Loading...
Friday, January 10, 2020

Sutono Adiwerna: Bentuk Karakter Anak dengan Cernak



“Perkenalkan, saya Sutono. Tapi kalau di buku atau media massa biasa memakai nama Sutono Adiwerna. Kebetulan saya sejak 2016 sampai sekarang dipercaya sebagai ketua FLP cabang Tegal.” Begitu perkenalan penulis yang cerita pendek anak (cernak)-nya sudah menembus majalah Ummi, Anak Saleh, Soca, Syiar, Adzkia, dan koran Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar, Wawasan, Lampung Post, dan Solopos ini, saat menjadi penulis tamu di komunitas literasi One Day One Post (ODOP) pada 21 Desember 2019 lalu.

“Saya belajar menulis tahun 2006. Tapi mulai serius, berusaha menembus media massa 2009. Lepas resign dari tempat kerja, saya buka lapak koran. Awalnya, buat nyari lowongan kerja akhirnya buat belajar gaya, tipe cerpen, tulisan di media. Sambil menunggu pembeli koran datang, saya baca buku, majalah, koran. Alhamdulillah walau sejak tahun ini tak menjadi loper koran lagi, saya sudah menulis sekitar 70 sampai 80-an tulisan di berbagai media. Lokal dan nasional. Nulis beberapa buku solo dan belasan antologi. Sekarang fokus nulis cerita anak, alasannya ingin berperan serta membentuk karakter pemimpin masa depan,” kisahnya.

Mas Sutono yang selain aktif dalam organisasi FLP, juga aktif pada RBA (Rumah Baca Asma Nadia) Tegal, dan relawan Kelas Inspirasi ini, sudah menerbitkan 2 buku kumpulan cerpen anak yaitu Baju untuk Lili dan Tante Hesti.

Penulis yang menjadi guru ekstrakurikuler menulis di dua SD di Tegal ini menyampaikan sebuah materi yang ia ambil intisarinya dari buku Mbak Veronica Widyastuti dan Mas Ali Muakhir. Diawali dengan apa saja manfaat menulis, yakni di antaranya untuk menuangkan ide, membiasakan berpikir, membantu tugas sekolah (kalau masih pelajar), penyegar pikiran, mendapat penghasilan, dan berdakwah.

Selanjutnya tips menemukan ide, bisa dengan mengingat pengalaman, berandai-andai, banyak membaca, memperhatikan lingkungan, dan bermain. Sementara untuk tips mencari nama tokoh bisa dengan melihat latar belakang, melihat sifat, memperhatikan tempat dan waktu, juga tak kalah penting tetap mencari referensi.

“Untuk judul, kita sebisa mungkin membuat yang kuat dan unik,” katanya melanjutkan. “Lebih bagus lagi, yang memuat rahasia dan bermisteri. Boleh juga memakai judul berima. Pokoknya judul yang baik jangan sampai membocorkan isi cerita.”

Agar menarik, dalam membuka cerita, kata pemilik blog sutonosuto.blogspot.com ini, bisa diawali dengan dialog, atau langsung menampilkan konflik. Jauhi kalimat bertele-tele, dan ciptakan suasana seru.

Mas Sutono melanjutkan, agar penulis bisa membuat cerita yang istimewa, harus melalui proses banyak membaca. Dalam menulis juga perlu berperan sebagai pembaca untuk bisa mengritisi tulisan sendiri. Buat cerita yang beda dengan biasanya. “Lebih bagus lagi kalau penulis bisa mempermainkan emosi pembaca. Dan paling istimewa, suguhkan twist ending!” ungkapnya.

Mas Sutono mengaku untuk sementara ini lebih fokus menulis cerita anak usia 8 sampai 13 tahun di media massa. Untuk bisa tembus media, cernak boleh bertema binatang, buah, atau seperti kartun. Bisa juga realitas tapi tokohnya anak. Pun bisa menggunakan tokoh dewasa tapi tema dan ceritanya untuk konsumsi anak. Memang tidak dimungkiri, anak-anak suka fabel atau cerita binatang. Imajinatif.

Untuk menciptakan konflik pada cerita anak, sebagai penulis kita harus banyak mengamati dan berinteraksi dengan anak. “Saya pernah bikin cernak idenya pas ada yang beli di warung saya, terus saya ngasih kmbalian kebanyakan,” katanya. Mas Sutono memberikan contoh, penulis cerita anak Enid Byton yang sudah menulis 700 novel anak, adalah seorang pengajar di TK. Ide akan selalu ada jika kita berinteraksi dengan anak-anak, dan jadi lebih produktif.

“Anak-anak pada dasarnya suka cerita yang dekat dengan keseharian,” katanya menambahkan. “Bisa persahabatan, sekolah, bermain, dan sebagainya. Bisa dengan tokoh anak, bisa juga lewat fabel atau dongeng.”

Untuk cernak dengan muatan lokas Indonesia bisa baca referensinya pada Harian Kompas Minggu di halaman Nubi (Nusantara Bertutur), atau lihat akun Nusantara Bertutur, tema yang diminta selalu tentang lokal, Indonesia.

Tak kalah penting juga, biasakan membaca buku tentang anak biar tahu konflik yang sering mereka hadapi. “Dan usahakan, yang menyelesaikan konflik, ya, anak-anak itu sendiri, biar tak menggurui,” katanya.

Penulis yang pernah menyabet juara harapan lomba cerpen Cinta dalam Aksara, Asma Nadia Publishing House 2016 ini berkisah, pertama kali membuat cernak berjudul Baju untuk Lili dan mengirim ke Majalah Ummi tahun 2009, ternyata dimuat. Itu membuatnya bersemangat menulis genre anak. Genre lain pun sesekali dicoba buat selingan agar tidak bosan.

Mas Sutono mengaku lebih suka menulis cerita-cerita pendek. Salah satu alasannya, karena di rumah tidak ada laptop atau komputer. “Saya menulis di kertas, kemudian dibawa ke warnet,” kenangnya.

Kegemarannya membaca membuat penghasilan dari menulis sebagian besar ia pakai untuk menimbun buku. “Buku koleksi saya kebanyakan kumpulan cerita.”

Sebagai ladang menulis, Mas Sutono mengirim naskah ke berbagai media massa. Tulisan pun harus dikemas sesuai ciri khas majalah atau korannya. Terkait honor, tiap media memiliki kebijakan berbeda-beda. “Harian Kedaulatan Rakyat honor cernak kisaran 100 ribu, Majalah Bobo 250 ribu, untuk Koran Solopos 75 hingga 100 ribu, Majalah Azkia 150 ribu. Dulu bisa juga ke Majalah Ummi, Anak Saleh, dan Soca, sayang sekarang sudah tidak terbit lagi,” kisahnya.

Sebenarnya, dunia cernak tidak melulu harus didominasi orang dewasa yang berkarya. Banyak anak-anak yang sudah pandai menulis sebenarnya. “Coba lihat buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), produk unggulan di lini anak Mizan yang khusus menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh anak-anak usia 7-12 tahun. Ada Fayana, Mutia Fadila, dan lainnya. Menengok ke belakang, dulu ada Faiz putrinya Mbak Helvy Tiana Rosa dan Izati yang rekor Muri penulis termuda (7 tahun),” ungkapnya.

Mas Sutono sempat memberi komentar terkait penjurian lomba cerita anak DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) yang menuai pro-kontra itu, “Kalau kritiknya oke, seperti jangan bikin cerita liburan di rumah nenek. Tapi kalau bilang, penulis anak kecakapan seadanya, no! Banyak penulis anak yang oke kok! Ambil misal, Pak Suryadi yang bikin karakter Si Unyil, Arswendo yang bikin Keluarga Cemara, Imung dan masih buanyak lagi,” lanjutnya. “Kalau untuk lomba, harusnya juri bilang naskah yang masuk, atau draf cerita anak bukan buku anak. Mungkin yang nulisnya bagus sedikit, tapi jangan bilang selama ini buku anak dibuat dengan kecakapan seadanya.”

Sastra anak yang baik, mengutip perkataan Pak Soekanto (pendiri Majalah Kuncung), adalah bacaan yang bisa membuat anak sampai bersembunyi di kolong agar tidak ada yang mengganggunya membaca.

Sementara untuk kiat mengajari anak-anak menulis, Mas Sutono menjelaskan, “Ajak anak-anak baca buku, lama-lama ia akan tergerak jadi ingin nulis. Saya ngajar eskul nulis, rata rata mereka bacaannya melimpah. Bisa baca dari perpus atau pojok baca.”

Nah, berminat menekuni menulis cerita anak seperti Mas Sutono? Jangan segan mencoba, belajar menulis, dan perbanyak membaca. Bagi yang mau sapa Mas Sutono di facebook, silakan berteman: Sutono Suto.

Terima kasih sharing-nya Mas Sutono. Sukses selalu, ya! Dan buat kamu-kamu yang pengin belajar menulis cernak, bisa membeli buku kumpulan cernak terbaru karya Mas Sutono berjudul Rahasia Bang Udin, Cuma 27 ribu! Hubungi penulis di WhatsApp 085786541053.

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP