Loading...
Sunday, May 22, 2011

Seni Metromini

Jreng ...!

Genjrengan gitar sebagai pembuka. Aku tak begitu memperdulikannya. Aku capek.

Lelaki bergitar itu mengucap salam. Para penumpang enggan sekedar menjawabnya. Aku sendiri hanya menjawab dalam gumam tak terdengar. Kan wajib tuh menjawab salam.

Lelaki pengamen itu lekas memulai narasi pembuka berupa ucapan minta izin pada sopir dan kondektur untuk berdendang lagu. Juga permintaan maaf pada penumpang jika kehadirannya mengganggu. Aku masih cuek juga.

Beberapa detik berikutnya, lelaki itu sudah mulai mengalunkan sebuah lagu. Lagu yang asing di telingaku. Lagu baru mungkin. Sekian lama menjadi pelanggan setia metromini P-24 jurusan Senen-Priok, kayaknya baru sekali ini aku mendengar lagu itu. Juga pengamennya, kayaknya orang baru. Cukup merdu. Nada indah perpaduan suara bagus si lelaki dan permainan gitarnya yang tidak kacangan. Aku mulai terusik untuk menyimaknya.

Alunan indah yang menghibur. Jujur, aku suka. Kunikmati alunannya sampai habis lagu itu tanpa terasa. Beruntung si Pengamen melanjutkan lagu berikutnya. Sebuah lagu baru lagi yang memang asing bagiku. Tapi tetap bagus. Lagu kedua habis. Ah, rasanya tak ingin lekas berakhir, tapi si lelaki bergitar itu sudah menutup dengan narasi. Ia menyatakan bahwa lagu yang barusan dibawakannya adalah lagu gubahannya sendiri. Subhanallah, aku sempat kagum juga. Lalu, lelaki itu berkeliling dari penumpang di samping sopir sampai ke belakang sembari mengangsurkan plastik bekas wadah kemasan permen meminta kerelaan penumpang memberi recehan sekedarnya. Tak semua memberi. Sebagian besar mengangkat telapak tangan kosong menolak memberi. Lelaki itu tetap tersenyum.

Kuambil uang ribuan dari saku celana. Memasukkannya ke kantung plastik si Pengamen. Ia menggangguk berterimakasih sebelum selanjutnya melangkah ke penumpang di belakangku.

"Badan kuat itu gunakan buat bekerja! Ngamen itu sama saja dengan ngemis!" suara kasar terdengar dari penumpang di belakangku. Nadanya sangat tidak sopan. Aku menolehnya.

Si Pengamen tidak menyahut apa-apa. Dia hanya melewati penumpang tersebut. Malah aku yang sedikit emosi. Bapak-bapak berpakaian rapi itu terlihat angkuh. Ah, sudahlah. Buat apa mengurusi orang lain. Toh si pengamen yang seharusnya marah saja berlalu dengan sopan kok. Mungkin baginya tak penting komentar miring orang, toh yang peduli pada pengamen juga tak sedikit. Hidup kan penuh pro dan kontra.

Tapi bagiku, banyaknya pengamen naik-turun metromini adalah sebuah seni tersendiri. Berbagai aliran musik dipertunjukkan sekedarnya. Tapi kadang justru terlihat sempurna dengan kesederhanaannya. Aku tahu, sebagian mengamen untuk mencari sesuap nasi, tapi aku yakin banyak juga yang menyalurkan bakat seni, meski tak banyak yang mampu memberi penghargaan berarti.

Pengamen itu sudah turun. Tapi aneh, bapak-bapak di belakangku masih ngedumel sendiri, "Generasi sekarang tuh banyak yang jadi pemalas. Nyanyi-nyanyi minta duit. Huh!"

Tak satupun penumpang yang menanggapi. Semua memilih terpekur dengan pikiran masing-masing. Hanya erangan mesin tua metromini meraung. Disela teriakan kondektur, "Priok! Priok!"

Di perempatan Jiung, saat metromini yang kutumpangi merangkak lambat karena kemacetan, tampak masuk seorang pengamen cilik dekil dengan berbekal kecrekan dan suara cempreng. Sebuah seni tersendiri dalam kemelaratan di tengah riuh metropolitan.

"Ini lagi. Masa depan bangsa mau ditaruh di mana? Masih kecil sudah ngamen!" suara penumpang di belakangku. Aku hampir bersuara menanggapi perkataannya. Tapi sudahlah, percuma. Kudengarkan saja si Pengamen Cilik bersenandung cempreng. Seni itu sungguh unik.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP