Loading...
Tuesday, December 12, 2017

Pilihan Lurah


Sebentar lagi akan digelar pilihan lurah. Ada 2 kandidat yang akan bertarung memperebutkan jabatan nomor satu di Desa Pacoban ini. Kandidat pertama adalah Pak Burhan, yang saat ini masih menjabat sebagai lurah. Dia ingin meneruskan semua program kerjanya dengan mencalonkan diri sebagai lurah untuk kedua kalinya. Calon yang kedua adalah nama baru, yakni Pak Nurdin. Nama Pak Nurdin mencuat sebagai rival Pak Burhan, padahal pada pemilihan sebelumnya merupakan tim suksesnya Pak Burhan. Dan kini keduanya siap bertarung memperebutkan suara di Desa Pacoban ini.

Bejo dengan langkah kaki pincangnya pulang. Barusan, di pos ronda ia bertemu Sehman dan Pardi, dua orang tim sukses Pak Nurdin. Busa-busa dari mulut Sehman dan Pardi cukup membuatnya mantap untuk menjatuhkan pilihan dukungan. Bejo ingin segera sampai di rumah dan mengajak istrinya untuk mendukung Pak Nurdin biar bisa jadi lurah.

Sipon istrinya, agak terkejut melihat sang suami yang tidak biasanya jam segini sudah pulang. Biasanya Bejo begadang di pos ronda sampai menjelang dini hari. Bahkan tak jarang dia ketiduran di pos dan ditinggal pulang teman-teman nongkrongnya.

"Tumben, Pakne, masih sore sudah pulang?" sambut Sipon.

"Ada hal penting yang kudu segera tak sampein padamu, Bune."

"Hal penting apa ta, Pakne? Bikin penasaran saja?"

"Duduk dulu. Kalau perlu siapin kopi, baru tak bilangin. Ini penting dan menyangkut hajat hidup banyak orang."

Sipon meski tambah penasaran manut saja kehendak Bejo. Dibuatkannya kopi untuk sang suami. "Ini kopinya, Pakne, masih panas, air termos," kata Sipon sambil menaruh cangkir panas di atas meja depan Bejo.

"Bune, sebentar lagi kita akan ikut menentukan siapa yang akan memimpin kita di Desa Pacoban ini," Bejo memulai dengan mimik serius.

"Kalau itu semua orang sudah tahu, Pakne. Termasuk aku juga sudah ngerti."

"Iya, tapi maksudku ngomong itu adalah untuk mengajakmu memilih Pak Nurdin, Bune." Sebelum Sipon menyahut, Bejo sudah meneruskan omongannya. "Pak Nurdin itu mau melakukan perubahan pada sistem pemerintahan di kelurahan. Beliau kan orang pintar, lulusan sarjana. Sedangkan Pak Burhan kan cuma lulusan SMA."

Sipon memilih menyimak dulu ucapan suaminya. "Makanya, Bune. Kita harus mendukung Pak Nurdin. Lagi pula, Pak Nurdin itu kan sudah kondang suka ngisi pengajian di mana-mana. Pasti kalau memimpin, beliau bisa menjadi pemimpin yang baik."

"Pakne," Sipon mulai menyahut. "Meski lulusan SMA, kan Pak Burhan itu orangnya hebat. Beliau juga bagus dalam memimpin selama ini. Tak kalah sama lulusan sarjana sekalipun."

Melihat istrinya cenderung menyangkal ucapannya, Bejo lekas menukas. "Dalam memimpin itu perlu ilmu, Bune. Dan calon terbaik dalam segi ilmu ya jelas Pak Nurdin."

"Pakne ini gimana, ta? Pak Nurdin itu memang sarjana dan pintar ngisi pengajian. Tapi kan dia tidak bisa ngurusi keluarga. Pakne tahu sendiri, dia sampai cerai sama istri pertamanya hanya gara-gara ada perempuan lain yang sekarang dikawininya. Bukankah itu membuktikan kalau dia tidak pandai menjadi pemimpin? Memimpin rumah tangga saja gagal masak mau dijadikan lurah ta, Pakne."

"Itu beda urusan, Bune. Rumah tangga sama kelurahan itu kan beda."

"Rumah tangga itu lebih kecil dari kelurahan lho, Pakne. Kalau dipikir, ngurus yang kecil saja tidak bisa, gimana mau ngurusi yang besar?"

"Jadi intinya, kamu nggak manut sama suamimu, Bune?" Nada suara Bejo mendadak meninggi.

"Kalau soal pilihan, itu kan menurut kata hati masing-masing, Pakne!" Sipon tak mau kalah. Nadanya ikut meninggi.

"Itu sama juga kamu membangkang sama suamimu sendiri!"

"Aku tidak membangkang, Pakne. Ini soal pilihan, tidak bisa dipaksa-paksa. Apalagi Pak Burhan sudah membantu kas RT kita, jadi sebagai warga RT yang baik sudah seharusnya kita balas budi dengan memilih Pak Burhan!"

Bejo kian kesal. Sipon tetap bersikeras. Makin serulah debat keduanya. Melebihi serunya debat kandidat presiden yang sering tayang di televisi menjelang pilpres beberapa tahun lalu. Muka Bejo merah padam, istrinya makin keras juga suaranya.

"Kalau begini, kamu sudah berani membangkang suami. Sekarang, siapa yang harus minggat dari rumah ini. Aku atau kamu, Bune?" Suara Bejo menggelegar bagai petir menyambar antena parabola.

"Ini rumah orangtuaku, Pakne. Kalau sampeyan mau minggat, ya minggat sana! Ikut sana sama Pak Nurdin-mu!" Sipon tak kalah menggelegar, cetar membahana.

"Baiklah. Aku yang pergi!"

Bejo benar-benar jengkel dan kesal. Merasa harga dirinya disepelekan. Ia keluar rumah sambil membanting pintu. Sumini anaknya yang masih TK terbangun dari tidur dan menangis di pelukan ibunya.

Bejo terus melangkah dengan kaki pincangnya. Ia bertekad minggat entah kemana kaki melangkah. Di tengah jalan, berpapasan dengan Sugiman yang baru pulang dari rapat takmir masjid.

"Mau kemana, Kang Bejo?" sapa Sugiman.

"Minggat, Man."

"Minggat kemana?"

"Minggat ya minggat!"

Melihat muka kesal Bejo, Sugiman mencoba menyikapi santai. "Ada masalah besar kayaknya Kang Bejo ini? Ada apa ta, Kang? Mbok santai saja."

"Santai saja apanya. Apa nggak mangkel kalau punya istri mbantah sama suami?" sergah Bejo.

"Oo, ada masalah sama Yu Sipon? Mbantah bagaimana, ta, Kang?"

"Ya itu. Istri nggak mau nurut suami. Sudah dibilang baik-baik untuk milih Pak Nurdin, ee malah mbentak-mbentak suami. Katanya sekali Pak Burhan tetap Pak Burhan!"

Sugiman tersenyum. "Kayak pejuang kemerdekaan saja, Kang, sekali merdeka tetap merdeka...."

Bejo tak menanggapi canda Sugiman. Ia masih terlihat kesal. Sugiman bicara, "Ternyata masalah pilihan lurah ta, Kang. Kalau lagi kesal, duduk dulu. Ayo, ngobrol di pos sambil duduk. Kan lebih santai."

Meski masih dikuasai emosi, Bejo nurut juga diajak duduk Sugiman di pos ronda yang kebetulan sepi. Tumben juga tidak ada yang nongkrong.

"Kang, milih lurah itu memang harus pintar melihat kandidatnya," kata Sugiman. "Yang baik yang mana. Iya, ta? Kalau yang terbaik yang jadi lurah, kan sebagai masyarakat kita akan ikut merasakan manfaatnya."

"Makanya, aku bilang pada Mbakyumu itu, milih Pak Nurdin yang lulusan sarjana, biar pintar mimpinnya," sahut Bejo masih dengan emosional.

"Tujuan memilih pemimpin kan agar kita bisa merasakan manfaatnya. Iya, ta, Kang?" Sugiman meneruskan. "Siapapun yang jadi lurah, asal bisa ngemong orang sekelurahan kan bagus. Kebijakan-kebijakannya bisa dipertanggungjawabkan. Jadi tidak mengecewakan semuanya."

Bejo memilih diam mendengar saja omongan Sugiman.

"Kang Bejo sama Yu Sipon kan kawin juga sudah bertahun-tahun. Lha ini ada masalah mau pilihan lurah, kok tiba-tiba pakai acara minggat segala. Lha manfaatnya apa, Kang?"

Sugiman melihat Bejo yang mulai agak tenang. Lanjutnya, "Kalau gara-gara pilihan lurah terjadi ribut suami-istri begini, lha mbok nggak usah ikut mikir calon lurah. Mending mikir gimana keluarga bisa rukun."

Sugiman menepuk bahu Bejo. "Kang. Sudahlah. Uwis ta. Nggak usah diperpanjang. Kang Bejo istighfar. Kalau perlu ke masjid dulu. Salat. Mohon ampun pada Allah. Habis itu pulang."

Bejo tidak membantah. Pikirannya mulai jalan.

"Yu Sipon tadi paling juga kebawa emosi. Kang Bejo juga. Makanya, sekarang diredakan dulu. Pokoknya Kang Bejo kudu balik ke rumah. Kalau perlu ditemani, aku juga mau nemenin. Biar aku yang bilang baik-baik sama Yu Sipon."

Bejo mulai mencerna nasihat Sugiman. Mulai terasa betapa bodohnya tindakan yang ia lakukan.

"Biarlah para kandidat lurah berebut pendukung. Yang penting Kang Bejo bisa memimpin Yu Sipon sama Sumini dengan baik. Kang Bejo itu imam dalam rumah tangga. Kang Bejo pasti sudah paham itu."

Bejo menarik napas dalam. Ada kelegaan yang muncul. Sugiman tak henti menasihati. Hingga Bejo makin reda emosinya.

Tak berapa lama kemudian, keduanya berdiri. Melangkah beriringan ke rumah Bejo. Di perempatan berpapasan dengan Sehman dan Pardi...

"Kang Bejo, mantap kan milih Pak Nurdin?" tanya Sehman.

"Yu Sipon juga ta?" Pardi meningkahi.

Bejo cuek. Tak mau menoleh kedua anggota tim sukses itu. Yang ada di benaknya adalah Sipon dan Sumini. Dan mendadak ia ingat, kopi buatan istrinya tadi belum sempat diseruputnya. Ternyata di situ ada cinta yang tak bisa ditandingkan dengan apapun.

14 komentar:

  1. Fakta ini, Kang. Sering terjadi peristiwa seperti ini. Apalagi di tahun 2018 besok.

    Hehehe

    ReplyDelete
  2. Asik banget bacanya. Hee saya baca sampe tuntas gak ada yg dilongkap lho. 😁

    Rapi dan showing masing-masing karakternya dituliskan dengan baik. Like this deh 👍

    ReplyDelete
  3. inget sama kopinya, bukan sama Yuk Sipon., piye tho kowé iki? Bejo, Bejo...

    ReplyDelete
  4. Hahaha selalu deh ada yg menggelitik gitu..

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP