Coretan Basayev: Agustus 2011
Sudahkah Kita Meraih Gelar Takwa?

Sudahkah Kita Meraih Gelar Takwa?

Sudah berapa kali kita menjumpai bulan Ramadhan? Tentu sudah sejumlah usia kita. Sudah berapa kali kita berpuasa Ramadhan selama ini? Tentu terhitung sejak kita sudah baligh, bukan?

Allah Ta'ala menyeru kepada orang-orang beriman agar melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, perintah mulia ini tercantum dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 183:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Di dalam ayat tersebut, perintah puasa jelas-jelas memiliki tujuan utama yang tertulis di ujung ayat, yakni la'alakum tattaquun, agar kamu bertakwa.

Kalau kita hitung, sudah berkali-kali Ramadhan kita lalui, sudah berkali-kali pula kedatangannya kita sambut dengan pelaksanaan ibadah puasa, sebagaimana telah Allah Ta'ala perintahkan. Nah, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri. Sudahkah tujuan puasa Ramadhan telah kita capai? Atau sejauh manakah kita bisa mengukur ketakwaan kita? Apakah kita sudah termasuk muttaqin? Atau justru puasa kita berakhir tanpa meninggalkan bekas ketakwaan pada diri kita? Oh, tidak, naudzubillah. Jangan sampai kita merugi.

Lantas dari mana kita bisa mengukur kadar ketakwaan kita? Bagaimanakah kiranya yang Allah Ta'ala maksudkan dengan muttaqin?

Allah sudah menyiapkan semacam kriteria bagi hamba-Nya, siapa saja gerangan yang termasuk muttaqin. Kita bisa mengoreksi diri sendiri, sudah masukkah kita pada kriteria tersebut?
Kembar!

Kembar!

Siang, panas, puasa. Demo keur di dukuh Badran, Karangmojo. Rumah Pak RT agak masuk ke dalam. Motorku dan motor Saiful diparkir di rumah kosong pinggir jalan. Panas cuaca, jaketku kucopot, kutaruh di motor. Lalu menuju rumah Pak RT berjalan kaki.

"Motor bawa ke sini bisa, tuh masuk lewat sana," Saiful menunjuk jalan kecil yang menghubungkan jalan utama kampung ke rumah Pak RT, menyimpulkan pandangan mata.

"Iya, ya. Kirain motor nggak bisa masuk," kataku menyadari kebodohanku.

"Bawa sini saja atau biar parkir di sana?" tanya Saiful minta pendapat.