Coretan Basayev: Mei 2011
Disuntik

Disuntik

Demo di dukuh Genjeng, Karakan, Weru.

Di rumah Pak RT. Beberapa warga yang menerima undangan promosi yang kubagikan sebelumnya, mulai berdatangan. Mulai pengecekan alias keur mata. Bergantian aku mengecek mereka. Solikin, RO baru yang menyertaiku, belum begitu bisa mengecek. Kulihat ia agak bingung, jadi aku tidak memintanya mengecek. Biarlah dia melihat cara mengecek dulu.

Satu persatu warga yang datang kucek. Ada yang minus silinder, dan pasti ada yang plus. Pengecekan berlangsung cukup meriah karena para warga banyak menyelingi dengan canda, terutama saat ada yang dicek salah menyebutkan angka yang ditunjuk. Pasti semua berkomentar dan menertawakan, padahal pas dia dicek pun kesulitan membaca angka cek jarak pandang jauh itu.
Jamaah Asar

Jamaah Asar

Jeda waktu setelah demo promo pertama dengan demo kedua, sekitar jam setengah tiga siang. Jelang asar, aku rehat sejenak di sebuah masjid kecil di salah satu dusun di kelurahan Karakan, Weru.

Jelang masuk waktu asar, aku berwudhu. Seorang penjual es tong-tong (baca: es krim) keliling, ikut rehat di masjid. Ia shalat sunah. Kulihat jam dinding sudah menunjuk waktu asar. Lekas kukumandangkan azan, "Allaahu akbar, allaahu akbar!"

Selesai azan, aku laksanakan sunah dua rakaat. Ada tiga ibu-ibu (tepatnya simbah-simbah alias nenek-nenek) kulihat berdatangan, mereka mendirikan shalat di barisan shaf putri.

Tak lama kemudian muncul kakek-kakek (satu orang, jangan diartikan jamak yak!) yang juga langsung shalat. Aku menunggu semua menyelesaikan shalatnya untuk iqamat.

Lho? Lho?! Kok ... kulihat para ibu-ibu kok pada melepas mukena dan, meninggalkan masjid?!
Seni Metromini

Seni Metromini

Jreng ...!

Genjrengan gitar sebagai pembuka. Aku tak begitu memperdulikannya. Aku capek.

Lelaki bergitar itu mengucap salam. Para penumpang enggan sekedar menjawabnya. Aku sendiri hanya menjawab dalam gumam tak terdengar. Kan wajib tuh menjawab salam.

Lelaki pengamen itu lekas memulai narasi pembuka berupa ucapan minta izin pada sopir dan kondektur untuk berdendang lagu. Juga permintaan maaf pada penumpang jika kehadirannya mengganggu. Aku masih cuek juga.

Beberapa detik berikutnya, lelaki itu sudah mulai mengalunkan sebuah lagu. Lagu yang asing di telingaku. Lagu baru mungkin. Sekian lama menjadi pelanggan setia metromini P-24 jurusan Senen-Priok, kayaknya baru sekali ini aku mendengar lagu itu. Juga pengamennya, kayaknya orang baru. Cukup merdu. Nada indah perpaduan suara bagus si lelaki dan permainan gitarnya yang tidak kacangan. Aku mulai terusik untuk menyimaknya.

Ujian Ketekunan

Ujian Ketekunan

Persiapan yang harus benar-benar matang. Seperti biasa, Pak Kepsek (Kepala Sekolah) mempercayakan semua padaku. Aku selaku Wakaur Kurikulum (Wakil Kepala Urusan Kurikulum), adalah satu-satunya tenaga pengajar yang memang harus beliau pilih untuk mengurus segala sesuatunya. Apalagi ini adalah peristiwa paling penting bagi anak-anak didik kami selama tiga tahun belajar di sebuah SMP Muhammadiyah daerah kabupaten Gunung Kidul ini. Ya, UNAS, Ujian Nasional penentu kelulusan bagi anak-anak kelas tiga.

"Anak-anak," kataku, siang ini, di ruang kelas 3A, saat mata pelajaran IPS yang kuampu, sambil memandang wajah-wajah anak didikku yang tampak serius memperhatikan ucapanku, "seperti kita semua tahu, UNAS sebentar lagi akan dilaksanakan. Tak ada yang bisa membantu kalian untuk lulus, kecuali diri kalian sendiri, dan tentu juga pertolongan Allah. Saya harap kalian mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."

Pikun

Pikun

Demo di dukuh Tanjung RT 01/02 Punduhsari. Pak RT-nya bernama Pak Hadi, tapi saat demo beliau tidak di tempat. Yang ada Bu Hadi yang sedang menjemur padi hasil panen.

Di pekarangan beliau ada masjid kecil yang kurang terawat. Aku istirahat di situ bersama Iswanto, RO baru.

Usai sholat duhur, aku membagikan brosur undangan. Setelah selesai, lumayan capek, aku sejenak tiduran di masjid. Setelah jam demo tiba, aku menuju serambi rumah Bu Hadi. Ada simbah-simbah (baca: nenek-nenek) di situ. Orang tua sepuh itu menyalamiku dan bertanya, "Rumahnya mana, Nak?"

"Saya dari Tawang, Mbah," jawabku.

"Kesini nyari Pak Hadi, ya?"