Loading...
Monday, December 16, 2019

Bang Ojan dan Cerpen Koran

"Kenalin, saya Majenis Panggar Besi. Tapi, teman-teman seringnya panggil saya Ojan. Yang belum kenal atau baru, biasanya memang panggil Majenis atau Panggar." Begitu penulis tamu di Kelas Fiksi komunitas One Day One Post pada 14 Desember 2019 itu memperkenalkan diri. "Ada pula yang panggil Besi," selorohnya.

Bang Ojan memakai nama pena Majenis Panggar Besi, katanya memang itu nama asli, hanya saja tidak tercatat di akta. "Panggar Besi itu marga sebuah keluarga di daerah Sumatra Selatan," katanya menerangkan. "Saya diangkat anak sama salah satu keluarga Panggar Besi sewaktu tinggal di Bengkulu. Dikasih nama Majenis Panggar Besi."

Setelah sesi perkenalan, Bang Ojan mulai menyampaikan tentang sastra koran, yaitu karya sastra yang dipublikasikan di koran. Kalau bicara sastra koran sendiri, sebenarnya tidak ada batasan jelasnya. Orang mana cerpen sastra dan yang tidak sastra saja belum pasti pembatasnya.  Sastra menurutnya, belum tentu sama menurut orang lain. Pun sebaliknya. Satu hal yang pasti adalah bahwa kita tahu sebuah cerpen itu termasuk yang disebut sastra atau bukan. Setiap orang bisa berbeda-beda dalam mendefinisikan apa itu sastra. Karena sastra hanya bisa kita rasakan tanpa mampu kita menjelaskan arti sastra itu sendiri ke dalam bentuk bahasa. "Yang bisa kita lakukan hanyalah menikmatinya, seperti halnya cinta, yang setia bermain-main di sini, untukmu," katanya setengah bercanda.

Bang Ojan mulai membaca dan mengliping koran Minggu itu sekitar awal tahun 2002. "Kebetulan masjid di tempat saya lumayan banyak jamaahnya, setiap hari Jumat jamaahnya sampai luber ke halaman dan jalanan di depan masjid. Banyak jamaah yang menggunakan koran bekas sebagai alas salat. Ya gitu, sehabis Jumatan saya suka milih-milihin koran bekas orang salat itu, kalau ada yang edisi hari Minggu dan ada cerpen atau puisinya langsung saya ambil. Kadang rebutan juga sama para pemulung koran," kenangnya sambil tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu.

Bang Ojan mengaku, pertama kali berani menulis dan mengirim ke media sekitar tahun 2013. Jadi sebelum mulai menulis, ia terlebih dahulu melewati proses membaca yang cukup lama, yakni 11 tahun. Dan cerpen pertamanya yang dimuat media berjudul Mary Jane, tayang di Harian Suara NTB pada bulan Maret 2015. "Kalau mau dibilang baru, ya sebenarnya memang saya masih baru, hehe. Jadi di sini saya maunya kita lebih ke berbagi pengalaman dan proses kreatif. Kita sama-sama belajar, pasti banyak juga proses kreatif dari teman-teman semua yang selama ini tidak terpikir oleh saya," katanya merendah.

Saat ditanya ketertarikannya menulis cerpen, Bang Ojan menjawab, bahwa ia hanya merasa ada sesuatu yang perlu disampaikan dengan versi dia, dalam bentuk tulisan, tentang sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Tentang angin yang bertiup sehabis hujan, tentang perasaan ngilu saat kita harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Lebih jauhnya, Bang Ojan ingin bercerita, dan tentu ingin didengar. "Dan salah satu cara supaya kita bisa didengar, ya dengan memublikasikan tulisan kita," katanya. "Mungkin benar bahwa saya tidak bisa mengubah dunia dengan tulisan saya, tapi setidaknya saya telah berusaha dan melakukan tindakan nyata. Bahwa bertindak--meskipun kecil-- adalah sesuatu yang berbeda dari tidak melakukan apa-apa sama sekali."

Dalam proses menyukai dunia kepenulisan, Bang Ojan setidaknya memfavoritkan dua nama penulis Indonesia, yakni Norman Erikson Pasaribu dan NH. Dini. "Saya menyukai kelembutan dan keindahan dalam gaya bertutur NH. Dini. Melalui mata NH. Dini, kita akan selalu melihat dunia dalam bentuk yang indah, jujur, sabar, dan mendamaikan hati," ungkapnya.

Berikutnya Bang Ojan mengutipkan salah satu paragraf favoritnya dari salah satu buku NH. Dini:
Umurku tiga belas tahun waktu ayahku meninggal. Rumah biru di pojok jalan yang kutemui sepulang dari sekolah tidak sesepi hari-hari biasa. Aku turun dari sepeda dengan kecurigaan yang memadat. Sampai di pendapa, kakakku laki-laki keluar dari pintu yang mengarah ke kamar tamu. Dia melihatku. Dengan gerakan yang hampir berlari dia mendekatiku. Dipeluknya aku dengan erat. Tiba-tiba kudengar suaranya yang parau di sela-sela isakannya. 
"Ayah sudah pergi."
Kalimat yang halus. Kalimat yang selalu diucapkan ayahku untuk mengatakan meninggalnya seseorang: pergi.
(Paragraf pertama Pada Sebuah Kapal, Nh. Dini)

"Sementara Norman, saya tidak perlu alasan untuk memfavoritkannya. Karena sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati saya, saya mengakui bahwa saya ingin menulis dengan cara seperti Norman menulis. Sederhana dan dalam," katanya sepenuh rasa.

Jadi penasaran, seperti apa itu tulisan yang sederhana dan dalam. Bang Ojan lekas memberikan contoh:

CINTA
Ketika hujan datang
dan ia sedang di rumah
ia naik, dan memasuki kamar ini
untuk memastikan tak ada
rembesan pada langit-langit
(Norman Erikson Pasaribu, dalam Sergius Mencari Bacchus)

Koleksi buku favoritnya yang hasil karya Norman Erikson Pasaribu di antaranya berjudul Sergius Mencari Bacchus, dan Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Sementara buah karya NH. Dini di antaranya adalah berjudul Langit dan Bumi Sahabat Kami, Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Pada Sebuah Kapal, dan Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang.

Karya sastra lain yang menginspirasinya adalah Interpreter of Maladies (Jhumpa Lahiri), The Shell Seeker (Rosamunde Pilcher), dan terakhir, serial Harry Potter. "Meski seri bukunya sendiri sudah tamat bertahun-tahun yang lalu, sampai saat ini saya akan masih dengan senang hati berbincang membahas ketujuh buku Harry Potter," begitu ungkapnya. "Sekali lagi, saya menyukai hal-hal yang ditulis dengan cara sederhana, tapi memiliki lapisan makna yang mendalam."

Bang Ojan dalam sebulan memproduksi cerpen antara nol sampai lima cerpen. Kenapa nol? Karena sepengakuannya, ia pernah hanya menulis dua buah cerpen dalam satu tahun.

Kembali pada pembahasan cerpen koran. Kalau mau menembus koran, menurut Bang Ojan, kita bisa menulis tema yang sedang berlangsung. Misal tema Natal, Tahun Baru, Idul Fitri, Idul Adha, dan lain sebagainya. Meski tentu ada kelemahannya bila kita menulis cerpen yang tematik, karena bila gagal muat kali ini, kita harus menunggu tahun depan untuk mengirimnya kembali ke media yang lain.

"Untuk selanjutnya, sepembacaan saya, koran suka cerita tentang orang-orang yang tertindas atau kaum minoritas. Juga jangan melupakan tema lokalitas atau kearifan lokal, yang memang akan selalu 'laku' untuk diterbitkan di koran," katanya serius.

Cerpen Bang Ojan yang berjudul Mary Jane itu, mengalami proses panjang sebelum dimuat di koran. Ia mengaku sudah menggilir ke media nasional, tidak nyangkut. Akhirnya ia kirim ke koran NTB dan langsung dimuat.

"Cerpen saya tak pernah kirim sekali langsung tayang. Cerpen Salju-Salju yang Berjatuhan di Dalam Dadaku yang di Media Indonesia itu judul awalnya Yolendra, pertama kirim ke media, Desember 2015. Desember 2016 aku kirim lagi dengan beberapa perbaikan, masih gagal. Desember 2017 aku kirim lagi dengan beberapa perbaikan lagi, ditambah ganti judul. Kirim hari Selasa, Minggu langsung dimuat," kenangnya.

Waktu karya kita tidak kunjung nyangkut di media atau bahkan mengalami penolakan, pasti ada perasaan sedih atau kecewa. Cara mengembalikan kepercayaan diri dan tetap semangat menulis adalah dengan kembali ke motivasinya dalam menulis. "Kalau nulis tujuannya hanya buat dimuat saja ya pasti cepat lelah," katanya.

Cerpen Bang Ojan yang berjudul Salju-Salju yang Berjatuhan di Dalam Dadaku itu ber-setting luar negeri. Ia melakukan riset dulu yang banyak. Dengan begitu, menurutnya, nanti otomatis mengendap di alam  bawah sadar, jadi sewaktu menulis langsung mengalir begitu saja. Feel-nya juga jadi terasa lebih natural, tidak terlalu tekstual.

Kita bisa riset lewat internet dan YouTube, tanpa harus ke lokasi. Hanya saja kita harus pandai-pandao menyeleksi mana yang perlu ditampilkan dan mana yang tidak.

Sebagian kita bisa jadi merasa susah sekali mau menulis cerpen koran. Apalagi yang terbiasa nulis yang realis. Ada tips khusus dari Bang Ojan kalau mau mengubah yang menurut kita tidak sastra menjadi sastra. "Yaitu dengan eksperimen POV (point of view) atau sudut pandang. Misal: Ani minum kopi di dapur. Anakmu minum kopi di dapur. Aku melihat anakmu minum kopi di dapur," katanya menyontohkan. "Kalau mau lebih kental lagi feel sastranya, bisa ditambahkan keterangan waktu: Sehari setelah pemakamanmu, aku melihat anakmu sedang minum kopi di dapur."

Bang Ojan juga mengaku sering belajar dramatisasi kalimat. Sama seperti eksperimen dengan POV. "Ibaratnya kita pegang kamera gitu, terus bayangin kita geser-geser angle kameranya hingga dapat sudut yang dirasa pas," katanya.

Cerpen bergenre sejarah (klasik) juga punya peluang dimuat di koran. Tergantung pengemasannya. Sebagai referensi, kita bisa cari dan baca cerpen-cerpen Iksaka Banu, yang kesemuanya ber-setting zaman Kolonial Belanda. Cerpennya banyak dimuat di koran Tempo, dan sudah dua kali ia meraih Kusala.

Bang Ojan juga menceritakan proses pengolahan ide. "Cerpen saya kebanyakan dimulai dengan langsung masuk ke dalam adegan. Paragraf pembuka itu biasanya sebagai pemantik, yang saya tulis langsung ketika mendadak ide datang."

Bang Ojan tidak pernah bikin konsep atau semacam ide pokok, melainkan langsung mengalir begitu saja. "Sekali duduk biasanya langsung tamat, tapi paling cuma 6 atau 7 ribu cws. Saya endapkan, dua hari baca lagi sambil self editing, ditambal sana-sini sampai dirasa sudah pas," kisahnya.

Ia mengaku ada juga beberapa cerpen yang menerornya. Cerpen itu minta ditulis. Sampai pusing, soalnya kadang ide itu muncul pas lagi tidak pegang gawai atau lagi di jalan. Kepala sudah penuh banget sama opening-alur-ending. Jadi sekalinya ditulis langsung banjir.

Ketika ide muncul pas kondisi lagi tak siap buat nulis, Bang Ojan menyarankan untuk mencatat inti ide tersebut, di gawai misalnya. Kalau pas mau nulis malah blank, ya biarin saja. Suatu saat nanti, note-note kecil seperti itu pasti berguna.

Selanjutnya, agar pembaca betah berlama-lama membaca tulisan kita, kita harus menyadari bahwa pembaca biasanya sejalan dengan si penulis. "Kalau nulisnya aja susah, biasanya pembacanya juga kesusahan menikmati jalinan kata yang tertulis," katanya.

Dalam menulis cerpen koran, tidak selalu harus menggunakan diksi yang melangit. "Senyamannya kita saja," kata Bang Ojan melanjutkan. "Yang lebih penting dikejar dalam sastra adalah feel hasil akhir yang ditimbulkan oleh cerpen yang kita tulis. Bukan penggunaan diksi-diksi yang bahkan perlu membuka KBBI untuk tahu artinya."

Sejauh ini, Bang Ojan seolah sudah berhenti dalam upaya pencarian gaya menulisnya. Seperti ia katakan di awal tadi, ia ingin menulis seperti Norman dan NH. Dini, sederhana, indah, sabar dan dalam. "Cuma belakangan ada beberapa cerpen yang menolak untuk sederhana dan dalam, itu biasanya naskah untuk lomba. Karena tema yang ditentukan panitia, jadi sedikit banyak saya merasa dipaksa," akunya.

Bang Ojan sebenarnya juga ingin mengangkat tema lokalitas, tapi belum pernah berhasil menurut ekspektasinya sendiri. Ia merasa selalu terjebak pada cerita itu sendiri. Biasanya kalau sudah nulis jadi lupa plot awal, ceritanya mengalir sendiri saja.

Ketika ditanya terkait honor cerpen yang pernah ia dapat, Bang Ojan mengakui bahwa cerpennya yang dimuat di Media Indonesia adalah yang berhonor besar. "Cerpen pertama dulu masih 750 ribu. Terus yang kedua sudah turun jadi 600 ribu," ungkapnya jujur.

Penulis yang bisa dihubungi lewat akun facebook Jan dengan foto profil koala ini juga mengaku sedih dengan adanya koran yang tidak menyediakan honor bagi cerpen yang dimuat. "Mungkin memang media yang bersangkutan belum atau tidak sanggup menyediakan honor. Kita tetap apresiasi, setidaknya media bersangkutan masih menyediakan ruang untuk cerpen," simpulnya. "Ada juga yang ngakunya nyediain honor tapi tetep susah cair. Ya udah, ikhlasin saja. Anggap sedekah, semoga dinilai sebagai ibadah :')"

Ada juga koran yang menyediakan honor tapi dengan syarat penulis mengambilnya langsung ke kantor redaksi. "Tentu sangat repot, kalau kita domisili di Jawa, cerpen muat di Banjarmasin misalnya. Kita ke sana buat ambil honor kan gak balik modal. Hehe," selorohnya.

Pemilik akun instagram @mpb________ (8 kali garis bawah) ini menargetkan ke depannya untuk memiliki buku solo. Bukan antologi seperti selama ini. "Dan yang lebih ingin lagi, ya selalu diberi semangat dan anugerah kesehatan supaya tetap berkarya dan tidak hanya tidak melakukan apa-apa," katanya.

Bang Ojan pun berharap semoga dunia literasi kita suatu saat nanti populernya bisa sejajar dengan hiburan lain seperti film dan musik. Juga semoga rakyat semakin sadar betapa pentingnya arti hak cipta, dan sama-sama memerangi tindakan plagiat serta pembajakan terhadap buku-buku.

Untuk para penulis pemula, ia menasihatkan agar tetap menulis saja. "Percaya deh, nanti tulisannya bakal bagus sendiri. Intinya terus menulis, biar pun jelek. Kalau nulis jelek aja males, gimana bisa nulis bagus. Semua penulis profesional itu juga dulunya amatir kaya kita-kita, hehe."

Bang Ojan menutup obrolan malam itu dengan doa, "Semoga kita selalu hidup dalam keberkahan dan kebahagiaan."

Terima kasih Bang Majenis Panggar Besi atas sharing-nya malam ini. Semoga anggota komunitas ODOP bisa mengikuti jejakmu dalam berkarya. Sukses selalu!

10 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP