Loading...
Thursday, May 28, 2020

Balada Badala Cito dan Citi


Buku kesekian dari Edi AH Iyubenu yang saya baca. Kali ini pinjaman dari Mbak Jihan Mawaddah bersama 3 judul buku lainnya, dari penulis yang sama. Saya jadikan pilihan baca pertama sebelum baca ketiga buku tersebut. Alasannya, buku fiksi ini paling tipis dibanding yang lain.

Buku ini diberi label Novel Komedi 18+. Berkisah tokoh utama Cito, panjangnya Citogog, panjangnya lagi (dan aseli) Muhammad Thoha bin Sulaiman bin Husein. Di usianya yang sudah matang-pohon alias waktunya menikah, Cito sedang memperjuangkan cintanya pada seorang mahasiswi cerdas, mapan, dan ayu bernama Citi. Kok pas ya namanya, Cito-Citi? Iyalah, suka-suka penulisnya.

Sekali lagi, novel ini dilabeli komedi, meski komedinya garing-garing. Coba simak contohnya;

"Kalau kamu hafal surat al-Ikhlas, akan kupertemukan dengan mamakmu. Bisa?"
Cito terdiam beberapa saat, lalu menggelengkan kepala, dan menunduk.
"Masak cah pinter ndak hafal al-Ikhlas, to?"
Cito menggeleng lagi.
"Lalu apa yang sudah hafal?"
"Qulhu...."
Lelaki itu tersenyum sendiri.
"Ya, coba...."
Tanpa menoleh, Cito mulai membacakan surat al-Ikhlas yang disebutnya Qulhu itu. Lancar sekali.
(Halaman 34-35)

Selanjutnya, untuk label 18+ nya, memang disebabkan banyaknya bertebaran kata makian nyaris tiap halaman, seperti contohnya: asu, jingan, jirut, goblok, bajigur, dan sebagainya. Pokoknya vulgar tanpa sensor tanpa pikir panjang. Ditambah guyonan saru tentang coli, ngacengan, dan sebagainya. Kalau ada bacaan lain, mending baca buku lain deh. Saya terpaksa menuntaskan karena kadung baca dari awal.

Penulisnya sendiri mengatakan bahwa buku ini adalah novel ra mutu yang ia selesaikan dalam 3 hari saja (5-8 April 2020). "Buat apa lama-lama menuliskannya, wong cuma novel ra mutu gini," katanya (halaman 7). Lagi pula, Edi menuliskan novel ngeres-misuhan ini dengan los dan sak karepe, alias masa bodoh saja soal tulisannya disukai atau dibenci orang.

Inti dari cerita dalam novel ini saya rasa disisipkan pada bagian akhir pada bab Kaidah Ushul Fiqh untuk Cito. Al-mukabbaru ya yukabbar (hal yang telah dibesarkan jangan dibesar-besarkan terus), al-yaqinu ya yuzalu bisysyak (suatu keyakinan tak bisa digugurkan oleh suatu keraguan). Jadi Citi tidak perlu meragukan cinta Cito hanya karena alasan takut kelak apa yang akan dimakan, tapi harus yakin dengan usaha Cito dengan kegigihannya mencari nafkah meski belum terlihat hasilnya sekarang. "Maka, menerima tresna Cito adalah keutamaan," begitu closing-nya.

Sekali lagi, kalau ada bacaan lain, mending tak usah baca buku ini deh. Serius!

Judul: Balada Cito Citi
Sub judul: Gampang Sayang, Gampang Kangen
Penulis: Edi AH Iyubenu
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-602-391-971-0
Cetakan: Pertama, April 2020
Tebal: 132 halaman

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP