Loading...
Sunday, August 18, 2019

Islam dalam Keragaman Nusantara


Kembali kita masuki bulan Agustus, yang sangat identik dengan perayaan rasa cinta pada tanah air kita. Memasuki usia kemerdekaan ke-74, maka semakin dewasalah kita menghadapi setiap permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perjuangan pendahulu kita dalam merebut kemerdekaan bukan perkara mudah. Persatuan dan kesatuan yang menciptakan kekuatan hebat para pendiri bangsa ini harus selalu kita pupuk sampai kapanpun.

Islam sebagai agama mayoritas di Nusantara memiliki peran penting dalam membentuk NKRI menjadi seperti sekarang ini. Agama adalah bagian penting gerakan perlawanan terhadap penjajahan. Agama adalah roh yang menggerakkan setiap orang untuk berdiri melawan segala bentuk imperialisme. Islam adalah bagian dari gerakan yang berhasil mendorong pemeluknya berdiri sendiri menegakkan keadilan dan mengusir penjajah. Peran Islam tetap nyata dan tak terbantahkan.

Kiblat Kerukunan

Negeri tercinta tersusun dari ribuan pulau, memiliki ragam bahasa dan budaya serta agama. Indonesia adalah tempat yang ramah untuk setiap agama dan budaya. Di negeri inilah agama dan keyakinan yang berbeda hidup berdampingan, saling menghormati dan melindungi. Wajar jika sebagian masyarakat dunia menyebutnya sebagai “kiblat kerukunan”.

Buku yang layak Anda baca untuk menambah wawasan keislaman dan keberagaman di Indonesia ini ditulis oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA, yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada lini Quanta. Dalam kata pengantar, penulis menyampaikan bahwa umat Islam Indonesia hadir sebagai teladan dalam menjaga kerukunan bangsa dan negara. Islam hadir di gugusan Nusantara membawa seluruh energi positifnya, memberi warna yang terbaik bagi bangsa yang plural ini. Islam hadir sebagai agama rahmat, agama yang tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, namun juga mendorong pemeluknya memiliki kesadaran dan kepedulian sosial. Islam hadir tidak untuk menghapus budaya Nusantara yang kaya akan keragaman.

Nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Islam memberi ruang bagi nilai-nilai kearifan lokal. Hal ini dibuktikan sendiri oleh umat Islam yang memadati kepulauan Nusantara ini. Meskipun mereka paling jauh jaraknya dengan negara kelahiran Islam tetapi mereka sudah tidak ingin dipisahkan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Di saat bersamaan, mereka tetap menjaga tradisi dan budayanya. (halaman 12)

Islam Tumbuh dalam Keragaman

Kalau kita bercermin pada sejarah Islam sendiri, kita akan menjumpai bahwa Islam lahir dan tumbuh dalam keragaman. Negeri Madinah adalah bukti nyata bagaimana Islam menjadi nilai pemersatu dalam keragaman budaya, bahasa, dan agama. Islam diterima bukan hanya sebagai agama dan keyakinan, namun juga nilai-nilainya diterapkan dalam sistem berbangsa dan bernegara. Islam diterima sebagai sistem yang ideal diterapkan dalam bermasyarakat.

Pada bab Islam dan Keragaman, penulis memaparkan betapa Islam adalah bukti nyata tentang sikap, nilai dan etika yang sangat kompatibel bagi bangsa yang majemuk. Islam menunjukkan keagungan dengan sikapnya yang sangat tegas menyampaikan nilai-nilai kebenaran, moralitas dan penghormatan terhadap keragaman. (halaman 15)

Islam sejak awal dirancang sebagai agama terbuka, mengakomodir kekuatan dan potensi lokal yang menjadi sasaran dakwahnya. Turunnya Alquran pun berangsur-angsur, memerlukan waktu tidak kurang dari 23 tahun, padahal Allah memiliki kekuatan “kun fayakun” yang bisa saja dalam sekejap Dia turunkan kitab suci untuk umat-Nya. Hal ini menyiratkan makna bahwa keyakinan itu sebaiknya tidak dipaksakan tetapi bertahap sehingga timbul ketulusan, keikhlasan, dan menerima dengan lapang dada.

Islam Nusantara

Sejarah panjang moderasi Islam telah berlangsung sejak kedatangannya di tanah air. Tapi istilah Islam Nusantara baru mengemuka saat menjadi tema Muktamar NU ke-33. Ada yang setuju dan mendukung penuh tema itu, ada yang mempersoalkannya dan pesimistis, mengkhawatirkan berbagai kemungkinan termasuk khawatir Islam Nusantara akan menghilangkan atau menggantikan Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA), istilah yang digunakan para pendiri NU.

Untuk memahami Islam Nusantara, kita harus membedakan antara Islam di Nusantara dan Islam Nusantara. Islam di Nusantara konotasinya penggambaran exiting Islam di wilayah Nusantara, termasuk di dalamnya sejarah perkembangan, populasi, dan ciri khas Islam di kawasan Nusantara. Sedangkan Islam Nusantara lebih menunjuk pada keunikan sifat dan karakteristik Islam di kawasan Nusantara. Islam Nusantara melibatkan berbagai disiplin keilmuan, seperti ushul fikih, dan penafsiran terhadap nash atau teks agama. (halaman 107)

Islam Nusantara tidak bermaksud menaiki level ajaran dasar, apalagi menggesernya, karena kalau hal itu terjadi maka persoalan sinkretisme dan khurafat akan muncul, padahal keduanya ditolak oleh ajaran dasar Islam. Islam Nusantara selalu bermain di dalam ranah level bawah, di dalam wilayah non dasar. (halaman 109)

Islam Nusantara merupakan gerakan moderasi beragama yang berkelanjutan, terus bergerak menuju bentuk terbaiknya bagi setiap zaman. Untuk setiap zaman dengan ragam tantangan dan problematikanya, Islam Nusantara bergerak menempatkan agama sebagai panduan untuk mengkreasi model kehidupan berbangsa yang penuh dengan nilai-nilai toleransi, gotong royong dan rukun sejahtera.

Selamat membaca.

Judul buku : Islam Nusantara, Jalan Panjang Moderasi Beragama di Indonesia
Penulis : Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Penerbit : PT Elex Media Komputindo (Quanta)
ISBN : 978-623-00-0028-7
Cetakan : I, 2019
Tebal : xiv + 496 halaman


Dimuat di portal Harakatuna pada 11 Agustus 2019, link https://www.harakatuna.com/islam-dalam-keragaman-nusantara.html

4 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP