Loading...
Tuesday, March 10, 2020

Ada Pasar Ghaib di Kedung Padas


RUMAH pamanku di kampung berdekatan dengan sungai. Tepat di belakang rumah ada palung atau kedung, bagian sungai yang dalam. Tanah di sekitar kedung itu hampir semua berbatu padas, sehingga warga menyebutnya dengan nama Kedung Padas. Nah, kata pamanku, di situ berada sebuah pasar ghaib. Aku mendengar cerita pamanku ketika suatu kali aku menginap di rumahnya.

Kata pamanku, sejak ia menikah dengan bibiku dan menempati rumah itu, ia mengalami peristiwa yang cukup membuat merinding saat diceritakannya ulang. Katanya, seringkali pada malam pasaran tertentu, aku lupa pamanku pernah menyebutkan nama pasaran jawa, saat tengah malam atau mendekati jam dua belas, saat terbangun ia mendengar suara riuh sekali. Ketika didengarkan dengan saksama, didapatinya suara riuh itu bersumber dari arah Kedung Padas.

“Suaranya seperti suara orang tawar-menawar di pasar, ramai dan tidak jelas apa yang dikatakan,” kata pamanku. Paman pernah bertanya pada bibiku, apa dia juga mendengarnya. Bibi bilang, sejak dulu saat ia masih kecil suara seperti itu sudah ada.

Menurut bibiku, ayah-ibunya pernah berkisah bahwa di Kedung Padas itu diyakini ada pasar ghaib, di mana yang melakukan jual-beli adalah para makhluk halus di sekitar kedung. “Tidak apa-apa, mereka tidak mengganggu, abaikan saja,” begitu bibiku menirukan ucapan orang tuanya dulu.

Mendengar cerita itu, aku jadi agak takut juga. Untung saja pada saat aku menginap di rumah paman waktu itu, bukan hari pasaran seperti yang disebut pamanku.

Di lain waktu, bertahun-tahun kemudian, saat aku dolan ke rumah pamanku lagi, aku bertanya apakah suara pasar ghaib itu sampai sekarang masih ada. Kata pamanku, sudah cukup lama suara ghaib itu tidak lagi ia dengar, tapi hanya sekali waktu dan tidak seramai dulu. “Mungkin mereka pindah pasar lain yang lebih lengkap barang dagangannya,” kata paman menduga-duga.

“Atau mungkin sekarang ikut tren manusia juga kali, Paman. Mereka pindah ke pasar online,” kataku dengan nada bercanda. Paman hanya tertawa, entah paham atau tidak akan apa yang aku candakan. (Wakhid Syamsudin)

Dimuat di Koran Merapi edisi Senin, 9 Maret 2020. Tautan versi daring: klik di sini.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP