Loading...
Thursday, April 25, 2019

Menakar Daya Baca Buku Kita


Oleh: Wakhid Syamsudin

Hari Buku Sedunia atau Hari Buku Internasional (World Book Day) merupakan hari perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 23 April. Hari yang juga dikenal sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia ini di­adakan oleh UNESCO untuk mem­promosikan peran membaca, pener­bitan, dan hak cipta.

Latar belakang penentuannya, diku­tip dari laman Wikipedia, hubu­ngan antara 23 April dengan buku pertama sekali dibuat oleh toko buku di Catalonia, Spanyol pada tahun 1923.

Semula, ide itu berasal dari Vicente Clavel Andrés, seorang penulis Valencia, yang mengusul­kannya sebagai cara untuk meng­hargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal tersebut. UNESCO sendiri memu­tus­­kan Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia itu dirayakan pada  23 April pada tahun 1995, sekaligus tanggal tersebut juga merupakan hari mening­galnya William Shakespeare, sastra­wan cum dramawan terbesar Inggris, dan Inca Garcilaso de la Vega, salah seorang penulis besar Spanyol.

Uniknya, 23 April juga meru­pakan tanggal kelahiran para penulis besar dunia lainnya seperti Maurice Druon, Haldor K. Laxness, Vladimir Nabo­kov dan Manuel Mejía Vallejo pada tahun-tahun yang berbeda.

Ibu Kota Buku

Terhitung sejak 2001, UNESCO bersama organisasi-organisasi inter­na­sional lainnya yang mewa­kili tiga sektor industri perbukuan (penerbit, penjual buku dan per­pustakaan), secara khusus memilih sebuah kota sebagai Ibu Kota Buku Dunia. Gelar penghargaan tersebut diberikan kepada ibu kota negara yang mem­perlihatkan komitmen tinggi dalam mengadakan pesta buku, promosi dan juga aktivitas literasi untuk mengem­bangkan dunia sastra, kesenian, dan juga kebudayaan.

Setiap tahun UNESCO membu­ka pendaftaran bagi kota-kota di seluruh dunia yang ingin mengaju­kan diri menjadi Ibu Kota Buku Dunia dengan mengirimkan sejumlah dokumen persyaratan. Adapun kota-kota yang pernah terpilih sebagai Ibu Kota Buku Dunia sejak tahun 2001 sampai de­ngan 2019 adalah Madrid (Spa­nyol), Alexandria (Mesir), New Delhi (India), Antwerp (Berlgia), Montreal (Ka­nada), Turin (Italia), Bogota (Ko­lombia), Amsterdam (Belanda), Bei­rut (Libanon), Ljubljana (Slo­venia), Buenos Aires (Argentina), Yerevan (Armenia), Bangkok (Thailand), Port Harcourt (Nigeria), Incheon (Korea Selatan), Wroclaw (Polan­dia), Cona­kry (Guenea), Athena (Yunani), dan Sharjah (UEA).

Belakangan ini, negara tetangga kita, Malaysia, sudah melakukan upa­ya resmi untuk melobi PBB supaya Kuala Lumpur bisa meraih status Kota Buku Dunia 2020. Lobi tersebut ber­langsung dalam dua tahap yaitu pada sidang umum UNESCO tahun 2017 dan sidang umum UNESCO tahun 2019 nanti.

Malaysia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan orga­nisasi bidang keilmuan dan kebu­dayaan Perseri­katan Bangsa-Banga (PBB), karena memang merupakan anggota ekse­kutif UNESCO dan wakil kelompok kerja Elektoral (IV) yang mewakili negara-negara Asia Pasifik.

Pemerintah Malaysia cukup serius dalam pembangunan sumber daya manusia, serta berbagai isu dalam negeri seperti pariwisata, pendidikan, budaya, agama, multi ras, dan lain sebagainya. Tam­paknya, Malaysia memiliki kans besar untuk menyabet status Kota Buku Dunia 2020. Kira-kira, kapan negara kita tercinta Indonesia punya greget untuk meraih gelar tersebut?

Geliat Literasi di Indonesia

Fakta memprihatinkan terung­kap dari pemeringkatan literasi interna­sional, Most Literate Nations in the World, yang diterbit­kan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Menilik dari fakta tersebut, sudah semestinya program literasi terus diupayakan secara maksimal. Peme­rin­tah sudah mulai mem­be­rikan perhatian serius pada program-program literasi. Upaya untuk men­ing­katkan minat baca dan menjaga agar kegiatan literasi terus ber­denyut dalam kehidupan masyarakat pun terus dilakukan.

Tahun 2017, Direktorat Pendi­di­kan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyeleng­garakan Gerakan Indonesia Mem­baca (GIM) dan Kampung Literasi (KL) di beberapa Kabupaten/Kota di tanah air. Semoga gerakan ini bisa memacu geliat literasi masya­rakat kita.

Daya Baca

Kesadaran akan pentingnya mem­baca harus gencar kita galak­kan. Tidak hanya minat baca, tapi yang jauh lebih penting lagi adalah me­ning­katkan daya baca. Adi Wahyu Adji, motivator baca Indonesia dan juga pencetus kegiatan One Week One Book, mengatakan bahwa minat baca relatif mudah ditumbuh­kan. Tetapi minat baca itu berbeda dengan daya baca.

Ketika seseorang sudah minat membaca, lalu mengambil sebuah buku untuk dibaca, belum tentu dia bisa menghabiskannya. Belum lagi soal jangka waktunya, berapa lama waktu yg diperlukan untuk mena­mat­kan 1 buku. Apakah bisa 1 buku ta­­mat dalam 1 minggu? Atau perlu sampai 1 bulan? Atau malah lebih? Nah, itulah yang namanya daya baca.

Tampaknya masih banyak peker­jaan rumah kita dalam dunia literasi. Marilah kita dukung segala upaya baik dari pemerintah maupun para penggerak literasi, untuk menum­buhkan daya baca masyara­kat kita.

Semoga kita bisa mengejar ke­ter­ting­galan dalam dunia literasi. Se­moga suatu saat, Jakarta layak me­nyandang predikat Ibu Kota Buku. Mari membaca buku, dan selamat Hari Buku Interna­sional! ***

Penulis adalah  Ketua Umum Komunitas Menulis One Day One Post (ODOP), tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dimuat di Harian Analisa edisi Rabu, 24 April 2019

2 komentar:

  1. Wah, lengkap banget sejarahnya. Kemarin sempet liat di TVRI, katanya minat baca di Indonesia kini naik ke peringkat 16

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau demikian, semoga ke depan makin meningkat ya, Mbak.

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP