Loading...
Thursday, February 8, 2018

Sauh Berlabuh Juga pada Dermaganya


Judul buku: Sauh
Penulis: Shabrina Ws
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-04-5206-7
Tebal: vi + 222 halaman
 

Bagaimana aku bisa berlabuh, pada hati yang bukan dermagaku?

Saya membeli novel ini setelah mengenal penulisnya, Mbak Shabrina Ws. Perkenalan pada proses kreatifnya dalam menulis, saat sharing di grup WhatsApp Kelas Fiksi ODOP beberapa waktu lalu. Sungguh, saya penasaran dengan buku baru Mbak Shabrina Ws ini. Sayangnya, saya harus bersabar menuntaskan membaca novel ini karena masih diburu setoran bacaan pada Reading Challenge ODOP '2 yang saya ikuti.

Setelah saya menyelesaikan membaca Sauh setebal 222 halaman ini, saya merasa cukup puas. Cerita yang diangkat sebenarnya sudah banyak digarap penulis lain. Tapi tetap saja rasa dan aroma yang disajikan penulis asal Pacitan ini punya kekhasan yang berbeda. Saya sangat enjoy menikmati lembar demi lembar halamannya. Renyah seperti kentang goreng.

Novel ber-setting utama di Pacitan ini penuh dengan kutipan-kutipan keren. Yang tiap baris quote-nya membuat saya merasa diajak berpikir kembali tentang makna kehidupan. Tentang keluarga, pernikahan, tanggung jawab, perjuangan, bahkan nilai kesetiaan.

Sauh berkisah tentang Rosita Wisudanti (bukan Eni Wulansari, lho, ya!) yang dihadapkan pada sebuah masalah dalam keluarga. Pada prolog di halaman awal, pembaca langsung disajikan sebuah problema yang cukup membuat saya terpancing untuk penasaran. "Tidak akan ada pernikahan pertama di rumah ini, selain pernikahanmu!" Ini suara Pak Maryono, ayah Rosita, yang tidak akan rela anak sulungnya didahului sang adik menikah. Apa lagi adiknya seorang laki-laki. Apa kata dunia, jika sampai anak pertama yang seorang gadis harus dilangkahi menikah sang adik yang laki-laki?

Dan, Rosita memang sedang menunggu cintanya yang belum kunjung berlabuh. Mbak Shabrina kemudian memunculkan nama Danu, teman kerja Rosita yang diam-diam suka padanya. Yang pada kenyataannya, Rosita pun punya rasa yang sama. Untuk membuat seru kisahnya, hadirlah Firman, pemuda pilihan orangtua Rosita yang hendak dijodohkan dengannya.

Siapakah di antara Danu dan Firman yang akan menjadi suami Rosita? Ataukah keduanya bukan jodoh Rosita? Rosita, Danu, dan Firman bersisian dan bersilangan pada jalan takdir. Ketiganya meyakini bahwa setiap orang memperjuangkan cinta dengan caranya sendiri. Tetapi, di musim yang lain, mereka didera pertanyaan. Sejauh mana cinta harus diperjuangkan?

Apa yang menjadi menarik dari kisah cinta segitiga ini? Rosita tidak tahu, mengapa Mbak Shabrina Ws mengajaknya berselancar pada novel Sauh ini. Yang ia tahu, ia dan Danu saling memendam rasa cinta. Sementara Firman blak-blakan mengatakan tentang perjodohan itu, padahal ia sama sekali tidak mencintai Rosita pada awalnya. Begitu juga Rosita yang marah besar saat mengetahui kepindahan tempat kerjanya adalah sebuah skenario perjodohan. Tapi keduanya mempunyai orangtua yang harus dihormati dan dijaga perasaannya. Keduanya berusaha mencoba menjalani proses perjodohan ini. Dan Danu? Dia memilih fokus pada tambak warisan ayahnya yang meninggal, menjadi laki-laki satu-satunya dalam keluarga, yang harus menanggung dua adiknya yang masih sekolah.

Lalu perjalanan takdir menemukan celah masing-masing. Peristiwa demi peristiwa terjadi dan banyak yang tidak terduga, sebagaimana misterinya takdir dan jodoh. Lalu, kembali ke pertanyaan tentang siapa jodoh Rosita? Dermaga itu akan dilabuhi oleh hati yang mana? Pasti akan seru jika kalian membacanya sendiri.

Bab demi bab tersaji dengan ringan, karena setiap bab bisa dibaca sekali duduk. Mbak Shabrina Ws memilih menuliskan tiap bab dengan tidak terlalu panjang, tapi selalu mengena di hati. Tidak kacangan. Dan saya suka. Dan seperti saya bilang tadi, tiap bab membawa quote yang mencerahkan jiwa, membuat pembaca merenung.

Secara keseluruhan, novel ini sangat bagus dan asik dinikmati. Kalian akan diajak jalan-jalan ke Pantai Teleng Ria, Pacitan. Setting yang disajikan dengan detail akan membuat kalian serasa hadir di sana. Menikmati pasirnya, jilatan ombaknya, dan desau anginnya.

Bacaan bagus buat kalian yang masih jomblo, menanti kekasih yang dijanjikan Tuhan. Juga bagus untuk yang sudah menikah, karena sebagian hidup kita adalah milik keluarga, kata Mbak Shabrina Ws pada prolog novel ini.

Saya tutup celotehan ini dengan mengutip tulisan di sampul belakang: Barangkali benar, kau dan aku sama-sama berjuang. Tetapi hanya Tuhan yang tahu, jalan yang kita tempuh ... akan bersauh pada pertemuan atau perpisahan.

16 komentar:

  1. Wew.. Jadi penasaran sama buku ini..

    ReplyDelete
  2. Masya Allah. Makasih ya, sudah baca dan meluangkan waktu nulis reviewnya. Makasih banget 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak Eni Wulansari. Terima kasih sudah menulis Sauh. Saya suka saya suka ....

      Delete
  3. Wuah ... Sepertinya keren (y), mau bacaaa... 😇

    ReplyDelete
  4. keren nih ...tapi belum beli

    Barangkali benar, kau dan aku sama-sama berjuang. Tetapi hanya Tuhan yang tahu, jalan yang kita tempuh ... akan bersauh pada pertemuan atau perpisahan.

    kalimat penutupnya ini benar sekali meski bikin hiks hiks

    ReplyDelete
  5. yg rennyah selalu kentang goreng ya..

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP