Coretan Basayev: 2011
Buah Talok

Buah Talok

Tahu yang namanya buah talok? Aku sih tidak tahu bahasa Indonesianya apa. Buah ini lagi musimnya di daerahku. Pohonnya ada di mana-mana, terutama di pinggiran jalan raya. Buahnya bulat kecil-kecil, sebesar anggur yang ukurannya kecil. Kalau matang warnanya merah. Rasanya maniiss sekali, banyak anak yang suka. Bahkan orang tua pun banyak yang senang memakannya. Konon, juga bisa untuk obat kalau lagi capek (katanya sih!)

Ceritanya, di depan kantor Setia kan ada dua pohon talok yang buahnya cukup banyak, tiap hari ada saja yang matang di pohon. Bahkan di bawahnya banyak bercecer yang jatuh. Tapi kalau sudah jatuh begitu, hilang nafsu memakannya. Kadang aku suka meraih buah yang rantingnya bisa diraih berdiri. Memakannya begitu saja. Enak juga, hehe. Tapi mau ambil yang tinggi agak tidak enak hati alias rada malu dilihat orang. Kayak anak kecil aja manjat talok. Hehe.

Aku pernah cerita tentang talok ini pada istriku. Eh, ternyata dia kepengen, minta dibawain pulang tuh buah. Soalnya di rumah kulon ada satu pohon talok yang sering dipanjati anak-anak demi mendapat buahnya yang tak seberapa dan kadang belum sampai benar-benar merah.

Kemarin aku pulang tanpa talok.

"Mana taloknya?" tagihnya.

"Hehe. Malu, Bun, nyarinya."

"Oh... Ayah malu nyari taloknya? Mbok bilang, tiwas Bunda berharap Ayah pulang bawa talok."

Nah, hari ini, konsentrasiku terganggu sejak sampai di kantor sebelum keluar demo kacamata. Buah talok itu benar-benar banyak yang merah. Ketika bersama Bowo keluar mencari konsumen, di sepanjang jalan kulihat talok yang seakan memanggil-manggilku. Ingat istri di rumah yang kepengen tuh buah!

Sampai di kantor lagi saat tengah hari. Aku di bawah pohon talok melihat-lihat ke atas. Mau manjat, malu... Serba bingung nih! Meraih yang rendah hanya dapat beberapa buah.

"Ada apa, Mas?" ibu yang di warung sebelah kantor bertanya saat melihatku memandangi ke atas.

"Hehe. Ini, Bu, talok."

"Oh..., kalau pegel-pegel bisa buat obat tuh. Pake ini aja, Mas, kalau mau ngambil taloknya."

Tak kusangka, si ibu mengambilkan sebuah galah bambu khusus untuk mencari talok. Galah yang ujungnya ada potongan bekas botol air mineral yang berfungsi menampung talok yang jatuh kena galah. Jadi malu deh, ternyata...

"Makasih, Bu," kuterima uluran galah itu. Hehe.

Hari ini, aku bisa memanen tuh buah talok. Oleh-oleh buat istri di rumah. Hahahaha....

Pesan moral: Malu tuh pada tempatnya aja, buat apa malu kalau hanya membuat kepengenan tak terobati. Betul? Hehe.
Bagi Duit, Mas...

Bagi Duit, Mas...

Kali ini, mengulang promosi di daerah Miratan. Kemarin sempat kami lewati karena ada warga sedang hajatan, dan rumahnya pas di samping rumah Pak RT.

Jam 13:30 WIB. Belum satupun warga datang. Rumah Pak RT yang sekalian warung tidak menyediakan tempat duduk di emperan, maka aku dan Bowo memilih duduk di sebuah dipan di bawah pohon talok, di depan rumah Pak RT.

Beberapa menit berlalu, barulah datang seorang bapak mengecek mata. Bowo sebagai RO melaksanakan tugas dengan baik. Sayang, si bapak sudah punya kacamata dan ukuran lensanya masih sesuai dengan kebutuhan mata beliau.

Berlalunya bapak itu, kembali penantian sepi di tengah panas siang. Hanya terlihat beberapa bocah bermain dekat kami. Keceriaan kanak-kanak yang tak peduli cuaca gerah begini.

Seorang anak usia SD mendekati kami. Tepat di sebelahku, ia bersandar pada dipan.

"Mas, minta uangnya, Mas," bocah SD itu berkata padaku.

Aku menolehnya. "Apa, Dik?"

"Minta uangnya, Mas."

Aku toleh Bowo yang juga melirikku. Kembali kutanya tuh bocah, "Siapa yang mengajarimu minta kayak gini?"

"Kakakku."

"Kakakmu di mana?"

"Di rumah."

"Rumahmu di mana?"

"Situ, dekat jalan raya," katanya sambil menunjuk arah jalan raya.

"Kok minta uang? Minta dong sama orang tuamu."

"Bapak sudah meninggal. Ibuku juga."

Oh? Tapi, jujur atau bohong nih anak?

"Ayolah, Mas, bagi uangnya. Seribu juga nggak apa-apa."

"Buat apa?"

"Buat jajan, Mas."

"Itu, kamu sudah beli es?" tunjukku, ia memang memegang es dalam plastik.

"Ini yang ngasih temenku kok."

"Kamu tidak sekolah?"

"Sekolah."

"Di mana?"

"Di MI situ, tapi tidak pernah bawa uang saku," ia menunjuk ke arah timur. Aku tahu arahnya MI Ngadirejo.

"Kakakmu?"

"Kelas 1 SMP."

"Yang masakin tiap hari?"

"Ya kakakku."

"Yang bayarin sekolah?"

"Saudara jauh di Solo sana."

Aku kembali saling pandang dengan Bowo.

"Ayolah, Mas. Bagi duitnya...."

Dilema. Membantu atau kena tipu. Juga, menolong atau memberi didikan tidak baik. Tapi, rasa kasihan juga yang menang, kurogoh juga saku celana, menyerahkan selembar duaribuan padanya.

Apa iya, ada anak yang 'bisa' menipu di kampung begini? Kalau di perkotaan bisa saja terjadi. Wallahu a'lam.
Bukan Ijin Menipu

Bukan Ijin Menipu

Mulai memasuki kawasan kelurahan Grajegan Tawangsari. Kali ini, jatah demo di Dukuh Grogol RT 02/01, Grajegan. Saat mencari rumah Pak RT-nya, kami bertanya ke salah satu warga dan segera mendapatkan rumah beliau.

Begitu sampai di rumah Pak RT, disambut si empu rumah yang sedang duduk di sebuah kursi di serambi rumah. Tidak terlihat sambutan yang ramah, apalagi setelah kukatakan maksud kedatanganku. Sikap beliau terkesan meremehkan.

"Mau minta ijin promosi kacamata, Pak."

Tanpa senyum, tuh bapak menjawab, "Maaf, tidak bisa. Saya sudah berulang kali ketipu. Cari tempat lain saja!"

Hm..., apa kami mirip penipu, Pak RT yang terhormat?

"Oh..., berarti tidak bisa, ya, Pak?" kataku menyurut emosi, "Kira-kira, selain di rumah Bapak, ada ndak rumah yang lain yang biasa dipakai promosi di RT sini?"

"Ya, cari tempat warga saja. Tapi saya juga tidak berani menunjuk rumah siapa. Di sini sering kena tipu. Saya nggak mau disalahkan."

Hm..., aku bisa berpikir jernih. Memang sih tugas RT berat, tanpa imbalan pantas, sering jadi sasaran kesalahan jika warga dirugikan. Ini juga efek dari adanya penipuan berkedok sales yang sering kudengar terjadi di beberapa tempat.

"Ya sudah, Pak, kami minta pamit," kataku.

Bersama Bowo, kutuju rumah Pak Bayan yang alhamdulillah se-RT dengan si bapak tadi. Alhasil, di rumah Pak Bayan dengan senang hati menerima kedatangan kami. Penerimaan yang jauh berbeda dengan si Bapak RT.

Demo di Grogol RT 02/01 mendapatkan seorang pembeli, meski hujan turun dengan lebatnya. Alhamdulillah.
SMS

SMS

Lelah seharian. Kelar sudah tarub di rumah kulon. Menjelang Magrib sempat kurebahkan punggung di kamar. Kuraih HP istri yang tergeletak di atas kasur.

Iseng kubuka menu pesan HP china ini. Biasa, sok ngecek SMS yang ada.

Mataku tiba-tiba tertumbuk pada sebuah SMS di pesan terkirim. SMS yang cukup mengusik, memancing rasa penasaran di benakku. SMS dari nomor 082196585736!

Kucek nomor siapa itu. Tidak ada di kontak. Aku juga asing dengan deretan angka itu. Bunyi pesan terkirim itu sbb: "Hpne wae ijolno pulsa. Aq yo ora duwe duwit!" (HPnya aja ditukar pulsa. Aku juga tidak ada uang, ed.)

Siapa ya? Ada yang minta uang kepada istriku? Siapa? Saudara? Ah, nomor siapa ini?

Istriku masuk kamar. "Ini nomor siapa, Bunda?" tanyaku lekas.

"Tau'!" jawab istriku sambil meminta HP-nya.

Tak lama, ia angsurkan kembali padaku. Menunjukkan sebuah pesan masuk dari nomor di atas tadi:

"Bapak tukokno pulsa simpati ndisek 20rb iki No ku anyar bpk 082196585736, Cepet saiki tak enteni,penteng."

Oalah! Yo wis. Kirain siapa. Hehe.
Kisah Nggak Penting

Kisah Nggak Penting

Usai salat Jumat di masjid Ngadirejo, waktunya menyebar brosur undangan kepada warga. Kali ini jatah promosi di rumah Pak Tomi, bapak RT 2 RW 7, yang juga berprofesi sebagai tulang pijit. Bagi yang merasa capek, bisa pijat di tempat beliau (ikut mromosiin, balas budi karena diijinin promosi di rumah beliau, hehe...). Pesan moral: Jangan lupa membalas budi, apalagi kalau Budi pernah melukai hati kamu!

Memasuki pekarangan rumah seorang warga, tampak si bapak pemilik rumah sedang mengangkat jemuran jerami.

"Ada apa, Yud?" si bapak tahu-tahu berseru padaku. Yud? Wah, rupanya orang tua ini salah lihat. Aku dikiranya Yudi, Yuda, Yudan, atau Yudas (dari panggilan 'Yud', siapa lagi kira-kira? Boleh ditebak, yang benar dapat hadiah!).

Baru ketika aku mendekat, si bapak senyum malu, ternyata salah mengenali manusia.

"Mau ngasih undangan, Pak," kataku lekas.

Lepas dari rumah si bapak, aku pindah ke rumah berikutnya. Sebuah rumah dengan pintu sedikit terbuka.

Aku dekati tuh pintu. Hendak kuucap salam, tapi tertahan saat membaca ada tulisan di kertas yang tertempel pada daun pintu: "Maaf sedang keluar. Hubungi 0852xxx."

Halah! Sok penting sangat ya, si empu rumah. Sampai-sampai pintu dipasang tulisan sedemikian rupa. Haha.

Kulanjutkan langkah meneruskan pembagian brosur undangan, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ada-ada saja....
Keluh Simbah

Keluh Simbah

Jam setengah sebelas siang. Waktunya menyebar undangan keur. Hari ini masuk ke Ngasinan RT 04 Watubonang.

Satu-dua rumah alhamdulillah ada penghuninya. Undangan sudah beberapa lembar berpindah dari tanganku ke warga. Sampai di sebuah rumah yang pintunya terbuka.

"Kulonuwun," kuucap salam. Belum ada jawaban. Melirik kaligrafi di dinding ruangan yang terlihat dari luar, memastikan rumah muslim kuucap salam, "Assalamu'alaikum...."

Masih tak ada jawaban. Kulirik dalam rumah. Seorang nenek terbangun dari tidur(an) di atas sebuah dipan. Oh, rupanya aku mengganggu orang tua itu istirahat!

"Sinten niku?" ia berseru pelan. Menanyai siapa tamunya.

"Ngapunten, Mbah," kataku seraya mendekat padanya. "Ini, Mbah, mau memberi undangan promosi kacamata keur optik di rumah Pak RT jam setengah dua nanti."

Simbah itu duduk, tampak ketidakberdayaan. Segera kutambah, "Mbah, ini cuma undangan promosi. Kalau Simbah tidak bisa datang juga tidak apa-apa. Tak perlu repot-repot ke rumah Pak RT...."

"Oh... Ini, Nak, Simbah di rumah sendirian. Anak Simbah di Bandung, sudah dari lebaran kemarin tidak kirim uang. Rumah sudah rusak di sana-sini.... Cuma Simbah sendirian tanpa teman."

Aku sedikit tercenung. Duh, Simbah malah cerita begituan. Jadi tak enak hati. "Ya sudah, Mbah. Nanti kalau tidak bisa, tak usah ke rumah Pak RT, ya...."

"Iya, Nak. Rumahmu mana, Nak?"

"Saya dari Ndayah, Mbah."

"Oo.... Anak Simbah di Bandung, Simbah ditinggal di sini sendiri. Rumah sudah rusak di sana-sini, Nak...."

Sabar, ya, Mbah. Anakmu pasti sedang berusaha memberikan terbaik, meski terpaksa berada di kota jauh. Aku lekas permisi dari rumah Simbah itu.

Ingat Mamak. Juga Mboktuwo (nenek) di Karangmojo.
Suatu Sore

Suatu Sore

Usai demo keur di Tegalrejo, Watubonang. Sudah azan Asar. Bersama Bowo, sobatku yang kini ikut jadi RO di Setia, mencari musholla untuk sholat. Eh, ketemunya musholla Al A'la di Babalan. Ya sudah, motor menepi kesitu. Berhubung tidak ada tempat parkir (halamannya saja tidak ada, hehe!), motor kuparkir di tepi jalan yang langsung berdempetan pintu pagar musholla.

Tas berisi koleksi frame kacamata yang kutaruh di belakang setang, kututup jaket yang kulepas. Huff... gerah juga. Maklum, langit gelap tapi tidak turun hujan, hawa jadi panas begini. Bowo juga melepas jaket, menaruhnya bertumpuk di atas jaketku. Lalu menuju padasan di sebelah barat musholla.

Di tempat wudhu, kulihat seorang remaja tanggung sedang membasuh kaki. Kusapa. Dibalas sapa. Hmm..., dari penampilannya, sudah terlihat sebuah kesan bahwa tuh orang pemuda yang ugal-ugalan. Ugal-ugalan tapi mau ke musholla. Hehe, mungkin mau sholat juga kali. Tidak selamanya, penampilan kurang baik memiliki arti bahwa orangnya pun buruk, begitu yang terlintas di pikiranku.

Kelar wudhu, mau masuk ke musholla kulihat si remaja tadi kok belum masuk, ya? Malah berdiri di teras sambil mengatur rambutnya yang tadi dibasahi.

"Dari pondok, ya, Mas?" tanyanya padaku.

"Enggak," jawabku. Pondok? Lah, bentukku seperti apa kok dikira dari pondok (pesantren)? Bercelana bahan berkemeja motif. Koko juga kagak, peci apalagi! "Ini cuma mau promosi di desa sebelah," kataku.

"Promosi apa? Obat, ya?" Sok akrab juga nih orang.

"Kacamata kok, Mas," kataku. Aku menuju motor. Mengambil tas berisi frame, hehe, waspada itu perlu. Jaket tetap di motor. Tas kubawa masuk.

Bowo yang wudhu belakangan menyusul masuk. Aku dan Bowo sudah bersiap jamaah. Kulirik si remaja tadi, kukira mau ikut sholat, tapi tuh orang tidak masuk juga. Malah asik sendiri di serambi musholla, entah sibuk apa. Ya sudah, kami sholat berdua.

Aku mengimami Bowo. Di depanku jendela penghubung pandangan dengan ruang utama musholla. Di kaca jendela itu terpantul bayangan remaja tanggung tadi. Tapi karena tembok cukup tinggi, jadinya aktivitas tuh orang tidak begitu terlihat jelas. Apa lagi aku dalam posisi sholat. Entahlah, aku mendadak resah dengan pikiran apakah yang dilakukan orang itu. Sholat agak kupercepat.

Usai salam, si remaja tadi sudah tidak ada di tempat. Kulirik motor, alhamdulillah masih di parkirannya.

"Jadi tergesa sholatnya," kataku ke Bowo, "Aneh. Curiga sama orang tadi...."

"Iya, sih, penampilannya ugal-ugalan. Tapi kan penampilan tidak selalu menunjukkan keburukannya," kata Bowo.

Berhubung sudah sore dan aku belum sempat mengundangi warga untuk promosi keur, lekas kami beranjak. Keluar musholla menuju motor. Motor aman, tuh orang tadi kan di dekat motor, tapi kekhawatiranku tak benar. Dia tidak berbuat apapun (apalagi mencuri) pada motor yang kuparkir.

Bowo mengambil jaket. "Lho, jaketmu kok nggak ada?" Bowo berseru padaku.

Aku toleh-toleh, memang tidak ada tuh jaket hitamku. "Hmm..., ternyata kecurigaanku benar. Tuh orang tidak beres. Jaketku diambilnya!"

"Ada isinya?"

"Jaket kosong, kok. Cuma... itu jaket punya istri."

Iya. Jaketku hilang. Aku yakin remaja tadi pengambilnya. Jalan samping musholla kan sepi dan hanya dia yang berada di sini selama kami sholat tadi. Wah, jaket punya istri yang kupakai sirna kini.

"Bun, afwan ya, jaket bunda dicuri orang!" SMS-ku ke istri.

"Iya2...Gp2... Kok bisa?" balas istriku.

"Ayah pas sholat td. Ntar ayah cerita."

"Ada hpne g?"

"Alhmdlh gak ada. Kosong."

"Alhamdulillah ayahnya g ikut hilang to? :-)"

Hehe. Bunda, Bunda.... Ada-ada saja. Nggak marah kan, Bun, jaketnya Ayah hilangkan?

Pesan moral: Waspada itu perlu, dalam situasi apapun.
Senandung Rindu yang Karatan

Senandung Rindu yang Karatan

Senandung Rindu yang Karatan

Penulis: Xanjeng Nura, Ike, Om Dompet, dkk
Diterbitkan melalui LeutikaPrio
ISBN: 978-602-225-101-9
Terbit: September 2011
Tebal: 160 Halaman
Harga: Rp.36.400,-

Cerpen yang ada di dalam buku ini:

Rindu Terkikis Bayu (Suden Basayev)
Membingkai Miniatur Cinta (Sambya Adzkiya)
Sang Pesulap dan Ayahnya (Ummu Fatimah Ria Lestari)
Cinta Cahaya Mata (Murti Yuliastuti)
Desember (Zein el-Arham)
Janji (Arieshava Masduki)
Sejatinya Cinta Mengantarmu ke Surga (Ayicha Sheila)
Surga untuk Ibu (Salma Madani)
Seperti Edelweiss (Ari Kurnia)
Gerimis Malam (Na’imah Awan Nur)
Tawa Kematian (Sisilia Wisye)
Takdir Cinta (lyn')
Tiga Perempuan (Ike)
Rencananya dengan Rencana-Nya (Fatihah Kamil)
Aku Bangga Menghamilimu (Om Dompet)
Senandung Rindu yang Karatan (Xanjeng Nura)
Setahun Bersamamu

Setahun Bersamamu


Telah terbit!

Judul : Setahun Bersamamu
Penulis : Suden Basayev & Sambya Adzkiya
Penerbit : Syamsa Publisher
Tebal : 76 halaman A5 (HVS 80 gram)
Harga : Rp. 25.000; (Sudah termasuk ongkos kirim ke alamat Pulau Jawa)

Sudah dari tadi azan maghrib, terburu-buru kami hendak berangkat ke masjid. Istriku langsung menyahut mukena yang belum sempat dilipat masih menumpuk bersama cucian kering di atas dipan.

"Ayo, Yah, keburu telat," ajaknya.

Kelar berwudhu di padasan, lekas kami berjalan ke masjid.

Sepulang jamaah maghrib, istriku langsung menyibukkan diri dengan melipati pakaian kering.

"Yah, kaos kakinya tinggal satu, pasangannya kok nggak ada?" istriku yang sudah kelar melipat memperlihatkan kaos kakinya yang tersisa satu.

"Coba tanya Mamak, tadi kan beliau yang mengangkat jemurannya," usulku.

"Dicari dulu, siapa tahu cuman di tumpukan sini."

Kami sibuk mencari pasangan kaos kaki istriku itu. Tidak ada. Azan Isya' berkumandang sebelum sempat menjumpai pasangan kaos kaki tersebut.

Ya sudah, ke masjid dulu.

Saat berwudhu di padasan samping rumah, Mamak yang baru beranjak berangkat duluan tiba-tiba berbalik arah pulang ke rumah.

"Tya, ini kaos kakimu bukan? Kok jatuh di jalan?" tanya Mamak sambil memperlihatkan barang temuannya.

Istriku melirikku dengan senyum. Iya, itu kaos kaki istriku.

"Pasti tadi kebawa saat ambil mukena, kan masih dari tumpukan cucian kering," kata istriku mencoba menjawab tanda tanya kenapa kaos kaki bisa berada di jalan.

Aku mengangguk. Lalu aku coba menggoda, "Untung cuman kaos kaki ya, Bun, bukan yang lain ..."

Hehe.

30 Maret jam 19:53

Setahun Bersamamu, sebuah memoar cinta dari pasangan Suden Basayev dan Sambya Adzkiya. Sebuah buku yang berisi kisah-kisah seru dalam menjalani kehidupan berumah-tangga dari pasangan yang belum pernah akrab sebelum menikah ini. Banyak kejadian konyol, lucu, memalukan bahkan yang mengharukan dan menakutkan, terekam dalam memoar ini.

Bacalah, Anda akan menemukan indahnya sebuah kebersamaan, yang semoga bisa menginspirasi keluarga Anda, atau menjadi referensi dalam membina rumah-tangga yang berharap naungan kasih-sayang dari Allah Swt. Nikmatilah, tersenyumlah bersama keduanya. Dapatkan semangat di setiap lembar kisahnya.

Untuk pemesanan, langsung SMS ke 08995339182. Harga sudah termasuk ongkos kirim se-Pulau Jawa. Ditunggu ordernya, ya! Terima kasih...
Alhamdulillah, Juara 1 Lomba Tole Udin

Alhamdulillah, Juara 1 Lomba Tole Udin

Lomba Tole Udin? Lomba apaan tuh?

Ini lomba yang diadakan oleh grup Facebook yang didirikan Mas Lucky Andrean Sanusi, namanya grup Taman Sastra. Grup kepenulisan ini memang sering mengadakan event menulis baik berupa lomba-lomba maupun audisi buku antologi. Pernah sih beberapa kali ikut meramaikan event di Taman Sastra, tapi tidak semua tulisanku lolos seleksi.

Kali ini, ada lomba menulis komedi bertajuk TOLE UDIN (TOkoh LEgenda Unik Daerah Indonesia). Peserta lomba diminta menulis komedi dengan menggunakan nama tokoh legenda di daerah-daerah di negeri tercinta ini. Kenal, kan, tokoh semacam Kabayan dkk? Nah, tokoh-tokoh unik itu harus kita hadirkan dalam naskah yang kita buat, seunik selucu mungkin.

Oke, deh, aku ikutan. Naskahku berjudul Dendam Wonokairun dan Perkawinan Joko Bodo. Ketika diumumkan peserta lombanya sekitar 33 orang penulis, aku berdoa agar bisa lolos jadi juara. Dan, tara...! Doaku dikabulkan Allah Swt!

Pengumuman pemenang di note FB Mas Lucky, dag-dig-dug saat membaca pengantar yang panjang dan ujungnya... namau tercantum sebagai pemenang! Alhamdulillah...!

Hadiahnya? Sebuah buku komedi yang tak lama kemudian sampai ke rumahku. Ke ATM, ambil hadiah dari MAs Lucky, 150 ribu, alhamdulillah... Makasih, Mas Lucky dan Taman Sastra! Nambah semangat nulis nih!
Sudahkah Kita Meraih Gelar Takwa?

Sudahkah Kita Meraih Gelar Takwa?

Sudah berapa kali kita menjumpai bulan Ramadhan? Tentu sudah sejumlah usia kita. Sudah berapa kali kita berpuasa Ramadhan selama ini? Tentu terhitung sejak kita sudah baligh, bukan?

Allah Ta'ala menyeru kepada orang-orang beriman agar melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, perintah mulia ini tercantum dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 183:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Di dalam ayat tersebut, perintah puasa jelas-jelas memiliki tujuan utama yang tertulis di ujung ayat, yakni la'alakum tattaquun, agar kamu bertakwa.

Kalau kita hitung, sudah berkali-kali Ramadhan kita lalui, sudah berkali-kali pula kedatangannya kita sambut dengan pelaksanaan ibadah puasa, sebagaimana telah Allah Ta'ala perintahkan. Nah, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri. Sudahkah tujuan puasa Ramadhan telah kita capai? Atau sejauh manakah kita bisa mengukur ketakwaan kita? Apakah kita sudah termasuk muttaqin? Atau justru puasa kita berakhir tanpa meninggalkan bekas ketakwaan pada diri kita? Oh, tidak, naudzubillah. Jangan sampai kita merugi.

Lantas dari mana kita bisa mengukur kadar ketakwaan kita? Bagaimanakah kiranya yang Allah Ta'ala maksudkan dengan muttaqin?

Allah sudah menyiapkan semacam kriteria bagi hamba-Nya, siapa saja gerangan yang termasuk muttaqin. Kita bisa mengoreksi diri sendiri, sudah masukkah kita pada kriteria tersebut?
Kembar!

Kembar!

Siang, panas, puasa. Demo keur di dukuh Badran, Karangmojo. Rumah Pak RT agak masuk ke dalam. Motorku dan motor Saiful diparkir di rumah kosong pinggir jalan. Panas cuaca, jaketku kucopot, kutaruh di motor. Lalu menuju rumah Pak RT berjalan kaki.

"Motor bawa ke sini bisa, tuh masuk lewat sana," Saiful menunjuk jalan kecil yang menghubungkan jalan utama kampung ke rumah Pak RT, menyimpulkan pandangan mata.

"Iya, ya. Kirain motor nggak bisa masuk," kataku menyadari kebodohanku.

"Bawa sini saja atau biar parkir di sana?" tanya Saiful minta pendapat.
Satrio Piningit

Satrio Piningit

Konon, akan muncul satrio piningit
yang bisa mendamaikan segala debat sengit
mampu menghujankan kemakmuran dari langit

Banyak yang lantas meramal
darimana sekiranya sang ratu adil itu berasal
membawa sentosa yang diimpi sejak negeri ini berawal

Ratu adil tak kunjung datang
berganti bulan, surya dan bintang
yang bermunculan justru politisi binatang

Tibalah waktu seharusnya sang satrio piningit terlahir
sebagai anak ketiga dari seorang ibu yang tak terlintas di alam pikir
bahwa sebenarnya dari rahimnya akan lahir penantian terakhir

Tapi sayang, penantian berlarut-larut
tak ada janin masuk ke perut
ada apa gerangan, usut punya usut?

Ternyata, pemerintah negeri tercinta berulah
berdalih pembatasan anak seusai menikah
anjuran KB tercetus sudah

Si ibu muda
beranak cukup dua
tak jadi lahir si anak ketiga

Penantian satrio piningit berlanjut, entah sampai bila ....
Ada-Ada Saja

Ada-Ada Saja

Waktu demo keur di Ngijo, Karangmojo. HP-ku berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Aku lekas izin ke Ibu-Ibu yang sudah berkumpul di ruang tamu rumah Pak RT, untuk mengangkat telepon sebentar.

"Ini Abdu, Mas," suara suami Endang, pakai nomer baru.

"Iya, ada apa?" tanyaku.

"Di situ ada kabar apa, Mas?"

"Maksudnya?"

"Nggak ada apa-apa, kan?" ia menekankan.

Aku tambah nggak paham. "Maksudnya, ada apa? Aku lagi keliling, nggak di Ndayah."
Lama Tak Berpuisi

Lama Tak Berpuisi

Lama tak berpuisi
karena kata-kata terlalu basi
untuk menerjemah dan mengejawantah segala isi

Bolehlah, sesekali
kucecar abjad lagi menjadi kata bertali
mengikat idealisme kembali

Meski aku tak merasa butuh
karena tangga telah runtuh
anak-anaknya tak patuh

Melejit ke langit, mencoret-coret matahari
menyesakinya dengan janji ayolah mari
berbuihkan peluh hujan di mendung tertusuk duri

Duri dari rumput liar
yang terlalu lama dibiar
tanpa kabar tersiar
KTP

KTP

Berencana membuatkan akte kelahiran anak kami, Haikal. Oh iya, KTP dan KK-ku, juga KTP dan KK istri masih berstatus TIDAK KAWIN. Artinya harus dirubah dulu statusnya menjadi KAWIN. Bahasa yang dipakai pemerintah terkesan kasar ya?! Maksudku, apa nggak enak ditulis NIKAH saja ya?

Aku dan istri berangkat ke balai desa Tegalsari dulu untuk minta pengantar ganti status KTP dan KK istri. Sekitar jam 9 pagi.

Selesai mendapat pengantar, kami pamitan. Hey! Ada pegawai kelurahan yang baru datang sesiang ini lho!
BRI

BRI

Ke BRI Unit Weru. Ambil uang transferan kontributor Proyek Buku Gotong-Royong sama titipan uang Kembung dari adiknya di Jakarta.

Seperti biasa, antri. Terpampang juga tulisan peraturan baru yang belakangan ini sangat merepotkanku : "NOMOR YANG LEWAT AMBIL LAGI".

Terus terang, biasanya aku menyempatkan ambil antrian dulu pagi-pagi lantas pulang, nunggu waktu kembali ke BRI. Atau minta tolong teman yang kerja dekat BRI untuk mengambilkan antrian. Tapi apa daya, sekarang sudah tidak boleh begitu. Seringkali tiap aku kembali ke BRI, nomor yang kubawa sudah terlewati. Huh, jadinya ikut antri dengan nomor baru lagi. Begitulah!
Aku, Bunda!

Aku, Bunda!

akulah yang memaksamu memuntahkan seluruh makanan yang baru masuk ke lambungmu
membuatmu mual, merasakan morning sickness yang melelahkan
aku, bunda, yang barusan memenangkan piala kejuaraan berebut ovum
mengalahkan seribu satu spermatozoid, menumbangkan mimpi mereka, mengantarku kepada harapan indah menjadi family hoping di tengahmu dan ayah!
yang akan merebut kasihsayang, menyita finansial, meminta waktumu tanpa jeda
sembilan bulan, bahkan seumur hidupmu nantinya

tapi kulihat senyum itu
senyum bahagia bunda melihat hasil tes urine dengan strip test pack
saat human chorionic gonadotropin terdeteksi
mengindikasi keberadaanku
aku, bunda, yang belum-belum sudah menyusahkanmu
Tergerus Subuh

Tergerus Subuh

Aku kesetanan
di malam penuh dendam
saat gelap memekat dalam
menjadikanmu lebur dengan alam

Asal kau senang
asal kau menang
aku rela merentang
di jejaring nafsu iblis mengguncang

Asa punah
tak ada niat pun berbenah
ditelan bungkahan tanah
dan aku lelah!

Hingga senandung subuh
mulai merengkuh
aku melenguh
tergerus segala angkuh

Adakah pintu masih terbuka, tuhan ...
Sayangku Padamu

Sayangku Padamu

puteriku sayang,
cukuplah, biar sementara ini kau mengadu pada bantal-guling di kamarmu
tentang ayah yang otoriter
atau ayah yang suka melarangmu ini-itu
: harapku, kelak kau mengerti mengapa ayah begini

iya, ayah memang keterlaluan
ayah hanya ketakutan
ketakutan yang bagi ayah sangatlah beralasan
meski di matamu tak seharusnya begini ayah lakukan
Rezeki

Rezeki

Rezeki mutlak Allah-lah yang menentukan.

Siang panas dengan sinar matahari memanggang. Seperti biasa, terik di atas kepala itu tidak menghalangi langkahku membagikan brosur undangan kepada warga untuk menghadiri demo/ promosi (keur) kacamata. Kali ini di rumah Pak RT dukuh Gangin Lor, Karakan. Menembus panas siang, tentu dengan harapan doa agar pas jam demo banyak yang datang untuk cek ketajaman penglihatan mata (keur) dan tentu saja membeli kacamata.

Kemarin, panas mentari juga menemani, tidak satupun warga datang memenuhi undanganku. Artinya, semaksimal apapun usaha kita sebagai manusia, belum tentu Allah menghendaki rezeki menghampiri.
Sepi Merindu

Sepi Merindu

karena hati terkukung sepi
keinginan yang tiada ditanggapi
harap demi harap kadang muncul lantas menepi
padahal waktu sudah kukemas sedemikian rapi

mengapa begitu tega kau tidak datang
buah cinta di kebun duka sudah terlanjur matang
akankah terbiar membusuk di pucuk batang
terlalu jauhkah engkau, lebih jauh dari gemintang?

kesalahanku adalah berharap
kepedihan yang menyergap
terlalu kerap
hingga mulut takdir makin gagap

haruskah cinta ini berubah menjadi benci
haruskah pujianku bergantikan caci
haruskah segala pemberian kuungkit rinci
musnah ikhlas diloker laci

teruslah dengan maumu
kejarlah mimpi-mimpi semu
kita tak perlu lagi bertemu
aku muak rayumu

turen brumbung, 07062011
Hingga Detak Jantungku Berhenti

Hingga Detak Jantungku Berhenti


Judul : Hingga Detak Jantungku Berhenti
Penulis : Nurul F Huda
Penerbit : Jendela, Dzikrul Hakim
Tebal : 272 halaman
Tahun : 2011

Bersyukurlah, sebagaimana Nurul F Huda menikmati kehidupannya. Tidak mudah menjadi pribadi seperti Nurul. Allah Swt yang paling berhak memilih hamba-Nya untuk berbicara pada ummat tentang bagaimana memaknai kehidupan dengan syukur. Dan kali ini, Dia memilih Nurul F Huda.

Nurul adalah bocah kelas 5 SD yang tomboy, tahan banting, selincah bola bekel, dan hampir tidak bisa dibedakan dengan anak laki-laki, karena keaktifannya, termasuk penampilan, dengan rambut pendek, celana, dan kaus. Ya, paling tidak sampai kelas 5 SD itulah, Nurul termasuk anak yang aktif, baik di sekolah maupun di rumah. Hingga saat ia mendadak menjadi sering sesak napas, mudah lelah, berkeringat dingin, dan memucat. Hingga saat diperiksakan ke dokter, Nurul didiagnosa memiliki kelainan jantung!


Dalam buku lakon hidupnya ini, Nurul bercerita banyak tentang keadaan dirinya dari sejak divonis memiliki kelainan jantung. Bagaimana ia harus meminum obat setiap hari dan cek setiap bulan ke dokter. Sangat manusiawi ketika Nurul mempertanyakan mengapa ini menimpa padanya. Tapi sungguh luarbiasa ketika akhirnya wanita perkasa ini menemukan dirinya sebagai hamba yang tabah menjalani takdir dari tuhannya. Bahkan ia tersenyum dalam dukalara. Derita yang membawanya pada cahaya. Jilbab, taklim, dan dakwah pena.

Bacalah buku luarbiasa ini, Anda akan menemukan Nurul F Huda, yang barangkali hanya Anda kenal lewat karya-karyanya yang banyak bertebaran. Di dalamnya, akan Anda temukan sosok pilihan Allah, yang mampu menjadikan derita sebagai kebahagiaan.

Nurul dengan fasihnya berkisah, bagaimana akhirnya dokter menyatakan ia harus dioperasi. Dibedah kulitnya, digergaji tulang dadanya untuk mempermudah mengangkat jantung. Lalu jantungnya diangkat, dibelah, dan mengganti katubnya dengan katub jantung buatan. Setelah selesai, jantung ditutup lukanya, tulang dadanya dikaitkan dengan kawat, barulah kulit dijahit. Betapa luarbiasa juga Abah dan Ibu menunggu proses operasinya yang semula diperkirakan 4 jam ternyata berlangsung 10 jam!

Tidak hanya itu, Nurul akan banyak bercerita juga, tentang mengerikannya saat pencabutan benang pasca kering luka operasi, penyedotan air yang merendam jantungnya, saat operasi mengeluarkan jarum yang menancap di telapak kakinya, juga operasi lutut ketika kecelakaan.

Belum cukup mengerikan ceritanya? Nurul akan membuat Anda turut merasakan deritanya saat ia mengandung. Bagaimana seorang pengguna katub jantung buatan harus menjalani kehamilan, ketika ia harus menjalani terapi menggunakan komarin yang harus disuntikkannya sendiri di lengan setiap hari, demi perkembangan janin dalam rahimnya. Jujur, saya sering berhenti membaca, menunda melanjutkan, karena tidak tahan membayangkan betapa mengerikan apa yang Nurul jalani.

Dari semua lakon hidup itu, banyak pelajaran yang Nurul bagikan. Bagaimana kita harus bersyukur dengan apa yang Allah tentukan. Memaknai setiap kisah hidup dengan senyuman. Seperti Nurul memotivasi diri dengan menyatakan, bahwa Rasulullah pun pernah dibelah dadanya.

Membaca buku ini, Anda tidak semata diajak menikmati kengerian perawatan medis yang dijalani Nurul hampir sepanjang usianya, tapi lebih luarbiasa dari itu semua adalah, bagaimana kita 'diajari' Nurul lebih bersyukur. Kalau Nurul dengan kondisinya seperti itu tidak lepas dari bersyukur, bagaimana dengan kita yang Allah beri kesehatan secara cuma-cuma?

Dalam buku ini, Nurul selain mengungkap profesionalisme dunia kedokteran dengan segala layanan dan kontribusi dalam kesehatan, juga membuktikan betapa semua ilmu manusia itu sangat remeh dibandingkan dengan kuasa Allah. Nurul telah membuktikannya. Bacalah!

Nurul menuntaskan lakon hidupnya ini sampai saat ia jadi single parent untuk kedua anaknya pasca berpisah dengan suami. Begitu buku ini diterbitkan dan publish di Facebook, saya langsung kepengin membelinya. Saya belum bisa pesan secepat mungkin karena budget belum ada.

Tanggal 11 Mei saya kirim inbox ke akun Nurul F Huda Full, "Mbak, mau pesan Hingga Detak Jantungku Berhenti. Harga+ongkir berapa? Rek BCA ya kalo ada. (alamat Sukoharjo, Jateng, kalo udah transfer nanti saya kirimkan alamat lengkape)."

Lama saya menunggu konfirmasi balasan dari penulis luarbiasa itu. Belum ada balasan, sampai di Facebook heboh sebuah berita duka: "....Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.... Telah meninggal dunia Nurul F Huda, seorang penulis sekaligus pendiri FLP Jogja, hari Rabu 18 Mei 2011 pukul 03.15 WIB di RS Sardjito Yogyakarta."

Entah mengapa, seperti ada yang menyentak dada saya. Saya tidak mengenal siapa Nurul F Huda, tapi berita duka itu telah membuat saya bergetar hebat.

Akhirnya, saya berhasil mendapatkan buku luarbiasa almarhumah Nurul F Huda melalui Bunda Pipiet Senja. Buku luarbiasa yang sangat recommended! Selamat jalan, Nurul F Huda. Jadilah bidadari, sebagaimana doamu di halaman Persembahan buku terakhirmu ini. Teriring doa kami untukmu.

Sungguh, tak rugi Anda membaca buku hebat ini. Dan jangan hanya membaca, melainkan BELILAH! Karena keuntungan royalti almarhumah sangat dibutuhkan, untuk kedua anak yatim piatu yang ditinggalkannya. Demikian, semoga bermanfaat!

02062011 00:27
Disuntik

Disuntik

Demo di dukuh Genjeng, Karakan, Weru.

Di rumah Pak RT. Beberapa warga yang menerima undangan promosi yang kubagikan sebelumnya, mulai berdatangan. Mulai pengecekan alias keur mata. Bergantian aku mengecek mereka. Solikin, RO baru yang menyertaiku, belum begitu bisa mengecek. Kulihat ia agak bingung, jadi aku tidak memintanya mengecek. Biarlah dia melihat cara mengecek dulu.

Satu persatu warga yang datang kucek. Ada yang minus silinder, dan pasti ada yang plus. Pengecekan berlangsung cukup meriah karena para warga banyak menyelingi dengan canda, terutama saat ada yang dicek salah menyebutkan angka yang ditunjuk. Pasti semua berkomentar dan menertawakan, padahal pas dia dicek pun kesulitan membaca angka cek jarak pandang jauh itu.
Jamaah Asar

Jamaah Asar

Jeda waktu setelah demo promo pertama dengan demo kedua, sekitar jam setengah tiga siang. Jelang asar, aku rehat sejenak di sebuah masjid kecil di salah satu dusun di kelurahan Karakan, Weru.

Jelang masuk waktu asar, aku berwudhu. Seorang penjual es tong-tong (baca: es krim) keliling, ikut rehat di masjid. Ia shalat sunah. Kulihat jam dinding sudah menunjuk waktu asar. Lekas kukumandangkan azan, "Allaahu akbar, allaahu akbar!"

Selesai azan, aku laksanakan sunah dua rakaat. Ada tiga ibu-ibu (tepatnya simbah-simbah alias nenek-nenek) kulihat berdatangan, mereka mendirikan shalat di barisan shaf putri.

Tak lama kemudian muncul kakek-kakek (satu orang, jangan diartikan jamak yak!) yang juga langsung shalat. Aku menunggu semua menyelesaikan shalatnya untuk iqamat.

Lho? Lho?! Kok ... kulihat para ibu-ibu kok pada melepas mukena dan, meninggalkan masjid?!
Seni Metromini

Seni Metromini

Jreng ...!

Genjrengan gitar sebagai pembuka. Aku tak begitu memperdulikannya. Aku capek.

Lelaki bergitar itu mengucap salam. Para penumpang enggan sekedar menjawabnya. Aku sendiri hanya menjawab dalam gumam tak terdengar. Kan wajib tuh menjawab salam.

Lelaki pengamen itu lekas memulai narasi pembuka berupa ucapan minta izin pada sopir dan kondektur untuk berdendang lagu. Juga permintaan maaf pada penumpang jika kehadirannya mengganggu. Aku masih cuek juga.

Beberapa detik berikutnya, lelaki itu sudah mulai mengalunkan sebuah lagu. Lagu yang asing di telingaku. Lagu baru mungkin. Sekian lama menjadi pelanggan setia metromini P-24 jurusan Senen-Priok, kayaknya baru sekali ini aku mendengar lagu itu. Juga pengamennya, kayaknya orang baru. Cukup merdu. Nada indah perpaduan suara bagus si lelaki dan permainan gitarnya yang tidak kacangan. Aku mulai terusik untuk menyimaknya.

Ujian Ketekunan

Ujian Ketekunan

Persiapan yang harus benar-benar matang. Seperti biasa, Pak Kepsek (Kepala Sekolah) mempercayakan semua padaku. Aku selaku Wakaur Kurikulum (Wakil Kepala Urusan Kurikulum), adalah satu-satunya tenaga pengajar yang memang harus beliau pilih untuk mengurus segala sesuatunya. Apalagi ini adalah peristiwa paling penting bagi anak-anak didik kami selama tiga tahun belajar di sebuah SMP Muhammadiyah daerah kabupaten Gunung Kidul ini. Ya, UNAS, Ujian Nasional penentu kelulusan bagi anak-anak kelas tiga.

"Anak-anak," kataku, siang ini, di ruang kelas 3A, saat mata pelajaran IPS yang kuampu, sambil memandang wajah-wajah anak didikku yang tampak serius memperhatikan ucapanku, "seperti kita semua tahu, UNAS sebentar lagi akan dilaksanakan. Tak ada yang bisa membantu kalian untuk lulus, kecuali diri kalian sendiri, dan tentu juga pertolongan Allah. Saya harap kalian mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."

Pikun

Pikun

Demo di dukuh Tanjung RT 01/02 Punduhsari. Pak RT-nya bernama Pak Hadi, tapi saat demo beliau tidak di tempat. Yang ada Bu Hadi yang sedang menjemur padi hasil panen.

Di pekarangan beliau ada masjid kecil yang kurang terawat. Aku istirahat di situ bersama Iswanto, RO baru.

Usai sholat duhur, aku membagikan brosur undangan. Setelah selesai, lumayan capek, aku sejenak tiduran di masjid. Setelah jam demo tiba, aku menuju serambi rumah Bu Hadi. Ada simbah-simbah (baca: nenek-nenek) di situ. Orang tua sepuh itu menyalamiku dan bertanya, "Rumahnya mana, Nak?"

"Saya dari Tawang, Mbah," jawabku.

"Kesini nyari Pak Hadi, ya?"

Tega

Tega

Pulang kerja sekaligus menjemput istri dan mampir puskesmas, jenguk ibunya Mas Sisri yang sakit. Istriku tadi juga menjenguk anaknya Mbak Erna, teman kerja yang menggantikan Mbak Peh, yang sakit demam.

Di sebelah ibunya Mas Sisri, ada anak kecil yang juga dirawat. Kata dokter si anak harus pindah ke rumah sakit lain yang lebih besar karena tidak bisa hanya dirawat di puskesmas. Aku tak begitu paham sakit apa. Aku hanya terusik cerita Ana, anak Mas Sisri tentang keluarga anak yang sakit itu.

"Kasihan sekali, itu ibunya mengurusi sendiri anak yang sakit. Suaminya tukang judi nggak mau peduli sama anaknya," cerita si Ana.

Saat jalan pulang, istriku juga berkisah, "Yah, tadi pas jenguk anaknya Mbak Erna, kasihan, masak yang jagain Mbak Erna sendiri sama adiknya. Katanya dari semalam nggak ada yang gantiin jaga."

Waduh!

Waduh!

Sudah lewat jam 10 saat aku meninggalkan kantor (hehe, sekarang pakai acara 'ngantor' segala nih!) menuju Dukuh Lemahbang, Candirejo, Semin, Gunungkidul. Hari ini mau promosi alias demo keur kacamata di RT 08 RW 09. Iyak, emang betul, ini sudah masuk DIY. Jadi bisa disebut promo antar provinsi, meski cuma di perbatasan.

Sesampainya di Lemahbang, aku ke rumah Pak RT 01 dulu buat booking tempat untuk demo berikutnya. Setelah itu, memulai membagikan brosur undangan ke warga RT 09, sudah jam setengah duabelas. Pas siang terik-teriknya! Dimulai dari rumah warga paling utara dekat perempatan.

"Bu, mau ngasih undangan promosi di rumah Pak RT jam dua nanti," kataku dalam bahasa Jawa sehalus mungkin.

"Iya, Mas, makasih," jawab si Ibu sambil menerima kertas undangan yang kuulurkan.

Sepucuk Surat untuk Rasulullah

Sepucuk Surat untuk Rasulullah


Sepucuk Surat untuk Rasulullah
Harga : 39.900

Penulis : Ady Azzumar, dkk
Kata Pengantar : Sinta Yudisia
Editor : Emzy Azzam
Desain Sampul : Akhi Dirman Al-Amin
Pemeriksa Aksara : Dudy Art
Penerbit : Inzpirazone Publishing
Cetakan 1 : April 2011


Alhamdulillah, aku adalah salah satu penulis yang naskahnya dimuat dalam buku ini.

Endorsment:
"Setiap kali menelisik karya anak FLP, saya senantiasa menemukan semangat, cinta dan dakwah yang tinggi. Semuanya berawal dari ketulusan dan keikhlasan berkarya, mengabdi dan demi mencerahkan ummat. Maka, buku inipun telah mencakup semuanya itu. Salam Kreatif dalam Cinta dan Dakwah!" (Pipiet Senja, novelis asli Sumedang)

Senyuman Bidadari

Senyuman Bidadari

Awalnya, saya menulis cerpen untuk saya baca sendiri. Lalu saya coba tawarkan teman-teman membacanya. Pertama kali saya membuat 6 judul cerpen, semua bernuansa Islami. Saya ketik, saya jadikan sebuah buku kumcer, di-fotocopy dan dijilid sendiri dengan sedikit sentuhan kreatifitas. Sampul saya buat sendiri dengan bantuan seorang teman, jadilah sebuah buku utuh pertama. Tentu dengan kwalitas seadanya. Sampul hasil print dengan kertas foto, isinya fotocopy HVS.

Kumcer berisi 6 judul cerpen itu saya pinjamkan ke teman-teman. Setiap peminjam wajib mengisi form lembar komentar yang berisi kritik dan saran setelah membaca keenam cerita tersebut, dan memilih satu cerpen favorit. Tak disangka banyak juga yang berkenan membaca. Jadilah buku digilir teman-teman. Bahkan buku beredar lama sekali, yang pulang ke saya adalah lembaran-lembaran komentar para peminjam.

Dari kritik dan saran teman-teman, saya melakukan banyak perbaikan dalam menulis. Sampai saya buat 6 cerpen lagi. Saya perlakukan sama dengan keenam cerpen pertama. Para peminjam pun memenuhi lembaran-lembaran komentar dengan kritik dan saran mereka. Beberapa cerpen jadi favorit mereka.

Begitulah, sampai saya buat kumcer sebanyak 4 kali, jadi total 24 judul cerpen. Beberapa pembaca menyarankan agar saya menerbitkan cerpen saya, sebagian mereka mengatakan, bahwa cerpen saya tak kalah bagus dengan karya anak-anak FLP. Saya tak tahu dunia penerbitan buku. Buta sama sekali. Yang saya tahu cuma membaca karya orang lain, kemudian tergerak untuk ikut berkarya.

Sampai saat mengenal Facebook dan dari jejaring sosial inilah, saya berteman dengan Penerbit Leutika. Saya sempat menawarkan cerpen-cerpen saya ke Leutika, tetapi ditolak karena Leutika tidak menerbitkan kumpulan cerpen. Hingga saat Leutika menghadirkan Leutika Prio sebagai sarana penerbitan indie bagi para penulis pemula. Saya langsung tertarik dengan paket-paket self publishing yang ditawarkan Leutika Prio. Dengan penuh semangat, saya memilah dan memilih cerpen-cerpen saya untuk saya coba terbitkan melalui Leutika Prio. Duapuluh cerpen saya kumpulkan, dan terbitlah kumpulan cerpen pertama saya via Leutika Prio, dengan judul Senyuman Bidadari. Judul yang saya ambil dari salah satu cerpen yang dimuat di dalamnya.

Mungkin saya hanya bernafsu untuk menebitkan karya saya tanpa memikirkan pemasarannya. Namanya saja self publishing, jadi harusnya sayalah yang musti aktif mempromosikan buku saya ini. Tapi saya tidak berpikir sampai sejauh itu. Yang saya pikirkan hanya bagaimana saya bisa menerbitkan buku.

Barulah saya berpikir, buku saya cukup tebal, sekitar 263 halaman 20 judul cerpen. Tentu harganya pun cukup tinggi, Rp. 45.000; Pastinya orang juga mikir untuk mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli buku indie seorang penulis yang belum terkenal, bahkan namanya saja mungkin baru pertama kali dengar.

Baiklah, mungkin dengan sedikit mengintip komentar-komentar teman-teman yang pernah baca kumcer saya, barangkali ada yang berminat membelinya. Sebenarnya, hal yang paling membahagiakan saya adalah apabila karya saya ada yang berkenan membaca, apalagi bisa ada manfaat dari membacanya.

Di bawah ini, saya lampirkan beberapa komentar teman-teman, per-judul cerpen yang dibaca. Semoga ada yang berminat untuk memiliki koleksi cerpen saya tersebut.

Cerpen Senyuman Bidadari. Berkisah tentang cinta Haris kepada Ifani, bagaimana seorang Ifani dengan keunikannya mampu meluluhkan Haris hingga akhirnya melamar si gadis.

"Tokoh Ifani yang menakjubkan!" Desi Eka Wati, Mojosari Alasombo Weru.

"Cerpen yang telah berhasil meninggalkan kesan yang kuat di benakku, begitu aku selesai membacanya." Budiyono Dion, Budirejo Pakisan Cawas.

"Menyentuh." Mbak Peh, Kalimider Tegalsari Weru.

"Gak nyangka aja, penuh kejutan!" Inka Adelina, Candi Ngreco Weru.

"Wah, kalo mbayangin ceritanya bisa jadi beneran, mengharukan banget tuh!" Roni Hermanto, Sidowayah Ngreco Weru.

"Subhanallah... kejutannya di bagian akhir ternyata. Ifani Sang Bidadari dan Haris berhati malaikat. Very like this!" Anosuke Sagara (FB)

"Great!! Litha banyak belajar dari sini." 'Talitha Bio Huriyah' (FB)

Cerpen Andai Pengantin Itu Kita. Berkisah tentang dua insan yang sudah terikat khitbah menuju pernikahan.

"Menyentuh perasaan." Yuni, Candi Ngreco Weru.

"Enak dinikmati, jadi ikut terharu membayangkan perasaan tokohnya." Mas Wib, Sidowayah Ngreco Weru.

Cerpen Tanda Cinta. Tentang Tom, remaja yang hidup penuh kesenangan. Bagaimana ketika Allah menyentilnya dengan sebuah tanda cinta.

"Temanya lain. Realitas kehidupan yang kadang terlupakan." Nurda, Tegalsari Weru.

"Bagus dijadikan perenungan." Desi Eka Wati, Mojosari Alasombo Weru.

"Cerpen ini menyadarkan aku, betapa sekarang aku begitu jauh dariNya." Aris, Sidowayah Ngreco Weru.

Cerpen Gadis yang Menyembunyikan Cintanya. Tentang Firda dan perasaan cintanya pada seorang pemuda.

"Menegangkan, membuat penasaran. Ditambah endingnya sama sekali tak terduga." Winda Yuliana, Ponpes Al Hikmah.

"Sweet banget!" Fitri, Sidowayah Ngreco Weru.

"Sangat menyentuh hati." Nuraini I Elyana, Sidowayah Ngreco Weru.

"Mengharukan." Yuni Susilowati.

"Saya nangis waktu ngebacanya. Harus tanggung jawab nih!" Shifwa, Ponpes Al Hikmah.

"Mungkin emang cinta lebih baik untuk tidak diungkapkan daripada kecewa dan merusak hati." Fikriyah Mujahidah, Ponpes Al Hikmah.

"Endingnya itu lho ... keren bangetz!" Dhiemas, Ponpes Al Hikmah.

"Bagus, mendidik, manambah pengetahuan." Melinda Eka Putri, Sidowayah Ngreco Weru.

"Aku suka pada tokoh utama yang berjiwa kuat, tabah dan sabar." Anita, Candi Ngreco Weru.

"Tidak berbelit-belit." Isna Nur H, Krebet Tawang Weru.

"Cukup menegangkan." Susi M, Ponpes Al Hikmah.

Cerpen Awasi Cintamu!. Tentang sebuah ujian cinta, lebih cinta pada Allah ataukah ciptannya yang fana.

"Entah kenapa saat kubaca cerpen ini, airmataku bisa keluar." Eva HH, Sidowayah Ngreco Weru.

"Bisa buat koreksi diri sendiri." Adzkiya, Kedungkluwih Tegalsari Weru.

"Ceritanya bikin terharu." Roni H, Sidowayah Ngreco Weru.

"Memukau." Evi Ambarwati.

Cerpen Menantu Ibuku. Seorang lelaki yang harus menerima pasangan hidup pilihan ibunya.

"Menarik. Pengorbanan dan keikhlasan. Alur yang membuat penasaran." Mbak Peh, Kalimider Tegalsari Weru.

"Asyik bacanya, kayak cerita di film-film." Iid, Krebet Tawang Weru.

"Aku suka sama alur cerpen ini, seolah bisa membawaku ikut merasa sebagai tokoh 'aku' dalam cerita ini." Irwan, Sidowayah Ngreco Weru.

Cerpen Hati Pualam Intan. Tentang persahabatan Intan dan Yanti dan kehadiran seorang lelaki di antara keduanya.

"Alur ceritanya sudah sesuai dengan apa yang diinginkan penulis." Abu Zahra, Pekalongan.

"Sempat berandai-andai punya istri seperti Intan." Tri Hartono, Kauman Weru.

"Mendalam dan menyentuh hati." Nur Handayani.

"Sebuah persahabatan yang saling pengertian dan rela mengorbankan perasaan demi persahabatan." Nurri F.

"Sepertinya cerpen ini ditulis dari hati sang penulis." Wahyu Hidayat, Sidowayah Ngreco Weru.

"Saya kagum dengan sosok Intan." Yeni Nurmalitasari.

Itu beberapa komentar dalam cerpen saya. Semoga ada yang tertarik untuk memiliki kumcer perdana saya.

Oh, ya, untuk yang ingin mengintip salah satu cerpen yang masuk dalam kumcer Senyuman Bidadari, silakan baca cerpen Cempluk di notes fb saya.

Pemesanan buku kumpulan cerita pendek Islami Senyuman Bidadari bisa langsung inbox fb Leutika Prio, harga Rp. 45.000; ongkos kirim Jawa Rp.10.000; luar Jawa Rp.15.000; atau bisa langsung ke fb saya, Suden Basayev.

Terima kasih.
Rumah Sakit

Rumah Sakit

Menjenguk Bowo, temanku yang habis operasi di rumah sakit karena kecelakaan lalulintas. Berangkat bareng Mas Yuli yang membawa mobil berpenumpang Mbak Fitri, Endang, Abdu, Fira, Gempur dan Aqib. Di belakangnya, aku sama istri diikuti Saiful boncengkan Mamak.

Mas Yuli dasar preman jalanan, ngebut bat-bit-but! Dengan pertimbangan kehamilan istri, aku kehilangan jejak mobil Mas Yuli karena kalah kecepatan.

Dua motor aku-istri dan Saiful-Mamak, akhirnya sampai juga di RS Ortopedi Solo. Setelah parkir, mencoba mencari lihat mobil Mas Yuli siapa tahu parkir dekat kami, tapi nihil.
USG

USG

Demi memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan akan keadaan dan posisi janin di kandungan istri, kami meminta USG ke Dokter Sundari di Cawas. Berbekal surat pengantar dari Bu Bidan Mul.

"Ini kepalanya," kata Bu Dokter sambil menunjuk ke layar monokrom yang memperlihatkan hasil USG. "Ini kaki, ini tangan, ini ... bla-bla-bla ...."

Aku ikut tersenyum melihatnya. Senang saat Bu Ndari juga bilang, "Kondisi baik, denyut jantung normal, posisi sudah pada tempatnya."

"Posisi tidur, Bu?" tanya istriku.
VCD Bajakan

VCD Bajakan

Ada pembukaan toko Mitra Siswa baru di Tawang. Sepulang kerja, bersama istri aku mampir kesana. Disambut badut karakter Donal Bebek di halaman parkir.

Masuk ke dalam, melihat-lihat. Lantas membeli beberapa keperluan rumah.

"Sudah, Bun?" tanyaku. Istriku mengangguk. Kami ke kasir.

Usai membayar belanjaan, kami beranjak hendak pulang. Saat itulah, tukang VCD bajakan di serambi toko Mitra menyetel VCD Briptu Norman Kamaru yang sedang menyanyi lip-sync Chaiyya-Chaiyya-nya Mas Shahrukh Khan.
Cerpen

Cerpen

Sore jelang maghrib saat aku ke rumah kulon. Istriku yang menunggu kedatanganku sedari tadi melempar senyum saat aku tiba. Menyalamiku.

Aku duduk di sebelahnya yang tengan memegang henpon.

"Nulis apa, panjang amat?" tanyaku menjumpai deretan huruf di kolom tulis pesan di henponnya.

"Balesin SMS-nya Mbak Ratna," jawabnya.

"Kirain nulis cerpen," kataku, "Nulis SMS panjang begitu bisa kok suruh bikin cerpen nggak pernah mau."

Penampakan 2

Penampakan 2

Padahal awalnya berniat tidak bilang ke Pak Tanto soal kejadian heboh tempo hari. Tapi tadi Mbak Peh malah kelepasan ngomong, "Kemarin ada kehebohan di ruang les, lho, Pak."

"Ada apa?" tanya Pak Tanto.

"Anak-anak les pada lihat penampakan, sekelebat bayangan putih!"

Pak Tanto bukannya kaget malah cerita, "Oo ..., ada yang lihat juga to? Kirain cuma aku yang lihat ..."

Mbak Peh dan istriku saling pandang. "Pak Tanto pernah lihat?"

"Iya. Dulu waktu awal-awal kerja di sini, di lantai atas seperti melihat bayangan putih duduk di depan pintu!"

Blaik!

Kabur

Kabur

Oi ... apa ini masuk kategori kabur ya?! Habis mau gimana lagi!

"Yah, dapat SMS dari Mbak Mia," istriku berkata, "kata bapak suruh ke rumah kulon*, mau tandur** di sawah."

Waduh! Ke sawah?! Jujur, aku kan paling nggak bisa ngerjain kerjaan sawah, ndaut***, mbanjari****, menanam pun aku tak terampil. Meski anak petani tapi dari kecil, aku (juga adik-adikku) tak ada yang mau ke sawah, jadi sama sekali nggak bisa kerjaan sawah. Paling kalau ke sawah dulu cuma jaga saat banyak burung pipit yang menyerbu tanaman padi, atau waktu harus mengusung hasil panen pulang. Tapi jangan tanya kerjaan tandur dan memanen, sama sekali nggak bisa! Kacau kan?!

Oiya ... "Di sini kan masih usung-usung lemah*****," kataku. Memang sih, beberapa hari ini, kami sedang asyik mengusung tanah dari tetangga depan rumah yang mengurangi tanah pekarangan yang terlalu tinggi dan dibawa menimbun kebun samping rumahku yang terlalu rendah dari jalan.

Penampakan

Penampakan


Sore saat menjemput istri. Eh, tumben nunggu di luar, biasanya masih duduk manis di dalam. Tumben juga dua temannya masih di situ, Mbak Peh sama Wiyanti.
"Assalamu'alaikum," salamku.

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.

"Nanti kemana-mana harus siap mengantar Mbak Tya lho," kata Mbak Peh ditujukan padaku.

Aku belum menanggapi saat Wiyanti menyahut, "Soalnya habis takut ada penampakan ..."

Aku hanya senyum. Mereka biasa bercanda. Istriku yang terlihat capek cuma memanyunkan bibir sambil berjalan dan duduk di jok motor bututku.

"Emang ada apa?" tanyaku.

"Tadi, anak-anak les yang di lantai atas dilihatin penampakan."

"Masa sih?" aku tidak percaya.

Lucu

Lucu

"Yah, lucu deh," istriku berkisah, "Bos kan mulai nyari karyawan baru karena sebentar lagi aku sama Mbak Peh sudah mau keluar."

Istriku yang sudah mulai masuk tujuh bulan kandungannya, memang sudah berencana keluar dari Prima, diikuti Mbak Peh yang mau pindah ke Bayat ikut suaminya.

"Iya, apa yang lucu?" tanyaku.

"Bu Ning kan pesan sama FO Tawangsari buat nyariin karyawan baru. Akhirnya ada seorang yang mau, dia tadinya ngajar di TK, tapi mau alih profesi karena di TK tempatnya mengajar kan gajinya tak seberapa, sementara dia punya tanggungan anak tapi suaminya tidak bertanggung jawab."

Aku dengarkan saja si ceriwis ini berkisah. Hehe.

Hapalan

Hapalan

Setiap malam senin, aku dan istri mengikuti kajian tahsin dan tahfidz Quran di masjid As Sajadah Kalimider. Yang mengajar Mas To, kakak iparku, kakak kandung istri. Memang baru tahap awal. Menghapal dan memperbaiki bacaan surat-surat juz 'amma.

"Hapalan itu tidak berada di dalam kepala," Mas To menjelaskan, "tapi di luar kepala. Ketika ia diperlukan maka kita memanggilnya. Jadi kadang hapalan itu hilang, karena memang letaknya di luar kepala. Muraja'ah, mengulang-ulang hapalan adalah satu-satunya cara agar hapalan itu tidak cepat hilang."

Yang mengikuti memang tak banyak, paling lima orang. Kadang berkurang kalau ada yang berhalangan hadir. Namanya juga kajian menunggu isya' dan tanpa ada undangan.
Keluhan Kelelahan

Keluhan Kelelahan

Duduk di serambi masjid. Menikmati hembusan angin, sepoi yang sungguh nikmat. Menyelonjorkan segala kepenatan, menyandarkan keletihan di dinding masjid.

Lelah. Siapapun pernah mengalami. Manusiawi. Setiap aktivitas pasti akan berpuncak pada kondisi itu. Bahkan orang yang kesehariannya hanya tidur pun juga akan mengalami kelelahan. Iya kan? Saya pernah mengalami kok. :)

Kira-kira adakah hal tertentu yang didapatkan dari hasil jerih kelelahan kita? Seyogyanya memang dari sebuah kelelahan kita bisa memperoleh suatu imbalan. Baik itu berupa uang jika ia lelah karena bekerja mencari maisyah, atau sebuah kepuasan batin bagi yang memang bersusah dengan kreativitas yang menghasilkan karya. Nah, bagaimana jika lelah kita tidak menghasilkan apapun yang bisa membuat kita tersenyum puas akannya?

Bekerja melelahkan tanpa imbalan, misal berdagang keliling tapi sepi pembeli. Membuat sebuah karya seperti melukis tapi hasilnya amburadul. Atau berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk atasan tapi malah mendapatkan marah padahal melelahkan. Nah, bagaimana menyikapi lelah yang seperti ini?
Kaos Kaki

Kaos Kaki

Sudah dari tadi azan maghrib, terburu-buru kami hendak berangkat ke masjid. Istriku langsung menyahut mukena yang belum sempat dilipat masih menumpuk bersama cucian kering di atas dipan.

"Ayo, Yah, keburu telat," ajaknya.

Kelar berwudhu di padasan, lekas kami berjalan ke masjid.

Sepulang jamaah maghrib, istriku langsung menyibukkan diri dengan melipati pakaian kering.
"Yah, kaos kakinya tinggal satu, pasangannya kok nggak ada?" istriku yang sudah kelar melipat memperlihatkan kaos kakinya yang tersisa satu.

"Coba tanya Mamak, tadi kan beliau yang mengangkat jemurannya," usulku.

"Dicari dulu, siapa tahu cuman di tumpukan sini."