Loading...
Wednesday, November 11, 2020

Panen Mangga

 

Saat sengatan matahari mulai panas, Mbah Tom Gembus yang tinggal di Weru, Sukoharjo, pulang dari sawah. Mbok Cempluk, istrinya, sedang pergi.

Mbah Gembus menuju ke sumur samping rumah dan membersihkan badan. Saat gebyar-gebyur mandi, terdengar suara orang memanggil. “Kulanuwun, Pak, Bu, wonten tiyange mboten nggih?” begitu suara Jon Koplo memanggil.

Nggih, sekedhap, nembe adus,” seru Mbah Gembus dari kamar mandi.

Jon Koplo adalah penebas mangga. Dia melihat-lihat satu-satunya pohon mangga yang tumbuh di pekarangan Mbah Gembus yang tengah berbuah lebat bergelantungan.

“Mangganya dijual mboten, Mbah?” tanya Koplo.

Lha berani berapa, Mas?” respons Mbah Gembus.

“Kalau boleh, Rp300.000, Mbah,” jawab Koplo. Terjadilah tawar-menawar. Disepakati harga buah mangga satu pohon itu Rp400.000.

Koplo segera mengeluarkan dompet dan menyerahkan empat lembar uang pecahan Rp100.000. Tak lama kemudian, Koplo sibuk memanen mangga Mbah Gembus.

Beberapa saat kemudian Mbok Cempluk pulang dari pasar dengan tenggok berisi belanjaan. “Dari pasar, Mbok? Tumben belanja macam-macam? Kayak lagi banyak duit saja,” sambut Mbah Gembus.


Lha memang aku lagi ketiban rezeki, Kung,” jawab Mbok Cempluk. “Rezeki apa?” tanya Mbah Gembus. “Tadi waktu sampeyan ke sawah, ada penebas membeli mangga kita, Rp450.000. Ya, aku langsung setuju dengan harganya,” kata Cempluk.

“Penebas mangga? Lha itu, aku baru saja menjualnya,” kata Mbah Gembus sambil menunjuk Koplo.

Weh ladhalah, aku sudah menerima juga dari penebas yang tadi pagi ke sini, Kung. Rp450.000! Ini sebagian sudah aku pakai belanja,” kata Mbok Cempluk.

Lha terus, mana penebasmu, Mbok?” tanya Gembus.

“Orangnya sudah bayar, katanya mau dipanen siang nanti. Kok ini malah sampeyan jual lagi, Kung?” Mbok Cempluk jadi kesal sendiri.

Mendengar keributan sepasang kakek-nenek itu, Jon Koplo menghentikan panennya. “Pripun, Mbah?  Mangganya sudah ada yang bayar sebelum saya?” tanyanya. “Mohon maaf sekali, ya, Mas. Ini duitnya saya kembalikan saja,” jawab Mbah Gembus.

Tetapi Koplo tak mau mengalah. Karena Koplo terus mendesak, akhirnya transaksi dengan penebas pertama yang dibatalkan. Namun Mbok Cempluk tetap muring- muring. Apalagi selisihnya Rp50.000.

Ya wis, Mbah. Biar Mbah Putri legawa, uang tebasnya saya tambah Rp50.000 enggak apa-apa,” kata Koplo mengeluarkan dompetnya. Mbok Cempluk semringah tak jadi merugi.

Pengirim: Wakhid Syamsudin. Weru, Sukoharjo

Dimuat di koran Solopos edisi 10 November 2020

Next
This is the most recent post.
Older Post

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP