Loading...
Thursday, April 11, 2019

Nasib Netiquette di Tahun Politik



Oleh: Wakhid Syamsudin

NEGERI tercinta memasuki tahun politik, setidaknya ini di­mulai sejak Pilkada 2018, dan berlanjut gelaran Pileg dan Pil­pres tahun 2019. Pesta demokrasi pemilihan pemim­pin un­tuk lima tahun ke depan mulai kencang bergema. Sudah pasti, politik mencuatkan persaingan antara partai politik maupun calon pemim­pin. Bahkan, panasnya suasana itu juga memantik pergulatan di kala­ngan tim sukses, pendukung dan simpatisan para kandidat.

Persaingan yang sehat akan me­numbuhkan kesadaran ber­demokrasi, tapi sebaliknya, dampak negatif per­saingan itu mun­cul ketika para pe­serta politik saling menyerang dan men­cari kelemahan satu sama lain. Suhu politik yang tidak sehat bisa berakibat sangat buruk, rentan kon­flik sosial di masya­ra­kat, bahkan ber­potensi terjadinya disintegrasi bangsa bahkan perpecahan yang sangat tidak diinginkan.

Ranah daring di media sosial kita sudah banyak dibanjiri ber­bagai macam postingan-postingan berbau politik yang di­sertai komentar-komentar tajam dan pedas. Seolah beranda di­pe­nuhi negative campaign di mana masing-masing berkam­pa­nye dengan mengemukakan sisi nega­tif atau kelemahan fak­tual dari lawan politik, bahkan menjurus ke­pada black campaign dengan taburan fitnah, ujaran kebencian, dan kebo­hongan serta berita hoaks. Gam­pangnya masyarakat sebagai warga­net untuk membagikan segala posti­ngan tanpa filter juga makin menam­bah gaduhnya suasana. Apalagi ditingkahi dengan komentar demi komentar saling nyinyir tanpa mem­per­hati­kan etika dalam berinternet.

Barangkali perlu kembali kita ingatkan, dalam dunia maya, meski tidak secara langsung, kita tetap berhadapan de­ngan se­sa­ma manusia yang memiliki hati dan perasaan, sehingga tidak selayaknya menga­baikan sopan santun dalam ‘berbi­cara’. Etika dalam berinternet lebih dikenal dengan istilah netiquette.

Netiquette kependekan dari network etiquette, adalah etika dalam berkomunikasi lewat internet. Neti­quette memiliki fungsi yang sama de­ngan etika yang ada di dalam ling­kungan sosial manusia, yaitu meru­pakan tata krama atau sopan santun yang harus diperhatikan dalam per­gaulan agar terjaga hubu­ngan yang selalu baik.Dan aturan ini sering di­abaikan karena seba­gian warganet merasa acuh, toh lawan ‘bicara’ tidak berha­dapan secara fisik.

Salah satu rujukan etika komu­nikasi di internet adalah arti­kel Virginia Shea yang dipublikasikan oleh Albion Books, San Francisco, 1994 berjudul The Core Rule of Netiquette. Virginia Shea mengemukakan pera­turan berinteraksi di dunia ma­ya yang intinya sama dengan etika komuni­kasi dalam dunia nyata. Adhere to the same standards of behavior online that you follow in real life. Sebagai­mana saya sebutkan di atas, war­ganet seharusnya menyadari sepenuhnya bahwa kita sedang berinteraksi dengan manusia juga (remember the human), yang bisa-bisa tersinggung dan sakit hati dengan pos­ting­­an ataupun komentar kita.

Kita harus mampu mengendalikan emosi, jangan sekali-kali posting atau komentar apa pun dalam kondisi marah, dan jangan ragu meminta maaf jika keliru bahkan membuat ter­singgung orang lain. Begitupun jika lawan bicara meminta maaf, selayak­nya kita juga berlapang dada me­maafkannya. Perbedaan pilihan politik itu lumrah, tapi jangan meng­hi­lang­kan akal sehat dan kesopanan kita.

Standar acuan netiquette juga dite­tapkan oleh IETF ( The Internet Engineering Tasking Force), yaitu sua­tu komunitas masyarakat interna­sio­nal yang terdiri dari para peran­cang jaringan, operator, penjual dan pe­ne­liti yang terkait dengan evolusi arsi­tektur dan pengoperasian inter­net. Beberapa pelang­garan umum dari aturan netiquette ini di antaranya adalah banyak warganet yang mela­kukan spamming atau junking, yakni mengirimkan sesuatu yang tidak la­yak pada tempatnya atau menyampah.


Lalu flamming dengan membuat postingan atau ataupun komentar yang memanas-manasi orang lain (provokatif). Ke­mudian juga tindakan trolling yang tidak berhu­bungan de­ngan bahasan.

Dan yang paling mengerikan di tahun politik ini adalah banyaknya informasi yang tidak dapat dipertang­gungjawabkan atau hoaks.

Pelanggaran atas aturan tersebut tentu berpotensi me­nyinggung perasaan orang lain. Dalam dunia politik, kita sah-sah saja menunjukkan dukungan atas kandidat tertentu, tapi jangan serta-merta mengabaikan aturan etika yang sudah ber­laku secara umum.

Berinteraksi di media sosial dengan tetap mengedepankan tata krama dan sopan santun adalah sebuah tindakan bijak sebagai warganet.

Jika kita kaitkan dengan aga­ma, maka kita tentu harus menyadari, apa yang kita tulis kelak akan dimintai pertang­gungjawaban.

Mengabaikan netiquette hingga melukai perasaan orang lain adalah sebuah dosa yang hanya akan diampuni Tuhan ketika yang bersangkutan dengan sukarela memaafkan kita. Bagai­mana kita begitu saja dengan enteng mengabaikan etika sema­cam ini, sementara kita sendiri akan merasa sakit hati saat ter­singgung, apalagi mendapati kalimat kotor dari lawan ‘bicara’ kita?

Apakah nasib netiquette di tahun politik ini terabaikan begitu saja? Mari kita sudahi perdebatan kotor yang menjurus kepada perpecahan.

Selayaknya politik mendidik kita untuk maju dalam pemikiran, menjadikannya ajang untuk meng­ambil posisi sebagai agen pembangunan dan pembaruan politik se­bagai upaya mencapai perbaikan kehidupan ber­bangsa dan ber­negara. Ini semua merupakan tanggung jawab moral kita ber­sama. Dan menjadi santun itu adalah sesuatu yang indah. ***

Penulis adalah Ketua Umum Komunitas Menulis One Day One Post (ODOP), Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah

Dimuat di Harian Analisa edisi Rabu, 10 April 2019

4 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP