Loading...
Saturday, March 22, 2014

Sire Meh Ngirit


Dampak kenaikan BBM adalah naiknya seluruh kebutuhan hidup. Hal itu juga yang dialami keluarga Lady Cempluk, seorang janda yang tinggal bersama anaknya, Jon Koplo, di dukuh Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo. Suatu hari, untuk melakukan pengiritan, Cempluk berniat memasak menggunakan kayu bakar.

“Kalo tiap hari masak pakai majikom  kan pake setrum, jadi pajak listriknya mahal. Biar sedikit irit, aku masak pakai kayu bakar saja, gampang dapatnya!” kata Cempluk ngomong sendiri sambil menyalakan tungku.

Sementara itu, Jon Koplo yang semalam tidak tidur di rumah, saat pagi tiba, ia sampai di rumah. Ia melihat majikom ternyata kosong, tidak ada isinya. “Simbok belum masak, sebagai anak yang baik, aku akan membantu Simbok,” niatnya ikhlas. Lalu, Koplo mengambil beras, mencucinya dan lekas memasaknya di majikom.

Lady Cempluk yang nongol dari dapur melihat majikom menyala segera membuka dan menjumpai nasi setengah matang di dalamnya. Ia lekas berteriak memanggil anaknya, “Koplo, siapa yang menyuruh kamu masak nasi?”

Koplo datang tergopoh-gopoh. “Bantu Simbok, Simbok lupa belum masak, ta?”

Oalaah, Koplo… Koplo! Simbok mau ngirit masak pakai kayu, eeehhh malah kamu masak lagi pake mejikom! Ini pemborosan! Nggak tahu apa-apa mahal kamu ini!”

Koplo plonga-plongo diomeli ibunya. Wo, jebul, Simbok wis masak ta? Woalah…

Dimuat di harian Solopos edisi 20 Januari 2014

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP