Loading...
Sunday, May 22, 2011

Ujian Ketekunan

Persiapan yang harus benar-benar matang. Seperti biasa, Pak Kepsek (Kepala Sekolah) mempercayakan semua padaku. Aku selaku Wakaur Kurikulum (Wakil Kepala Urusan Kurikulum), adalah satu-satunya tenaga pengajar yang memang harus beliau pilih untuk mengurus segala sesuatunya. Apalagi ini adalah peristiwa paling penting bagi anak-anak didik kami selama tiga tahun belajar di sebuah SMP Muhammadiyah daerah kabupaten Gunung Kidul ini. Ya, UNAS, Ujian Nasional penentu kelulusan bagi anak-anak kelas tiga.

"Anak-anak," kataku, siang ini, di ruang kelas 3A, saat mata pelajaran IPS yang kuampu, sambil memandang wajah-wajah anak didikku yang tampak serius memperhatikan ucapanku, "seperti kita semua tahu, UNAS sebentar lagi akan dilaksanakan. Tak ada yang bisa membantu kalian untuk lulus, kecuali diri kalian sendiri, dan tentu juga pertolongan Allah. Saya harap kalian mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."

Pandanganku menatap setiap wajah anak bangsa di depanku. Wajah serius Anto yang selalu juara kelas, Jihan yang meski suka usil tapi cukup baik dalam mencerna pelajaran, atau si Kardi yang hapalannya luar biasa bagus. Tak lepas pula pandangan pada Nardi, si bandel yang selalu membuat gaduh kelas, Sartono yang sering membolos, bahkan kujumpai tatapan lugu Sukirno yang senantiasa jadi bahan olokan teman karena terlalu polos, sukar memahami pelajaran, bahkan kadang susah nyambung saat diajak bicara. Wajah-wajah unik masa depan bangsa. Setiap kepala memiliki karakter masing-masing, yang harus dipahami oleh para pendidik sepertiku, bagaimana mendampingi mereka mempersiapkan bekal untuk masa depan.

"Sekali lagi saya beritahukan. Batas minimal untuk nilai mata pelajaran yang diujikan tahun 2006 ini adalah 3,5. Baik Bahasa Inggris, Matematika, maupun Bahasa Indonesia. Ingat, kalian harus memaksimalkan kemampuan untuk mencapai angka di atas itu. Gunakan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Saya dan semua guru hanya bisa membantu berdoa. Jika ada materi pelajaran yang kalian anggap susah, silakan bertanya pada guru yang mengajar. Jangan malu untuk bertanya."

Aku yakin, semua anak mengerti hal itu, tapi penekanan pada ucapanku sudah seharusnya membuat mereka benar-benar serius mempersiapkan semuanya.

"Peraturan dari pusat, nanti para pengawas ujian diambilkan dari sekolah lain, jadi saat kalian mengerjakan soal-soal nanti, bapak dan ibu guru di SMP kita ini tidak ikut jadi pengawas kalian. Bisa jadi nanti sangat ketat pengawasannya, karena itu berhati-hatilah. Percaya pada kemampuan sendiri, jangan menyontek pekerjaan teman."

Sekali lagi kupandangi mereka. "Saya doakan semua lulus. Ya sudah, kita mulai pelajaran. Silakan ketua kelas mengumpulkan PR kemarin."

Sarwan sang ketua kelas lekas berdiri. Lantas berkeliling mengumpulkan LKS (buku Lembar Kerja Siswa). Sepintas kulihat Sukirno. Anak didikku yang terkenal lelet dalam menerima pelajaran. Tapi aku cukup salut dengan ketekunannya. Ia tak pernah lupa mengerjakan tugas. Ia selalu tekun menyelesaikan pekerjaan rumah yang kuberikan. Ya, meskipun nilainya tak pernah memuaskanku. Tapi aku salut, tugas-tugas itu adalah hasil pekerjaannya sendiri. Ia tidak pernah menyontek punya temannya. Anak lugu yang sering jadi bahan olokan di kelas ini.

Ujian Nasional digelar. Mungkin aku adalah orang yang paling sibuk dalam mempersiapkan event besar di sekolahanku ini. Aku yang mengatur jadwal pengawas, mengecek soal yang baru diambil dari kantor Dinas Provinsi DIY. Mengatur segala sesuatunya. Membuat laporan kegiatan. Tentu banyak para guru yang jadi panitia UNAS yang juga turut membantuku.

Selama UNAS, aku jarang bisa menjumpai langsung para anak didikku untuk sekedar menanyakan bagaimana kemampuan mereka mengerjakan soal. Kesibukan di kantor guru yang dijadikan kantor panitia dan pengawas ujian benar-benar menyita habis waktuku. Sangat melelahkan. Sedikit ada insiden tidak menyenangkan, beberapa anak tertangkap tangan saat menyontek. Hal yang memalukan sekolah, tapi tak pernah bisa dihindarkan.

UNAS tahun ini memang berbeda dengan ujian tahun-tahun sebelumnya. Salah satu yang membedakan adalah batas nilai minimal kelulusan yang harus di atas 3,5 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, maupun Bahasa Indonesia. Ketatnya pengawas dari sekolah lain juga menjadi tantangan tersendiri, karena memang UNAS mau tidak mau adalah sebuah kompetisi antar sekolah untuk menunjukkan kemampuan siswa menghadapi ujian. Prosentasi kelulusan cukup ampuh untuk dijadikan tolak ukur keberhasilan sekolah, yang tentunya menentukan nilai jual di mata masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka di sebuah sekolah. Sudah barang tentu, sekolah yang mampu mengantarkan kelulusan siswa 100% adalah sekolahan yang jadi favorit para calon siswa baru di tahun ajaran berikutnya.

Kasus kebocoran soal, sampai adanya oknum guru yang berbuat curang dengan memberi bantuan pada siswa saat ujian, adalah tindakan-tindakan tidak terpuji yang kadang dilakukan para guru yang seharusnya memberi contoh baik. Hal itu bisa saja terjadi karena pihak sekolah ingin menjaga citra nama baik sekolah demi terwujudnya kelulusan 100%. Memang sangat miris mendengar kasus-kasus semacam itu. Syukurlah di SMP tempatku mengabdi sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam ujian. Apalagi nama Muhammadiyah sebagai simbol keagamaan adalah taruhan bagi kami jika sampai berbuat curang.

Hari-hari menegangkan selama ujian berlangsung pun berakhir. Para siswa menikmati hari tenang, meski pada dasarnya masih harus menunggu hasil ujian mereka. Aku hanya menganjurkan anak-anak didikku untuk tetap berdoa kepada Allah agar nilai ujian baik dan tentu bisa lulus.

Sore hari, sehari menjelang pengumuman kelulusan, setelah turun informasi dari Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Kepsek mengadakan rapat Dewan Guru. Rapat membahas tindak lanjut pengumuman dari Dinas Pendidikan Provinsi, bagaimana prosedur pengumuman lulus dan tidaknya siswa, lalu dari pihak sekolah menerbitkan Surat Keputusan berkenaan dengan kelulusan.

"Surat pengumuman kelulusan dari Provinsi sudah diterima," kataku saat Kepsek mempersilakan memberi laporan pada Dewan Guru. "Dengan sangat berat hati, saya informasikan, ada 33 anak didik kita yang tidak lulus, dari total keseluruhan siswa 164 anak."

Kurasakan beberapa guru mendesah. Terjawab sudah segala kepenasaran selama menunggu hasil pengumuman dari Dinas Pendidikan Provinsi. Tentu sangat berat hati saat mengetahui ada siswa yang tidak lulus, apalagi sampai 33 anak!

Rapat berlanjut. Akhirnya diperoleh keputusan, bahwa seperti biasa, pengambilan pengumuman di sekolah. Wali murid wajib datang sendiri. Sempat ada perdebatan untuk pengumuman siswa yang tidak lulus. Sebagian guru menganjurkan agar pihak sekolah mendatangi rumah siswa yang tidak lulus demi menjaga privasi pengumuman. Tapi akhirnya tetap sepakat untuk pengambilan pengumuman oleh wali murid di sekolahan.

Besoknya, ketika pengambilan hasil UNAS telah selesai. Hingar-bingar keceriaan para pelajar yang lulus mewarnai sekolahan. Pihak sekolah melarang anak-anak yang ingin merayakan kelulusan dengan konvoi di jalan dan corat-coret baju seragam dengan pylox. Di sudut lain, beberapa anak bersedih karena dinyatakan tidak lulus. Teman-teman dekatnya mencoba menghibur.

Aku tentu sudah membaca nama-nama anak yang tidak lulus. Sebagian besar memang anak-anak yang kesehariannya mempunyai nilai minim dan jarang mengerjakan tugas, tapi ada juga beberapa anak yang cukup bagus nilai hariannya tapi kesialan saat mengerjakan ujian membuat mereka tidak lulus. Semoga mereka bisa menerima semua ini dengan lapang dada.

Aku keluar ruang guru bersama beberapa guru yang lain. Menuju parkiran motor. Saat nyaris sampai di tempat parkir, terlihat seorang siswa tergopoh-gopoh menuju ke arah kami. Sukirno, si anak lugu yang sering jadi bahan olokan. Wajahnya tampak berseri-seri. Ia langsung menyalami kami penuh semangat.

"Kamu lulus, Kir?" tanya salah seorang guru yang tengah bersalaman dengan Sukirno.

Aku ingat betul, nama Sukirno tidak ada dalam daftar siswa yang tidak lulus. Hei, aku baru berpikir tentang anak ini. Hebat juga ternyata UNAS dia mampu mengerjakan dengan baik, terbukti dia lulus!

"Alhamdulillah, saya lulus, Pak!" Sukirno menjawab. Tiba giliran ia menyalamiku. Tanpa ditanya lebih lanjut, ia bercerita, "Pak, tidak sia-sia setiap malam saya sering bangun tahajud. Allah benar-benar menolong saya hingga bisa mengerjakan soal-soal ujian. Memang nilai saya tidak bagus-bagus amat sih, Pak, tapi saya sudah bisa lulus adalah karunia Allah yang sangat besar."

Subhanallah, aku makin salut pada anak ini. Setahuku dia memang tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Setiap waktu Dhuhur pada jam istirahat kedua, aku selalu menjumpai dia di musholla sekolah. Mataku turut berbinar melihat keceriaan siswa polos di depanku ini.

"Selamat, ya, Kir. Selamat atas kelulusanmu ...," kataku penuh haru. Kugenggam erat jabatan tangannya. Sungguh, aku bangga padamu.

"Terima kasih, Pak. Berkat doa Pak Guru juga ...," Sukirno turut mengeratkan jabatan tangannya. Tak lama, ia lalu melonggarkannya. "Saya pamit duluan ya, Pak."

Aku mengangguk seiring ia meminta permisi dengan penuh hormat. Tulus aku berdoa kepada Allah, semoga anak ini bisa mewujudkan apapun cita-citanya. Amien.

Satu pelajaran berharga dari anak didikku ini, bahwa usaha yang maksimal didukung kepasrahan pada Allah, mampu mewujudkan harapan. Bahkan meski harapan itu dipandang orang sangat mustahil sekalipun. Termasuk kemampuan Sukirno untuk lulus UNAS tahun ini. Selamat ya, Kir. Dan terima kasih atas pelajaran berharga ini. Sungguh, kau telah memetik buah ketekunanmu. Sukses selalu ya!



***



Sebagaimana diceritakan oleh Pak Sudadi, S.Pd, Wakaur Kurikulum SMP Muhammadiyah 1 Semin. Terima kasih, Pak, atas kisahnya.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP