Coretan Basayev: Juli 2011
Satrio Piningit

Satrio Piningit

Konon, akan muncul satrio piningit
yang bisa mendamaikan segala debat sengit
mampu menghujankan kemakmuran dari langit

Banyak yang lantas meramal
darimana sekiranya sang ratu adil itu berasal
membawa sentosa yang diimpi sejak negeri ini berawal

Ratu adil tak kunjung datang
berganti bulan, surya dan bintang
yang bermunculan justru politisi binatang

Tibalah waktu seharusnya sang satrio piningit terlahir
sebagai anak ketiga dari seorang ibu yang tak terlintas di alam pikir
bahwa sebenarnya dari rahimnya akan lahir penantian terakhir

Tapi sayang, penantian berlarut-larut
tak ada janin masuk ke perut
ada apa gerangan, usut punya usut?

Ternyata, pemerintah negeri tercinta berulah
berdalih pembatasan anak seusai menikah
anjuran KB tercetus sudah

Si ibu muda
beranak cukup dua
tak jadi lahir si anak ketiga

Penantian satrio piningit berlanjut, entah sampai bila ....
Ada-Ada Saja

Ada-Ada Saja

Waktu demo keur di Ngijo, Karangmojo. HP-ku berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Aku lekas izin ke Ibu-Ibu yang sudah berkumpul di ruang tamu rumah Pak RT, untuk mengangkat telepon sebentar.

"Ini Abdu, Mas," suara suami Endang, pakai nomer baru.

"Iya, ada apa?" tanyaku.

"Di situ ada kabar apa, Mas?"

"Maksudnya?"

"Nggak ada apa-apa, kan?" ia menekankan.

Aku tambah nggak paham. "Maksudnya, ada apa? Aku lagi keliling, nggak di Ndayah."
Lama Tak Berpuisi

Lama Tak Berpuisi

Lama tak berpuisi
karena kata-kata terlalu basi
untuk menerjemah dan mengejawantah segala isi

Bolehlah, sesekali
kucecar abjad lagi menjadi kata bertali
mengikat idealisme kembali

Meski aku tak merasa butuh
karena tangga telah runtuh
anak-anaknya tak patuh

Melejit ke langit, mencoret-coret matahari
menyesakinya dengan janji ayolah mari
berbuihkan peluh hujan di mendung tertusuk duri

Duri dari rumput liar
yang terlalu lama dibiar
tanpa kabar tersiar
KTP

KTP

Berencana membuatkan akte kelahiran anak kami, Haikal. Oh iya, KTP dan KK-ku, juga KTP dan KK istri masih berstatus TIDAK KAWIN. Artinya harus dirubah dulu statusnya menjadi KAWIN. Bahasa yang dipakai pemerintah terkesan kasar ya?! Maksudku, apa nggak enak ditulis NIKAH saja ya?

Aku dan istri berangkat ke balai desa Tegalsari dulu untuk minta pengantar ganti status KTP dan KK istri. Sekitar jam 9 pagi.

Selesai mendapat pengantar, kami pamitan. Hey! Ada pegawai kelurahan yang baru datang sesiang ini lho!
BRI

BRI

Ke BRI Unit Weru. Ambil uang transferan kontributor Proyek Buku Gotong-Royong sama titipan uang Kembung dari adiknya di Jakarta.

Seperti biasa, antri. Terpampang juga tulisan peraturan baru yang belakangan ini sangat merepotkanku : "NOMOR YANG LEWAT AMBIL LAGI".

Terus terang, biasanya aku menyempatkan ambil antrian dulu pagi-pagi lantas pulang, nunggu waktu kembali ke BRI. Atau minta tolong teman yang kerja dekat BRI untuk mengambilkan antrian. Tapi apa daya, sekarang sudah tidak boleh begitu. Seringkali tiap aku kembali ke BRI, nomor yang kubawa sudah terlewati. Huh, jadinya ikut antri dengan nomor baru lagi. Begitulah!