Loading...
Saturday, November 4, 2017

Sebait Cinta di Glagahwangi 2



Malam dingin, dan rasanya sudah lewat dini hari. Tapi entahlah, mengapa mata saya sulit terpejam. Sudah jauh lewat dari waktu orang-orang Glagahwangi melaksanakan sembahyang Isya. Saya juga tidak tahu mengapa sulit sekali memejamkan mata. Sementara Sekar, sahabat saya yang juga berhasil menyelamatkan diri dari kekacauan di Kotaraja Wilwatikta, yang juga meminta perlindungan pada Senopati Jimbun di Glagahwangi ini, sudah terlelap begitu nyenyaknya di samping saya. Kami menempati bilik ini berdua.

Saya coba memejamkan mata, tapi saat itulah, telinga saya menangkap suara dari kejauhan. Mungkin di pinggir perkampungan Glagahwangi. Sebuah lantunan merdu mendayu suara seruling. Peniupnya tentu sangat menguasainya. Sangat menyentuh, sampai-sampai mengingatkanku pada kenangan di Wilwatikta. Ah..., Ayahanda dan Ibunda, keduanya gugur dalam penyerbuan itu. Tak terasa meleleh bening ke pipi saya.

Dan suara alunan seruling itu masih mendayu. Rasanya baru malam ini saya mendengar ada orang meniup seruling di Glagahwangi. Malam-malam seperti ini pula. Ah, saya benar-benar terasa hanyut dibawa dalam lagu yang dimainkannya.

Pagi. Saya mencoba bangun awal seperti biasa, meski entah hanya berapa saat saya tidur. Saya selesai membersihkan diri di pakiwan, lalu bersama Sekar berjalan-jalan di sekitar pondokan tempat kami ditampung. Setiap berpapasan dengan orang-orang Glagahwangi, kami selalu menjumpai salam hormat dan keramahan. Kami dihargai sekali. Gusti Senopati Jimbun sendiri pernah mengatakan bahwa dalam Islam diajarkan agar menghormati tamu, dan perlakuan sangat baik kami terima. Meski dari keyakinan, kami berbeda.

Di sebuah pelataran luas di tengah perkampungan, terlihat para santri sedang berlatih kanuragan. Banyak pendekar di Glagahwangi yang mengajari mereka, bahkan Gusti Senopati Jimbun sendiri tidak jarang turun langsung melatih para santri.

"Lihat, Ratri," terdengar suara Sekar sambil menunjuk ke pelataran itu. "Sepertinya ada pendekar baru yang melatih para santri...."

Saya melihat arah Sekar menunjuk. Baru saya sadari, memang latihan pagi ini tidak dipimpin para pendekar yang biasa melatih mereka. Pelatih kali ini memang terasa asing bagi saya. Seorang pemuda berpakaian serba biru, dengan ikat kepala sewarna. Pemuda itu tengah menunjukkan jurus-jurus yang dia ajarkan. Gerakannya sangat lincah, dipadu dengan tubuhnya yang ramping, seolah tiap jurus enteng saja dia gerakkan. Beberapa jurus tangan kosong dengan kemampuan yang tinggi yang diperagakan. Tanpa senjata. Eh, dia memegang sesuatu.... Mata saya memperhatikan apa yang dipegang pemuda serba biru itu. Sebuah seruling bambu....

"Ratri, lihatlah. Tampan sekali pemuda itu...," kesan Sekar. "Tinggi semampai, wajah yang rupawan, hidung mancung, rambutnya sebahu berkibar kian kemari mengikuti gerak jurusnya. Luar biasa, Ratri...."

"Semalam aku mendengar alunan seruling sangat indah, Sekar. Rupanya pemuda itu yang meniupnya. Merdu dan menghanyutkan...," kata saya.

"Benarkah? Mengapa aku tidak dengar?"

"Lewat dini hari. Kau terlalu asyik dengan mimpimu, Sekar."

Kami meneruskan jalan. Menikmati asrinya Glagahwangi. Tak lama kami memilih jalan memutar, kembali ke pondokan kami. Saat melewati pelataran tempat berlatih para santri, rupanya latihan telah selesai. Entah mengapa mata saya mencoba mencari pemuda pembawa seruling bambu yang tadi melatih ilmu kanuragan.

"Pemuda itu sudah pergi. Tidak ada di antara para santri yang beristirahat," kata Sekar. Saya sempat terkejut dia berkata begitu, seolah Sekar memergoki saya yang mengedarkan pandangan ke pelataran luas itu.

"Nini berdua, sepertinya bukan penduduk Glagahwangi?" sebuah suara mengejutkan kami.

Saya menoleh ke asal suara, sebagaimana yang dilakukan Sekar. Entah sejak kapan pemilik suara itu berdiri tak jauh dari kami, tapi kami yang melihat-lihat ke pelataran tidak menyadari keberadaannya, padahal dialah yang dibicarakan Sekar.

"Maafkan kalau saya membuat Nini berdua terkejut."

Rupanya keterkejutan saya dan Sekar sempat dilihatnya. Iya, dia pemuda berpakaian serba biru pembawa seruling bambu yang tadi memimpin latihan olah kanuragan. Saya mendadak menjadi malu sendiri.

Beruntung Sekar lekas menanggapi pemuda itu. "Kami memang bukan penduduk Glagahwangi, Kisanak. Kami hanya pengungsi dari Kotaraja Trowulan yang meminta perlindungan kepada Gusti Senopati Jimbun."

"Pantas Nini berdua terlihat asing bagi saya."

"Kisanak, tadi kami sempat melihat latihan yang Kisanak pimpin," kata Sekar pula. "Wah... jurus-jurus Kisanak luar biasa. Saya kagum melihatnya."

Pemuda itu tertawa kecil mendengar pujian Sekar. "Hanya latihan biasa. Saya hanya mampir di Glagahwangi. Dan pagi ini menyempatkan menggerakkan badan bersama para santri di sini."

Sekar mengangguk-angguk. "Pantas, kami baru kali ini melihat Kisanak di Glagahwangi ini...."

Pemuda itu tersenyum. "Kalau boleh tahu, siapa nama Nini berdua ini?"

"Oh, saya Sekar, dan ini sahabat saya, Ratri."

Saya hanya mengangguk dan mencoba tersenyum begitu Sekar memperkenalkan nama saya.

"Sekar dan Ratri. Nama yang cantik, sesuai dengan pemiliknya. Cantik-cantik...."

Deg. Saya sedikit terhenyak. Kata-kata pemuda itu seolah mengandung makna yang tersirat. Sebuah pujian. Tapi, sudahlah. Bukankah itu sekadar tanggapan basa-basi dalam sebuah perkenalan.

"Kisanak bisa saja," Sekar tersenyum-senyum saja mendengar kata si pemuda.

"Saya berkata apa adanya," si pemuda terlihat tulus.

"Oya, Kisanak, saya lihat sedari tadi Kisanak membawa seruling. Mengapa tidak meniupnya satu dua bait lagu untuk kami?"

Pemuda itu tertawa mendengar permintaan Sekar. "Seruling ini kemana pun selalu bersama saya. Bagi saya inilah teman suka dan duka."

"Apa sebegitu istimewa?"

"Iya. Setidaknya bagi saya."

"Mainkanlah sedikit untuk kami...."

"Maafkanlah, saya tidak bisa."

"Mengapa?"

"Saya hanya meniupnya tiap pergantian hari. Dini hari adalah waktu saya bersamanya tanpa diganggu siapapun."

"Mengapa harus dini hari?"

Pemuda itu tidak lekas menjawab. Ia lalu tersenyum. "Sudahlah. Nini berdua silakan lanjutkan jalan-jalannya. Saya akan membersihkan diri dulu, pagi ini saya harus menemui Gusti Senopati."

"Sayang jika Kisanak tidak menjelaskannya." sahut Sekar segera.

Kembali pemuda berpakaian serba biru itu tersenyum. "Maaf, saya tidak ada waktu lagi."

Sekar tampak kecewa, tapi pemuda itu sudah berpamitan meninggalkan kami. "Tunggu, tunggu! Kisanak belum menyebutkan nama!" seru Sekar sebelum pemuda itu benar-benar menjauh.

"Orang-orang menyebut saya Pendekar Seruling Bambu...! Sampai jumpa lain waktu...."

Pendekar Seruling Bambu. Saya memang bukan orang dunia persilatan, tapi nama itu memang cukup tenar. Beberapa kali saya pernah mendengarnya. Wah, beruntung pagi ini bisa berkenalan dengannya.

"Wah, wah, ternyata dia Pendekar Seruling Bambu. Tampan, ramah, dan pastinya jago silat...," Sekar terkagum-kagum.

"Ayo kita ke pondokan, Sekar," ajak saya.

"Hmm, ya sudahlah."

"Ayolah, matahari sudah meninggi."

"Dewata Agung, terima kasih atas pertemuan ini...."

Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Sekar. Matanya melongok-longok ke arah mana pemuda itu pergi. Tapi dia memang sudah tidak di tempat ini. Lekas saya tarik tangan Sekar mengajaknya pulang ke pondokan.

Malamnya, saya bersyukur bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan saya sedang bermimpi kembali ke Trowulan, menikmati suasana damai di Kotaraja Wilwatikta. Seolah tidak ada lagi angkara murka. Sampai saat seseorang mengguncang-guncang tubuh saya.

"Ratri, bangunlah. Ayo, bangun...."

Saya terpaksa membuka mata. Berat. Saya menguap. Rupanya Sekar. "Ada apa, Sekar?" tanya saya.

"Dengarlah... dengarlah suara di kejauhan itu. Rupanya pemuda tampan itu sedang asyik bersama serulingnya...."

Memang benar kata-kata Sekar. Suara seruling mengalun di tempat yang cukup jauh dari pondokan kami. Tapi lantunannya jelas terdengar.

"Hanya untuk ini kau bangunkan aku?" tanya saya.

"Iya. Apakah kau tidak ingin mendengarkannya?"

"Aku mengantuk, Sekar."

"Jangan tidur dulu, temani aku mendengarkannya. Resapilah coba, aku rasa lantunan itu ditujukan untuk kita. Ada nada-nada penuh gairah di sana."

"Sekar, jangan aneh-aneh."

"Pokoknya jangan tidur lagi," pintanya memaksa.

Saya terpaksa menuruti. Saya merasa memang ada yang tidak beres dengan sahabat saya ini. Jangan-jangan dia jatuh cinta pada peniup seruling itu, Pendekar Seruling Bambu....

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP