Loading...
Sunday, May 30, 2021

Lebaran Tanpa Bapak

Cernak Lebaran Tanpa Bapak

Oleh: Wakhid Syamsudin 

Andi sedih ketika Bapak mengatakan tidak bisa mudik Lebaran tahun ini. Melalui panggilan telpon itu pun Bapak sudah menjelaskan alasannya. Pemerintah melarang mudik karena pandemi virus Korona belum berakhir, yang dikhawatirkan terus menyebar jika banyak orang berkerumun dalam perjalanan. 

Ibu sebenarnya juga sedih, tapi berusaha menghibur Andi. “Nanti kalau suasana sudah membaik, Bapak pasti pulang. Kan di sini ada Ibu dan adik-adikmu. Lebaran pasti tetap bermakna,” kata Ibu. 

Namun Andi tetap merasa bahwa Lebaran tanpa kehadiran Bapak tidak menyenangkan sama sekali. Biasanya sekeluarga mereka bersilaturahim ke rumah saudara, atau pergi ke pasar malam dadakan di lapangan desa. Tapi tahun ini tidak mungkin menikmati suasana itu karena Bapak tidak mudik. 

Saat ada kurir datang mengantar kiriman yang Bapak janjikan, Andi sama sekali tak berminat berebut membuka paket itu dengan adik-adiknya. Begitu juga saat Ibu memilah dan menunjukkan mana barang kiriman Bapak yang ditujukan padanya, ia sama sekali tak berminat untuk sekadar menyentuh. 

“Lihatlah, ini ada dua setelan baju koko bagus, pas banget ukuranmu, Kak,” kata Ibu. Dengan segan Andi mengangguk saja, membiarkan Ibu menyimpankannya dalam lemari pakaian. 

Andi memilih keluar, pergi main. Ibu berpesan mainnya jangan terlalu capai agar tidak terganggu puasanya. Andi melihat Budi dan Dodo bermain lego di teras rumah Budi, ia segera gabung dengan mereka. 

“Kupikir kamu tidur, Ndi. Biasanya siang kamu enggak keluar main,” sambut Andi. 

“Jenuh di rumah, Bud,” kata Andi. 

“Ayo gabung sini, legoku banyak yang baru.” 

“Terima kasih,” sahut Andi senang. 

Ketiganya asyik menyusun lego. Budi berkata, “Kemarin sepi banget, kalian sih enggak ada yang main ke sini.” 

“Apa kemarin Dodo juga enggak main?” tanya Andi sambil memasang legonya. 

“Kemarin aku diajak Emak ziarah ke makam Bapak, Ndi. Jadi enggak bisa pergi main,” jawab Dodo. 

Jawaban Dodo membuat Andi terdiam. Selama ini ia memang sudah tahu kalau Dodo adalah anak yatim. Namun, ucapan temannya itu membuat Andi seperti baru menyadarinya. 

“Sedih, ya, Do, kamu sudah enggak punya Bapak?” celetuk Andi begitu saja. 

“Sudah terbiasa, kok, Ndi. Kata Emak sih dijalani dengan ikhlas saja. Bapak sudah tenang di sana,” kata Dodo datar. 

Ucapan Dodo itu terngiang terus di telinga Andi sampai saat ia sudah pulang dari rumah Budi. Ia teringat Bapak yang tidak bisa mudik Lebaran. Rupanya, itu tidak seberapa jika dibandingkan Dodo yang sudah tidak punya Bapak. 

“Bu, boleh Andi telepon Bapak?” pinta Andi pada ibunya. 

“Kakak sudah kangen lagi? Kan belum lama sudah teleponan,” kata Ibu heran. Andi mengangguk. 

Ibu memberikan telepon genggam pada Andi. Ia pun segera menghubungi nomor Bapak. “Assalamualaikum, Bapak.” 

“Waalaikumussalam, Kakak.” 

“Bapak enggak mudik Lebaran enggak apa-apa. Andi ikhlas kok. Kan masih ada waktu lain untuk kumpul lagi,” kata Andi. 

“Alhamdulillah,” kata Bapak terharu. 

“Boleh Andi minta sesuatu, Pak?” 

“Minta apa, Kak? Tambahan uang jajan?” 

“Bukan. Andi cuma minta, baju koko yang Bapak kirim kan ada dua itu. Boleh enggak kalau yang satunya Andi kasihkan ke Dodo?” 

“Oh, begitu. Boleh saja, tapi kenapa Kakak mau berikan ke Dodo?” 

“Kan Dodo anak yatim, Pak. Kasihan sudah tidak punya bapak.” 

Bapak terharu mendengar perkataan Andi. Ibu juga terlihat berkaca-kaca matanya. Bapak berkata pada Andi, “Bapak setuju sekali, Kak. Bapak bangga sama Kakak.” 

Ibu bersyukur akhirnya Andi mulai ikhlas meski Lebaran tahun ini Bapak tidak bisa pulang. Andi pun bisa merasakan bahwa dengan berbagi kehidupan menjadi lebih indah. 

Weru, 26 April 2021 

Wakhid Syamsudin tinggal di Weru, Sukoharjo. 

Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat edisi 21 Mei 2021

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP