Loading...
Wednesday, March 30, 2011

Jebakan Status

Facebook menurut saya sama seperti sebuah pisau, bisa bermanfaat dan bisa menimbulkan mudharat. Tak jarang terjadi peristiwa negatif hasil keberadaan Facebook, tapi juga tak sedikit yang mengambil dan menebar manfaat dari adanya jejaring sosial terpopuler di dunia ini.

Saya sering menjumpai status teman-teman, ada curhatan, keluh-kesah, atau apapun suasana perasaan yang diterbitkan dalam status tersebut. Sah-sah saja kita seperti itu, bahkan mungkin menjadi orang yang super update, ada apa-apa tulis status, siapa tahu ada yang mampir komentar.

Ada kala saya membaca status teman yang mencoba menunjukkan salah satu amal ibadah yang ia lakukan. Dari status tersebut bisa saja satu-dua atau banyak teman lain yang ikut termotivasi untuk berbuat kebaikan sebagaimana yang dilakukan teman tersebut. Ambil misal status teman yang menulis, "Gerah banget, memang ujian puasa senin-kamis begini sangat sulit, tapi harus tetap kuat, bentar lagi kan magrib datang juga."


Teman yang membaca status serupa itu otomatis akan menjadi tahu bahwa si pembuat status sedang menjalankan puasa sunah senin-kamis. Mungkin teman yang membacanya bisa termotivasi untuk ikut menjalankan puasa sunah tersebut di lain waktu dengan asumsi bahwa ternyata panas-panas begini masih ada yang berpuasa.

Saya lantas berpikir. Andai menjadi penulis status tersebut, apakah saya mampu menahan diri dari jebakan riya' dalam beribadah? Bukankah riya' itu menyelinap ke hati tanpa kita sadari? Bagaimana pula sebuah amalan yang harus dijaga dari jebakan riya' tapi malah kita sebarkan di jejaring sosial yang notabenenya banyak pengguna yang pasti langsung membaca status tersebut hanya dengan meng-klik beranda? Wah, saya tak bisa membayangkan betapa mudah riya' menyusup, apalagi jika ada yang memberi jempol 'like' atau bahkan komentar yang membuat kita serasa tersanjung?

Oke, barangkali itu sebuah pendapat pribadi saya yang mungkin tak sejalan dengan kebanyakan orang. Tapi saya hanya ingin mencoba saling mengingatkan. Terutama sesama muslim. Sungguh, riya' atau pamer dalam setiap ibadah akan sangat merugikan kita. Ia ibarat api yang membakar kayu kering, membuat sia-sia amalan kita. Ada sebuah kutipan dari seorang ulama yang cukup membuat saya makin malu akan ketidakberdayaan menjaga keikhlasan beribadah. Ulama tersebut menyatakan : "Jika kamu masih melihat keikhlasan dalam keikhlasan amalanmu, maka keikhlasan itu masih memerlukan keikhlasan lagi."

So, apapun amalan kita, yuk mari dijaga sebaik mungkin dari riya'. Mari senantiasa belajar lebih ikhlas lagi. Jangan terlalu sering mengingat kebaikan kita, tapi ingatlah dosa kita agar kita bisa melihat betapa kurangnya ibadah kita pada Allah.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat. Wallohu a'lam bishshowab.
(Renungan saat rehat sejenak di mushola Al Barakah Krendetan usai dhuhur, 30 Maret 2011)

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP