek panggilan adalah Tenang (Klowor Krebet). Cukup mengundang tawa ketika Bu Guru memanggil Taufik ke ruang guru waktu itu. Hehe. Kisah selengkapnya langsung aja klik di sini.

Semoga bermanfaat, dan jangan sembarangan manggil orang, ya!
Jangan Kita yang Diajari

Jangan Kita yang Diajari

Anak pertama kami baru berusia setahun, tapi alhamdulillah sudah pintar mengucap sepatah-dua patah kata. Memang masih minim suku kata, paling mudah mengucap kata yang hanya terdiri dari 1 atau 2 suku kata, seperti yah, mbah, mbak, mas, atau ayah, ayam, dan menirukan suara-suara yang didengar seperti suara hewan di sekitar, suara motor, mobil dan sebagainya.

Suatu kali ketika sedang bermain, anak kami Haikal, entah terkena apa tiba-tiba mengadu pada saya yang ada di dekatnya, dengan menunjukkan tangannya sambil berkata, "Yah, atit... atit!"

Saya tahu atit maksudnya sakit. Lekas saya tanggapi dengan meniup jarinya yang dibilang sakit. "Mana yang atit, Sayang?"

Istri saya yang berada di dekat saya langsung menegur, "Ayah kok ikut-ikutan atit? Ayah yang harusnya ngajarin Adek apa Ayah yang diajarin sama Adek?"

Saya tersenyum dan meralat, "Mana yang sakit, Dek?"

Saya akui, apa yang istri saya tegurkan itu memang benar. Anak-anak yang belum bisa berbicara dengan baik tentu masih belajar bagaimana mengucapkan segala sesuatu dan tak pelak sering kali cadel. Seperti yang anak saya coba ucapkan.

Pada masa-masa seperti ini, anak biasa meniru apa yang ia lihat dan dengarkan. Ini bisa kita jadikan sebagai sarana untuk mengajari yang baik-baik kepada anak kita. Kita praktikkan amal-amal shalih yang bisa dipelajari secara langsung oleh buah hati kita tersebut.

Selain amal shalih, kita juga bisa mengajari perkataan-perkataan yang baik, mengucap kalimat-kalimat toyibah agar anak terbiasa dengan ucapan-ucapan yang baik. Tentu harapan ke depannya, amalan kebaikan yang kita ajarkan secara praktik langsung ini bisa diaplikasikan olehnya untuk bekal menjadi muslim taat dan anak yang berbakti. Siapa juga yang akan diuntungkan? Kita, bukan?

Tetapi kadang orangtua salah langkah, di mana seharusnya kita bisa mengajari anak, eh malah kita yang meniru-niru apa yang anak kita ucap dan lakukan. Memang kita akan menemukan kelucuan dari keluguan-keluguan buah hati kita itu, tapi apa cukup kelucuan yang kita lihat dan saksikan bertaruh dengan daya serap kebaikan pada masa-masa emas kanak-kanak?

Maka dari itu, mari kita betulkan ucapan anak yang salah karena cadel dengan membantu menunjukkan kata yang sebenarnya kepada buah hati kita. Bukan sebaliknya. Jangan sampai kita malah meniru apa yang diucapkan olehnya. Kita yang mengajari, bukan kita yang diajari. Semoga bermanfaat.
Cerpenku Dimuat di Ummi Oktober 2012

Cerpenku Dimuat di Ummi Oktober 2012

Bulan Oktober 2012, ada yang kutunggu di bulan ini. Tara...! Majalah Ummi No.10/XXIV/Oktober 2012/1433 H di tangan. Di halaman 76-78 terpampang cerpen karyaku berjudul Klinik Batuk Shaun the Sheep. Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar! Kegembiraan tak terkira!

Ini karya pertamaku yang lolos di majalah Ummi, pertama kali kirim ke Ummi dan alhamdulillah dimuat. Cerpen ini berkisah tentang suami-istri dengan kemampuan ekonomi minim di tengah mahalnya hidup di Jakarta, memiliki seorang balita 6 bulan yang sedang sakit batuk. Kisah mengalir ketika di klinik tempat periksa, si balita kepengen ketika melihat boneka Shaun the Sheep yang dijajakan penjual keliling, padahal untuk periksa saja sang ayah harus berhutang. Ending kisah ini kugarap dengan enak, selengkapnya baca saja di majalahnya. Mumpung masih anget, buruan beli di kios majalah terdekat. Hehe....

Oh iya, ada SMS nih, dari kru Ummi: "Assalamu'alaykum,mhn mengirimkan norek serta npwp guna pentransferan honorarium cerpen "klinik batuk shaun the sheep" yang dimuat di majalah ummi edisi bulan ini."

Syukur alhamdulillah. Yuk, nulis lagi. :)

Yang hobi nulis cerpen, kirim saja cerpenmu ke majalah Ummi. Temanya keluarga. Semoga bermanfaat. Amin.
Salah Alamat Nyasar di Solopos

Salah Alamat Nyasar di Solopos

Dapat SMS dari Mas Kaab yang mengabarkan dimuatnya tulisanku lagi di Solopos. Berhubung aku mengirim beberapa kisah ringan di Solopos maka kutanya judul tulisanku di rubrik Ah Tenane itu.

"Salah Alamat," jawaban Mas Kaab lewat SMS.

Olala. Itu coretanku yang idenya dari pengalamanku bersama istri. Waktu itu, kami berangkat rombongan untuk menjenguk Bowo sobatku yang habis operasi karena kecelakaan.

Alhamdulillah, gara-gara terpisah rombongan dan nyasar, akhirnya sampai juga kisah menggelikan itu dimuat di korannya Wong Solo ini. Yang mau baca kisahnya klik di sini, ya....

Tinggal nunggu Pak Pos mampir mengantar honornya. Alhamdulillah.
Ah Tenane, Coretanku Dimuat Lagi

Ah Tenane, Coretanku Dimuat Lagi

Secara ketagihan ngirim cerita ke Solopos, kukirim 2 cerita unik lagi. Tapi kali ini lama tidak ada yang dimuat. Mungkin nunggu antrian. Tapi bisa jadi juga tidak lolos.

Oh, ternyata tidak, satu dari kedua naskahku akhirnya dimuat juga di Ah Tenane Solopos. Kali ini berjudul Tiwas Nendang. Idenya dari peristiwa nyata di Sidowayah. Baca dulu ceritanya di sini. Lumayan, kan?

Pada kisah sebebarnya, tokoh Jon Koplo itu adalah Lek Hartono, bapaknya Empo alias Feri Mahendra. Kasihan ya, lek kita satu ini musti menanggung malu karena menyangka Pak Tarto (maaf, Pak, kisahnya saya tulis!) dikiranya Bowo. Wah jan, kejadian di layatan De Jami itu sungguh menggelikan.

Hm..., sekarang nunggu naskah yang satunya lagi, siapa tahu dimuat Solopos. Bantu doa, ya....

Siapkan amunisi untuk menembak lagi!
Jatuh Melulu dalam Dekap Cinta

Jatuh Melulu dalam Dekap Cinta

Hmm... asmaraku asmaramu
Detikku menitku penuh akanmu
Melambungku ke biru langit
Bersamamu hati terkait

Gombal jadi buai rasa
Mencinta bermasa-masa
Mesra oh mesra
Bara membara-bara

Berjauhan merindu selalu
Dekat pelukmu jatuh melulu
Dalam cinta genderang bertalu
Lewat senyummu malu-malu

Oh betapa indah surga
Hilang segala dahaga
Jiwa raga
Sepenuhnya untukmu juga

Cinta adalah ketika aku untukmu
Bukan sekadar janji semu
Rindu-rindu bertemu
Tanpa jemu

Di naung kasih abadi
Bara kian menjadi
Halal tenangkan nadi
Seindah budi

Jaga rasa ini selamanya, Sayang....

(JB09082012, mencuri waktu)
Mengapa Musti Begini?

Mengapa Musti Begini?

Mendapat undangan buka bersama di Ponpes Qoryatul Quran di Kauman, Jatingarang, Weru. Datang ke sana bersama Bowo, Lek Sukiran dan Pakde Muri. Undangan jam 4 sore, acara dimulai sekitar pukul 5. Biasa, molor adalah hal wajib. Beruntung kami berangkat dari rumah lewat jam 4.

Saat menunggu acara dimulai, ketika duduk di ruangan acara, ada seorang teman, yang setahuku adalah aktivis PKS, berbisik padaku, “Kok panitia pondok orang-orang MMI semua, ya?”

“Kurang tahu. Tapi kan banyak juga dari Dewan Dakwah dan kelompok lainnya,” bisikku juga.

“Ponpes ini sepertinya binaan MMI.”

“Setahuku milik umat Islam, tanpa membedakan kelompok.”

Teman ini lalu berbisik, “Dilihat dari orang-orangnya kentara MMI. Semoga tidak seperti Ngruki.”

“Ah, ini kan pondok tahfizul Quran, pasti lebih mengutamakan penghafalan Quran,” kataku. Lagian apa yang salah dengan MMI ataupun Ngruki, batinku.

“Iya, dan semoga tidak seperti Ngruki.”

Aku tak melanjutkan bisik-bisik karena acara sudah dimulai. Kenapa pondok pesantren baru dan berniat baik begini musti pakai dicurigai begini-begitu? Mari berlomba dalam kebaikan, jangan melulu saling menjegal!
Tulisan Pertamaku di Solopos

Tulisan Pertamaku di Solopos

Awalnya, aku melihat link di Facebook dari akunnya Mbak Fitri Elfad Burhani yang memamerkan tulisan ringannya di rubrik Ah Tenane koran Solopos yang berjudul Kaos Kaki Selen. Sebagai warga Solo tentu aku tak asing lagi dengan Solopos maupun rubriknya Ah Tenane. Yaitu rubrik kisah singkat, diangkat dari kisah nyata yang unik, yang nama tokoh ceritanya harus diganti dengan Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk dan Gendhuk Nicole.

Membaca kisah yang diceritakan Mbak Fitri yang cukup sederhana, maka timbullah keinginanku menulis juga untuk Ah Tenane. Idenya sudah ada. Bahkan masih anget di otakku.

Pakai Batu Saja, judul kisah Ah Tenane yang kukirim ke Solopos lewat email. Idenya muncul gara-gara aku mau usilin ponakanku Hanun anak Mas Tri Rahmidi yang kerepotan buka sabun cairnya. Jadilah cerita sederhana ini.

Alhamdulillah, saat aku browsing website Solopos, kulihat judul kisah yang kukirim terpampang di deretan cerita Ah Tenane. Lekas kuklik dan terpampanglah kisah yang kukirim, meski dengan campur tangan editor Solopos.

Senang sekali, meski kisah sederhana yang kukirim dan bukan fiksi berat semacam cerpen. Setidaknya buat menambah semangat menulis. Dan alhamdulillah ada honornya, lumayan bisa buat jajan sama anak-istri. Hmm..., kayaknya aku ketagihan deh pengin nulis lagi. Hehehe.

Yang mau baca Ah Tenane yang kukirim, klik di sini saja.
Pakai Batu Saja!

Pakai Batu Saja!

Di rumah kulon. Sore hari. Setelah memandikan Haikal, aku harus segera mandi juga karena jam 4 harus sudah di Sidowayah, TPA.

Di sumur terlihat dua ponakanku sedang mandi di luar sambil bercanda main air. Hanun dan Dodik. Keduanya masih anak TK.

“Om, Mas Hanun nggak bisa pakai sabunnya nih...,” Dodik mengadu padaku. Kulihat Hanun memang kerepotan hendak mengeluarkan isi sabun cairnya.

“Kalau nggak bisa pakai sabun begituan nggak usah pakai yang kayak gitu,” kataku hendak mencandainya. “Pake batu saja digosok-gosok!”

“Sudah bisa kok, yee...,” sahut Hanun setelah berhasil mengeluarkan isi sabun cairnya. Dodik tertawa mendengar candaku tadi.

Aku lekas menimba air. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi dan melepas pakaian. Setelah lepas semua pakaian, aku tak menjumpai gayung yang biasa tersedia di situ. Oalah, dipakai Dodik sama Hanun di luar buat mandi!

“Mas Hanun, pinjam gayungnya satu dong!” pintaku sambil menongolkan kepala.

Tak kusangka, Hanun menyahut refleks dengan selorohan, “Pake batu saja!”

Waduh! Aku myengir merasa terkerjai! Hanun bisa-bisanya bilang begitu. Menahan tawa sendiri, aku terpaksa mandi dengan wadah sabun buat gayungnya. Meski kecil, lumayan dari pada nggak pakai gayung. Hahaha!

Kapok nih, mencandai Hanun!
Tuhan, Tolong Aku Lagi Terpuruk!

Tuhan, Tolong Aku Lagi Terpuruk!


Judul: Tuhan, Tolong Aku Lagi Terpuruk!
Penulis: Irhayati Harun
Tebal:154 hal
Genre: Non-Fiksi Inspiratif
Penerbit: Skylart publisher


Dalam hidup, akan datang masa di mana engkau merasa sangat terpuruk! Serasa Tuhan tidak adil dengan memberi ujian pada kita. Padahal kita bisa naik ke kelas yang lebih tinggi dengannya. So, ambil hikmah dari buku keren ini! Beli dan bacalah, engkau akan merasakan betapa keterpurukan adalah jembatan yang menuju kepada kebahagiaan!

Dalam hidup ini, tak selamanya semua berjalan dengan mulus dan sesuai harapan. Adakalanya kita harus kecewa karena tak bisa meraih apa yang kita inginkan. Tapi jangan sampai membuat kita terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Sesungguhnya hidup ini tidaklah seberat yang kita bayangkan bila kita tahu rahasianya. Nah, dalam buku ini akan kita temukan rahasia itu. Ini adalah Buku motivasi hidup yang mengupas tentang orang-orang yang terpuruk dalam hidup mereka. Tak hanya itu, dikupas juga kiat-kiat dalam mengatasinya. Insya Allah kita tidak akan bosan membaca buku ini, karena tak melulu berisi teori-teori tapi dibarengi dengan contoh-contoh kisah terpuruk yang orang lain alami. Sehingga kita merasa tak sendiri dalam mengalami keterpurukan. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini kita semakin tercerahkan dan bisa keluar dari masalah hidup yang menjepit.

Kita juga perlu tahu bahwa kesabaran merupakan rahasia penting untuk menikmati hidup. Sebagai contoh; bila kita terjebak macet dijalan, kita cenderung kesel dan marah-marah. Padahal bila kita mau menikmati kemacetan itu sendiri dengan mendengarkan musik atau memperhatikan orang-orang di kiri kanan kita misalnya, maka kita akan merasa lebih baik dan tak lagi stress atau marah-marah. Begitu juga bila pesawat yang akan kita tumpangi mengalami delayed atau keterlambatan beberapa jam. Tak ada salahnya kita nikmati dengan membaca buku atau mengobrol dengan calon penumpang yang lainnya. Tentu banyak cara lagi agar kita bisa menikmati hidup dengan cara bersabar.
Alhamdulillah, Dapat Rezeki dari Mbak Irhayati Harun

Alhamdulillah, Dapat Rezeki dari Mbak Irhayati Harun

Sebuah lomba menulis lagi, nih. Kali ini yang mengadakan Mbak Irhayati Harun. Lombanya bertajuk Ketika Aku Terpuruk. Peserta dipersilakan mengisahkan cerita nyata alias true story tentang kondisi saat terpuruk.

Segera kukirimkan kisahku berjudul Terpuruk di Kegetiran Cinta. Siapa tahu bisa menang, meski tidak dicantumkan hadiah bagi pemenangnya nanti.

Update peserta dirilis di notes FB penyelenggara dan namaku sudah masuk daftar. Tiga puluhan lebih peserta. Tidak masalah. Menang dan kalah kan hal yang lumrah.

Dan... pengumuman pemenang pun diposting Mbak Irhati Harun! Alhamdulillah, aku termasuk yang beruntung mendapat hadiah uang tunai 100 ribu rupiah! Terima kasih, Mbak...
Jumat di Sumurkluwih

Jumat di Sumurkluwih

Pulang dari tempat kerjaan ketika mentari sudah nyaris di atas kepala. Hmm..., harus lekas mampir ke masjid terdekat nih, agar tidak terlambat Shalat Jumat.

Melewati depan Ponpes Darul Fithrah Pomahan aku belum membelokkan motor ke masjid di kawasan ponpes itu. Aku ingat di depan nanti masih ada satu lagi masjid terdekat. Ya, kubelokkan ke sebuah masjid di pinggir jalan seberang saluran irigasi. Masjid di Dukuh Ngadipiro, sekitar Sumurkluwih.

Begitu kuparkir motor, kulihat baru ada satu motor di parkiran. Dari dalam terdengar suara seorang bapak yang sedang membaca Alquran. Beliau di dalam pun sendirian saja.

Aku ke kamar kecil. Kebelet pipis juga nih, ceritanya. Memastikan pembaca tidak mengintip, segera aku buang air kecil. Kelar itu, aku berwudhu di padasan. Iya, setelah buang air tentu disentor dong!

Masuk masjid. Aku tidak asing dengan suasana dalam masjid, soalnya beberapa waktu dulu ketika masih di Setia Optik, aku pernah beberapa kali singgah di masjid ini untuk shalat dan istirahat menunggu waktu promosi kacamata di kampung-kampung sekitar. Hanya saja seingatku, ini adalah kali pertama hendak Shalat Jumat di sini.

Usai shalat sunnah, kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Tapi belum muncul jamaah yang lain. Beberapa saat kemudian datang seorang bapak lagi. Di luar ada seorang anak berkalung sarung, pasti juga mau Jumatan di sini.

Si bapak yang datang paling awal tadi mengakhiri bacaan Qurannya. Lantas berjalan mendekatiku.

“Mas, tolong jenengan azan, nggih. Sini rata-rata mualaf, kalau sudah azan baru pada datang,” kata si bapak berbisik dekatku.

Aku mengannguk dan lekas berdiri mendekat mimbar. Beliau naik mimbar, mengucap salam tanpa mikropon. Aku menyusul dengan suara azanku yang merdu nian, juga tanpa mikropon.

Benar saja, tak lama kemudian, berdatangan jamaah yang mengikuti Shalat Jumat di masjid ini. Dua khotbah terlaksana. Dan dilanjut shalat dua rakaat Shalat Jumat. Hadir tak genap 40 orang yang ikut berjamaah.

Seusai Shalat Jumat, aku pulang tentu saja, karena tak mungkin menginap. Hehe. Nggak lucu, ya. Sambil jalan pulang itulah aku mulai berpikir. Bukankah masjid tadi dekat dengan Ponpes Darul Fithrah? Dan tak begitu jauh, juga dekat Dukuh Nuricik, salah satu kampung basis PKS. Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya aku berpikir, kemana mereka? Apa dakwah dan kepedulian mereka tidak sampai ke masjid tersebut? Entahlah. Aku hanya menulis karena merasa terusik untuk menuliskan ini. Dan, kebetulan di tempat kerja lagi tidak banyak yang harus diselesaikan.

Semoga ada yang bisa mengambil manfaat dari coretan ini.

Iblis Laknat

Iblis Laknat

Langit dikuasai mendung. Aku dan Bowo demo keur di Dukuh Ngetal, Balak. Cuaca yang kurang mendukung. Ditambah musim panen yang mengecilkan peluang kehadiran warga yang sebelum Asar tadi sudah kusebari undangan promo. Sempurna sudah rasa malas mengukung kami. Setengah empat, waktu untuk demo tiba.

Kami meninggalkan masjid. Meluncur ke rumah Pak RT Ngetal yang lokasinya di sebelah barat kampung. Parkir motor di tepi jalan. Bersama Bowo menuju ke pekarangan rumah Pak RT.

Pak RT di sumur sedang mencuci 'pakaian dinas'-nya, kentara beliau baru pulang dari sawah. Bu RT di serambi depan sedang berbicara dengan entah siapa melalui HP. Aku hanya menangkap kata 'dokter', 'jam buka', dan beberapa kalimat yang aku tak begitu tertarik mengetahuinya lebih lanjut. Di dekat Bu RT berdiri anak laki-lakinya, menunggui HP-nya yang dipakai sang ibu menelepon. Kami belum sempat menyapa Pak dan Bu RT karena masing-masing sibuk. Hampir kusapa si anak, tapi blas tidak ada raut ramah dari anak Pak RT itu. Urung kusapa ataupun sekedar niat menganggukkan kepala padanya.

Di serambi depan ada dua kursi yang langsung menampung pantat capek kami. Tak lama, Bu RT mengakhiri panggilan. HP berpindah tangan ke si anak.

"Bu," kusapa beliau.

"Nggih," sambut Bu RT ramah sekali. "Sepi, kok, Om, warga banyak merantau ke Semarang."

"Iya, Bu, seadanya saja nanti kalau ada yang datang," kataku, "tadi sudah saya sebar brosur undangan. Kalaupun tidak ada yang datang juga nggak masalah, memang kondisi sedang panen begini...."

Bu RT ke sumur. "Pak, biar saya lanjutkan nyucinya. Bapak buruan mandi."

Aku tak begitu memperhatikan adegan di sumur. Hanya kulihat si anak mengambilkan handuk yang tersampir di serambi. Kudengar umpatan dari mulut remaja tanggung ini. Aku beristighfar. Bowo yang asyik ngenet pakai HP menyempatkan melirik tuh anak.

"Nih, ambilkan apa lagi?!" suara kasar si anak sambil mengangsurkan handuk kepada orangtuanya.

Aku kembali beristighfar. Anak zaman sekarang sudah sekasar itu kepada orangtua. Padahal yang terjadi baru adegan pembuka. Beberapa saat lagi, episode kehidupan yang sesungguhnya akan tergelar!

Pak RT menyudahi mandinya. Masuk rumah dan berganti baju lengan panjang motif batik rapi. Lalu menyalami kami. Berbasa-basi sedikit.

"Tapi maaf, Mas, saya tidak bisa menemani. Mau mengantar anak periksa ke Weru."

"Oh, tidak apa-apa, Pak. Silakan saja...," sahutku.

Aku tidak tahu siapa yang sakit. Pak RT sepertinya menunjuk ke dalam waktu mengucapkan itu. Anak yang sakit di dalamkah? Bukan anak lelaki tadi, karena tuh anak berada di luar. Mungkin anak beliau yang lain.

Si anak laki-laki yang sedari tadi di luar, datang dari sumur. Oya, untuk mempermudah cerita, sebut saja anak itu Iblis Laknat. Kasar, ya, sebutannya? Biarin, malah kalau ada sebutan lebih kasar dari itu aku mau memakainya untuk menyebut si Iblis Laknat satu ini. Jangan protes dulu, ya, ceritanya belum kelar!

"Ayo, jadi nggak?" suara Pak RT di dalam rumah. Entah bicara sama siapa. Aku mengansumsikan beliau bicara sama anaknya yang sakit di dalam. Maaf, detail keluarga beliau kan aku tidak tahu. Baru hari ini juga aku bertemu Pak RT Dukuh Ngetal ini. Tepatnya tadi pagi waktu meminta ijin tempat untuk keperluan demo keur kacamata.

Aku tidak mendapati jawaban apa-apa. Yang lantas mengusik aku dan Bowo adalah si Iblis Laknat yang tiba-tiba menggedor-gedor pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan kerasnya.

"Kok begitu to, Le?! Rusak pintunya ntar!" suara Bu RT yang selesai mencuci.

"Biarin rusak!" bentak si Iblis Laknat keras sekali. Anak durhaka!

Pak RT keluar. "Kalau begitu biar aku sendiri saja," kata beliau.

Si Iblis Laknat bergerak menuju sepeda ontel yang terparkir di serambi dekat kami. Dia menggembos bannya. Mengambil dop dan karet pentil dan melemparkannya!

"Jangan dibuang, to, Le!" Pak RT menahan dengan suara perlahan. Tapi si Iblis Laknat tidak peduli!

"Kenapa?! Nantang atau gimana?! Gelut po piye! Ayo, kalau berani!" Iblis Laknat itu mendorong tubuh renta si bapak. Bahkan pukulan tangannya sempat mampir tubuh rapuh itu. Pak RT hanya berseru dan mencoba menghindar.

"Jangan, to, Le! Bapakmu sudah tua, ya menang kamu!" Bu RT berseru, tanpa berani mendekat. Apalagi si Iblis Laknat sudah kian kalap. Kelar mendorong tubuh si bapak, Iblis Laknat membanting pompa angin dan menginjak-injaknya.

"Rusak, Le, pompanya!" Pak RT mencoba berseru perlahan.

"Rusak yoben! Kenapa? Ayo gelut!" sahut Iblis Laknat lebih keras.

Aku tak berani melihat kejadian miris itu. Memandang Bowo yang juga mendadak terpaku menyaksikan insiden ngeri ini.

"Pamit aja, yuk," ajakku berbisik ke Bowo.

"Ntar, suasananya nggak mendukung," jawab Bowo.

Adegan berikutnya makin gila! Aku makin ngeri dan bingung mau berbuat apa. Rumah sekitar Pak RT memang kebanyakan kosong. Ada yang memang ditinggal pemiliknya merantau, ada juga yang ditinggal ke sawah.

"Ayo tarung!" Iblis Laknat kembali menantang sang bapak. "Aku ambilkan parang! Bunuh-bunuhan atau gimana, ayo!!"

"Jangan, to, Le! Kasihan bapakmu!" Bu RT berseru, tapi mulai agak menjaga jarak.

"Apa kau? Mau ikut-ikutan! Berani kemari!" Astaghfirullah, Iblis Laknat itu juga menantang duel sang ibu. Laknatullah!

Aku dan Bowo makin bingung. Terpaksa akhirnya beringsut meninggalkan serambi rumah Pak RT. Aku lekas menuju motor. Bowo sudah sampai di perempatan!

Saat sudah di atas motor, kulihat Pak RT membuang pompa dan sabit, menyingkirkan benda berbahaya itu dari jangkauan si Iblis Laknat.

"Pak, kami pamit!" lidahku tercekat berpamitan ke beliau.



‎"Iya," hanya jawaban pendek Pak RT dalam panik yang coba diatasi.

Tak lama, aku dan Bowo meninggalkan Ngetal dengan jantung penuh kengerian tanpa bisa berbuat apa-apa. Ya Allah, kirim azab-Mu untuk Iblis Laknat itu sekarang! batinku kacau....

"Bingung, kita juga nggak tahu duduk masalahnya," komentar Bowo saat kubilang tidak bisa berbuat apapun melihat kejadian itu di depan mata.

Pak RT..., semoga Allah menguatkanmu! Iblis Laknat, aku tidak terlintas pun mendoakan keinsyafanmu. Di otakku hanya berseliwer harap, semoga azab melumatkanmu!

Gerimis mengiring perjalanan kami menuju Tawang....



Sore rapuh, 6 Maret 2012
Gelegak

Gelegak

dibelai panas gerah
dibenamkan hawa marah
panggang mentari merah
serupa gelegak darah

puisi bertakar
kata-kata terjerat akar
di semak kalimat belukar
biarkan aku bakar!

anjing mana menyalak garang
ingin kutampar moncong yang berang
terkapar binatang terlarang
gelap tak ada terang

muntah di mukamu
tabu bertemu
tak kau lihat gelegak marah api darah berpaduramu
malu yang hilang di pias wajah manusia yang konon mengaku berilmu

ngampas, 4-3-2011
Tulisan Ceker Ayam

Tulisan Ceker Ayam

Judul: Tulisan Ceker Ayam
Penulis: Fiyan Arjun, dkk
Penyunting: Suden Basayev & Sambya Adzkiya
Penerbit: TPA An Nuur Sidowayah
Tebal: 112 halaman
Harga: Rp.40.000; (sudah termasuk ongkos kirim alamat Indonesia via Pos biasa, untuk yang menginginkan via paket Pos kilat harga menyesuaikan)

Isi:
1. Berkah di Hari Lebaran (Dian 'Didi' Budiarti)
2. Gara-Gara Sepak Bola (Hidayatul Hasanah)
3. Embek Syfha(Kicaka Alangkara)
4. Cecak dan Doanya (Kicaka Alangkara)
5. Sarung (Irfan Fauzi)
6. Bolos (A. Wibowo)
7. My Story Of Rohis (Fa' Hye Rim)
8. Indahnya Bersedekah (Witri Rossanti)
9. Janji Rajin ke TPA (Sigit Dwi Wintono)
10. Tulisan Ceker Ayam (Fiyan Arjun)
11. Gara-Gara BB (Syifa El Hulwa)
12. Setangkai Bunga Untuk Ummi (Aidha Utami)
13. Raja Zud dan Pohon (Eri Triratmoko)
14. Kerudung Bunda (Sunu RH)
15. Rasa Syukur (Wicha Spicca Breeze)
16. Perahu Warna-Warni (Sabil Ananda)
17. Orang Buta Saja Bisa Mengaji (Sandza)
18. Jujur (Sambya Adzkiya)
19. Gadis Pemungut Senja (Midun Aliassyah)
20. Hati Kecil Ipan (Suden Basayev)

Seluruh keuntungan penerbitan buku ini dihibahkan untuk operasional kegiatan TPA An Nuur Sidowayah. Harapan kita semoga Allah Ta'ala menilai ini sebagai bentuk ibadah dan dakwah yang berpahala di sisi Allah dengan pahala mengalir selama masih ada yang mengambil hikmah dari membacanya. Allahumma amien.