Loading...
Wednesday, January 8, 2020

Bertebar Fitnah di Majapahit



Novel yang saya baca ini sebenarnya adalah buku kedua dari tetralogi epik-inspiratif buah karya Gamal Komandoko. Meski buku pertama saya belum baca (belum punya), tapi saya sudah bisa langsung mengerti akan jalan cerita yang disajikan, secara saya adalah penggemar berat kisah Majapahit lewat sandiwara radio Tutur Tinular. Meski tentu saja beda media beda penyajian, juga beda cara improvisasi yang dilakukan mendiang S. Tidjab dengan Gamal Komandoko ini.

Novel ini mengambil kisah tentang Dyah Halayuda (kalau versi Tutur Tinular bernama Sang Ramapati dengan suara khas Idris Affandi) yang menebar seribu siasat demi memuluskan ambisinya menjadi mahapatih Majapahit. Dalam novel ini disebutkan bahwa Dyah Halayuda turut memantik pemberontakan Rangga Lawe, sehingga Arya Wiraraja menyiratkan pesan pada Mahapatih Nambi untuk berhati-hati akan adanya keparat bertangan kotor yang bermain di Majapahit. Namun sosok misterius itu tidak mampu Nambi ungkap, malah ia sangat percaya kepada Halayuda!

Halayuda yang berhasil meyakinkan Nambi dan mendapat kepercayaan Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana berkat sumpah-sumpah palsunya, makin leluasa menjalankan siasat adu domba dan fitnah sana-sininya. Lembu Sora adalah sasaran selanjutnya setelah tersingkirnya Rangga Lawe. Dan siasat liciknya mampu menghadapkan Nambi bertarung hidup mati dengan Lembu Sora, melupakan persahabatan dan segenap kenangan berjuang bersama saat mendirikan Majapahit!

Usai melenyapkan Lembu Sora yang sekaligus menghabisi Gajah Biru dan Juru Demung, sasaran berikutnya adalah Nambi sendiri! Tapi untuk melenyapkan Nambi demi ambisinya menjadi mahapatih, Halayuda baru bisa melakukannya setelah kematian Prabu Kertarajasa, saat Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Jayanegara.

Gamal Komandoko berhasil menampilkan cerita Halayuda ini dengan baik, mampu membuat pembaca geregetan, kesal, dan ikut geram padanya. Merasakan betapa besarnya akibat dari fitnah dan siasat keji. Keberhasilan Halayuda menyingkirkan tokoh-tokoh yang ia anggap menghalanginya, dapat ditampilkan dengan lugas dan tidak terasa dipaksakan.

Arya Wiraraja yang terkenal dengan kecerdikan siasat, ternyata bisa dikalahkan oleh seorang Halayuda. Hebat sekali. Hingga ayahanda dari Rangga Lawe itu terpojok dalam permainan, bahkan dianggap pemberontak oleh Majapahit. Jasa-jasanya seolah sirna. Terkait tersingkirnya Rangga Lawe, ia sudah ikhlas karena menyadari betul bahwa Sri Kertarajasa dan anaknya ibarat dua singa ganas. Menyatukan dua singa ganas dalam satu kandang memang sulit dilakukan, harus ada salah satu singa yang terkapar mati. Dan celakanya, anak kandungnya yang menemui kematian itu (halaman 16).

Pelajaran besar dari sejarah Majapahit ini adalah, siasat jahat dan kotor mampu merusakkan hubungan para tokoh pendiri Majapahit, hingga terbunuh banyak tokoh tersebut, meski sebenarnya darah mereka kental akan Majapahit, dan sejatinya mereka bukanlah pemberontak sebagaimana yang berhasil diposisikan oleh Halayuda atas mereka sebelum menemui ajal masing-masing.

Judul : Siasat & Kemelut Atas Tahta
Penulis : Gamal Komandoko
Penerbit : Diva Press
ISBN : 978-602-955-647-6
Cetakan : Pertama, April 2010
Tebal : 436 halaman

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP