Loading...
Friday, April 24, 2020

Tak Usah Saling Anggap Salah


Hari pertama puasa bersamaan dengan hari Jumat. Hari ini Masjid An Nuur menggelar salat Jumat, seperti pekan sebelumnya. Sempat sebelumnya, ada tiga kali Jumat masjid kebanggaan warga Sidowayah ditutup atau meniadakan salat Jumat sebagaimana instruksi dari edaran tausiah MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jawa Tengah, yang senada dengan anjuran pemerintah untuk beribadah di rumah sebagai ikhtiar memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Kak Haikal diajak Ayah salat Jumat di An Nuur. Takmir menganjurkan wudu dari rumah, mengenakan masker, dan jika perlu bawa sajadah sendiri. Bagi perantau yang belum ada 14 hari di rumah, tidak diperkenankan salat Jumat di masjid, karena harus melakukan karantina mandiri, memastikan tidak terinsfeksi virus corona, sebelum kontak dengan warga lain.

Kak Haikal membawa buku kegiatan Ramadan yang harus diisi selama bulan suci. Meski hari ini Ayah yang menuliskan ringkasan khotbahnya. Kak Haikal juga tidak meminta tanda tangan khatib sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, karena tidak ada teman sekolah yang membawa buku kegiatannya ke masjid hari ini.

Khatib yang berkhutbah adalah Pak Haji Danuri, salah satu pengurus takmir. Pada kesempatan ini, beliau menyampaikan khutbah meneruskan imbauan dari MUI tentang anjuran yang menyarankan meniadakan sementara segala kegiatan keagamaan di tempat ibadah yang bersifat mengumpulkan banyak orang, seperti salat Jumat dan jamaah salat wajib 5 waktu. Dalam kenyataannya, ada kelompok yang benar-benar patuh dengan tidak salat jamaah ke masjid, ada juga yang tetap jamaah seperti biasa seolah tidak ada ancaman berarti.

“Mau ikut kelompok yang manapun silakan, semua memiliki dalil rujukan. Yang penting jangan saling menganggap yang beda itu sebagai sesat atau kafir,” kata Pak Haji Danuri.

Secara garis besar, untuk yang memaksa tetap salat Jumat, mereka berdalih dengan dalil wajibnya salat Jumat tidak bisa diganti dengan Zuhur biasa. Apalagi ada hadis yang menyebutkan siapa saja meninggalkan salat Jumat 3 kali berturut-turut maka ia jatuh pada kekafiran. “Jika ikut pendapat ini silakan, tapi tak perlu menuduh yang ikut anjuran pemerintah sebagai kafir, berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa kita,” beliau mengingatkan.

Sementara pemerintah, termasuk tausiah MUI, merujuk pada dalil tentang beribadah ketika terjadi wabah, maka bisa dilaksanakan di rumah. Bahkan dalam hadis pun, ketika terjadi hujan lebat, Rasulullah menyilakan salat di rumah demi keselamatan. “Yang cenderung pada pendapat ini silakan, dan jangan sampai menuduh yang Jumatan sebagai pembangkang anjuran pemerintah dan ulama.”

Pak Haji Danuri mencoba menyeimbangkan kedua pendapat berbeda itu agar tidak terjadi benturan yang dikhawatirkan menciderai ukhuwah dan persatuan sesama kaum muslimin. Ayah sependapat dengan sikap demikian, karena kalau didebatkan maka tak akan ada hentinya. Tak ada yang mau disalahkan.

Kak Haikal kelak harus belajar menghargai perbedaan cara pandang ya. Jangan mudah menganggap orang lain yang berbeda cara berpikirnya sebagai sesat atau kafir. Kedepankan ukhuwah, jangan mudah terpecah belah. Kita hidup dalam serba keberagaman, meski kita harus memiliki keyakinan akan suatu kebenaran, tidak tepat jika membenturkannya dengan kebenaran yang diyakini orang lain yang kita anggap salah.

1 komentar:

  1. Seharusnya sholat jumat itu emg wajib. Cuma banyak yg beda pendapat saja. Apalagis ejak adanya covid 19

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP