Loading...
Tuesday, March 6, 2012

Iblis Laknat

Langit dikuasai mendung. Aku dan Bowo demo keur di Dukuh Ngetal, Balak. Cuaca yang kurang mendukung. Ditambah musim panen yang mengecilkan peluang kehadiran warga yang sebelum Asar tadi sudah kusebari undangan promo. Sempurna sudah rasa malas mengukung kami. Setengah empat, waktu untuk demo tiba.

Kami meninggalkan masjid. Meluncur ke rumah Pak RT Ngetal yang lokasinya di sebelah barat kampung. Parkir motor di tepi jalan. Bersama Bowo menuju ke pekarangan rumah Pak RT.

Pak RT di sumur sedang mencuci 'pakaian dinas'-nya, kentara beliau baru pulang dari sawah. Bu RT di serambi depan sedang berbicara dengan entah siapa melalui HP. Aku hanya menangkap kata 'dokter', 'jam buka', dan beberapa kalimat yang aku tak begitu tertarik mengetahuinya lebih lanjut. Di dekat Bu RT berdiri anak laki-lakinya, menunggui HP-nya yang dipakai sang ibu menelepon. Kami belum sempat menyapa Pak dan Bu RT karena masing-masing sibuk. Hampir kusapa si anak, tapi blas tidak ada raut ramah dari anak Pak RT itu. Urung kusapa ataupun sekedar niat menganggukkan kepala padanya.

Di serambi depan ada dua kursi yang langsung menampung pantat capek kami. Tak lama, Bu RT mengakhiri panggilan. HP berpindah tangan ke si anak.

"Bu," kusapa beliau.

"Nggih," sambut Bu RT ramah sekali. "Sepi, kok, Om, warga banyak merantau ke Semarang."

"Iya, Bu, seadanya saja nanti kalau ada yang datang," kataku, "tadi sudah saya sebar brosur undangan. Kalaupun tidak ada yang datang juga nggak masalah, memang kondisi sedang panen begini...."

Bu RT ke sumur. "Pak, biar saya lanjutkan nyucinya. Bapak buruan mandi."

Aku tak begitu memperhatikan adegan di sumur. Hanya kulihat si anak mengambilkan handuk yang tersampir di serambi. Kudengar umpatan dari mulut remaja tanggung ini. Aku beristighfar. Bowo yang asyik ngenet pakai HP menyempatkan melirik tuh anak.

"Nih, ambilkan apa lagi?!" suara kasar si anak sambil mengangsurkan handuk kepada orangtuanya.

Aku kembali beristighfar. Anak zaman sekarang sudah sekasar itu kepada orangtua. Padahal yang terjadi baru adegan pembuka. Beberapa saat lagi, episode kehidupan yang sesungguhnya akan tergelar!

Pak RT menyudahi mandinya. Masuk rumah dan berganti baju lengan panjang motif batik rapi. Lalu menyalami kami. Berbasa-basi sedikit.

"Tapi maaf, Mas, saya tidak bisa menemani. Mau mengantar anak periksa ke Weru."

"Oh, tidak apa-apa, Pak. Silakan saja...," sahutku.

Aku tidak tahu siapa yang sakit. Pak RT sepertinya menunjuk ke dalam waktu mengucapkan itu. Anak yang sakit di dalamkah? Bukan anak lelaki tadi, karena tuh anak berada di luar. Mungkin anak beliau yang lain.

Si anak laki-laki yang sedari tadi di luar, datang dari sumur. Oya, untuk mempermudah cerita, sebut saja anak itu Iblis Laknat. Kasar, ya, sebutannya? Biarin, malah kalau ada sebutan lebih kasar dari itu aku mau memakainya untuk menyebut si Iblis Laknat satu ini. Jangan protes dulu, ya, ceritanya belum kelar!

"Ayo, jadi nggak?" suara Pak RT di dalam rumah. Entah bicara sama siapa. Aku mengansumsikan beliau bicara sama anaknya yang sakit di dalam. Maaf, detail keluarga beliau kan aku tidak tahu. Baru hari ini juga aku bertemu Pak RT Dukuh Ngetal ini. Tepatnya tadi pagi waktu meminta ijin tempat untuk keperluan demo keur kacamata.

Aku tidak mendapati jawaban apa-apa. Yang lantas mengusik aku dan Bowo adalah si Iblis Laknat yang tiba-tiba menggedor-gedor pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan kerasnya.

"Kok begitu to, Le?! Rusak pintunya ntar!" suara Bu RT yang selesai mencuci.

"Biarin rusak!" bentak si Iblis Laknat keras sekali. Anak durhaka!

Pak RT keluar. "Kalau begitu biar aku sendiri saja," kata beliau.

Si Iblis Laknat bergerak menuju sepeda ontel yang terparkir di serambi dekat kami. Dia menggembos bannya. Mengambil dop dan karet pentil dan melemparkannya!

"Jangan dibuang, to, Le!" Pak RT menahan dengan suara perlahan. Tapi si Iblis Laknat tidak peduli!

"Kenapa?! Nantang atau gimana?! Gelut po piye! Ayo, kalau berani!" Iblis Laknat itu mendorong tubuh renta si bapak. Bahkan pukulan tangannya sempat mampir tubuh rapuh itu. Pak RT hanya berseru dan mencoba menghindar.

"Jangan, to, Le! Bapakmu sudah tua, ya menang kamu!" Bu RT berseru, tanpa berani mendekat. Apalagi si Iblis Laknat sudah kian kalap. Kelar mendorong tubuh si bapak, Iblis Laknat membanting pompa angin dan menginjak-injaknya.

"Rusak, Le, pompanya!" Pak RT mencoba berseru perlahan.

"Rusak yoben! Kenapa? Ayo gelut!" sahut Iblis Laknat lebih keras.

Aku tak berani melihat kejadian miris itu. Memandang Bowo yang juga mendadak terpaku menyaksikan insiden ngeri ini.

"Pamit aja, yuk," ajakku berbisik ke Bowo.

"Ntar, suasananya nggak mendukung," jawab Bowo.

Adegan berikutnya makin gila! Aku makin ngeri dan bingung mau berbuat apa. Rumah sekitar Pak RT memang kebanyakan kosong. Ada yang memang ditinggal pemiliknya merantau, ada juga yang ditinggal ke sawah.

"Ayo tarung!" Iblis Laknat kembali menantang sang bapak. "Aku ambilkan parang! Bunuh-bunuhan atau gimana, ayo!!"

"Jangan, to, Le! Kasihan bapakmu!" Bu RT berseru, tapi mulai agak menjaga jarak.

"Apa kau? Mau ikut-ikutan! Berani kemari!" Astaghfirullah, Iblis Laknat itu juga menantang duel sang ibu. Laknatullah!

Aku dan Bowo makin bingung. Terpaksa akhirnya beringsut meninggalkan serambi rumah Pak RT. Aku lekas menuju motor. Bowo sudah sampai di perempatan!

Saat sudah di atas motor, kulihat Pak RT membuang pompa dan sabit, menyingkirkan benda berbahaya itu dari jangkauan si Iblis Laknat.

"Pak, kami pamit!" lidahku tercekat berpamitan ke beliau.



‎"Iya," hanya jawaban pendek Pak RT dalam panik yang coba diatasi.

Tak lama, aku dan Bowo meninggalkan Ngetal dengan jantung penuh kengerian tanpa bisa berbuat apa-apa. Ya Allah, kirim azab-Mu untuk Iblis Laknat itu sekarang! batinku kacau....

"Bingung, kita juga nggak tahu duduk masalahnya," komentar Bowo saat kubilang tidak bisa berbuat apapun melihat kejadian itu di depan mata.

Pak RT..., semoga Allah menguatkanmu! Iblis Laknat, aku tidak terlintas pun mendoakan keinsyafanmu. Di otakku hanya berseliwer harap, semoga azab melumatkanmu!

Gerimis mengiring perjalanan kami menuju Tawang....



Sore rapuh, 6 Maret 2012

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP