Loading...
Tuesday, June 2, 2020

Kehilangan


Senin di awal Juni. Saya tidur cepat malam ini. Terbangun di sepertiga malam akhir, buka chat WhatsApp terkejut, ada kabar salah satu anggota komunitas ODOP meninggal dunia: Mbak Prajna Patriani. Saya ingat, belum lama ini (akhir Mei) ada tulisannya dimuat di Solopos pada rubrik Ah Tenane. Rupanya itu menjadi Jon Koplo pertama sekaligus terakhirnya. Inna lillahi wainna ilaihi rajiuuna.

Saya memang belum pernah sua Mbak Prajna, sebatas kenal di grup WhatsApp. Almarhumah adalah anggota batch 7 di ODOP, artinya beliau bergabung di komunitas itu kala saya menjabat ketua umunya waktu itu, 2019. Selanjutnya beliau aktif di program OTM (ODOP Tembus Media) yang saya gawangi. Beberapa tulisannya sudah masuk koran.

Terkejut, sedih, dan ada rasa kehilangan. Sama persis saat mendengar kabar meninggalnya Mbak Mutia Sadea dulu. Meski tak pernah sua langsung, kebersamaan di komunitas sudah menjadikan kami laksana keluarga besar. Kepergian almarhumah adalah kehilangan bagi kami.

Selanjutnya hanya doa yang bisa kami panjatkan kepada Sang Pemilik Nyawa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Mbak Prajna, menerima segenap amal kebaikannya, menyempurnakan pahala Ramadannya, dan menempatkannya di surga. Allohumma amin. Semoga Allah juga menguatkan hati keluarga yang ditinggalkannya.

Kepergian Mbak Prajna menjadi perenungan. Kita semua pasti akan menghadap kepada Allah, kapan saja bisa terjadi dan di mana saja. Tak ada yang bisa menduganya. Sewaktu-waktu dan tanpa permisi terlebih dahulu. Seyogianya kita harus selalu bersiap diri. Perbanyak kebaikan, jauhkan diri dari segala kesia-siaan. Ya Allah, tunjukkan kami jalan lurus-Mu dan mudahkan kami menitinya. Hanya pada-Mu kami menyembah dan meminta pertolongan.

Rasulullah bersabda, "Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Sungguh, Allah telah mengingatkan kita akan nasihat kematian dengan kepergian Mbak Prajna yang tak terduga kira ini. "Apa urusanku dengan dunia, aku di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon setelah itu pergi dan meninggalkannya."

2 komentar:

  1. Kuulu nafsin dzaa iqotul mauut. Benar-benar jadi pengingat untuk diri sendiri. Mudah-mudahan mbak Prajna khusnul khotimah, aamiin

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP