Loading...
Wednesday, October 26, 2011

Suatu Sore

Usai demo keur di Tegalrejo, Watubonang. Sudah azan Asar. Bersama Bowo, sobatku yang kini ikut jadi RO di Setia, mencari musholla untuk sholat. Eh, ketemunya musholla Al A'la di Babalan. Ya sudah, motor menepi kesitu. Berhubung tidak ada tempat parkir (halamannya saja tidak ada, hehe!), motor kuparkir di tepi jalan yang langsung berdempetan pintu pagar musholla.

Tas berisi koleksi frame kacamata yang kutaruh di belakang setang, kututup jaket yang kulepas. Huff... gerah juga. Maklum, langit gelap tapi tidak turun hujan, hawa jadi panas begini. Bowo juga melepas jaket, menaruhnya bertumpuk di atas jaketku. Lalu menuju padasan di sebelah barat musholla.

Di tempat wudhu, kulihat seorang remaja tanggung sedang membasuh kaki. Kusapa. Dibalas sapa. Hmm..., dari penampilannya, sudah terlihat sebuah kesan bahwa tuh orang pemuda yang ugal-ugalan. Ugal-ugalan tapi mau ke musholla. Hehe, mungkin mau sholat juga kali. Tidak selamanya, penampilan kurang baik memiliki arti bahwa orangnya pun buruk, begitu yang terlintas di pikiranku.

Kelar wudhu, mau masuk ke musholla kulihat si remaja tadi kok belum masuk, ya? Malah berdiri di teras sambil mengatur rambutnya yang tadi dibasahi.

"Dari pondok, ya, Mas?" tanyanya padaku.

"Enggak," jawabku. Pondok? Lah, bentukku seperti apa kok dikira dari pondok (pesantren)? Bercelana bahan berkemeja motif. Koko juga kagak, peci apalagi! "Ini cuma mau promosi di desa sebelah," kataku.

"Promosi apa? Obat, ya?" Sok akrab juga nih orang.

"Kacamata kok, Mas," kataku. Aku menuju motor. Mengambil tas berisi frame, hehe, waspada itu perlu. Jaket tetap di motor. Tas kubawa masuk.

Bowo yang wudhu belakangan menyusul masuk. Aku dan Bowo sudah bersiap jamaah. Kulirik si remaja tadi, kukira mau ikut sholat, tapi tuh orang tidak masuk juga. Malah asik sendiri di serambi musholla, entah sibuk apa. Ya sudah, kami sholat berdua.

Aku mengimami Bowo. Di depanku jendela penghubung pandangan dengan ruang utama musholla. Di kaca jendela itu terpantul bayangan remaja tanggung tadi. Tapi karena tembok cukup tinggi, jadinya aktivitas tuh orang tidak begitu terlihat jelas. Apa lagi aku dalam posisi sholat. Entahlah, aku mendadak resah dengan pikiran apakah yang dilakukan orang itu. Sholat agak kupercepat.

Usai salam, si remaja tadi sudah tidak ada di tempat. Kulirik motor, alhamdulillah masih di parkirannya.

"Jadi tergesa sholatnya," kataku ke Bowo, "Aneh. Curiga sama orang tadi...."

"Iya, sih, penampilannya ugal-ugalan. Tapi kan penampilan tidak selalu menunjukkan keburukannya," kata Bowo.

Berhubung sudah sore dan aku belum sempat mengundangi warga untuk promosi keur, lekas kami beranjak. Keluar musholla menuju motor. Motor aman, tuh orang tadi kan di dekat motor, tapi kekhawatiranku tak benar. Dia tidak berbuat apapun (apalagi mencuri) pada motor yang kuparkir.

Bowo mengambil jaket. "Lho, jaketmu kok nggak ada?" Bowo berseru padaku.

Aku toleh-toleh, memang tidak ada tuh jaket hitamku. "Hmm..., ternyata kecurigaanku benar. Tuh orang tidak beres. Jaketku diambilnya!"

"Ada isinya?"

"Jaket kosong, kok. Cuma... itu jaket punya istri."

Iya. Jaketku hilang. Aku yakin remaja tadi pengambilnya. Jalan samping musholla kan sepi dan hanya dia yang berada di sini selama kami sholat tadi. Wah, jaket punya istri yang kupakai sirna kini.

"Bun, afwan ya, jaket bunda dicuri orang!" SMS-ku ke istri.

"Iya2...Gp2... Kok bisa?" balas istriku.

"Ayah pas sholat td. Ntar ayah cerita."

"Ada hpne g?"

"Alhmdlh gak ada. Kosong."

"Alhamdulillah ayahnya g ikut hilang to? :-)"

Hehe. Bunda, Bunda.... Ada-ada saja. Nggak marah kan, Bun, jaketnya Ayah hilangkan?

Pesan moral: Waspada itu perlu, dalam situasi apapun.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP