Loading...
Friday, November 23, 2018

Duet, Belajar Tak Batasi Mimpi


Saya sedang sibuk nih. Sibuk mengikuti drama seri berjudul Duet. Dulu pernah sepintas tidak sengaja melihat drama seri ini diputar di Kompas TV, dan saya simpulkan kalau ini keren, berbeda dengan model sinetron-sinetron televisi yang lain. Dan saat meng-instal Iflix, saya beruntung berjumpa dengan serial Duet yang nangkring pada salah satu sajian gratis di aplikasi nonton itu. Dan akhirnya, saya bisa mengikuti Duet ini dari seri 1 sampai habis, seri 26.

Duet adalah drama seri garapan DVI Production dan dulu sudah diputar di Kompas TV sejak bulan September 2012 tiap Sabtu pukul 20.00 WIB, dan diulang Minggu, tiap pukul 13.00 WIB. Konon memang Duet dijanjikan berbeda dengan kebanyakan drama seri lainnya. Salman Aristo yang mengonsepnya bersama Gina S. Noer menyajikan jalan cerita yang kuat, punya daya pijak membumi dan daya rangkul ke penonton dengan sangat hangat. Memang sih, dukungan sudut pengambilan gambar dan pencahayaan sangat mirip dengan film layar lebar. Plus, akting natural para artis yang memerankan tiap karakter dengan perfect.

Saya memang tidak mengikuti penayangannya di televisi, secara memang tidak punya televisi di rumah, hehe. Syukur drama seri ini bisa saya tonton tuntas di Iflix dengan jaringan Indosat Ooredoo, pakai paketan yang dua ribu perak per hari. Puas deh, drama seri ini jadi pengantar jelang berangkat tidur. Saya biasa tonton setelah ketiga makhluk tercinta terlelap dengan nyenyaknya. Dan saya sering kebablasan nonton sampai lewat dini hari. Ini jangan ditiru ya!

Duet berkisah tentang Linda, perempuan keras kepala yang berusaha mewujudkan mimpi menjadi penyanyi dengan idealisme yang gagah dan menembus industri musik Indonesia, yang harus berduet dengan kerasnya kehidupan. Masa lalu pahit, Linda harus kabur dari rumah karena hamil ketika berusia 17 tahun. Kidung, begitu ia menamai anak gadis cerdas yang ia lahirkan tanpa suami, tanpa dukungan ibunya, Hasnidar. Linda dan Kidung hidup dari kontrakan satu ke kontrakan lain, bersikukuh menolak bantuan apapun dari Hasnidar, yang adalah seorang pengusaha kaya.

Untuk menghidupi diri dan Kidung, apalagi Kidung juga sudah mulai memasuki kelas 6 sekolah dasar, Linda bekerja di sebuah cafe. Di situ juga ia berkenalan dengan Ari, penyanyi cafe, yang sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam kehidupannya.

Suatu kali, saat Linda mencoba melamar kerja jadi guru di sebuah sekolah musik, ia justru dilirik anak pemilik sekolah musik itu untuk bergabung jadi vokalis di grup bandnya, Maestro. Tapi tidak, itu bukan tempat sukses Linda, justru Maestro adalah band yang anggotanya seringkali bertengkar, sekuat tenaga Linda berusaha menyatukan kekompakan band tersebut, sebelum akhirnya ia justru disingkirkan.

Linda yang diperankan dengan sangat natural oleh Adinia Wirasti, sangat kuat karakternya. Sangat keras kepala. Kidung diperankan dengan cantik oleh Luna Sabrina, yang saya selalu suka dengan gaya ngobrolnya sama sang mama. Sudah kayak sahabat saja mereka berdua.


Sebagai peran pendukung, Ari yang diperankan oleh Tora Sudiro juga cukup memberi warna dengan kemampuannya bernyanyi yang ... lumayanlah. Ada juga Gita, sohib karib Linda yang diperankan Iloet Fairuz, yang selalu jadi sasaran saat mamanya Kidung itu lagi ada maunya. Tak kalah juga akting Jajang C. Noer yang memerankan Hasnidar, ibunda Linda yang mulai berusaha merestui cita-cita gila anak perempuannya, mencoba mengambil alih Kidung, cucunya, agar bisa diajak tinggal bersamanya. Hal yang selalu ditolak keras oleh Linda.


Linda yang mengikuti kontes musik dengan segala macam kecurangan, dari gitar disembunyikan kontestan lain, sampai paling menyebalkan saat menemukan kenyataan juri sudah diarahkan panitia untuk memilih pemenang sesuai pesanan mereka, seolah frustasi dengan cita-cita idealisnya yang seakan tak kunjung bertemu harapan.

Pada episode-episode akhir, mendadak muncul Darma yang diperankan Abimana, ayah biologis si Kidung. Kidung lebih terbuka dalam menerima kehadiran sang ayah, tapi tidak untuk Linda. Sakit hatinya terlalu dalam.

Setiap scene adegan dalam serial ini sungguh terlihat natural dan membumi. Ditambah lagi dukungan lagu-lagu hits tahun 90-an yang sangat pas membuat saya kadang penasaran untuk mendownload lagu-lagu tersebut. Kalau kata Linda, tahun 90-an adalah golden era musik popular Indonesia. Masa emas yang tidak akan tergantikan.

Soundtrack serial drama ini juga bagus lho, lagunya Vuje, Mimpi Tanpa Batas yang diciptakan oleh Salman Aristo. Sangat berenergi mendukung cerita yang mengalir dengan baik. Kayaknya saya akhiri saja review ala saya ini dengan potongan lirik soundtrack-nya ya:

Genggam jemarimu adalah kekuatanku
Kerjapan senyummu alasan untuk terus tumbuh
Temani aku di sini
Belajar tak batasi mimpi
Menemanimu di sini
Bersama mengeja lagi mimpi

6 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP