Loading...
Tuesday, February 13, 2018

Di Antara Buku-Buku


Saya, istri, dan kedua anak saya sedang berada di perpustakaan. Sebut saja perpustakaan Serba Ada. Kayak toko saja, ya? Tapi memang sih, di perpustakaan ini semua buku yang pernah terbit di Indonesia pasti ada dalam katalognya. Berjejer rapi pada rak yang berbagai ukuran. Dan ini adalah surga bagi para penyuka buku.

Kalian mungkin tidak menyangka, bahkan saya pun tidak mengira, ternyata di surga buku ini saya berjumpa dengan dua gadis strong bernama Sakifah dan Ciani. Tidak sengaja kami sedang memilih buku pada rak panjang yang sama.

"Maaf, saya seperti pernah lihat wajah Mbak." Saya mencoba menyapa membawa rasa penasaran.

Kedua gadis itu memandang saya. Saya tersenyum. Gadis yang saya merasa mengenalinya itu menatap sambil mengingat-ingat. Sebelum keduanya berbicara apa pun, saya lekas menebak, "Ini ... Mbak Sakifah, kan?"

Gadis yang saya sebut itu agak terkejut. "Em ... iya. Saya Sakifah. Bapak ini siapa? Apa kita pernah kenal?"

Saya tersenyum, benar rupanya dugaan saya. Meski hanya pernah melihat wajahnya di media sosial, tapi saya yakin sekali. Dan memang benar, gadis ini Sakifah.

Gadis yang satunya lagi yang kemudian justru menebak ke arah saya. "Bapak ini ... Suden Basayev? Pak Wakhid? Benar tidak, ya?"

Saya tertawa kecil. "Mbaknya malah tahu. Tapi saya tidak tahu Mbak ini siapa?"

Sakifah melongo menatap temannya yang justru mengenali saya. "Kamu serius, Ci?" tanyanya.

Teman Sakifah itu sumringah. "Tebakan saya benar, Pak? Subhanallah ... mimpi apa kita bisa bertemu di sini?"

"Tapi saya kok tidak bisa menebak ini siapa, ya?"

Gadis itu tertawa kecil. "Saya Ciani, Pak."

Saya terkesima. "Mbak Ciani Limaran? Waduh ... kalian kan dua pije RCO ya?"

"Iya, Pak."

"Panggil Mas saja ah. Jangan Pak. Kesannya kayak saya sudah tuaan banget."

"Ih, Ayah. Sudah punya dua anak juga. Panggil Pak pun boleh." Ini istri saya yang berbicara. Dia sambil menggendong putri kami yang tertidur.

Kembali saya tertawa kecil. Lalu menarik pelan lengan istri saya agar lebih mendekat. Kepada kedua gadis yang masih serba terkesima itu, saya perkenalkan dia. "Ini istri saya. Panggil saja Mbak Ningsih. Kalau saya Mas Wakhid saja, biar lebih akrab dan tidak kikuk."

Istri saya menyalami kedua gadis itu. Sakifah dan Ciani. "Kalian berdua saja?" Istri saya bertanya sambil salaman.

"Sama siapa lagi. Dua-duanya jomblo, Say." Saya yang menjawab dengan nada berkelakar.

"Dih si Bapak mah suka gitu." Sakifah terusik.

"Ya, baguslah. Lebih baik jomblo daripada pacaran. Iya kan, Dik?" bela istri saya.

"Betul, Mbak. Jomblo sebelum ada yang menghalalkan!" Ciani akur.

"Iya ... iya." Saya mengalah. Satu lawan tiga. Buang energi saja.

Putri kami terbangun. Terusik oleh obrolan orang-orang dewasa ini. Dia menggeliat, melihat ayah-bundanya. Lalu melirik Sakifah dan Ciani sebagai orang asing.

"Dih, lucunya. Salim dulu dong!" Sakifah mencoba mendekati putri kami sambil ulurkan tangan. Tapi si kecil mengkerutkan tubuh ke pelukan bundanya.

Istri saya lekas membujuk. "Nggak usah takut. Salim dulu sama Tante."

Putri kami yang belum genap dua tahun itu rupanya mengerti. Dia melirik Sakifah sejenak sebelum akhirnya menyalami dan mencium tangan gadis itu. "Siapa namanya, Cantik?" tanya Sakifah.

"Humaira, Tante." Istri saya yang menjawabkan. Lalu mengarahkan si kecil bersalaman pada Ciani.

"Baru satu buah hatinya, Mbak?" Ciani bertanya sambil menowel dagu putri kami. Membuatnya agak takut.

"Itu yang sulung kelas 1 SD. Lagi asik lihat gambar di buku." Saya tunjuk Haikal, sulung kami yang sedang membolak-balik buku tidak jauh dari kami.

"Sudah dua. Lengkap cewek-cowok. Pintar nih," komentar Ciani.

"Kamu pengin, Ci?" goda Sakifah.

"Ya ... suatu saat nanti akan tiba waktuku."

Saya tersenyum saja. Sakifah tiba-tiba ingat sesuatu. "Oh, iya, Pak. Eh, Mas aja ya? Gini, Mas Wakhid, kan Mas ikutan RCO. Bolehlah Mas kasih kesan-kesannya selama ikut RCO. Sekalian kritik dan saran buat RCO ke depannya. Mumpung kita ketemu di sini."

"Apa itu RCO, Dik?" tanya istri saya.

"Oh ... itu Mbak, Reading Challenge ODOP, kegiatan seru-seruan, agar kita bisa membiasakan diri membaca dengan menyetor bacaan harian." Ciani yang memberikan jawaban.

Istri saya mengangguk-angguk. "Hem ... pantesan belakangan ini suami saya saban hari berteman dengan buku terus. Kadang keseringan nyuekin istri."

"Ah, Bunda, jadi curhat di sini," sahut saya.

Sakifah tersenyum. "Jadi nggak enak kita-kita sebagai pije nih. Ternyata mengganggu aktivitas Mas Wakhid sama istri," katanya.

Saya lekas menyahut, "Enggak mengganggu kok, saya malah senang dengan adanya RCO. Jujur saya sudah lama sekali tidak pernah bisa menghabiskan buku sampai tamat. Barulah sejak ikut RCO saya seolah kembali menemukan diri saya seperti masa-masa sekolah dulu. Dulu saya gila baca. Entahlah, kesibukan saat kerja melalaikan saya dari baca buku."

"Iya, Dik. Tidak mengganggu kok. Hobi baca kan bagus. Untung suami saya tidak hobi yang lainnya yang aneh-aneh." Istri saya ikut berbicara. "Suami saya ini seringkali beli buku cuma ditaruh di rak buku berbulan-bulan tidak disentuh. Bahkan belum membuka plastiknya. Baru belakangan ini buku-buku itu disentuhnya."

Ciani mengangguk-angguk. "Jadi intinya, RCO ada ya, manfaatnya?"

"Banyak dong, Mbak. Meski saya kadang repot saat tantangan baca buku yang tidak saya suka, bahkan bahasa asing. Hehehe." Saya tertawa lagi.

"Barangkali ada masukan buat kita?" Sakifah bertanya. "Buat perbaikan RCO ke depannya."

Saya terdiam dan berpikir. Baru beberapa saat berkata lagi. "Em ... saya pribadi baru sekali ini ikut kegiatan baca semacam ini. Jadi menurut saya aturan mainnya sudah oke. Cuma itu ... untuk ebook yang sering dibagikan sebagai alternatif bacaan, kok kadang ada yang tidak full buku utuh. Tapi ketika dibaca dan dilaporkan di RCO dianggap sah. Bagaimana menurut Mbak berdua?"

Sakifah dan Ciani saling pandang. Sakifah yang kemudian menanggapi, "Itu juga ebook hasil download, Mas, belum semua terbaca oleh saya. Jadi ya ... tidak ada proses seleksi atau kontrol untuk ebook."

"Mungkin untuk besok-besok bisa kita perhatikan lagi," kata Ciani.

"Ada lagi mungkin, masukannya?" tanya Sakifah.

Saya menggeleng. "Cukup kok. Saya mau berterima kasih saja buat kalian yang meluangkam waktu untuk mengurus RCO. Semoga jadi amal kalian, ya?"

"Aamiin. Sama-sama, Mas."

Saya kemudian melihat buku yang dibawa keduanya. "Eh ... ngomong-ngomong, kalian pinjam buku apa saja?"

Sakifah tersenyum malu. Mencoba sembunyikan buku pilihannya. Tapi saya sempat baca judulnya yang nyerempet-nyerempet ke masalah menunggu jodoh itu.

Ciani yang langsung memperlihatkan buku pilihannya. "Ini saya pinjam buku Rahasiaku, Masih Ada, sama Nostalgia Biru."

"Dih ... bukunya teman-teman ODOP semua ya?" komentar saya.

Ciani mengangguk.

"Ini memang perpustakaan terlengkap se-Indonesia. Buku apa saja ada, yang penting sudah terbit saja, pasti ketemu kalau nyari di sini."

"Iya, Mas. Namanya juga perpustakaan Serba Ada."

Tidak lama berselang, saya dan istri berpamitan pulang lebih dahulu. Sakifah dan Ciani masih meneruskan memilih buku, setelah mengajak kami berfoto lebih dulu.

Pertemuan yang sungguh tidak diduga. Saya senang bertemu kalian berdua. Semoga tetap semangat dalam menulis dan membaca, ya. Semoga perjumpaan fiksi ini membuat silaturahim kita semakin terbina.

18 komentar:

  1. Wah senangnya kopdar, mana foto barengnya?

    ReplyDelete
  2. Emang dasar fiksiers... heuheuheu kueren

    ReplyDelete
  3. Pak pak, harap tenang ya. Lagi di perpus koq ngobrol 😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan pengunjungnya baru kita2 kok. Yang lain masih sibuk.

      Delete
  4. Wuah... keren ya, semua bisa jadi fiksi, dan bermanfaat banget ^_^
    Jadi penasaran sama RCO ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tugas suruh nulis kesan. Jadi difiksikan biar berkesan. hihihi

      Delete
  5. Hhaaaaa.... bilang aja om mau ngenalin keluarganya. Kita dibawa2, hhii.

    Maaf utk segala khilaf selama bersama di RCO

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada yg salah Mbak. Kecuali itu ... kalau pije salah rekap. Wkwkwk

      Delete
  6. Naksir tampilan blognya, ajarin dong, Pak. Bagus, seruuu bikin kesannya dibikin fiksi. Hampir aja kirain beneran ketemu

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP