Loading...
Wednesday, November 22, 2017

Sahabat Pena


Sahabat Pena
Suden Basayev

Ufh... Capek banget hari ini. Urusan kerjaan belum ada yang beres. Ah... masalah besar dengan Tanti tetap bergelayut. Mendesak suntuk di lubuk otakku yang nyaris tak lagi berfungsi. Kusandarkan punggung di tembok, sementara kakiku kuselonjorkan di lantai beralas karpet bahan plastik. Berharap bebanku sedikit berkurang. Kontrakanku memang kecil dan tak ada meja kursi, tidur juga cuma menggelar kasur lipat. Maklum kontrakan anak PT di Jakarta. Aku tinggal berdua bersama Elo. Hanya saja kami tak satu tempat kerja. Saat di kontrakan pun jarang bisa di rumah bareng. Lebih sering saat aku pulang pagi dia shift siang di pabriknya. Atau saat aku pulang sore, dia malah kejatah shift malam.

Kurasakan ada yang bergetar di saku celanaku. Lalu terdengar truetones lagu Dewa 19 terbaru. Ah, ada SMS. Kuharap bukan dari Tanti, aku sedang tak ingin dihubunginya. Segera kuloloskan henpon dari saku celana.

Kubuka kunci keypad dan lekas membuka inbox SMS.

“Ass. Benar ini number Jony? Inget temen lama nggak yah?” begitu bunyi pesannya. Nomor henpon pengirim tak tercatat di phonebook. Siapa ini? Teman lama?

Kupilih opsi reply SMS. Jempolku mulai memencet abjad keypad. “Wss. Ya, ini Jony. Siapa nih?”

SMS delivered. Kutunggu sejenak sambil mengira-ngira siapa gerangan pemilik nomor ponsel itu. Agak cukup lama baru ponselku berbunyi lagi. SMS balasan.

“Alhamdulillah, ketemu juga. Inget nggak sama pemilik ternak tuyul baik hati?”

Aku kerutkan dahi. ‘Pemilik ternak tuyul baik hati’? Kupaksa otakku berputar. Ah..., tak ketemu siapapun. Apa orang iseng? Siapa ya?! Aku sedikit jengkel. Otakku sedang tidak mau diajak main teka-teki. Segera ku-reply, “Sori, siapa ya? Plis kasih nama kalau mau dibales lagi sms-nya.”

Sending. Delivered.

“Idihh, kamu berubah banget, Jon. Gampang sewot ya? Biasa kamu suka dikasih tebakan. Tebak dulu dong siapa nih teman lama...”

Ah, sialan. SMS-nya nggak mutu! Nggak tahu orang lagi suntuk banyak masalah! Kutaruh begitu saja henpon di lantai. Malas kubalas, main teka-teki, otakku tak ada waktu untuk itu. Lalu aku bangkit, mengambil gelas memencet kran dispenser. Meminum air mineral yang mengucur dari galon yang tinggal separuh isinya. Benda cair itu meluncur begitu saja lewat tenggorokan tanpa rasa. Lalu aku duduk lagi di tempat semula.

Kuraih remot tivi dan menyalakan perangkat hiburan di depanku itu tanpa gairah. Menukar-nukar chanel tak ketemu acara yang bermutu. Ah, tambah parah saja acara tivi!

Henponku berbunyi lagi. Segera kubuka SMS baru yang masuk. “Lama banget mikirnya? Inget belum?”

Siapa pula yang mengingat-ingat. Kubalas, “Sori, gue lagi sibuk. Nggak sempet tebak-tebakan!”

Aku tak menunggui balasan. Kembali mengarahkan mata ke acara tivi. Tapi tak lama, ada balasan SMS-ku...

“Aduh-aduh... Marah bener nih. Inget Metty gak?”

Metty? Kuputar otak menyibak kenangan sebelumnya. Metty?

“Kebangeten kalau lupa!” SMS susulan.

Metty Dining Pangestuti. Nama itu berkelebat. Ya ampuuun, anak dari Gubug Grobogan. Sahabat penaku semasa SMP. Aku masih berkorespondensi dengannya sampai SMA, begitu lulus aku tak tahu lagi kabarnya. Apa benar dia?!

Awalnya dulu, di majalah remaja yang kubaca di rubrik Sahabat Pena, aku melihat foto dan biodatanya. Dulu teman-teman seangkatanku sedang rame gandrung korespondensi, cari-cari kenalan sahabat pena. Aku mengirimi surat mengajak kenalan dan menjalin persahabatan dengan cewek dari Grobogan itu. Dia satu kelas di bawahku. Umur kami terpaut 2 tahun.

Aku ingat betul, surat balasannya datang lima hari sejak kuposkan suratku. Ia menyambut senang ajakan bersahabat dariku. Suratnya kubalas, dia membalas suratku, begitu berkelanjutan. Banyak canda kami dalam setiap goresan pena. Aku tak pernah mendengar suaranya. Wajahnya hanya kulihat di foto yang terpampang di majalah. Suatu kali kami bertukar foto. Aku baru tahu wajahnya di foto close up yang dikirimkannya. Agak beda terlihat dari foto hitam-putih ukuran 2x3 di majalah.

Ia suka sekali memakai kertas surat pink bergambar kartun hantu lucu Casper. Selalu kertas itu, sampai aku candai dia sebagai peternak tuyul. Ia senang dengan julukan itu, ia bilang ia memang peternak tuyul baik hati, Casper kan hantu baik-baik. Ya ampuuun, ‘pemilik ternak tuyul baik hati’ itu muncul lagi setelah sekian lamanya menghilang. Dan, mengapa aku tak terlintas mengingatnya saat ia lontarkan tebakan tadi? Duh, malu aku malah memaki-makinya tadi. Secepat kilat ku-reply SMS-nya:

“Aduh... sori banget, kirain siapa! Sori, tadi lagi suntuk jadi nggak inget sahabat sejati nan jelita. Sorii banget ya...”

Ia membalas segera, “Nggak papa. Tapi kok kamu terkesan kasar gitu. Kamu nggak kayak Jony yang dulu deh. Sori, jangan tersinggung ya...”

Kasar? Waduh, kenapa juga aku tadi bersikap demikian...

“Sori, belakangan lagi banyak problem. Kepala pusing, otak seperti tumpul. Sori ya, Met,” balasku hati-hati.

Agak lama Metty tidak membalas. Wah, marahkah ia?

“Nggak balas-balas. Kenapa? Kamu marah, Met?” ku-SMS lagi.

Tidak lama, ada balasan, “Nggak kok, Jon. Maklum sambil ngurusin si kecil...”

Si kecil?

“Kamu udah merid? Udah dapet momongan?”

“Begitulah. Anakku udah umur 2 tahun... Kamu sendiri, udah nikah belum?”

Dia balik bertanya padaku. Ah, ingat Tanti!

“Belon. Kali bentar lagi. Kamu jadi merid ama Rahman?”

“Alhamdulillah iya. Eh, kamu udah ketemu bidadari idamanmu?”

Aku tak langsung menjawab. Bidadari idamanku? Terlintas Tanti di pelupuk mataku. Ah... jauuh sekali! Aku jadi ingat aku dulu. Setiap kali menulis surat untuk Metty, aku selipkan nasehat-nasehat agama. Ah, aku dulu terlalu alim. Aku terlalu lugu. Waktu Metty cerita tentang cowoknya yang bernama Rahman, ia sangat bangga. Ia nanya siapa cewekku.

Aku waktu sekolah tak kenal pacaran. Asal tahu saja, aku dulu sangat paham betul tentang agama. Say NO to pacaran. Aku mengindahkan nasehat kakak-kakak ustadz di setiap kajian rohis untuk menghindari yang namanya berpacaran. Pacaran adalah proses mendekati zina dan itu kan dilarang Allah. Dalam suratku, aku selipkan nasehat tentang pacaran ke Metty. Ia hanya berterima kasih dengan nasehatku, tanpa mengindahkan. Buktinya, ia masih jalan terus sama Rahman. Ia banyak cerita tentang asyiknya punya pacar. Semangat belajar bertambah. Ada teman curhat waktu ada masalah. Pokoknya menyenangkan.

Waktu Metty bertanya tentang cewek idamanku, aku dengan polos lugu bilang, aku mengidamkan cewek solehah, pakai jilbab, pintar ngaji. Tapi itu nanti kalau sudah siap menikah, sudah lulus sekolah dan punya penghasilan sendiri. Tidak untuk pacaran usia sekolah. Cewek ‘pemilik ternak tuyul’ ini dulu sempat mencandaiku, katanya aku terlalu kolot, kuno. Ah, biasa kali.

Kuketik lagi SMS, “Nggak ketemu cewek begituan. Ah, nggak usah bahas itu. Cerita aja pasca lulus sekolahmu.”

“Aku lulus, kuliah bentar terus kerja. Nggak lama nikah sama Rahman.”

“Lempeng aja ya. Kalu aku abis lulus SMA, ke Jakarta kerja pabrik jadi kuli orang...,” ceritaku apa adanya.

“Apa-apa kalau dijalani lempeng aja, Jon. Kerja pabrik kan batu loncatan untuk penghidupan nantinya...”

Terdengar nada peringatan henponku lowbat. Kuraih kabel charger di samping tivi, kucas segera sambil jempolku mengetik pesan lagi, “Maunya nanti bisa mandiri. Rahman-mu kerja di mana?”

“Nerusin usaha Bapaknya, ngurus pabrik roti keluarga.”

“Hebat, jadi boss dong. Terus, kamu masih kerja nggak?”

“Boss apaan? Yah, buat hidup cukuplah. Semenjak ada si kecil, aku berhenti kerja. Anjuran suami tercinta.”

Aku mengangguk. Lalu membayangkan jadi seorang Bapak... Mampukah nanti aku mengurus anak? Ah... Terbayang Tanti. Siapkah aku menikahi dia?

“Oh ya, gimana cita-citamu jadi penulis?” Metty SMS lagi. Rupanya tak sabar menunggu balasanku.

Penulis? Aku menggeleng. Itu cita-citaku dulu waktu sekolah. Memang aku hobi menulis. Menyusun diari keseharianku. Menulis pengalaman-pengalaman suka-duka yang kualami atau dari kejadian yang menimpa teman-teman. Mengarang cerita lepas. Bikin puisi. Malah sempat coba-coba menciptakan lagu. Itu dulu. Setelah kenal kesibukan kerja, semua mimpi itu kutinggalkan. Aku tak melihat masa depanku di situ. Aku pilih menyibukkan diri dengan profesi yang kujalani. Pekerjaanku.

“Sebatas cita-cita, Met. Sekarang sibuk terus jadi nggak sempet nulis-nulis...”

“Wah... Sayang tuh. Kamu kan bakat banget menulis. Cerpen yang pernah kamu tulis dulu bagus. Cukup mewakili karyamu yang lain kayaknya,” tulis Metty.

Aku ingat, dulu aku sempat mengirim salah satu cerpen ke sahabat penaku ini. Berkisah tentang dua sahabat yang suka-duka selalu bersama. Lalu sahabat yang satu pergi jauh, tapi masih sering berkirim surat. Persahabatan tetap terjaga meski berjauhan. Metty waktu itu memujiku. Katanya cerpenku bagus sekali. Ia minta izin untuk menempelkannya di mading sekolahan dia. Aku bangga juga waktu itu. Karyaku terpampang di sekolahan lain yang jauh dari tempat tinggalku. Bahkan aku belum pernah ke sana sampai sekarangpun.

“Bakat tak tersalurkan, Met. Biarlah. Sekarang aku sangat malas menulis kok. Nggak semangat lagi seperti dulu.”

Sambil menunggu SMS balasan Metty, aku terbangkan lagi hayalan ke masa lalu. Dulu aku sangat bergairah berkarya. Cerpen yang kutulis di buku tulis tebal sudah ada beberapa judul. Diari sudah ganti berkali-kali karena halaman penuh. Tapi kini sebaliknya, aku jadi pemalas soal menulis. Ide bersliweran di benakku kubiarkan berlalu.

“Kenapa nggak coba kirim naskah-naskah lawas kamu ke majalah? Apalagi kamu di Jakarta, peluang nerusin menulis kan bagus,” Metty coba beri semangat.

Aku tersenyum miris. Malas berangan lagi. “Ntar-ntar mungkin kalau ada minat. Sekarang lagi nggak mood.”

“Kamu kok kayak nggak semangat gitu... Mana Jony yang dulu? Kamu dulu kan paling pintar motivasi orang...”

Aku mendesah berat. Metty benar, aku banyak berubah. Dulu hampir tiap Metty mengadukan problematika aku yang selalu menghibur dan memotivasi dia. Tapi apa sekarang? Semua berubah 180 derajat. Aku tumbuh jadi remaja rapuh. Gampang menyerah dengan kenyataan. Kalau melongok melihat kadar imanku, aku yakin tampak sekali aku makin parah. Sholat yang dulu kujaga rutin, bahkan waktupun kujaga agar selalu melaksanakan di awal waktu, tapi apa kini? Jangankan menjaga awal waktunya, sholatku sekarang banyak yang bolong! Wajar mungkin Metty merasakan perubahanku meski tak melihat langsung. Mungkin benar, sholat itu bisa tercermin di kehidupan, bahkan dalam bahasa tulisan pun.

“Aku bobrok, Met. Kalau kau tahu keadaanku, kau mungkin tak lagi kenal Jony yang dulu...,” SMS-ku.

Metty agak lama membalas, kali si kecilnya rewel. Kuketik lagi pesan, “Coba kamu kasih motivasi, aku lagi pusing banyak problem.”

“Emang kamu separah apa? Aku keki suruh kasih motivasi. Kan kamu yang canggih di bidang itu. Kalau banyak masalah, selalulah ingat Allah. Setelah kesukaran ada kemudahan...”

Aku terseyum membaca SMS itu. Ada haru... terasa mataku hangat. Hampir air mata leleh. Pasalnya, nasehat yang ditulis Metty adalah nasehat yang pernah kutulis dalam surat dulu waktu ia ada problem. Sama persis, tanpa perubahan. Dan kini ia membalikkan kalimat itu... untukku.

Aku nyaris tak sanggup membalas SMS itu. Tak lama menyusul SMS lanjutan, “Yakinlah, masalah kita tak akan diselesaikan orang lain, hadapi sendiri dan carilah pemecahannya. Percayalah, banyak sahabat yang ada di sampingmu.”

Metty! ‘Peternak tuyul’ itu menohokku...! Aku terpojok di ruangan kebuntuan, ia membalikkan semua kata-kata yang pernah kunasehatkan padanya! Sama persis, menjiplak total tanpa mengurangi dan melebihkan! Air mataku mengambang memenuhi kelopak mata dan nyaris tumpah! Ya Allaaah... Aku masih bisa menangis? Aku masih bisa meneteskan air mata?! Apa artinya hatiku belum benar-benar membatu? Robbii...

“Maaf ya, Jon. Aku nggak bisa bikin nasehat. Itu kata-katamu sendiri yang aku ingat betul. Jangan mengira aku menulis ini sambil melihat surat lawasmu... Nasehatmu ini kuhafal betul. Maaf kalau ingatanku kurang bagus...,” Metty tak menunggu aku membalas.

Badanku seakan bergetar. Tanganku seperti lemas tak sanggup mengetik pesan. Ingatanmu bagus, Met. Itu kata-kataku... Agak lama aku terpekur sendiri, sampai henponku berbunyi lagi, Metty menulis, “Waduh... Kamu nggak balas-balas? Marah ya aku mem-plagiat nasehatmu?”

“Nggak, Met... Aku cuma merasa tertohok dengan SMS-mu. Dulu seolah tanpa beban aku menulis itu... Kini nasehat itu kembali padaku. Aku malu sekali, Met. Malu...,” balasku segera, tak ingin sahabatku itu salah paham.

“Maaf ya kalau kamu tersinggung, aku nggak bermaksud begitu...”

“Nggak papa, Met. Aku malah berterima kasih kok. Aku hanya malu pada diri sendiri dan kamu...”

Aku kembali mencoba merenung. Kubuka lagi inbox membaca nasehatku yang ditulis ulang Metty. Semua gampang ditulis dan dibaca. Kini aku harus mengalami sendiri. Semua problematika di pundakku menumpuk. Ya Allah, aku hampir-hampir tak lagi percaya ada kemudahanMu di balik kesukaran yang Kau ujikan padaku. Masalah itu terlalu banyak dan menumpuk! Aku hampir tak yakin bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri. Imanku terlalu tipis.

Metty mengirim SMS lagi, “Nggak perlu malu padaku, Jon. Aku senang kamu menerima nasehatku.”

“Ya, Met. Makasih banyak.”

“Sebenarnya nasehat itu banyak berarti dalam hidupku, Jon. Sampai aku hafal sendiri kata-katamu itu. Kamu tahu, sekarang aku berjilbab lho. Saat kuliah aku sempat merenungkan semua nasehat dalam surat-suratmu. Kamu benar soal aurat wanita, kamu benar soal pacaran, kamu benar soal khalwat dan ikhtilat. Aku aktif di rohis kampus. Rahman mau mengerti tentang itu. Tapi hubungan kami sudah lama dan aku tak sampai putus dengan dia. Kami membatasi diri masing-masing. Sampai kuliah kelar dan aku kerja. Rahman akhirnya melamarku.” panjang sekali SMS-nya.

Kubaca berulang kali SMS itu. Ya Allah, Metty yang gaul itu kini berjilbab. Malah sempat aktif di rohis... Apa kata dunia jika aku ternyata sebaliknya sekarang. Aku hancur lebur! Aku ingat saat ia bangga bercerita tentang lagu-lagu kegemarannya. Ia paling senang lagu Melly Goeslaw, ia bilang teman-temannya menjulukinya Metty Goeslaw saking seringnya lagu komposer kondang itu dilantunkannya. Dan waktu itu aku bilang, aku suka lagu nasyid. Lagu islami. Ia sempat menertawakanku juga. Tapi kini, seiring perubahanku, lagu-lagu yang dulu kusebut jahili ternyata sekarang jadi lagu yang sering kuputar di CD Player. Lagu yang menghiasi playlist MP3 di henponku. Lagu yang menandai panggilan dan pesan masuk di telepon genggamku. Ah, aku terlalu jauh!

“Selamat atas kemenanganmu, Met. Kamu berubah ke arah yang baik. Kamu tahu, aku sebaliknya. Aku seperti bukan Jony yang dulu...”

“Dan semua belum terlambat, Jon. Kita masih ada kesempatan memperbaiki diri kok. Sebelum ajal kita datang...”

Itu nasehat murni dari Metty. Bukan plagiat kata-kataku.

“Ya, Met. Thank's ya. Akan kucoba perbaiki diri...”

“Nah gitu dong. Semangat lagi...”

Aku senyum. Semoga memang masih bisa aku perbaiki diri. Ternyata seorang sahabat lama sanggup membuatku merenung. Ya ampun, dari mana Metty tahu nomor henponku? Kan lama aku tak berkorespondensi lagi dengannya?

“Ngomong-ngomong dari mana kamu tahu nomor henponku?”

“Aku kemarin kirim surat ke alamat rumah kamu di Surabaya. Yang ngirim balasan adik kamu, dia ngasih tahu nomor henponmu. Alhamdulillah ketemu juga kamu lagi...”

Aku mengangguk.

“Ow gitu. Syukurlah. Dan kayaknya SMS-an kita cukup dulu deh. Besok sambung lagi. Ini SMS terakhir, pulsaku habis. Makasih ya.” kututup pesan setelah sadar pulsaku habis.

“Ya sudah. Insya Allah nanti nyambung lagi.”

Kemudian aku rebahkan diri di lantai. Kumatikan tivi. Kubaca lagi semua SMS Metty. Bisakah kuselesaikan semua masalahku sendiri? Masalah terlalu banyak! Masalah keuangan dengan seorang rekan kerja. Masalah gila dengan Tanti!!

Kali ini henponku berdering. Reff lagu Nidji rentak berkumandang. Di layar henpon kulihat tulisan, ‘Honey memanggil...’

‘Honey’-ku menelepon. Tanti menelepon. Ah, aku langsung merasa malas mengangkatnya. Tanti adalah satu masalah besar sendiri! Kubiarkan henponku berhenti sendiri tanpa memencet tombol hijau. Lalu berdering lagi...

Ingat nasehat Metty, atau nasehatku untuk Metty dulu, “Yakinlah, masalah kita tak akan diselesaikan orang lain, hadapi sendiri dan carilah pemecahannya.”

Hmm. Apapun, ini adalah masalah yang harus kuhadapi!

Kuangkat telepon dari Tanti. “Hallo...”

Suara Tanti berat dari seberang. Sambil menangis ia rupanya...

“Bapak marah besar! Bapak mau kandunganku digugurkan! Aku pusing...! Aku ingin mati saja, Jon...!”

Tanti... terbayang malam laknat itu!

Tanti... pacarku yang mengandung benih dariku!

***

Sidowayah, 8 Januari 2008
Buat Metty Dining Pangestuti, maaf ya aku pinjam nama dan sedikit kenanganku denganmu.


6 komentar:

  1. Replies
    1. Tenang, mbak Wid. Ini fiksi kok. Hihi...

      Delete
  2. Assalamualaikum .. Sebenarnya iseng tadi ketik namaku di google, eh malah nemu cerpen ini . Agak kurang yakin sih yang dimaksud "metty" aku atau bukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumussalam... Subhanallah! Ini Metty sapenku pas sekolah, benerankah? Dari Gubug Grobogan?

      Delete
    2. Saya asli Gubug-Grobogan. Dulu waktu smp fotoku pernah dimuat di majalah Mop. Alhamdulillah setelah itu sahabat penaku jadi banyak. Mungkin salah satunya panjenengan. Cuma saya ngga ingat satupun nama mereka. Udah lamaaa sekali tidak pernah silaturahmi.

      Delete
    3. Iya, dari MOP. Mungkin ingat namaku Wakhid Syamsudin SMP N 1 Weru. Coba dong WA aku 08179994960

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP