Loading...
Friday, May 4, 2018

Antara Dua Delisa


Delisa? Siapa sih? Apa iya belum pernah dengar nama itu? Kalau Hafalan Shalat Delisa? Yup, tepat! Delisa adalah nama bocah tokoh utama dalam novel Tere Liye yang sudah diangkat ke layar lebar. Pemerannya Chantiq Schagerl berhasil meraih penghargaan dalam Festival Film Bandung untuk Pemeran Anak Terpuji.

Kali ini saya hanya mau sedikit menyampaikan unek-unek perihal dua Delisa. Satu Delisa yang saya baca dan bayangkan di otak, satu lagi Delisa yang saya tonton di filmnya. Apa ada yang beda?

Novel asli dan film adaptasinya ini sama judulnya. Dan keduanya menggunakan kata Shalat yang harusnya kalau menyesuaikan ejaan yang benar menurut PUEBI adalah Salat. Tapi sudahlah, suka-suka yang bikin judul sajalah.

Saya lebih dulu menonton filmya daripada membaca novel karya Tere Liye ini. Saya bukan seorang yang paham dunia perfilman, maka komentar saya hanya berdasar subjek saya sebagai penonton awam. Sungguh, film yang saya kira akan sangat menyentuh karena bersetting tragedi tsunami di Aceh ini, entah mengapa saya datar saja menikmatinya. Entah apa karena tidak pekanya saya atau apa, yang jelas saya tidak bisa benar-benar menikmati keharuan pada film itu. Bahkan adegan saat Delisa praktek ujian bacaan salat di kelas yang bertepatan dengan terjadinya tsunami, saya tidak tersentuh sama sekali. Mana nih dramatisir yang dilakukan produser? Duh … saya benar-benar tidak bisa menikmati film ini. Entahlah, mungkin benar, saya yang tidak peka.

Lalu bagaimana novelnya? Saya baru menuntaskannya berkat paksaan pije RCO yang menantang membaca novel yang sudah difilmkan dan diminta menulis perbandingannya. Yang saya baca bukan buku fisik. Tapi cuma ebook dengan tulisan yang kayaknya belum tersentuh editor. Jumlah halaman ebook pun beda dengan ketebalan buku fisiknya. Tapi saya yakin isinya sama.

Bagaimana dengan Delisa di novel? Awalnya sih biasa saja. Memang banyak keteladanan yang ditulis Tere Liye pada keluarga Delisa. Mengalir hingga terjadinya tsunami dan paska bencana mengerikan itu. Bagaimana Delisa menghadapi segala cobaan beratnya. Saya terbawa dalam tiap kalimat yang Tere Liye tuliskan. Sungguh, saya merasa apa yang tertulis di novel lebih berhasil membuat saya masuk ke cerita dibanding menonton filmnya.

Soal ide Tere Liye yang mengangkat setting tsunami Aceh dari sudut pandang Delisa yang kesulitan menghafal bacaan salat, sungguh sangat keren dan kreatif. Bisa-bisanya ide seperti ini muncul. Baguslah pokoknya. Pesan kemanusiaan dan budi pekerti serta pentingnya pendidikan keluarga sangat kental, disamping juga teladan kesabaran dan kegigihan dalam menjalani segala ketentuan Allah.

Saya siapa sih, cuma tukang komentar saja. Intinya, saya agak kecewa dengan filmnya kalau menimbang dengan novel yang seapik ini. Membayangkan Tere Liye menyaksikan hasil adaptasi novelnya ke film, entah bagaimana perasaannya. Kalau saya jadi dia, saya pasti kecewa berat. Tapi saya cuma komentator yang asal bicara saja.

Harapan saya kelak para sineas Indonesia yang bikin film adaptasi agar bisa lebih menjiwai. Agar tidak muncul komentar tidak jelas seperti yang saya tulis ini. Semoga kelak film Indonesia bisa bermanfaat dan profesional, maksimal dalam berkarya.

#tugasRCO3
#Tugas2Level3
#OneDayOnePost

6 komentar:

  1. Novel dan filmnya sama2 keren

    ReplyDelete
  2. Saya cuma nonton filmnya. Jadi no komen buat novelnya 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bacalah. Masak cuma dikoleksi doang ebooknya!

      Delete
    2. Saya belum baca novelnya. Ttapi ketika melihat tulisan Anda saya jd tertarik membacanya

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP