Loading...
Friday, March 13, 2020

Bebas Razia


Jon Koplo yang baru lulus SMA, diajak merantau ke Jakarta oleh tetangganya, Lady Cempluk, untuk membantu jualan di toko kelontong di depan sebuah pasar kaget di bilangan Cakung, Jakarta Timur.

Jon Koplo menuju ibu kota hanya berbekal Suket KTP alias surat keterangan pengganti KTP yang belum jadi.

Untuk keperluan belanja barang dagangan, Jon Koplo disediakan sepeda motor jadul keluaran 70-an yang biasa disebut Si Pitung. Motor lawas itu masih kuat untuk angkut-angkut barang dagangan.


Si Pitung adalah motor kenangan milik Tom Gembus, suami Lady Cempluk yang seorang anggota TNI AD, sewaktu masih tinggal di Palembang, Sumatra Selatan.

Hari itu Jon Koplo belanja ke agen sembako melewati jalan raya. Ia terpaksa berjalan di belakang sebuah kendaraan kontainer besar karena tak memungkinkan menyalipnya. Si Pitung tak bisa diajak ngebut, apalagi membawa belanjaan yang cukup banyak. Jon Koplo memilih jalan dengan santai.

Pandangan Jon Koplo terhalang kontainer hingga ia tak menyadari ada razia kendaraan menunggu di depan. Barulah ia sadar ketika beberapa polisi meminta pengendara motor menepi, termasuk dirinya. Jon Koplo kaget dan panik.

“Selamat siang, bisa kami lihat surat kelengkapan kendaraannya, Mas?” seorang polisi yang menghentikan Si Pitung meminta STNK dan SIM.

Tetapi Koplo belum punya SIM, bahkan identitasnya hanya Suket KTP dari kampung. Ditambah lagi, Si Pitung memang tak pernah dipajaki, meski STNK selalu dibawanya dalam tas pinggang. Pak polisi menerima STNK dan Suket KTP yang diulurkan Jon Koplo.


“SIM mana SIM?” pinta polisi.

“Belum punya, Pak,” jawab Jon Koplo agak ketakutan karena ini adalah pengalaman pertamanya terkena razia.

“Kalau tidak punya SIM jangan naik motor. Apalagi motornya tidak taat pajak seperti ini,” kata polisi menasihati.

Jon Koplo hanya mengangguk. Ia pasrah mau diberi tilang atau bagaimana. Tapi kejadian selanjutnya malah membuat Jon Koplo tak habis pikir. Ternyata polisi mengembalikan STNK dan Suket KTP-nya. Setelah itu menepuk-nepuk Si Pitung.

“Ini motor jadul, bersejarah. Kamu harus merawatnya agar bermanfaat. Sana, lanjutkan perjalananmu.”

Jon Koplo pun melongo dan buru-buru menerima uluran surat-surat itu kembali.

“Terima kasih, Pak.”

Segera ia genjot starter motornya dan bersiap pergi. Tapi ia merasa Si Pitung berat sekali saat mau dijalankan. Saat ia menoleh ke belakang, ternyata polisi mengajak bercanda dengan menarik motor agar tidak jalan. Begitu Jon Koplo menoleh, polisi itu melepaskannya sambil tertawa.

“Hati-hati di jalan, ya.”

Sesampai di toko, Jon Koplo menceritakan kejadian itu kepada Lady Cempluk. Tetangganya di kampung itu pun tertawa mendengarnya.

“Ya jelas saja kamu dilepaskan, Plo. Kan alamat STNK-nya asrama tentara di Palembang dulu. Ini namanya sinergi polisi dengan tentara. Saling menolong satu sama lain. Hahaha.”

Jon Koplo ikut tertawa menyadari hal itu.

“Oalah, ternyata Si Pitung ini sakti dan bebas razia. Hahaha....”

Penulis: Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo.

Dimuat di harian Solopos edisi Kamis Pahing, 12 Maret 2020

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP