Loading...
Saturday, September 5, 2020

S. Prasetyo Utomo: Kiat Menembus Kompas




Menulis cerpen untuk media massa baik cetak maupun daring, memang sangat menantang bagi para penulis. Kali ini, tidak sembarangan, saya meresume sebuah diskusi yang berlangsung pada 8 Agustus 2020 lalu, dengan seorang penulis yang berkali-kali cerpennya dimuat di Kompas. Seorang dosen di Universitas Negeri Semarang yang juga penulis cerpen yang karyanya bermunculan di media massa. Dia adalah Dr. S. Prasetyo Utomo!

Prasetyo Utomo, menulis cerpen, novel, dan esai sejak 1983. Secara khusus terkait cerpen yang bisa tembus ke Kompas, ia mengatakan bahwa semua tema berpeluang dimuat di sana. Perlu digarisbawahi; eksotisme, kebaruan, defamiliarisasi, dekonstruksi, dan sudut pandang yang berbeda menjadi obsesi redaksi. "Mohon perhatikan cerpen minggu lalu, Sasti menangkap persoalan psikoanalisis kejiwaan seorang istri," katanya memberikan contoh.

Rata-rata cerpen Kompas memang obsesi sosial (politik) seperti Seno, Joni, Faisal Oddang. Cerpen Kompas spesial dalam style, struktur ending yang mengejutkan. "Jadi, kiat awal nembus Kompas adalah angkat tema eksotis, sudut pandang baru, style memikat, segar, menyentuh empati pembaca, dan sekali lagi: ending yang tak terduga," tegasnya.

Menurut penulis senior kelahiran Yogyakarta, 7 Januari 1961 ini, semua penulis memperoleh kesempatan yang sama. Pengarang sekaliber apa pun pernah ditolak Kompas. Kegigihan para penulis yang tembus di sana akan terbayar dengan kepuasan luar biasa dan tentu menarik karena honor yang disediakan Kompas adalah Rp 1,4 juta!

Prasetyo Utomo sendiri sudah sekitar 22 cerpen dimuat Kompas cetak. Dibukukan dalam Bidadari Meniti Pelangi (Kompas, 2005) dan Kehidupan di Bawah Telaga (Kompas, proses cetak). "Rentang waktu kirim ke pemuatan 3-5 bulan," kenangnya.

Proses kreatif yang dilaluinya adalah dengan mendengar/melihat objek, membaca, dan mengimajinasikan objek. Dalam menulis cerpen, bila ide kuat, imaji lancar, struktur memikat, ia bisa menyelesaikan dengan cepat, seminggu kirim. Tapi bisa juga memerlukan waktu yang lebih lama. Menggabungkan riset, mitos, imaji, memang butuh latihan panjang, terus-menerus. Pada waktunya akan matang. "Mentok hal biasa. Saya akan mengamati objek, membaca, diskusi, dan kembali nulis," katanya.

Penulis yang selalu meluangkan waktu tiap hari untuk menulis ini, mengatakan bahwa ide yang ada tak habis untuk ditulis. Soal waktu yang paling disukai, ia mengaku, "Pagi setelah salat subuh: bening."

Saat ditanya terkait sebesar apa pengaruh selera redaktur, Prasetyo Utomo mengatakan bahwa tiap redaktur mencipta hegemoni. "Hanya saja, Kompas lebih demokratis karena dipegang lebih dari 2 orang," ungkapnya. "Karena itu, saya cenderung nulis ke Kompas."

Luar biasa, ya. Kapan kiranya bisa menembus Kompas? Semoga resume singkat ini bermanfaat. Terima kasih buat Pak Prasetyo Utomo atas waktu dan ilmunya, juga Bunda Komala Sutha sudah menghadirkan para penulis sukses sebagai narasumber di grup kepenulisannya.


8 komentar:

  1. Honornya bikin mupeng banget ya Pak. Kalau sampai tembus harus dikliping nih, ehehehe

    ReplyDelete
  2. Saya belum punya nyali nyoba ke Kompas.

    ReplyDelete
  3. Yek kompas yo berat. Penulis-penulise ibarat pendekar dengan kanuragan tingkat tinggi. Cerpen-cerpen alay dilarang masuk

    ReplyDelete
  4. Hanya bisa membayangkan saja😂😂

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP