Loading...
Thursday, October 1, 2020

Gajah Pinokio

Oleh: Wakhid Syamsudin

Ada murid baru di Sekolah Hutan Rimbun, anak gajah kecil bernama Rubi. Ia duduk semeja dengan Tian, anak lembu berkulit putih bersih. Tian sangat baik pada Rubi, bahkan sering mengajari Rubi pelajaran yang Rubi belum paham.

Sayang sekali, ada Wawa, anak monyet yang agak nakal. Ia menunjukkan sikap yang kurang bersahabat kepada Rubi. “Halo, Rubi, aku tahu kenapa hidungmu panjang,” kata Wawa saat jam istirahat dan berpapasan dengan Rubi dan Tian.

“Ada apa? Apakah ada masalah dengan hidungku?” tanya Rubi.

“Hidungmu panjang karena kamu suka berbohong, bukan? Ha ha ha ….” Wawa mengejek lalu tertawa, diikuti tawa temannya satu geng, Noma si anak kucing, Pila si anak kancil, dan Fuda si anak musang.

“Kalian ini bisanya mengganggu saja, pergilah bermain sana!” sergah Tian sambil mengusir mereka.

Wawa dan teman-temannya tetap tertawa-tawa tanpa menggubris usiran Tian. “Hati-hati, Tian, kamu berteman dengan tukang bohong, bisa ketularan,” kata Wawa pula.

“Aku bukan tukang bohong!” seru Rubi membela diri. Agak jengkel juga dia hingga belalainya bergerak-gerak.

“Lihatlah, semakin kamu berbohong, hidungmu akan semakin panjang. Seperti Pinokio,” ejek Wawa.

Sejak itu, Wawa dan teman-temannya memanggil Rubi dengan sebutan Gajah Pinokio. Rubi kesal, tetapi Tian menyabarkannya. Kata Tian, sikap Wawa memang begitu sehari-hari. Ia suka mengganggu teman yang tak disukainya.

Hari itu Rubi pulang dengan wajah muram. Ia ingin mengadu dan bertanya pada ibunya terkait hidungnya yang panjang. Ia malu diledek Wawa dan teman-temannya.

“Kenapa, Sayang? Apa sekolahmu kurang menyenangkan?” tanya ibu Rubi.

“Ibu, mengapa hidung kita panjang?”

“Ya, karena kita gajah. Dari zaman nenek moyang kita, hidung kita sudah panjang begini. Bukannya kamu sudah tahu manfaat hidung kita? Oh, ya, kamu harus menyebutnya belalai, Sayang.”

“Apa panjangnya disebabkan kebohongan kita, Bu?”

Ibu Rubi tertawa dan menggeleng. “Tidak ada hubungannya berbohong dengan keadaan belalai kita. Mengapa kamu bertanya begitu?”


Rubi menceritakan ejekan Wawa. Ibu mendengarkannya dengan tenang. Lalu ia menghibur Rubi agar tidak menganggapnya serius. “Dia hanya mencandaimu, Nak,” hibur ibu Rubi.

Siang itu Rubi bermain sendirian. Ia berjalan di hutan yang beberapa hari ini ia tinggali bersama ibu dan beberapa saudaranya. Keluarganya sebenarnya berasal dari Hutan Liar, tetapi ada bencana kebakaran besar yang membuat ia sekeluarga harus pindah ke hutan ini.

Saat itulah Rubi mendengar suara gaduh dari arah sungai. Sepertinya ia tidak asing dengan pemilik suara-suara itu. Bergegas ia berlari kecil kea rah sungai. Benar saja, di sana ia melihat Noma, Pila, dan Fuda berseru sambil menunjuk-nunjuk ke tengah sungai.

“Teman-teman, ada apa?” tanya Rubi.

Melihat kedatangan Rubi, nyaris bersamaan ketiga anak itu menjawab, “Wawa tercebur sungai dan tidak bisa berenang!”

Rubi terkejut saat dilihatnya Wawa timbul-tenggelam di tengah sungai. “Aku akan menolongnya,” serunya.

Tanpa pikir panjang, Rubi lekas menuju tepi sungai. Ia mengulurkan belalainya yang cukup panjang ke arah Wawa. “Tangkap belalaiku, Wawa!”

Wawa yang nyaris tenggelam melihat ada bantuan datang lekas menyambut uluran belalai Rubi. Ia cepat-cepat menangkap ujung belalai Rubi. Dengan cekatan Rubi menarik Wawa ke tepian. Berhasil! Ia telah menyelamatkan Wawa.

Dengan basah kuyub dan napas terengah-engah, Wawa berkata, “Untung, untung kamu datang, Rubi. Terima kasih.”

“Syukurlah, kupikir aku tak kuat menarikmu. Arus sungai cukup deras.” Rubi bersyukur puas.

“Eh, kamu memanggilnya dengan nama asli, Wa?” komentar Pila karena mendengar Wawa menyebut nama Rubi.

“Biasanya kamu mengajak kami menyebutnya Gajah Pinokio,” timpal Noma.

“Tidak apa-apa, teman-teman. Sesuka kalian saja memanggilku dengan sebutan apa,” ujar Rubi tidak marah.

“Rubi, maafkan aku, ya. Terima kasih juga karena sudah menolongku,” ucap Wawa tulus.

“Jangan sungkan, sebagai sesama makhluk Tuhan, kita harus saling membantu.”

“Aku tidak akan memanggilmu Gajah Pinokio lagi,” janji Wawa.

“Mengapa begitu?”

Wawa menunduk. “Kata ayahku, semua gajah memang berhidung panjang dan itu bukan karena berbohong.”

Sejak saat itu, Wawa mengubah sikapnya. Ia tak lagi mengejek teman lainnya. Rubi akhirnya menjadi sahabat baiknya. Sekolah Hutan Rimbun dipenuhi suasana persahabatan tanpa memandang perbedaan fisik.

***

Dimuat di Majalah Utusan edisi No. 09 Tahun Ke-70, September 2020

2 komentar:

  1. Gajahnya imut-imut... Walaupun srg dijailin tetep mau nolongin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, Kak. Gak buleh dendam-dendaman. Kalau rindu dendam bolehlah. :P

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP