Loading...
Thursday, February 1, 2018

Sebuah Pengakuan



Yoga baru saja memencet tombol merah pada remote sambil selonjoran di tikar yang digelar di depan televisi. Perangkat elektronik itu menyala seiring masuknya Irene sambil mengucapkan salam. Yoga menjawab tanpa mengalihkan mata dari layar kaca. Istrinya itu terlihat cantik dengan sedikit berdandan dan mengenakan kaos panjang bercelana hitam panjang. Ia mengenakan rompi yang biasa dipakainya kalau ada acara dari posyandu. Rambutnya diikat dan ditutup topi sewarna dengan rompinya.

"Sudah selesai, Say?" Yoga bertanya, melirik sebentar ke arah istrinya yang sedang membuka lembaran kertas buram fotokopian.

"Iya, Mas. Untung cuacanya tidak begitu panas."

"Jadi sama siapa?"

"Sama Mbak Listiana tadi. Kebagian mendata di RT kita sama RT sebelah."

Yoga manggut-manggut. Ia berkali mengganti chanel televisi mencari acara yang disukainya, tapi tidak ketemu. Semua sinema lebay dengan akting tidak bermutu. Kesal, dimatikannya perangkat hiburan itu. Lalu berdiri, duduk di kursi tamu, tempat Irene masih sibuk dengan kertas buramnya.

"Ada berapa warga yang terdata?" tanya Yoga.

"Yang masuk difabel di RT kita ada 5, RT sebelah 7. Total satu kebayanan 21 orang, Mas."

Yoga melihat istrinya yang mulai menulisi kolom kertas buram itu. Memang sejak direkrut gabung menjadi kader PKK dan penggerak posyandu, istrinya itu memang super sibuk. Sering ada acara yang cukup menyita waktu. Tapi biarlah, toh ia tidak merasa terganggu dengan aktivitas istrinya itu. Lagi pula mereka memang belum dikaruniai anak, jadi kegiatan itu bisa membuat Irene cukup terhibur dengan kesibukannya. Yoga sendiri senang istrinya bisa berkiprah di masyarakat.

"Apa kendalanya mendata mereka?"

Irene berhenti menulis. Sejenak menatap suaminya sambil mengingat. "Kendalanya sih, kadang dari keluarga si penyandang difabel, Mas. Sebagian mereka tidak senang kehadiran kita. Seolah mendata anggota keluarga yang difabel itu menyudutkan mereka. Menganggap dibeda-bedakan."

"Wajar juga, sih, menurutku."

"Tapi lebih banyak yang merasa senang sudah mulai ada perhatian dari pemerintah kepada penyandang difabel. Apalagi adanya program bantuan peralatan yang dibutuhkan mereka, seperti prothese, tangan palsu, kursi roda, brisk, krek, modifikasi motor, korset, dan sebagainya."

Yoga mengangguk. Ia ingat teman kerjanya yang kecelakaan beberapa bulan lalu mendapat bantuan prothese atau kaki palsu dari pemerintah. "Kita memang tidak boleh menganggap difabel sebagai beban dalam masyarakat. Kita harus merangkul mereka."

Irene tersenyum. Suaminya memang sangat peduli sama orang lain, itu juga yang membuatnya selalu kesengsem pada lelaki itu. "Difabel memang sedang dalam perhatian pemerintah, Mas. Ini salah satu program terkait mewujudkan desa inklusi."

"Desa inklusi?"

Irene mengangguk. Lalu membuka lembaran lain yang dia bawa. Membaliknya, menemukan tulisan yang ia cari. Lalu membacanya. "Peduli Disabilitas merupakan program dari Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Manusia dan Kebudayaan RI. Ini juga sebagain respon adanya Undang-Undang Desa dan memenuhi mandat dari Ratifikasi Konvensi Hak Penyadang Disabilitas dengan Undang-Undang nomor 19 Tahun 2011."

"Kamu kok cerdas begitu, sih, Say?"

"Dih ... saya baca, Mas. Ini tertulis di sini pembahasannya." Irene menunjukkan kertas buramnya.

"Coba baca lagi, ada lanjutannya nggak?"

"Konsep Inklusi sebenarnya bisa dipahami sebagai “pengakuan dan penghargaan atas keberagaman”. Masyarakat inklusi adalah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan mampu mengakomodasinya ke dalam berbagai tatanan maupun insfrastruktur yang ada pada masyarakat itu sendiri. Keberagaman disini meliputi : agama, budaya, bahasa, gender, ras, suku bangsa, strata ekonomi, termasuk perbedaan fisik/mental atau disebut disabilitas. Apabila keragaman ini mampu diterima dengan baik dan dianggap sesuatu yang wajar maka masyarakat akan membangun sistem layanan, interaksi dan fasilitas yang memudahkan bagai semua orang termasuk orang-orang yang mempuyai hambatan dan kebutuhan khusus."

"Panjang amat?"

"Iya, biar jelas. Kemudian ..."

"Sudah, sudah. Mas sudah paham kok. Mas ikut senang saja dengan program-program pro difabel begini. Sebagai sebuah pengakuan keberadaan mereka. Tanpa sekat."

Irene tertawa kecil. "Saya mau rekap hasil pendataannya, Mas. Habis itu setor hasilnya ke rumah Bu Bayan."

"Iya, deh. Mas juga mau main-main sama si Wulan."

"Ih, burung terus yang diurusin!" protes Irene.

"Mau main-main sama anak belum punya."

"Maaf, Mas." Irene mendadak sedih mendengar sahutan suaminya.

"Maaf, Say, Mas nggak ada maksud ..., sudahlah. Anggap angin lalu saja." Yoga lekas mencoba alihkan suasana dengan berkata,"Itu burung baru. Habis beli dari teman. Burung kesayangannya yang terpaksa dijual ke Mas."

Irene mengangguk. Yoga paham kesedihan terdalam itu. Penantian yang entah akan sampai kapan. Yoga yakin rumah ini tetap akan ramai gelak canda bocah suatu saat nanti. Aamiin ....

"Namanya keren ya, kayak nama cewek. Wulan. Ada-ada saja si empunya ngasih nama."

"Iya, Mas. Asal jangan main cewek aja!" Irene mengingatkan dengan nada sangat-sangat serius.

Yoga hanya tertawa. Senang istrinya tidak terlihat sedih lagi. Lekas ia beranjak berdiri. Menuju ke teras, di mana koleksi burungnya digantung berjejer di dalam sangkarnya.

#30DWCday22
#difabel

12 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP