Coretan Basayev: November 2011
Bagi Duit, Mas...

Bagi Duit, Mas...

Kali ini, mengulang promosi di daerah Miratan. Kemarin sempat kami lewati karena ada warga sedang hajatan, dan rumahnya pas di samping rumah Pak RT.

Jam 13:30 WIB. Belum satupun warga datang. Rumah Pak RT yang sekalian warung tidak menyediakan tempat duduk di emperan, maka aku dan Bowo memilih duduk di sebuah dipan di bawah pohon talok, di depan rumah Pak RT.

Beberapa menit berlalu, barulah datang seorang bapak mengecek mata. Bowo sebagai RO melaksanakan tugas dengan baik. Sayang, si bapak sudah punya kacamata dan ukuran lensanya masih sesuai dengan kebutuhan mata beliau.

Berlalunya bapak itu, kembali penantian sepi di tengah panas siang. Hanya terlihat beberapa bocah bermain dekat kami. Keceriaan kanak-kanak yang tak peduli cuaca gerah begini.

Seorang anak usia SD mendekati kami. Tepat di sebelahku, ia bersandar pada dipan.

"Mas, minta uangnya, Mas," bocah SD itu berkata padaku.

Aku menolehnya. "Apa, Dik?"

"Minta uangnya, Mas."

Aku toleh Bowo yang juga melirikku. Kembali kutanya tuh bocah, "Siapa yang mengajarimu minta kayak gini?"

"Kakakku."

"Kakakmu di mana?"

"Di rumah."

"Rumahmu di mana?"

"Situ, dekat jalan raya," katanya sambil menunjuk arah jalan raya.

"Kok minta uang? Minta dong sama orang tuamu."

"Bapak sudah meninggal. Ibuku juga."

Oh? Tapi, jujur atau bohong nih anak?

"Ayolah, Mas, bagi uangnya. Seribu juga nggak apa-apa."

"Buat apa?"

"Buat jajan, Mas."

"Itu, kamu sudah beli es?" tunjukku, ia memang memegang es dalam plastik.

"Ini yang ngasih temenku kok."

"Kamu tidak sekolah?"

"Sekolah."

"Di mana?"

"Di MI situ, tapi tidak pernah bawa uang saku," ia menunjuk ke arah timur. Aku tahu arahnya MI Ngadirejo.

"Kakakmu?"

"Kelas 1 SMP."

"Yang masakin tiap hari?"

"Ya kakakku."

"Yang bayarin sekolah?"

"Saudara jauh di Solo sana."

Aku kembali saling pandang dengan Bowo.

"Ayolah, Mas. Bagi duitnya...."

Dilema. Membantu atau kena tipu. Juga, menolong atau memberi didikan tidak baik. Tapi, rasa kasihan juga yang menang, kurogoh juga saku celana, menyerahkan selembar duaribuan padanya.

Apa iya, ada anak yang 'bisa' menipu di kampung begini? Kalau di perkotaan bisa saja terjadi. Wallahu a'lam.
Bukan Ijin Menipu

Bukan Ijin Menipu

Mulai memasuki kawasan kelurahan Grajegan Tawangsari. Kali ini, jatah demo di Dukuh Grogol RT 02/01, Grajegan. Saat mencari rumah Pak RT-nya, kami bertanya ke salah satu warga dan segera mendapatkan rumah beliau.

Begitu sampai di rumah Pak RT, disambut si empu rumah yang sedang duduk di sebuah kursi di serambi rumah. Tidak terlihat sambutan yang ramah, apalagi setelah kukatakan maksud kedatanganku. Sikap beliau terkesan meremehkan.

"Mau minta ijin promosi kacamata, Pak."

Tanpa senyum, tuh bapak menjawab, "Maaf, tidak bisa. Saya sudah berulang kali ketipu. Cari tempat lain saja!"

Hm..., apa kami mirip penipu, Pak RT yang terhormat?

"Oh..., berarti tidak bisa, ya, Pak?" kataku menyurut emosi, "Kira-kira, selain di rumah Bapak, ada ndak rumah yang lain yang biasa dipakai promosi di RT sini?"

"Ya, cari tempat warga saja. Tapi saya juga tidak berani menunjuk rumah siapa. Di sini sering kena tipu. Saya nggak mau disalahkan."

Hm..., aku bisa berpikir jernih. Memang sih tugas RT berat, tanpa imbalan pantas, sering jadi sasaran kesalahan jika warga dirugikan. Ini juga efek dari adanya penipuan berkedok sales yang sering kudengar terjadi di beberapa tempat.

"Ya sudah, Pak, kami minta pamit," kataku.

Bersama Bowo, kutuju rumah Pak Bayan yang alhamdulillah se-RT dengan si bapak tadi. Alhasil, di rumah Pak Bayan dengan senang hati menerima kedatangan kami. Penerimaan yang jauh berbeda dengan si Bapak RT.

Demo di Grogol RT 02/01 mendapatkan seorang pembeli, meski hujan turun dengan lebatnya. Alhamdulillah.
SMS

SMS

Lelah seharian. Kelar sudah tarub di rumah kulon. Menjelang Magrib sempat kurebahkan punggung di kamar. Kuraih HP istri yang tergeletak di atas kasur.

Iseng kubuka menu pesan HP china ini. Biasa, sok ngecek SMS yang ada.

Mataku tiba-tiba tertumbuk pada sebuah SMS di pesan terkirim. SMS yang cukup mengusik, memancing rasa penasaran di benakku. SMS dari nomor 082196585736!

Kucek nomor siapa itu. Tidak ada di kontak. Aku juga asing dengan deretan angka itu. Bunyi pesan terkirim itu sbb: "Hpne wae ijolno pulsa. Aq yo ora duwe duwit!" (HPnya aja ditukar pulsa. Aku juga tidak ada uang, ed.)

Siapa ya? Ada yang minta uang kepada istriku? Siapa? Saudara? Ah, nomor siapa ini?

Istriku masuk kamar. "Ini nomor siapa, Bunda?" tanyaku lekas.

"Tau'!" jawab istriku sambil meminta HP-nya.

Tak lama, ia angsurkan kembali padaku. Menunjukkan sebuah pesan masuk dari nomor di atas tadi:

"Bapak tukokno pulsa simpati ndisek 20rb iki No ku anyar bpk 082196585736, Cepet saiki tak enteni,penteng."

Oalah! Yo wis. Kirain siapa. Hehe.
Kisah Nggak Penting

Kisah Nggak Penting

Usai salat Jumat di masjid Ngadirejo, waktunya menyebar brosur undangan kepada warga. Kali ini jatah promosi di rumah Pak Tomi, bapak RT 2 RW 7, yang juga berprofesi sebagai tulang pijit. Bagi yang merasa capek, bisa pijat di tempat beliau (ikut mromosiin, balas budi karena diijinin promosi di rumah beliau, hehe...). Pesan moral: Jangan lupa membalas budi, apalagi kalau Budi pernah melukai hati kamu!

Memasuki pekarangan rumah seorang warga, tampak si bapak pemilik rumah sedang mengangkat jemuran jerami.

"Ada apa, Yud?" si bapak tahu-tahu berseru padaku. Yud? Wah, rupanya orang tua ini salah lihat. Aku dikiranya Yudi, Yuda, Yudan, atau Yudas (dari panggilan 'Yud', siapa lagi kira-kira? Boleh ditebak, yang benar dapat hadiah!).

Baru ketika aku mendekat, si bapak senyum malu, ternyata salah mengenali manusia.

"Mau ngasih undangan, Pak," kataku lekas.

Lepas dari rumah si bapak, aku pindah ke rumah berikutnya. Sebuah rumah dengan pintu sedikit terbuka.

Aku dekati tuh pintu. Hendak kuucap salam, tapi tertahan saat membaca ada tulisan di kertas yang tertempel pada daun pintu: "Maaf sedang keluar. Hubungi 0852xxx."

Halah! Sok penting sangat ya, si empu rumah. Sampai-sampai pintu dipasang tulisan sedemikian rupa. Haha.

Kulanjutkan langkah meneruskan pembagian brosur undangan, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ada-ada saja....
Keluh Simbah

Keluh Simbah

Jam setengah sebelas siang. Waktunya menyebar undangan keur. Hari ini masuk ke Ngasinan RT 04 Watubonang.

Satu-dua rumah alhamdulillah ada penghuninya. Undangan sudah beberapa lembar berpindah dari tanganku ke warga. Sampai di sebuah rumah yang pintunya terbuka.

"Kulonuwun," kuucap salam. Belum ada jawaban. Melirik kaligrafi di dinding ruangan yang terlihat dari luar, memastikan rumah muslim kuucap salam, "Assalamu'alaikum...."

Masih tak ada jawaban. Kulirik dalam rumah. Seorang nenek terbangun dari tidur(an) di atas sebuah dipan. Oh, rupanya aku mengganggu orang tua itu istirahat!

"Sinten niku?" ia berseru pelan. Menanyai siapa tamunya.

"Ngapunten, Mbah," kataku seraya mendekat padanya. "Ini, Mbah, mau memberi undangan promosi kacamata keur optik di rumah Pak RT jam setengah dua nanti."

Simbah itu duduk, tampak ketidakberdayaan. Segera kutambah, "Mbah, ini cuma undangan promosi. Kalau Simbah tidak bisa datang juga tidak apa-apa. Tak perlu repot-repot ke rumah Pak RT...."

"Oh... Ini, Nak, Simbah di rumah sendirian. Anak Simbah di Bandung, sudah dari lebaran kemarin tidak kirim uang. Rumah sudah rusak di sana-sini.... Cuma Simbah sendirian tanpa teman."

Aku sedikit tercenung. Duh, Simbah malah cerita begituan. Jadi tak enak hati. "Ya sudah, Mbah. Nanti kalau tidak bisa, tak usah ke rumah Pak RT, ya...."

"Iya, Nak. Rumahmu mana, Nak?"

"Saya dari Ndayah, Mbah."

"Oo.... Anak Simbah di Bandung, Simbah ditinggal di sini sendiri. Rumah sudah rusak di sana-sini, Nak...."

Sabar, ya, Mbah. Anakmu pasti sedang berusaha memberikan terbaik, meski terpaksa berada di kota jauh. Aku lekas permisi dari rumah Simbah itu.

Ingat Mamak. Juga Mboktuwo (nenek) di Karangmojo.