Loading...
Tuesday, January 22, 2019

Inspirasi Seorang Hiday Nur

Sumber foto https://widhyanua.com/2018/03/05/kopdar-odop/

Kali pertama berjumpa dengan Mbak Hiday adalah saat kopdar akbar perdana komunitas One Day One Post di Griya Langen Jogja. Ibunda dari Kazumi ini adalah salah satu sesepuh komunitas ODOP, sebagai penasihat. Ya, pastilah senior banget. Menurut pengakuannya, Mbak Hiday gabung ODOP pada Februari 2016. Generasi awal-awalnya komunitas ini terbentuk.

Dalam kesempatan berbicara di acara kopdar tersebut, Mbak Hiday banyak berkisah tentang perjalanan menulisnya yang tidak lepas dari keterlibatan dalam komunitas ODOP. Ia menyampaikan rasa terima kasih pada Bang Syaiha selaku pendiri, yang banyak memberikan motivasi pada teman-teman penulis pemula yang berusaha konsisten. Lebih jauh, Mbak Hiday berharap ODOP ke depannya bisa banyak berkontribusi positif bagi dunia literasi tanah air.

Mbak Hiday sekeluarga tampaknya ada agenda lain, hingga harus pamit undur duluan sebelum semua acara kopdar terlaksana. Itu saja yang saya ingat dari pertemuan dengan pemilik blog hidaynur.web.id ini di Langenastran. Tapi cukup bisa menarik kesimpulan, bahwa Mbak Hiday memang bukan orang sembarangan di dunia persilatan tinta.

Mbak Hiday ini adalah salah satu penerima beasiswa S2 Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LDPD) RI, yang kisah serunya ada di buku Awardee Stories terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di mana pada buku itu, Mbak Hiday menulis bersama teman-teman awardee LDPD seangkatan yang sekarang study di Melbourn-Aussy, Oxford-UK, Wellington-New Zealand, dan Waterloo-Canada. Luar biasa ya, saya merasa butiran debu nih! Serius!



Dalam sebuah tulisan di blog pribadi Mbak Dymar Mahafa, senior juga di ODOP, ia menyebut Mbak Hiday adalah sosok emansipatif. Berbicara emansipatif tentu merujuk pada pengertian emansipasi yang merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha mendapatkan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, atau menepiskan perbedaan gender dalam segala aspek politik dan sosial kemasyarakatan.

Kalau di Indonesia, emansipasi akan terkait langsung dengan sosok RA Kartini. Pelopor kesetaraan gender yang berjuang dengan sarana literasi. RA Kartini yang banyak membaca surat kabar Semarang de Locomotife asuhan Pieter Brooshooft, dan juga menerima paket majalah yang diedarkan di toko buku kepada langganan (lestrommel). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga termasuk majalah wanita Belanda de Hollandsche Lelie. Bahkan Kartini sering mengirim tulisan dan dimuat di sana. Artinya apa? Bahwa wanita dan literasi sangat identik dengan emansipasi itu sendiri.

Saya melihat Mbak Hiday ini adalah pegiat literasi, sangat haus ilmu dan tidak pelit membagikannya pada siapa pun. Sangat sering ia memancing obrolan-obrolan tentang literasi di grup WhatsApp Keluarga Besar ODOP (KBO), agar tidak hanya penuh chat di luar jalur kepenulisan. Dari sini bisa saya simpulkan, Mbak Hiday memang sosok edukatif, inspiratif, dan bolehlah kita amini Mbak Dymar, yang menyebutnya emansipatif.

Mengenai kegusaran Mbak Hiday dengan banyaknya obrolan unfaedah di grup KBO, saya sempat merasa kena semprit juga karena segala dosa saya di grup KBO. Beberapa dosa yang telah saya perbuat di antaranya, nanya Sovia mandi belum, godain Nisa dengan panggilan Isnaini, atau pura-pura manggil Pak Guru Dwi Septiyana dengan mbak. Yang soal 'nanya mandi' itu pernah disindir serius oleh Mbak Hiday dan Uncle Ik. Ya sudah, saya akhirnya insyaf dari dosa-dosa itu, dan mulai membatasi diri ngobrol di grup KBO terutama yang out of topic. Hehe, ini beneran lho!

Dalam tulisan lain, Pak Suparto, sesepuh ODOP lainnya, bahkan menyebut wanita kelahiran Tuban, Jawa Timur ini sebagai ensiklopedi berjalan. Tidak berlebihan, karena kalau di grup KBO ada yang bertanya terkait dunia kepenulisan, Mbak Hiday dengan cemerlang akan menjawabnya.

Kontributor rubrik Sejarah Peradaban Islam di Majalah Al-Uswah Tuban ini, belakangan juga sedang merintis taman bacaan bernama Sanggar Caraka dan menggagas aneka kegiatan literasi di sana. Sukseslah untuk proyek luar biasa ini, Mbak!

Mbak Hiday juga mengagas NAC, Nulis Aja Community, komunitas anakan dari ODOP yang menampung anggota yang bermimpi pengin nulis buku solo, baik fiksi maupun nonfiksi. Hasil dari usaha Mbak Hiday dkk ngopyak-opyak peserta agar tidak lupa menulis, membuahkan hasil. Beberapa peserta sukses menelorkan buku solonya. Ada novel dan kumpulan puisi juga. Pokoknya, peran Mbak Hiday tidak bisa dianggap remeh. Saya juga menuntaskan Samara Kasih di NAC, meski belum saya terbitkan. Hihihi.

Apa lagi ya? Cukup itu kali ya, yang bisa saya tulis. Yang pasti, kenal dengan Mbak Hiday, baik maya atau nyata, tidak bakalan rugi. Sebaliknya, akan termotivasi untuk menjadi yang lebih baik lagi. Silakan berkenalan sendiri dengan Mbak Hiday, di facebook Hiday Nur, atau instagramnya, @hiday_nur_r atau @sanggarcaraka. Blog-nya juga layak dikulik. Semangat terus, ya, Mbak Hiday!

14 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP