Loading...
Tuesday, December 17, 2019

Membentuk Karakter Anak bersama Totto-chan


Totto-chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela adalah sebuah buku cerita buah karya Tetsuko Kuroyanagi yang mengisahkan masa kecilnya bersekolah di Tomoe. Sebuah cerita sederhana tapi sarat dengan makna tentang pembentukan karakter anak. Bahasanya yang simpel memang pas untuk bacaan anak. Orangtua juga perlu membacanya agar bisa mengimbangi cara bersikap menghadapi anak seperti Totto dengan segudang rasa ingin tahunya akan hal-hal baru.

Cerita dibuka dengan adegan Totto dan mamanya yang hendak mendaftar di sekolah baru, karena si anak yang baru kelas 1 sekolah dasar, harus dikeluarkan dari sekolah lama karena dianggap nakal dan mengganggu belajar teman-temannya.

Mama harap-harap cemas, takut kalau Totto tidak bisa diterima di sekolah tujuannya. Mama sangat bijak, ia tidak memberitahu bahwa Totto telah dikeluarkan dari sekolah lama. Ia hanya diajak untuk pindah ke sekolah baru.

Totto terpana dengan sekolah barunya: gerbangnya dari pohon hidup, ruang kelasnya dari bekas gerbong kereta. Dan yang tidak disangkanya: kepala sekolah mau mendengar Totto bercerita selama empat jam penuh dengan segenap perhatian! Hal yang tak pernah Totto jumpai di rumah maupun di sekolah lamanya. Totto sangat gembira saat kepala sekolah yang kemudian diketahui bernama Pak Sosaku Kobayashi itu berkata, "Mulai besok kau sudah menjadi murid sekolah ini."

Sekolah baru Totto bernama Tomoe. Banyak hal baru dan sangat berbeda yang ditemukan Totto jika dibanding sekolah lamanya. Di antaranya, anak-anak bebas memilih tempat duduk, setiap murid boleh memulai dari pelajaran yang disukainya, dan saat makan siang kepala sekolah mewajibkan membawa bekal makanan "yang berasal dari laut" dan "yang berasal dari gunung".

Tomoe ternyata sangat cocok untuk Totto yang begitu aktif dan besar rasa penasarannya akan hal baru. Teman-temannya menyenangkan, meski ada yang menderita polio, atau ada kekurangan fisik lainnya, tapi anak-anak diajari menghargai. Tidak ada guru memarahi murid, semua masalah diselesaikan dengan pendekatan ke anak di sekolah, tanpa perlu memanggil orangtuanya.

Membaca buku ini, kadang saya merasa terharu biru, ikut tertawa, merasakan keceriaan anak-anak Tomoe, dan di ending cerita, ikut merasakan duka luar biasa saat sekolah yang didirikan penuh dedikasi oleh Pak Kobayashi ini harus hancur akibat gempuran pesawat pembom B-29 dari Amerika. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1944 ketika serangan udara besar itu melanda Tokyo, jelang akhir Perang Dunia II.

Buku ini adalah usaha Tetsuko Kuroyanagi setelah dewasa, mengumpulkan kembali kepingan kenangan masa bersekolah di Tomoe, dengan menemui teman-teman sekolah yang masih bisa ia jumpai. Sambil mengenang segala kebijakan Pak Kobayashi yang meninggal pada usia 69 tahun, sebelum sempat mewujudkan mimpi dan cita-cita mendirikan kembali sekolah Tomoe. Lokasi sekolah Tomoe sekarang sudah dibangun supermarket Peacock Super Store dan lapangan parkir.

Kebijakan pendidikan Pak Kobayashi seperti tertulis dalam buku ini selalu mempunyai prinsip: "Anak siapa pun pada saat lahir selalu mempunyai sifat yang baik. Selama tumbuh ia dipengaruhi oleh keadaan sekelilingnya atau dimanjakan oleh orang dewasa. Karena itu kita harus secepatnya menemukan sifat baik ini dan kemudian memupuk atau mengembangkannya untuk menjadi manusia yang berkepribadian." (Halaman 177)

Judul buku : Totto-Chan Si Gadis Kecil di Tepi Jendela
Judul asli : Madogiwa No Totto-chan
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Alih bahasa : Latiefah H. Rahmat, Nandang Rahmat
Penyunting : Kikiek Haryodo
Penerbit : PT. Pantja Simpati dan Yayasan Karti Sarana (Toyota Foundation, Jepang)
Cetakan : Keempat, 1998
Tebal : 198 halaman


Buku Totto-chan di tangan saya ini adalah edisi khusus untuk kalangan pribadi Sekolah Bina Anak Sholeh (BIAS). Terima kasih untuk Ustazah Tasmiyatun atas pinjamannya.

2 komentar:

  1. Saya setuju dengan pak Kuronayagi..

    ReplyDelete
  2. enaknyaaaaa .... setiap murid boleh memulai dari pelajaran yang disukainya

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP