Loading...
Saturday, February 10, 2018

Duh ... Kau Membuatku Jatuh Cinta


Judul: Ibu Risma Memimpin dengan Hati
Penulis: Rinandi Dinanta
Penerbit: GIGA Pustaka
ISBN: 9786021318072
Tebal: 120 halaman

Ibu Risma, wali kota perempuan pertama di Surabaya, yang fenomenal dengan gaya kepemimpinannya yang tidak takut melawan arus politik, yang berdedikasi tinggi untuk kepentingan masyarakat banyak, membuat saya sempat penasaran juga, hingga akhirnya membaca buku ini. Selama ini informasi tentang Ibu Risma hanya saya tahu dari media massa yang tentu saja tidak mengisahkannya secara utuh.

Di masa sekarang yang sangat minim pemimpin yang benar-benar bisa jadi panutan, maka muncullah tokoh-tokoh yang diidolakan rakyat seperti Bu Risma ini. Sedikit sekali, bisa dibilang langka. Terlahir pada 20 November 1961 dengan nama Tri Rismaharini, perempuan tegas, tidak kenal kompromi, dan tidak takut ancaman pengusaha hitam ini mampu mengubah kota yang dipimpinnya, yang semula sumpek, kotor, dan rentan membuat stres warganya, menjadi sebuah pelabuhan hati yang bersih dengan taman-taman menghijau. Konflik Kebun Binatang Surabaya hingga penutupan semua lokalisasi pelacuran adalah hasil kerjanya yang sangat fantastis, dan semua dilakukan dengan penuh empati, manusiawi, khas sentuhan seorang ibu.

Risma yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Kediri ini adalah anak ketiga dari pasangan Bapak Chuzaini dan Ibu Siri Mudjiatun. Ayahnya seorang PNS yang bekerja di kantor pajak dan memiliki usaha sampingan di antaranya sebuah toko yang di sinilah Risma kecil diajari bekerja sepulang sekolah, selayaknya seorang pegawai toko yang diberi upah sistem gaji. Pengalaman pekerjaan ini selalu diingat oleh Ibu Risma. Risma kecil sering sakit dan menderita asma yang membuat masa kecilnya sangat dibatasi dalam bermain keluar rumah.

Kejujuran seorang Risma sudah terlihat sejak sekolah, di mana dia tidak ikut-ikutan teman sekelas yang mendapat contekan sat hari ujian hingga nilainya paling jelek waktu itu. Sikap jujurnya mengalahkan hasrat untuk mendapat nilai bagus di kelas. Risma juga hobi menari dan sempat tampil pada acara-acara tertentu.

Kemunculan Ibu Risma di dunia politik, yang awalnya berlatar birokrat, adalah ketika dia diajukan oleh PDI-Perjuangan sebagai calon Wali Kota Surabaya pada 2010. Perannya sebagai pejabat publik yang profesional dan bersih, apa lagi memang dia bukan merupakan anggota partai, tidak membawa kepentingan apapun pada tiap posisi jabatan yang ditempatinya. Sempat menolak tawaran PDI-Perjuangan, meski akhirnya maju dan menang. Ketika itu Ibu Risma mengatakan usaha kemenangannya di pemilukada tidak perlu dipaksakan. Dia menolak dana kampanye besar yang hanya akan membuatnya terikat dengan kontrak politik dan kepentingan di kemudian hari.

Prestasi demi prestasi diukir Ibu Risma dalam masa kepemimpinannya. Berbagai penghargaan diterima. Dia juga sangat peduli dengan masyarakat. Sering kali ditemui wali kota satu ini sedang menyapu jalan, bahkan mengatur lalu-lintas yang macet karena tidak dijumpainya petugas Dishub Pemkot Surabaya di jalanan kala itu. Banyak politikus dan beberapa anggota DPRD Kota Surabaya yang mencibir gayanya memimpin yang bagi mereka terkesan overacting itu.

Pada 31 Januari 2011, belum genap satu tahun menjabat wali kota, DPRD Kota Surabaya menggunakan hak angket mereka untuk melengserkan sang wali kota yang tidak mereka sukai ini.  Ini terkait dengan Peraturan Wali Kota nomor 56 dan 57 tahun 2010 mengenai aturan pajak reklame  di kawasan-kawasan tertentu, terutama  di beberapa jalan protokol, yang naik 100-400% untuk reklame berukuran 8 meter, dan menurunkan 40% pajak reklame kecil di bawah 8 meter. Ini berdampak positif untuk tata ruang kota. Tapi para legislatif itu menolaknya. Enam dari tujuh fraksi termasuk PDI-Perjuangan terusik dan ingin melengserkan Ibu Risma. Hanya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang menolak melengserkannya. Sungguh tidak terlalu rumit untuk menyimpulkan bahwa pengusaha-pengusaha besar merasa dirugikan dan melakukan tekanan untuk mempengaruhi para anggota dewan agar peraturan yang mengganggu kepentingan bisnis mereka itu untuk disingkirkan.

Dalam perkembangannya, media massa di Surabaya condong mendukung Ibu Risma sehingga opini publik pun terpengaruh. Ini juga terulang saat Ibu Risma menolak membangun proyek jalan tol dalam kota Surabaya, yang membuat gerah para politikus dan anggota dewan yang tidak suka dan merasa terganggu dengan gaya kepemimpinan Ibu Risma.

Ibu Risma yang tidak takut dengan tekanan politik, menyerahkan keamanan diri pada Tuhan. Bahkan ia rela mati untuk kepentingan rakyat Surabaya. Inilah yang menjadikan rakyat Surabaya merasa memiliki Ibu Risma, hingga semua dukungan mengalir padanya yang selalu pro kepada kepentingan rakyat.

Satu lagi yang fenomenal adalah penutupan semua lokalisasi pelacuran di Surabaya. Rencana penutupan ini semakin bulat saat Ibu Risma mewawancarai seorang pekerja seks berusia 60 tahun yang terlilit banyak hutang, yang masih menjalani profesi hitamnya. Pengakuan pekerja seks sepuh itu membuat miris, karena faktor usia yang membuatnya tidak laku lagi, hingga dia hanya bisa melayani hasrat bocah-bocah SD hingga SMP dengan tarif sesuai uang jajan mereka. Ibu Risma menangis dan semakin membulatkan tekad menutup lokalisasi apapun risikonya.

Ibu Risma yang memimpin dengan kearifan seorang ibu, religius dengan imannya yang tidak kenal kompromi dengan segala kebobrokan politik, membuat saya jatuh cinta pada sosoknya. Ibu Risma meski diajukan oleh partai politik, namun berani menentang kebijakan yang tidak sesuai nuraninya. Semoga selalu diberi keberkahan hidup dan sehat selalu, Ibu Risma.

8 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP