Loading...
Wednesday, March 30, 2011

Kaos Kaki

Sudah dari tadi azan maghrib, terburu-buru kami hendak berangkat ke masjid. Istriku langsung menyahut mukena yang belum sempat dilipat masih menumpuk bersama cucian kering di atas dipan.

"Ayo, Yah, keburu telat," ajaknya.

Kelar berwudhu di padasan, lekas kami berjalan ke masjid.

Sepulang jamaah maghrib, istriku langsung menyibukkan diri dengan melipati pakaian kering.
"Yah, kaos kakinya tinggal satu, pasangannya kok nggak ada?" istriku yang sudah kelar melipat memperlihatkan kaos kakinya yang tersisa satu.

"Coba tanya Mamak, tadi kan beliau yang mengangkat jemurannya," usulku.

"Dicari dulu, siapa tahu cuman di tumpukan sini."

Kami sibuk mencari pasangan kaos kaki istriku itu. Tidak ada. Azan Isya' berkumandang sebelum sempat menjumpai pasangan kaos kaki tersebut.

Ya sudah, ke masjid dulu.

Saat berwudhu di padasan samping rumah, Mamak yang baru beranjak berangkat duluan tiba-tiba berbalik arah pulang ke rumah.

"Tya, ini kaos kakimu bukan? Kok jatuh di jalan?" tanya Mamak sambil memperlihatkan barang temuannya.

Istriku melirikku dengan senyum. Iya, itu kaos kaki istriku.

"Pasti tadi kebawa saat ambil mukena, kan masih dari tumpukan cucian kering," kata istriku mencoba menjawab tanda tanya kenapa kaos kaki bisa berada di jalan.

Aku mengangguk. Lalu aku coba menggoda, "Untung cuman kaos kaki ya, Bun, bukan yang lain ..."

Hehe.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP